Rabu, 2009 April 15

Faktor “salafi” dalam penerbitan buku Islam


Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan suatu kelompok yang memberi nama “salafi” kepada kelompoknya, saya Cuma mencoba menganalisa secara sederhana perilaku konsumsi buku kelompok ini sebagai bahan diskusi.

Apa itu kelompok salafi
Abu Abdirrahman Al Thalibi, dalam dakwah salafiyah dakwah bijak; meluruskan sikap keras dai salafi (hal 9), mengidentifikasi kelompok salafi sebagai: Secara sederhana salafiyah bisa diartikan sebagai khazanah ilmu atau ajaran salafus shalih. Sedang salafiyun atau salafiyin ialah orang-orang yang mengikuti ajaran salafus shalih. Adapun salafy atau salafi ialah sebutan bagi orang-orang yang mengikuti ajaran salafus shalih. Salafiyah adalah ajarannya, salafiyin adalah para pengikutnya, sedangkan salafy adalah sebutan bagi mereka. Istilah salafy juga mencerminkan makna komunitas ideologis.
Yang dimaksud salafi dalam tulisan ini adalah sekelompok orang yang mengatakan dirinya sebagai penganut salafi, dengan karakter khas salafiyyun.

Karakter khas salafiyyun
Menurut Abu Abdirrahman Al Thalibi, dalam bukunya dakwah salafiyah dakwah bijak 2; menjawab tuduhan, (hal 264 – 275), karakter khas salafiyyun adalah:
1. Sangat membela istilah salafi atau salafiyah
2. Merasa sebagai kelompok paling benar
3. Sibuk mengingkari, membantah, atau mencela kesesatan orang lain dengan dalih berjihad membela Islam
4. Sangat sensitive terhadap penyimpangan dan sangat keras ketika mencela
5. Bersikap fanatik terhadap ulama dan kelompoknya
6. Tidak mengerti konsep hizbiyah dan terjerumus di dalamnya
7. Kurang memahami manhaj ahlus sunnah
8. Tidak jujur dalam perselisihan
9. Tolong menolong dalam kesesatan
10. Krisis dalam perkara akhlak

Implikasi dalam dunia penerbitan buku Islam
Faktor salafi acap kali diperbincangkan dalam penerbitan buku, seperti muncul pertanyaan, apakah buku ini bisa diterima di kelompok salafi?, ada beberapa ciri kelompok ini dalam mengkonsumsi buku:
1. Sebagian besar kelompok salafi, tidak mau membaca buku-buku karangan Yusuf Al Qaradawi
2. Kelompok yang menamakan salafi ini juga tidak akan membeli buku-buku yang ada gambar makhluk hidupnya, kecuali mukanya dihilangkan.
3. Sangat besar penghormatannya pada ulama-ulama dari kelompok mereka, implikasinya adalah jika ada buku yang direferensikan ustadz salafi, maka akan berdampak luas pada penerimaan buku tersebut di kelompok salafi, dan sebaliknya.
4. Jika suatu buku diberi pengantar oleh orang-orang yang dianggap tidak sefikroh dengan kelompoknya, bisa jadi buku tersebut ditolak di kelompok salafi.
Saya punya kasus satu buku yang pengantarnya dibuat oleh salah seorang ulama hadist di negeri ini, namun ternyata belakangan ulama tersebut ternyata tidak bisa diterima oleh kelompok salafi, secara terang-terangan ada yang meminta kepada kami, untuk menghilangkan kata pengantar dan nama ulama tersebut dari buku tersebut, saya geleng-geleng kepala, mendengar berita ini, sebegitunya kah sikap ekstrim kelompok salafi ini?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan penerbit dalam mensiasati prilaku konsumsi buku kelompok salafi, seperti: ada penerbit yang menerbitkan buku hanya untuk kalangan salafi, ada yang mensiasatinya dengan membentuk imprint baru yang seolah-olah tidak ada hubungannya sama sekali dengan induknya, ada juga yang tidak peduli. dll
Seharusnya tidak ada polarisasi seperti diatas , bukankah tema keislaman seharusnya bisa dibaca dan dinikmati oleh setiap ummat Islam, namun realitasnya berbeda

Seharusnya pihak penerbit buku Islam tidak menjadikan faktor salafi ini sebagai faktor yang sangat mempengaruhi corak penerbitan buku, biarkanlah ini sekedar realitas bahwasanya susah untuk menyatukan ummat Islam, namun produksilah buku-buku yang berkwalitas, sambil terus mengamati perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Dan menjadi pekerjaan rumah secara bersama-sama , mencari data valid berapa jumlah kelompok ini, agar kita lebih proporsional dalam mengambil kebijakan, kalaulah kelompok ini berjumlah 100.000 orang, mengapa ummat Islam yang ratusan juta lainnya seolah-olah tidak menjadi perhatian penerbitkan buku Islam .

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan diskusi untuk meletakkan sesuatu pada tempat yang pas dan sesuai dengan proporsinya

Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Selasa, 2009 Maret 10

Korelasi Negatif antara Krisis Ekonomi Makro dengan Penjualan Buku di Pameran


Oleh: Jaharuddin*

Beberapa hari ini saya sedang mengikuti pameran buku di Islamic Book Fair 2009, 28 Februari – 8 Maret 2009 di Gelora Bung Karno Jakarta. Ketika melihat antusiasnya para pengunjung mendatangi dan membeli buku di semua stand buku yang ada di event pameran ini, seolah-olah tidak mewakili kondisi ekonomi makro yang semakin berat.
Kompas online, 3 desember 08 menuliskan, pertumbuhan ekonomi pada 2009 diperkirakan mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2009, yakni 6 persen. Meskipun demikian, target APBN itu masih bisa tercapai jika Indonesia bisa mempertahankan aktivitas ekspor dan investasi.
”Nilai tengah pertumbuhan ekonomi kami perkirakan ada di level 5-5,5 persen,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati saat melaporkan kondisi terakhir krisis ekonomi kepada Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (2/12).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru (Kompas, 22/8/2008). Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang. Padahal, masih ada sekitar 9,427 juta penganggur terbuka yang menunggu pekerjaan saat ini.
Pameran ini mempunyai arti penting bagi banyak penerbit, karena kondisi ekonomi kurang baik , bangsa Indonesia juga sedang di sibukkan dengan hiruk pikuk pemilu yang tentunya bagi sebagian orang melelahkan, menjenuhkan dan adakalanya bikin mual, uang pajak rakyat di hamburkan untuk membiayai 48 partai peserta pemilu, caleg menghambur-hamburkan uang untuk membuat dirinya jadi terkenal dengan berbagai metode yang tidak kreatif dan tidak mendidik. implikasinya perhatian dan modalpun akhirnya juga bisa terkuras untuk aktifitas pemilu.

Dalam sejarah dunia penerbitan buku di Indonesia, saya menemukan keunikan tersendiri ketika perekonomian mengalami krisis. Misalnya tahun 98-an di saat ekonomi Indonesia memburuk, kita melihat dengan kasat mata penerbit buku muncul seperti jamur dimusim hujan.

Bisa jadi, tumbuhnya penerbit baru di era 98-an tersebut, karena terbukanya kran reformasi, sehingga terlepas dari kekangan yang selama orde baru tidak bisa di lakukan, namun jika tidak karena dukungan konsumen buku, maka bisa jadi penerbit-penerbit tersebut akan berguguran, kenyataannya tidak.

Faktor lain yang juga mempengaruhi potensi meningkatnya penjualan buku adalah, masyarakat Indonesia semakin terdidik, sadar akan pentingnya informasi dan pengetahuan, dan kondisi ”terjepit”nya perekonomian dan jenuhnya melihat narsisme para caleg, mendorong kepada banyak orang untuk mencari inspirasi dan menenangkan diri. Saya menduga untuk menjawab kebutuhan ini banyak orang akhirnya menjadikan buku sebagai solusinya. Misalnya dibutuhkan ketenangan hati yang lebih dengan cara mendalami dan me refresh pemahaman agama misalnya.

Melihat kondisi yang menggairahkan ini, bisa jadi stigma rendahya daya baca masyarakat Indonesia sudah bisa di tinggalkan, dan kita buang jauh-jauh dari Indonesia, bukti lain adalah toko-toko buku juga semakin tumbuh, misalnya gramedia akan menambah lebih dari 10 toko lagi ditahun 2009 ini.

Semoga Islamic Book Fair ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sangat butuh buku, dan ini mendorong insan perbukuan untuk meerbitkan buku-buku berkwalitas tinggi dan mencerdaskan masyarakat, saat yang sama juga bisa menghibur dan menenangkan kegalauan masyarakat. Amin.

*Praktisi pemasaran buku Islam

Rabu, 2009 Maret 04

Catatan IBF 2009: Buku Apa Lagi yang Mau Dibuat?


Dalam dunia perfilman Indonesia, khususnya dunia persetanan, kreativitas seperti kagak ada matinye. Sempat ada joke para sineas persetanan itu sudah bingung: setan mana lagi yang mau dikeluarin?? Soalnya, semua setan dengan berbagai spesies sudah dikeluarkan! Eh, alih-alih kehabisan kreativitas, mereka malah menjadi-jadi dengan mengeluarkan film "Hantu Ambulans", "Hantu Jamu Gendong", dan "Kuntilanak Beranak". Hiii... so many ghosts, so confuse. He-he-he.

Walau cuma berkunjung selewat dalam event Islamic Book Fair 2009, saya melihat fenomena yang sama dalam dunia buku Islam Indonesia. Kreativitas benar-benar menjadi kata kunci industri yang juga dikategorikan sebagai industri kreatif ini. Ambil contoh dalam buku anak, kreativitas belum beranjak jauh: masih seputar buku 25 kisah Nabi dan Rasul, Kisah Teladan (para Sahabat maupun Orang Saleh), hadits untuk anak, Asmaul Husna untuk anak, dan sebagainya. Belum ada yang berani beranjak dengan kreativitas lain tanpa meniru yang sudah ada. Dengan kata lain, yang benar-benar unik dan mengandung gagasan pembaruan. Mungkin ada 1-2, tapi tidak terekspose ke permukaan.

Dalam kategori buku dewasa pun setali tiga uang. Tema fiqih, akhlak, bahkan juga how to dan self-improvement masih mendominasi. Tidak jarang kita temukan satu buku yang mirip dengan buku lainnya dari beberapa penerbit berbeda. Dari sisi ini lahir banyak penulis baru dan terkadang terlampau produktif menghasilkan karya yang entah cukup berbunyi, entah tidak.

Isu buku yang menggetarkan pada IBF 2009 ini pun belum tampak seperti IBF-IBF sebelumnya yang diguncang oleh "Khadijah: The True Love Story", "Ayat-Ayat Cinta", atau "Laskar Pelangi". Banyak penerbit tampaknya menahan diri, mungkin kaitan dengan krisis. Atau boleh jadi memang kreativitas tengah mandek menunggu momentum munculnya naskah yang benar-benar menggugah dan mengejutkan banyak orang.

Dari catatan IBF book award sendiri, saya sebagai salah seorang tim juri, melihat tidak ada sesuatu yang revolusioner terjadi pada buku-buku Islam kita. Untuk itu, saya menempatkan buku Pak Syafi'i Antonio: "Muhammad The Superleader, The Supermanager" sebagai buku terbaik tahun ini lebih pada keunggulan Pak Syafi'i melakukan riset mendalam dan mengembangkan aspek-aspek tersembunyi dari pribadi Rasulullah saw. Banyak hal baru memang dalam buku tersebut.

Dalam ranah fiksi, terpilihlah "Road to the Empire" yang juga unggul dalam riset sejarah dan teknik penceritaan dengan segala segi kemantapan dalam perwatakan, alur, dan setting cerita. Sisanya yang diikutsertakan beberapa mengadopsi stereotip "Ayat-ayat Cinta" dan beberapa lainnya masuk kategori biasa-biasa saja.

Buku anak seperti di awal saya sebutkan pun demikian. Maka terpilihlah karya Sri Izzati lebih karena Izzati benar-benar berbakat sebagai tukang cerita dan mampu meneropong segala segi dari fiksi khas anak-anak. Buku lainnya banyak yang merupakan kumpulan kisah-kisah dan ada pula picture book biasa dengan cerita biasa. Tidak ada sebuah terobosan, bahkan kalau kita menyebutkan secara komprehensif, termasuk development editing, desain, serta context (pengemasan) seperti mandek. Masih banyak buku anak yang salah kaprah dengan meminjam mulut orang dewasa untuk bercerita, serta menjejalkan nasihat yang terkadang menjadi kontraproduktif terhadap perkembangan jiwa anak.

Sayang, editor dari para buku-buku terbaik ini memang tidak disebutkan. Padahal, mungkin merekalah si penemu bakat dari penulis dan si pengemas buku tersebut menjadi lebih unggul sehingga pantas mendapatkan award.

Nah, kembali soal IBF 2009 dengan segala keriuhan dan antusias para pengunjung, saya berpikir cukup sulit untuk menentukan pilihan buku yang mau dibeli atau dibaca. Apalagi, jika dana terbatas. Untuk itu, saya perlu memastikan buku yang benar-benar menggugah, bukan sekadar murah meriah. Namun, tidak gampang juga karena saya berada dalam lautan buku yang kini semua tampak bagus, fullcolor, dan juga menawarkan judul atraktif.

Berpikir sebagai pembaca, itulah yang tengah saya lakukan. Tidak dimungkiri, riset itu perlu. Namun, terlihat dari ribuan potensi pengunjung di IBF 2009, tidak ada penerbit yang berniat meriset, kecuali berkutat dalam target penjualan. Saya sarankan para direktur penerbit mestinya memplot waktu satu hari penuh berada di booth dan melayani para pembeli bukunya. Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda. Tapi, siapa yang mau bersibuk ria demikian? He-he-he mungkin cuma saya kali direktur penerbit yang mau demikian atau direktur nyentrik seperti Hikmat Kurnia, bosnya Agromedia. Sama-sama 'sableng': bukankah orang kreatif memang rada-rada sableng? :-)

Anda mungkin berpendapat sama: Begitu banyak buku, yang mana yang harus dibaca? Dari sisi saya sebagai penulis dan penerbit: Begitu banyak buku, apa lagi yang mau dibuat? Maka gagasan perlu dikail dari langit. Ibarat setelah Anda menyelam di lautan buku, sembulkan kepala dan bertengadah untuk mengambil nafas. Siapa tahu udara segar dan sinar matahari membuat otak Anda berpikir dan menangkap gagasan: oh sekarang masyarakat membutuhkan buku-buku semacam ini! Saya harus membuatnya!

Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Indonesia

Selasa, 2009 Maret 03

30 Ribu Pengunjung Padati Pameran Buku Islam Setiap Hari


TEMPO Interaktif, Senin, 02 Maret 2009

Pameran Buku Islam, yang berlangsung 28 Februari-8 Maret, dikunjungi rata-rata 30 ribu orang setiap harinya. Panitia berharap bisa mendatangkan 1,2 juta penggemar buku ke acara yang digelar di Istora Senayan ini

M. Shaleh, humas acara yang sudah delapan kali digelar ini, pada Senin (2/3), mengatakan sebagian pengunjung bahkan datang dari negara dengan penduduk berbahasa Melayu lain seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

\"(Pameran ini) termasuk salah satu acara yang dijadwalkan oleh travel tour di Malaysia untuk dikunjungi wisatawan ketika berada di Indonesia,\" jelas Shaleh.

Pengunjung lokal, menurut Shaleh, banyak yang tertarik datang karena potongan harga buku yang mencapai kadang sampai 70%.

Hal ini dibenarkan Rima, 20 tahun, mahasiswi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, yang datang bersama lima temannya. \"Pamerannya bagus, banyak diskon,\" katanya. \"Harga bukunya jauh lebih murah dibandingkan di toko buku biasa.\"

Selain diskon, di gerai Mizan Dian Semesta, misalnya, dijual buku-buku yang tidak dipasarkan di toko-toko buku umum. \"Buku-buku ini dijual secara direct selling hanya pada acara seperti pameran, karena sifatnya butuh penjelasan,\" ujar Endang Choiriah, manajer penjualan wilayah penerbit itu.

Buku langka ini seperti Ensiklopedia Bocah Muslim, I Love My Al-Quran, serta 10 jilid eksiklopedia Nabi Muhammad.

Shaleh mengatakan pameran buku ini menggelar 290 anjungan. Selain gerai dari penerbit dan toko buku, sejumlah anjungan menawarkan pakaian dan alat pendidikan.

Pameran ini tidak hanya berisi buku saja. Untuk memeriahkan, artis-artis pendukung film yang dibuat berdasarkan novel laris Islami, \"Ketika Cinta Bertasbih\", akan datang pada Sabtu (7/3) mendatang. . \"Mereka akan mengadakan soft opening di sini,\" tambah Shaleh.

Sejumlah seminar juga digelar di sela-sela pameran seperti \"Total Managemen berbasis Al Fatihah\" bersama Ir. Heru, S.S, MM. sampai \"Saatnya Indonesia Kuat Mandiri dengan Ekonomi Islam\" bersama Dr. Revrison Baswir dan R.M. Ismail Yusanto, MM..

ANGGY ANINDITA

Senin, 2009 Februari 09

Menakar Buku Fiksi yang akan menjadi Best Seller


Oleh : Jaharuddin*

Para pekerja perbukuan terbelalak ketika buku Ayat-Ayat Cinta (AC) dan Laskar Pelangi mendapat respon yang luaaaar biasa oleh konsumen, kemudian diiringi dengan difilmkannya buku tersebut. Disamping meng endorse penjualan bukunya, juga mengangkat “derajat” penerbitnya karena banyak penonton film yang bisa jadi bukan pembaca buku, akhirnya melalui media film, mengenal penerbit yang menerbitkan buku tersebut. Dilihat dari tiras buku yang terjual buku-buku fiksi yang best seller biasanya penjualannya diatas penjualan buku-buku umum lainnya.

Dari pengkajian awal diketahui bahwasanya tidak semua penerbit yang menerbitkan buku fiksi akhirnya beroleh keberuntungan dengan best sellernya buku fiksi yang diterbitkan tersebut. ada beberapa penerbit yang tidak mampu menjual buku-buku novelnya dengan baik. Akhirnya buku menjadi menumpuk di gudang .

Untuk meminimalisir kemungkinan buku-buku fiksi yang diterbitkan menjadi buku slow moving dan menumpuk digudang, ada beberapa indikator buku-buku fiksi yang sukses di pasar, yaitu:
1. Tema yang unik
Tema yang unik paling tidak bisa diukur dari originalitas ide, kekuatan cerita, tema yang baru. Dengan demikian seharusnya penerbit tidak perlu takut dengan penulis-penulis yang belum berpengalaman, asalkan fiksi yang ditawarkan adalah fiksi yang unik. Namun tim seleksi naskah harus benar-benar jeli menilai naskah, apakah akan booming atau akan menjadi slow moving produk.
2. Pengarapan dan pengemasan produk
Ini bagian terpenting selanjutnya setelah naskah, karena bisa jadi ada buku yang sebetulnya temanya bagus, namun bahasanya sangat tidak “mengalir” atau malah menyulitkan pembaca, ini bisa jadi masalah besar dikemudian hari. Termasuk dalam pemilihan cover , cover yang baik disamping mampu mewakili isi, cover hendaknya juga unik dan mampu menarik perhatian calon pembaca. Jika ini diabaikan bisa berakibat fatal dalam penerbitan buku fiksi.
3. Promosi dan Pemasaran
Menurut saya untuk promosi buku fiksi yang harus dilakukan adalah berpromosi di media-media yang sesuai dengan segmentasi calon pembaca, kemudian diikuti dengan mengadakan promosi di toko-toko buku, misalnya dengan membuatkan standing banner/neon box di toko, yang diiringi dengan display buku yang menarik dan atraktif di tempat yang strategis. Diikuti dengan pemerataan distribusi buku berdasarkan toko dan wilayah, semakin mudah konsumen mendapatkan buku anda semakin baik, dan jangan lupa pastikan konsumen sangat mudah menghubungi hotline perusahaan anda seperti telp/sms/email/dll.
4. Pernah mendapat penghargaan di Negara asalnya
Jika naskahnya adalah naskah terjemahan, buku yang sudah mendapatkan best sellet, National Best Seller, atau International Best Seller, biasanya juga akan lebih mudah untuk menjadi best seller di Indonesia. Dan jangan lupa “gelar” ini, harus anda tampilkan di cover muka buku anda, diharapkan mampu meyakinkan calon membaca untuk membeli produk anda.
5. Mengambil segment pembaca yang sudah mempunyai penghasilan
Didasarkan klasifikasi pembaca terdapat dua kategori fiksi, yaitu fiksi populer untuk remaja, dan fiksi untuk dewasa. Nah untuk kategori pertama saya menduga akan sulit penjualannya ditahun ini, karena kondisi ekonomi masyarakat terganggu dengan kondisi krisis financial global, karena budget pembelian buku segement ini sangat terbatas dan dipengaruhi penghasilan orang tua. Yang akan tetap mendapatkan penjualan yang bagus adalah segmen kedua, karena para pembaca ini adalah mereka yang sudah mempunyai penghasilan sehingga kebutuhan akan buku tetap akan dibutuhkan walaupun nominalnya mungkin akan berkurang, ada kecendrungan kategori pertama juga melakukan peningkatan kualitas bacaannya dan membeli buku-buku fiksi kategori kedua.
6. adanya film yang mengendorse buku tersebut
dalam kasus Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Laskar Pelangi, kita melihat bahwa adanya film kedua novel tersebut , membuat dampak yang besar terhadap penjualan dan Prestise novel tersebut, seolah-olah belum dianggap gaul jika belum membaca novel AAC atau Laskar Pelangi.
Trend ini dimanfaatkan oleh beberapa penerbit untuk bekerjasama dengan Production House (PH), untuk membuat novel dari film-film yang mereka louncing ke pasar, paling baru saya melihat novel Perempuan Berkalung Sorban (PBS), juga cukup laku seiring dengan diputarnya film tersebut dibanyak bioskop. Sampai saat ini saya melihat adanya mutualisme antara PH dengan penerbit, ada film yang terinspirasi dari membaca novel, seperti AAC dan Laskar Pelangi, dan Ketika alam bertasbih, namun ada juga novel yang ditulis didasarkan film yang dibuat oleh PH, sampai saat ini novel yang paling sukses menurut saya adalah film yang terinspirasi dari novel.

Semoga indikator-indikator ini mampu memberikan inspirasi kepada banyak orang , terutama insan perbukuan, sehingga mampu menerbitkan novel yang berkualitas namun juga mencatatkan penjualan yang menakjubkan. Amin.

*praktisi pemasaran buku Islam, email: jaharuddin@gmail.com
http://penerbitbukuislam.blogspot.com

Rabu, 2009 Januari 21

Trend Buku 2009


Oleh : Jaharuddin*

Diakhir tahun pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi dan rapat-rapat di internal penerbitan buku. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tepat dan sangat dibutuhkan oleh penerbit buku, karena jika suatu penerbit mampu menjawab pertanyaan ini dengan tepat dan baik, maka keberuntungan dan laba tahun 2009 bisa mendekati kenyataan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut paling tidak ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan tepat dan baik. Faktor tersebut adalah analisis situasi tahun 2009 seperti peluang, dan tantangan 2009.

Tantangan
Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi industri perbukuan di Indonesia di tahun 2009, yaitu:
1. Dampak Krisis Finansial Amerika Serikat
2. Melambatnya pertumbuhan ekonomi
3. Meningkatnya penganguran
4. Pemilu
5. Makro Ekonomi yang tidak stabil
6. Daya Beli Masyarakat tertekan
untuk-faktor-faktor diatas, saya tidak perlu menguraikan panjang lebar, karena banyak sekali analisis yang menjelaskannya. Kongkulsinya adalah tahun 2009 diduga akan banyak terimbas dari krisis finansial di Amerika Serikat.

Peluang
Sebesar apapun tantangan yang akan dihadapi di tahun 2009, hendaknya dimulai dengan semangat optimis yang terukur dari setiap insan perbukuan dalam menerbitkan buku. Beberapa peluang tersebut adalah:
1. Pemilu 2009
Pemilu 2009, merupakan tantangan sekaligus peluang karena dari sisi ekonomi saya berkeyakinan pemerintahan SBY-JK akan mencoba mempertahankan kondisi ekonomi sebaik mungkin, dan akan melakukan kebijakan-kebijakan pro rakyat. Kenapa demikian karena sudah dipastikan SBY-JK ikut serta dalam pertarungan menjaga image untuk tetap bisa bertahan pada RI 1 atau RI 2. apapun akan dilakukan pemerintahan SBY-JK untuk menstabilkan ekonomi, paling tidak sampai pemilihan presiden berlangsung. Makanya di bulan Januari ini pemerintahan SBY-JK menurunkan kembali BBM ketiga kalinya, dan sudah bisa ditebak kebijakan ini akan dijadikan komoditas politik untuk menjaga image untuk perebutan hati rakyat tahun 2009. bagi penerbit paling tidak ini angin segar, walaupun belum tentu kebijakan ini akan bertahan jangka panjang.
Disamping itu, pemilu ini melibatkan banyak orang dan tentunya mempunyai anggaran yang sangat besar, dengan kondisi ini maka terbuka peluang bagi penerbitan buku untuk menerbitkan buku-buku yang menjawab kebutuhan banyak orang yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu, seperti untuk calon anggota legislatif misalnya, tentunya mereka membutuhkan buku panduan berkampanye yang efektif dan efisien, buku panduan menyusun anggaran kampanye, buku panduan penyusunan laporan keuangan partai, strategi komunikasi politik yang terbaik untuk caleg dan partai, panduan memilih partai dan calon presiden yang pro rakyat, Strategi memenangkan pemilu legislatif dan presiden, buku-buku proyek pencitraan caleg, seperti profil caleg, profil calon presiden, dan banyak lagi tema seputar pemilu yang dibutuhkan.
2. Buku-buku ekonomi syariah
Menurut data perbankan Syariah Bank Indonesia, pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia 5 tahun terakhir, rata-rata 60%. Ini merupakan angka yang spektakuler. Dan diperkirakan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia pada tahun 2009 ini pun juga akan mencapai angka 60%. Salah satu indikator pendukungnya adalah diperkirakan akan berdiri 8 Bank Umum Syariah lagi pada tahun 2009. seperti Bank Umum Syariah Bukopin, Bank Umum Syariah BRI, bahkan BCA pun akan membuka Bank Umum Syariah. Potensi lain para pelaku perbankan syariah dan ekonomi syariah secara umum merupakan kalangan terdidik dan mempunyai daya beli yang tinggi. Namun para penerbit harus menyadari juga bahwa, ekonomi syariah bukan hanya perbankan syariah, masih banyak sektor ekonomi syariah yang juga akan berkembang pesat dan membutuhkan buku-buku berkwalitas sebagai pendukung seperti pasar modal syariah, assuransi syariah, wakaf produktif, zakat, pegadaian syariah, leasing syariah, ekonomi mikro syariah, ekonomi makro syariah,ekonomi pembangunan syariah, ekonomi moneter syariah (dinar dan dirham), enterpreneurship syariah, fatwa-fatwa ekonomi syariah, dll.
Kebutuhan ini juga didasari semakin berkembangnya program studi dan jurusan ekonomi syariah disetiap kampus-kampus ternama di Indonesia.
3. Buku-buku pendidikan anak
Di saat ekonomi sedang tidak menentu karena dampak krisis finansial di Amerika Serikat. Setiap rumah tangga akan rasional dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya, termasuk pengurangan atau penundaan konsumsi buku. Namun setiap orang tua tetap akan berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Buku-buku pendidikan anak salah satu kebutuhan pendidikan anak. Dengan demikian saya memperkirakan permintaan dan kebutuhan masyarakat terhadap buku-buku pendidikan anak tidak akan tergangu banyak. Dengan demikian masih sangat prospek jika penerbit masuk menerbitkan buku-buku pendidikan anak, mulai dari pra sekolah sampai SD.
Apalagi saat ini pemerintah sedang giat-giatnya mengembangkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sampai-sampai setiap RW yang ada di Indonesia ditargetkan akan ada PAUD nya. Sekali lagi ini potensi besar yang selayaknya dilirik oleh banyak penerbit. Tapi setiap penerbit harus mempunyai komitment yang tinggi untuk membuat-buku-buku pendidikan anak yang berkwalitas tinggi. Karena jika penerbit hanya mengedepankan profit, dan asal laku, ini bisa menjadi bumerang bagi masa depan anak-anak kita dan generasi muda bangsa ini. Dan sebaliknya jika penerbit mampu menyajikan buku-buku anak-anak yang berkwalitas, maka penerbit juga memberi andil dalam terciptanya generasi-generasi yang berkwalitas di masa depan.
Terkait dengan ini, bisa juga di kombinasikan kebutuhan buku-buku ekonomi syariah dengan buku-buku anak, setahu saya belum ada buku-buku pendidikan anak yang membahas konsep-konsep ekonomi syariah, dengan level untuk anak-anak, ini akan membantu pengembangan ekonomi syariah yang sedang digalakkan pemerintah, sekaligus mengedukasi anak-anak sedari awal tentang ekonomi syariah.
4. Buku-Buku kewirausahawan dan motivasi
Seiring dengan banyaknya kasus PHK dan kemungkinan PHK di tahun 2009 ini, maka akan banyak pekerja yang kebingungan mencari alternatif pekerjaan yang cepat dan mudah dilakukan. Dengan demikian dibutuhkan buku-buku tentang kewirausahaan seperti: cara mudah memulai usaha sendiri, panduan usaha francise di Indonesia dan Luar Negeri, termasuk buku-buku motivasi untuk para pekerja yang kehilangan pekerjaan seperti: Tidak ada kata menganggur bagi setiap muslim yang baik, PHK bukan akhir kehidupan, dll.
5. Buku-buku agama Islam
Agama merupakan kebutuhan mendasar setiap manusia, sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun setiap orang membutuhkan makanan/gizi hatinya dalam bentuk tuntunan agama, apalagi kalau kondisi ekonomi dan sosial politik lagi tidak menentu, saya memperkiarakan kebutuhan masyarakat terhadap agama semakin tinggi. Hal ini dibuktikan sejak krisis tahun 1998, penerbit-penerbit buku Islam tumbuh bak jamur di musim hujan, dan sebagian besarnya mampu bertahan sampai saat ini, indikator lainnya adalah semakin semaraknya pameran-pameran buku Islam di banyak kota di Indonesia, serta siqnificannya penjualan buku islam di toko buku.
6. Mushaf Al-Qur’an
Penerbitan Mushaf Al-Qur’an, memang sudah lama dilakukan, bahkan sekarang departemen agama telah menerbitkan sendiri Al-Qur’an dengan membangun percetakan sendiri di Ciawi. Namun menarik juga diamati keberadaan mushaf Al-Qur’an semakin hari semakin berkembang seiring dengan kebutuhan dan kemudahan yang ditawarkan penerbit kepada masyarakat, seperti Al-Qur’an tadjwid, Al-Qur’an untuk wanita, dan banyak keunikan lainnya, yang paling baru dan fenomenal adalah Al-Qur’an terjemah kata perkata metode hijaz, yang diterbitkan penerbit as syamil. Al-Qur’an ini diterima sangat antusias oleh masyarakat.
semoga bermanfaat....

*praktisi pemasaran buku Islam, email: jaharuddin@gmail.com
http://penerbitbukuislam.blogspot.com

Senin, 2009 Januari 05

Dicari Editor Tetap Fiksi

Pustaka al-kautsar mencari tenaga editor tetap, untuk buku-buku fiksi Islam. syaratnya punya pengalaman di bidang tersebut.

lamaran bisa dikirim via email ke: khalish02@yahoo.com atau, cckan ke: jaharuddin@gmail.com

Selasa, 2008 Desember 30

Tiras (Buku) Pas Saat Krisis


Tulisan ini masih lanjutan dari artikel "Tiras Buku Ibarat T-Shirt". Setelah posting tulisan di milist, saya baru saja terima SMS dari seorang rekan yang menanyakan bagaimana ia bisa menetapkan bonus prestasi untuk seorang editor. Lalu, saya jawab bahwa penetapan reward ditentukan dari pencapaian target, baik pas maupun melampaui. Tentu target perlu ditetapkan terlebih dahulu berikut indikator pencapaian target. Nah, apakah sebuah buku yang menembus angka penjualan best seller bisa berimbas bagi ditetapkannya reward untuk seorang editor? Semestinya bisa atau memang harus.

Lalu, pertanyaan berlanjut berapa standar penetapan best seller itu? Saya menjawab bahwa buku bisa masuk standar best seller apabila bisa menembus 5 hingga 10 x dari tiras normal atau tiras standar cetakan pertama misalnya 3.000 eksemplar. Berarti kita bisa menetapkan angka 15.000 hingga 30.000 adalah masuk kategori best seller untuk penjualan satu tahun.

Dari mana ketetapan standar ini, maksudnya sumbernya? Ditetapkan berdasarkan skala penerbitan saja sesuai dengan pengalaman bisnis. Penerbit terbagi tiga: 1) small publisher (dengan terbitan 1 judul per bulan atau bahkan hanya 6 judul per tahun); 2) medium niche publisher (dengan terbitan 2-3 judul per bulan); 3) big publisher (punya banyak imprint dan bisa mencapai angka terbitan 30-50 judul per bulan). Ketiganya tentu berbeda menetapkan tiras standar, termasuk kategori best seller. Karena itu, jangan heran jika timbul berbagai macam klaim best seller. Penerbit kecil yang tiba-tiba bukunya laku di atas 5.000 eksemplar bisa berteriak girang dan mengatakan bukunya best seller--pertama terjadi setelah tiga tahun berdiri. Namun, secara nasional kita ketahui bahwa klaim best seller bisa disematkan pada buku-buku yang sudah menembus angka penjualan hingga lebih dari 50.000 eksemplar. Karena orang Indonesia termasuk tinggi sense of humor-nya, terbit juga buku dengan embel-embel 'insya Allah best seller' atau 'masak sih gak best seller'. :-)

Bagaimana sebuah tiras pas bisa ditetapkan? Saya hendak berbagi pemikiran saja mengingat aspek ini kerapkali ditetapkan secara konservatif (hati-hati) dan ada juga yang optimis. Bahkan, ada yang begitu sangat berhati-hati karena trauma oleh badai retur buku-buku back list (back list = judul lama, bukan black list). Tiras besar berhubungan dengan harga pokok produksi (hpp) yang menjadi murah. Adapun tiras sedikit tentu sebaliknya menjadikan hpp melonjak naik dan berujung pada tingginya harga buku.

Coba kita telisik pertimbangan memutuskan sebuah tiras yang pas.

Krisis yang diperkirakan memuncak pada 2009 harus menjadi pertimbangan. Selain itu, juga perlu riset perilaku konsumen (pembaca) buku di Indonesia dalam mengambil keputusan membeli buku. Prediksi dan hasil riset diramu juga dengan as is condition (kondisi nyata) praktik marketing penerbit. Dari pangsa pasar buku umum yang ada di seluruh Indonesia, berapa persen yang sudah tercover (covered area)? Adakah tim marketing ataupun distributor yang kita tunjuk sudah optimal menggarap pasar? Nah, pertimbangan tiras yang pas sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor tadi selain juga faktor kekuatan buku itu sendiri (content, context, community, dan penulis). Berarti apa yang kita perlukan? Hasil riset dan data yang valid, bukan sekadar persepsi dan perkiraan-perkiraan tanpa bukti.

Saya kerap menemukan personel marketing yang membuat asumsi-asumsi marketing berdasarkan satu dua kasus dengan konsumen, lalu diangkat menjadi isu nasional. Apa yang penting kasus tersebut semestinya dianalisis dulu sebelum dilempar ke forum karena boleh jadi satu kasus itu terangkat secara situasional, misalnya ada konsumen mengatakan bahwa judul buku Anda kurang tepat. Pendapat ini harus didukung lagi oleh pendapat-pendapat lain sehingga menjadi sebuah pendapat umum untuk didiskusikan. Saya kira demikian. Seperti halnya seorang marketer mengangkat isu bahwa saat ini yang lagi tren adalah buku-buku tentang orang-orang cacat yang sukses. Tren yang dia lihat harus didukung juga oleh data life time buku-buku tersebut dan mengapa orang tertarik membeli buku itu, sekaligus data judul dari sekian buku itu yang masuk kategori best seller. Sangat naif kalau soal ini dibawa ke forum rapat hanya dengan omongan, lalu marketer meminta tim redaksi membuat buku sejenis itu dan yakin ia mampu menjual dengan tiras hingga 10.000 eksemplar.

Kembali ke soal penentuan tiras yang pas mari kita berkaca dari kemampuan marketing. Pertanyaan pertama spesifik untuk Indonesia: apakah pasar Jakarta sudah tercover secara optimal? Penting karena paling tidak market share Jakarta mencapai 45% dari market share pasar buku nasional. Daerah kuat pasar buku lainnya secara nasional berturut-turut adalah Sumut (terutama Medan), Jateng, Jatim, Jabar, Pekanbaru, Makassar, dan sebagainya. Tentu setiap penerbit pasti punya data rangking penjualan di tiap daerah. Dari data rangking dan kekuatan daya beli masyarakat daerah dapatlah ditentukan spreading tiras per daerah/wilayah. Misalnya, dari tiras 3.000 maka jatah untuk wilayah Jakarta adalah 1.200, Sumut 300, Jateng 500, Jatim 500, Pekanbaru 200, Jabar 300. Hal ini dilakukan dengan asumsi strategi spreading melebar. Artinya, sebuah buku front list langsung disebar serentak secara nasional.

Ada juga penerbit yang menerapkan strategi spreading lokal. Artinya, cetakan pertama terbitan hanya di pasarkan di wilayah basah sebagai tes pasar. Tentulah banyak yang menjadikan wilayah basah itu adalah Jakarta. Dengan demikian, tiras buku ditetapkan tiras mini 1.000-2.000 dan langsung ditebar ke seluruh pelosok Jabodetabek. Apabila kemudian sambutan masyarakat pembaca bagus, barulah penerbit berani mencetak tiras dengan standar normal untuk persebaran nasional.

Saya prediksi pada masa-masa krisis serta pengalaman adanya beberapa penerbit yang menghadapi badai retur buku-buku umum, pada 2009 akan terlihat sikap konservatif dalam menentukan tiras front list (judul baru), termasuk juga pengurangan judul terbitan per bulan. Dan dapat dipastikan buku-buku baru dari penerbit-penerbit yang terkonsentrasi di Jakarta-Bandung-Jogja banyak beredar di tiga kota itu saja. Alhasil, masyarakat pembaca di daerah lain harus bersabar menunggu sampai buku tersebut benar-benar meyakinkan atau juga harus puas masih mendapatkan buku-buku lama terbitan satu-dua tahun yang lalu. Adapun penerbit-penerbit yang punya armada penjualan kuat dan juga dana yang kuat tentu menjadi kesempatan melaju tanpa terbendung, apalagi jika berjaya pula mengakuisisi naskah-naskah hebat.

Tiras yang pas dengan pertimbangan telah stabilnya pasar untuk wilayah Jawa (DKI, Jabar, Jateng, Jatim) dalam asumsi optimis (menurut saya) adalah 3.000-3.500. Dalam asumsi konservatif untuk 2009 tentulah di angka 2.000 eksemplar per judul. Dalam asumsi superoptimis tentulah menaikkan buku langsung pada tiras 10.000 sehingga harga buku pun menjadi bersaing dan buku bisa memenangi display karena dipajang di floor display dengan jumlah stock 100-200 per toko buku.

Kesimpulannya sebuah tiras yang pas untuk tetap survive ataupun mengalami growth pada musim penjualan buku 2009 adalah hal-hal berikut: 1) content atau isi buku yang memang memenuhi kebutuhan, rasa ingin tahu, serta kecenderungan minat masyarakat (tren dapat diciptakan); 2) context atau kemasan buku yang memiliki daya pikat dan daya tawar tinggi sehingga menimbulkan rasa percaya diri menjualnya; 3) penulis yang bereputasi; 4) community yang telah ada maupun dibangun sendiri networknya sehingga memantapkan target penjualan (misalnya penerbit Anda punya jaringan emosional dan profesional dengan salah satu MLM syariah maka Anda punya kans menjual buku-buku tentang ekonomsi syariah di kalangan mereka dengan angka tiras tertentu); 5) penulis yang memiliki kapabilitas dan kredibilitas positif; 6) stabilitas ataupun kekuatan spreading-distribusi-sales yang sudah mantap (kalau belum mantap, lebih baik mengambil langkah superhati-hati dengan tiras mini).
Semoga berguna, tetap optimis dan mau berubah.

Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Nasional
http://groups.yahoo.com/group/editorindonesiaforum/message/1202

Selasa, 2008 November 18

BOOK COACHING: MENJADI PENDAMPING PENULIS


Dua bulan saya nyaris absen total dari dunia maya. Dua hingga tiga bulan belakangan, saya memang sedang digempur habis oleh kesibukan atau aktivitas penulisan karya terbaru saya sekaligus pendampingan-pendampingan penulisan buku para klien. Dan, seperti kasus-kasus yang selama ini saya tangani, selalu saja ada hal menarik yang bisa dibagikan dan diambil pelajarannya.

Saya akan coba ceritakan kasus pendampingan saya dalam penulisan buku berjudul Rahasia Mendapatkan Nilai 100 (Sinotif, 2008) karya Hindra Gunawan. Kasus terakhir yang saya tangani ini terbilang sangat menarik, mengingat dalam waktu kurang dari tiga bulan, Hindra berhasil menuntaskan dan menerbitkan bukunya, sekaligus mendirikan sebuah penerbitan mandiri bernama Sinotif Publishing.

Tambah menarik lagi, mengingat si penulis adalah seorang pengajar sekaligus eksekutif lima perusahaan, yang sehari-hari benar-benar disibukkan oleh urusan bisnisnya, tetapi masih sanggup bagi waktu demi menyelesaikan penulisan buku setebal 200 halaman lebih itu. Dan, menampingi penulis-penulis “gila” semacam ini memang salah satu kegemaran saya he he he….

Baik, ketika menerima tawaran sebagai coach atau pendamping dalam proses penulisan buku ini, saya sempat membayangkan bahwa ini adalah sebuah proyek yang terbilang mudah dikerjakan. Klien atau penulis yang saya dampingi ini adalah seorang pengajar, trainer, hipnoterapis, sekaligus businessman yang sangat menguasai bidang yang hendak dia tulis.

Tetapi, asumsi itu langsung saya koreksi begitu si klien menetapkan target bahwa buku harus bisa diterbitkan dalam kurun dua hingga tiga bulan. Alasannya, ada serentetan acara konfensi atau ekspo yang bisa dimasuki oleh buku tersebut. Celakanya, buku benar-benar digagas, dirancang, dan harus ditulis dari nol sama sekali!

Begitu kontrak pendampingan kami tandatangani, saya langsung ancang-ancang strategi, dan saya komunikasikan dengan sejelas-jelasnya kepada klien ini. Pertama, saya tegaskan bahwa antara coach dan coache (klien) harus sama-sama berkomitmen untuk bekerja keras, tahan banting, bila perlu ‘setengah memaksakan diri’ dalam beberapa langkah nantinya.

Kedua, saya tekankan bahwa sebagai coach atau pendamping, fungsi saya adalah memaksimalkan dan mengaktualkan potensi si klien melalui proses pembelajaran penulisan buku. Wujudnya adalah sebuah karya tulis yang harus benar-benar dirasakan sebagai karya orisinal si penulis, berkualitas, serta memuaskan diri sendiri atau target pembaca.

Ketiga, saya juga tegaskan bahwa dalam beberapa tahapan nantinya, terkadang saya harus bersikap “keras” demi mempertahankan kefokusan klien. Mengapa? Sebab, dari berbagai kasus yang pernah saya tangani, sangat sering muncul sindrom “masterpiece” dalam diri penulis-penulis pemula. Maksudnya, muncul hasrat untuk membuat karya selengkap dan sehebat mungkin pada kesempatan pertama menulis buku, sementara realitasnya mereka dihadang oleh konstrain waktu yang sulit diajak kompromi.

Keempat, saya jelaskan berbagai risiko penulisan dan penerbitan buku dalam tenggat waktu yang sedemikian sempit. Kalau dalam waktu normal saja kita butuh ketelitian yang maksimal agar kita bisa menghasilkan naskah yang berkualitas, rapi, lengkap, dan minim kesalahan. Terlebih kalau konstrain waktunya “abnormal”, pastilah butuh ketelitian dan ketekunan yang hitungannya ekstra maksimal he he he…

Kelima, saya “peringatkan” di awal, bahwa saya akan mendera klien dengan anjuran dan ajakan yang terus-menerus supaya yang bersangkutan lebih percaya diri untuk menggali bahan-bahan penulisan dari pengalaman sendiri. Selebihnya, bolehlah ditambahkan dari berbagai literatur atau teori-teori dari pakar lainnya. Langkah ini, selain mempercepat proses penulisan, ternyata juga ampuh untuk menghadirkan banyak hal atau temuan baru ke dalam naskah buku kita.
Nah, ancang-ancang strategi beserta asumsi atau dugaan-dugaan saya ternyata sungguh-sungguh mewarnai proses pendampingan buku Hindra Gunawan ini. Dari sisi kerja keras, memang ada totalitas, yang mana jadwal pertemuan pendampingan pun bisa bertambah dua kali lipat. Sementara, klien harus menambah alokasi waktu pendampingan, riset, dan penulisan lebih dari yang diduga semula. Hasilnya, proses penulisan bisa sangat cepat, tetapi risikonya sampai membuat gusi si penulis yang vegetarian ini pecah dan berdarah-darah. Untuk semangat yang beginian, tanpa ragu-ragu saya beri nilai 100 he he he….

Dari segi kefokusan penulis, dugaan saya terbukti, bahwa sindrom “masterpiece” akhirnya muncul. Tanda-tandanya? Klien menuntut diri untuk bisa menghasilkan karya yang jauh lebih hebat ketimbang pesaingnya, lebih lengkap, dan itu dilakukan dengan terus-menerus menambah jumlah literatur yang hendak dijadikan referensi. Bahkan, sampai pada detik-detik terakhir, penambahan-penambahan bab masih terus berlangsung, lengkap dengan segala kekuatan dan kelemahannya.

Ini idealisme yang harus dihargai, tetapi saya terus berpegang pada sikap pragmatis-realistis, karena yang dihadapi adalah limit waktu. Pada tahapan inilah, selain memfungsikan diri sebagai motivator kepenulisan, saya juga berubah wujud menjadi mitra pembelajaran yang sangat kritis, bahkan terbilang “keras” kepada klien. Tanpa sikap seperti ini, klien tidak akan fokus dan disiplin dalam mengejar target penyelesaian penulisan seperti yang sudah disepakati bersama. Dan, posisi yang saya pilih itu ternyata memberikan hasil sangat positif.

Dari sisi kebaruan karya, akhirnya tercapailah tujuan kami semula, bahwa buku yang dihasilkan sungguh-sungguh menyajikan banyak hal baru kepada pembaca. Klaim ini dibuktikan dengan banyaknya bab, contoh-contoh, kasus-kasus, kiat-kiat, dan argumentasi-argumentasi yang relatif baru karena digali dan diolah dari hasil riset, observasi langsung, atau dari pengalaman penulis serta orang-orang di sekitarnya.

Pada titik ini, saya dapatkan pernyataan kepuasan dari si penulisnya sendiri. Yang mana, proses pembelajaran tersebut telah mendorong dirinya untuk lebih fokus pada penyajian hal-hal baru dalam bukunya, ketimbang mengulang-ulang isi buku-buku yang pernah dia baca atau yang menjadi referensi penulisan.

Akhirnya, buku Rahasia Mendapatkan Nilai 100 berhasil diterbitkan tepat sesuai jadwal. Lepas dari sisi kekurangansempurnaan produk akibat konstrain waktu, baik saya sebagai pendamping/konsultan maupun si penulis merasakan suatu kepuasan atas hasil sebuah kerja keras bersama. Kepuasan itu bertambah lagi dengan munculnya kebanggaan dan rasa syukur, manakala kami melihat banyak orang tertarik membeli buku itu saat di-display di sejumlah ajang ekspo, pelatihan, dan seminar. Selanjutnya, kita tunggu saja, apakah kombinasi penjualan langsung serta penjualan melalui jaringan toko-toko buku mampu menghantarkan buku tersebut ke tangga buku bestseller.

* Edy Zaqeus adalah seorang penulis buku bestseller, editor profesional, penerbit, trainer, dan konsultan penulisan/penerbitan.

Jumat, 2008 Oktober 24

Peluang di Balik, Program Pendidikan Anak usia Dini (PAUD)


Latar Belakang
Tahun 2005 UNESCO mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terendah di ASEAN, baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86% dan Malaysia (89%). Dan kesemuanya ini semakin tampak dengan Human Development Index (HDI) Indonesia yang juga lebih rendah diantara negara-negara tersebut. Ini membuktikan bahwa pembangunan PAUD berbanding lurus dengan mutu dari sebuah negara yang terdiskripsikan dalam HDI.
Sedangkan Depdiknas dalam buku Pembangunan Pendidikan Nasional tahun 2007 menggambarkan bahwa Pemerintah telah berhasil meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD yang awalnya pada tahun 2004 adalah 39,09% maka pada tahun 2006 sudah mencapai 45,63% dengan target capaian pada tahun 2007 sebesar 48,07%, sudah barang tentu ini merupakan sebuah hal yang menggembirakan bagi pengembangan pendidikan anak usia dini. Kemudian disebutkan bahwa agenda-agenda yang akan dicapai pada tahun 2009 seperti pencapaian APK PAUD usia 2 – 6 tahun sebesar 53,90%. Akan tetapi perlu dikritisi untuk pencapaian 53,90% atau sekitar 10,05 juta orang kualitas dari layanan yang diberikan, bukan kepada kuantitas. Ini menjadi amat penting karena begitu dasarnya PAUD itu bagi seorang manusia dalam kehidupannya yang akan datang.
Pemerintah pada tahun 2001 telah mendirikan Direktorat khusus bagi PAUD yaitu Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia dibawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (sekarang disebut Ditjen PNFI), Direktorat yang bertugas untuk melayani PAUD pada jalur pendidikan nonformal dan informal. Ini disebabkan karena sebelumnya untuk layanan yang diberikan kepada anak usia dini baru pada usia 4 – 6 tahun melalui pendidikan formal yaitu TK, sedangkan melalui jalur pendidikan nonformal dan informal msih belum ada. Pendidikan formal pada tahun 2000 hanya mampu menyerap 12,65% dari total usia tersebut dengan Guru TK hanya sebanyak 95.000 orang untuk memberikan pelayanan 1,6 juta anak usia dini. Sedangkan untuk sisa 0 – 4 tahun masih belum terlayani, oleh karena itu maka Pemerintah berinisiatif untuk mendirikan Direktorat PADU (saat ini disebut Dit. PAUD) yang bertugas untuk melayani anak usia dini yang berumur 0 – 4 tahun.
Perlu diingat, setiap anak itu mempunyai potensi yang unik ketika ia lahir di muka bumi ini, baik secara fisik (jasmani) maupun non fisik (akal, hati dan lain sebagainya), dan dari itu semua sesungguhnya kuncinya ketika anak tersebut berumur 0 – 6 tahun, seperti yang tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas pada pasal 28. Bahkan dalam pasal tersebut juga dijelaskan ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan anak usia dini yaitu: pertama, pembinaan anak usia dini merupakan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Kedua, pengembangan anak usia dini dilakukan melalui rangsangan pendidikan. Ketiga, pendidikan anak usia dini bertujuan untuk dapat membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani (holistik). Dan keempat, pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan persiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Untuk bidang SDM dalam pengembangan PAUD ini dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 29 yang menjelaskan bahwa standar minimal bagi Pendidik PAUD adalah D-IV atau Sarjana dengan latar belakang pendidikan PAUD, psikologi atau pendidikan lainnya yang telah bersertifikasi profesi guru untuk PAUD. Yang kesemuanya merupakan bentuk perhatian Pemerintah betapa pentingnya PAUD bagi bangsa ini .

Bentuk Pendidikan anak
Bentuk dari pendidikan PAUD ini adalah, seperti Play Group untuk anak usia 0 – 6 tahun. Ada yang formal didirikan oleh pemerintah, dan ada juga didasarkan pada swadaya masyarakat. Diharapkan pada setiap kampung di seluruh Indonesia ada PAUD nya.

Realisasi Program
Menurut data direktur PAUD Diknas, pada tahun 2007 Layanan PAUD secara formal dan nonformal, telah menjangkau 13 juta lebih dari 28 juta anak usia dini di seluruh wilayah Indonesia. Untuk anak usia 0-4 tahun berjumlah 20,5 juta. Anggaran PAUD juga terus ditingkatkan dari Rp 221 miliar pada tahun lalu, tahun 2008 naik dua kali lipat. Tahun 2015 layanan PAUD diusahakan bisa mencapai 75 persen semua anak usia dini .

Potensi anggaran
Anggaran untuk pelaksanaan PAUD berasal dari APBN, APBD dan swadaya masyarakat, berikut ini contoh anggaran PAUD dibeberapa daerah:

Di Kabupaten Rokan Hulu, Riau pada tahun 2007, terdapat 100-an desa yang telah ada PAUDnya, anggaran per masing-masing desa sebesar Rp. 160 juta pertahun .

Tahun 2007, dana PAUD Propinsi Riau sebesar Rp. 2.373 juta (2,3 M), tahun 2008 menjadi Rp. 2.486 juta (2,4 M), meningkat 4,56%

Tahun 2008, di Kabupaten Lamongan mendapat alokasi dana cukup besar dari APBD, yakni mencapai Rp 4,187 miliar. Alokasi dana tersebut untuk pendidikan anak usia dini (PAUD)/play group dan taman kanak-kanak (TK)/raudlatul Athfal (RA) .

Alokasi anggaran untuk PAUD dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, terus meningkat dari tahun ketahun, tahun 2003 total sebesar Rp. 475 juta, tahun 2007, melonjak sekitar 15 miliar. Ini diluar anggaran pemerintah propinsi yang besarnya 1,14 miliar.

Melihat manfaat yang begitu besar program pendidikan anak usia dini (PAUD), pemerintah akan memperluas cakupan program PAUD hingga meliputi 3.000 desa miskin di seluruh Indonesia. Program dengan alokasi dana 127,74 juta dolar AS dana berasal dari pinjaman lunak bank dunia, hibah kerajaan belanda, dan APBN, diperuntukkan bagi 783 ribu anak usia 0-6 tahun .

Pada 2006, PAUD memperoleh anggaran Rp 135 miliar ditambah Rp 9 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP). Menurut Direktur PAUD, Gutama, jumlah tersebut masih sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan meningkatkan akses PAUD secara maksimal. Pada 2007, sudah dipastikan PAUD akan memperoleh anggaran Rp 199 miliar. Dana sebesar itu, kata dia, akan dipergunakan untuk sosialisasi serta peningkatan dana rintisan dan kelembagaan

Anggaran yang digelontorkan untuk PAUD nonformal juga terus meningkat. Pada tahun 2007 misalnya total anggaran untuk PAUD mencapai Rp221 miliar, dan meningkat pada tahun 2008 menjadi Rp430 miliar.

Alokasi anggaran Untuk pembelian Buku
Tentunya dana sekitar 430 miliar tersebut, sebagiannya akan di belanjakan untuk alat bantu pendidikan seperti alat peraga dan buku-buku, walaupun belum diketahui dengan pasti berapa besarnya dana yang dialokasikan untuk pembelian buku, namun ini merupakan potensi yang besar sekali untuk dimasuki para penerbit buku.

Peluang
Program pemerintah dalam rangka peningkatan kualitas SDM tersebut, disertai dengan anggaran yang sangat besar sekali, dalam proses pendidikannya, sehingga paling tidak ada beberapa faktor yang menyebabkan program ini seharusnya dioptimalkan pemamfaatan peluangnya oleh penerbit, yaitu:
1. Total anggaran untuk PAUD tahun 2008, sebesar Rp.430M
2. Pemerintah SBY mempunyai komitment yang kuat bahwa tahun 2009 nanti dana anggaran untuk pendidikan nasional harus 20%, ini berarti besaran anggaran yang akan diaalokasikan untuk PAUD, akan terus meningkat
3. saat yang sama pasar buku non anak sedang tertekan, akibat dampak dari kenaikan BBM dan Krisis financial, namun kebutuhan anak-anak tetap akan meningkat dan menjadi prioritas pengeluaran keluarga.

Pemain Pengadaan Buku untuk PAUD
1. Penerbit Dar Mizan
2. Penerbit As Syamil
3. Penerbit Zikrul Hakim
4. Penerbit Bumi Aksara Kids
5. Penrbit Erlangga
6. Indiva, Surakarta
7. dll

Trik Penerbit yang sekarang ikut menawarkan produk
Saya mendapatkan informasi, bahwa ada penerbit yang hanya membikin Dummy, dummy tersebut, ditawarkan kepada bagian pengadaan pemda, setelah mendapat kejelasan buku tersebut masuk dalam proyek pengadaan, baru di cetak secara massal.

Apa yang harus dilakukan Penerbit
1. Buat kesepakatan apakah penerbit mau juga berburu potensi dana tersebut
2. bentuk tim pembentukan imprint anak
3. cari 1 orang SDM yang berpengalaman untuk membuat produk-produk buku-buku PAUD
4. SDM tersebut langsung bertanggung jawab ke Direktur
5. Pemasaran memamfaatkan jalur yang sudah ada, ditambah tim proyek

Jalur Distribusi
Saluran distribusi yang bisa digunakan adalah jalur distribusi konvensional, seperti toko-toko retail, toko-toko buku lainnya, namun perlu juga di cari informasi tentang tim yang biasa memasukkan proyek ke pemerintah.

Penutup
Demikianlah, peluang yang mungkin bisa diambil oleh perusahaan penerbit, ikut berkontribusi dalam mensukseskan PAUD ini. Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Senin, 2008 Oktober 20

Ketika Penerbit menanti Ajal


Dunia Buku:
Akibat krisis moneter sebagian besar penerbit buku merasa kewalahan,
bahkan ada yang berhenti berproduksi. Tanda-tanda akhir zaman bagi
dunia perbukuan di Indonesia?

Krisis ekonomi yang tengah melanda bangsa Indonesia dalam beberapa
bulan terakhir ini benar-benar sudah merasuk ke segala sektor
kehidupan. Tidak terkecuali juga dunia perbukuan. Banyak penerbit buku
nasional sekarang ini kelimpungan dibuatnya. Omzet penjualan buku
mereka turun secara drastis. Bahkan tidak sedikit penerbit buku yang
terpaksa gulung tikar dan berhenti berproduksi.

Omzet Turun.
Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Rozali Usman
mengungkapkan, industri perbukuan di Indonesia kini menghadapi tiga
dampak utama akibat krisis moneter. Pertama, hanya 200 dari 400
anggota Ikapi yang masih aktif. Dari jumlah itu, kini 50% sudah tak
berproduksi lagi. Akibatnya, tentu saja rasionalisasi karyawan tidak
terhindarkan lagi. Kini sebagian besar editor lapangan sudah
"dirumahkan", di samping karyawan lainnya. Dan dampak susulannya,
penerbit yang memutuskan mencetak ulang buku terbitannya, terpaksa
menaikkan harga sekitar 30%. "Ini jelas tidak kondusif. Dan secara
keseluruhan dampak krisis ekonomi ini sudah menurunkan omzet industri
perbukuan nasional sekitar 50%-75%," kata Rozali.

Kondisi tersebut ternyata tidak hanya dialami oleh penerbit-penerbit
buku kecil saja, tapi juga dirasakan penerbit yang sudah besar dan
terkenal. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, misalnya, merasakan
betul adanya penurunan omzet penjualan buku-buku produknya. "Secara
kuantitas penurunannya mencapai sekitar 10%," kata M. Boedi
Yogipranata, manajer Toko Buku Gramedia Matraman kepada Panji. Namun
dalam situasi krisis ini, untuk selama tiga bulan (Februari, Maret,
sampai April ini), Gramedia masih tetap menerbitkan buku-bukunya meski
dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dalam situasi normal.

Hal yang sama juga dirasakan oleh PT Pustaka Sinar Harapan. Menurut
direktur utamanya, Aristides Katoppo, sebelum krisis moneter
berlangsung, penerbit buku yang cukup besar ini bisa memproduksi satu
buku dalam satu minggu. Tapi dalam kondisi sekarang ini, mereka hanya
memproduksi satu buku dalam satu bulan. Itu pun dilakukan karena
komitmen masa lalu agar tetap survive menghadapi gejolak ekonomi.
"Kami harus terus berupaya bertahan dengan melakukan berbagai jurus
untuk menghadapi krisis yang berat ini," katanya.

Penerbit Mizan, Bandung, mengalami problem serupa. Tingkat penjualan
buku yang dihasilkan oleh penerbit ini sekarang sangat merosot
mencapai 75%. Menurut Hernowo, salah seorang direktur di penerbit itu,
kalau dulu dalam sebulan Mizan bisa menerbitkan 4-5 buku, maka
sekarang hanya satu judul buku saja. "Jadi sekarang ini kami mesti
mengerem juga. Misalnya, seharusnya bisa terbit enam buku dalam
Januari-Februari ini, kita mungkin hanya dua buku yang terbit. Dua
buku per bulan, itu sudah bagus betul," katanya kepada Panji.

Kalau penerbit-penerbit seperti Gramedia, Sinar Harapan, Mizan, atau
penerbit buku lain yang sudah besar dan terkenal saja seperti itu,
apalagi yang masih berskala kecil. Kondisinya tentu lebih parah dan
mengenaskan. Menurut Sekjen Ikapi Pusat Setia Dharma Madjid,
berdasarkan laporan, sejumlah penerbit di daerah sudah tidak melakukan
lagi aktivitasnya. Di Jawa Timur, misalnya, 90% penerbit di sana sudah
berhenti berproduksi, sedangkan di Jawa Tengah 50% penerbitnya sudah
kolaps. Sementara di Jawa Barat kondisinya tidak jauh berbeda.
"Beberapa penerbit untuk sementara terpaksa menghentikan produksinya
hingga keadaan stabil kembali," kata ketua Ikapi Jabar Aan Soenandar.

Nah, yang menjadi biang keladi atau penyebab utama munculnya semua itu
apalagi kalau bukan naiknya harga kertas yang makin menggila: mencapai
300%. Dan itu kemudian berpengaruh juga pada naiknya harga
barang-barang komponen produksi buku lainnya, seperti tinta, pelat,
film, dan sebagainya. Kenaikan harga kertas ini terasa ironis karena
faktanya kita memiliki 74 pabrik kertas dengan kapasitas produksi 7,2
juta ton per tahun. Kita juga punya 17 pabrik pulp (bubur kertas) yang
merupakan bahan baku utama kertas dengan kapasitas produksi sebesar
4,3 juta ton per tahun. Lantas di mana masalahnya sehingga harga
kertas demikian terguncang akibat krisis moneter ini (lihat, Menanti
Panen HTI).

Komponen biaya untuk kertas memang menempati porsi yang sangat besar
pada keseluruhan biaya produksi buku. "Angkanya bisa mencapai
40%-60%," kata Hernowo dari Mizan. Jadi wajar bila perubahan harga
pada kertas yang mencapai 300% itu mempunyai pengaruh signifikan pada
harga buku. "Perubahan harga kertas sekarang ini membuat kami terpaksa
menaikkan harga buku sampai 30%," ungkap Rozali Usman, ketua umum DPP
Ikapi.

Berbagai Kiat.
Memang, untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, banyak
cara yang diambil oleh tiap-tiap penerbit buku. Penerbit Pustaka Sinar
Harapan, misalnya, selain mengurangi jumlah produksi bukunya, terpaksa
harus menyetop alias tidak memperpanjang lagi kontrak tenaga kerja.
"Mulai bulan ini, kami terpaksa melakukan rasionalisasi terhadap 30%
tenaga kerja yang masih terikat kontrak. Perusahaan hanya mampu
membayar gaji karyawan paling hingga bulan April atau Mei mendatang,"
kata Aristides Katoppo.

Mengurangi jumlah produksi buku dan penghematan kemasannya juga
dilakukan oleh Sinar Harapan, Gramedia, dan Mizan. Menurut Adi Hendro,
salah seorang staf produksi buku di Gramedia, selain mengurangi jumlah
produknya, penerbitnya itu juga agak selektif dalam mengemas buku.
"Kalau dulu dengan format yang lebar kini lebih kecil. Warna cover
buku yang dulu dengan hot bann, kini dengan hot print," katanya.

Pemilihan tema buku secara selektif, juga dilakukan Mizan. Menurut
Hernowo, selain mengurangi jumlah produksi buku, kami juga harus
memilih secara selektif buku-buku yang akan diterbitkan. "Kalau
kira-kira buku itu akan diminati pasar, akan kami terbitkan. Kalau
tidak, meski naskah sudah siap, akan kami tunda penerbitannya,"
katanya. Dan menurutnya, di antara buku yang sudah siap namun terpaksa
ditunda penerbitannya adalah karya Dr. Jalaluddin Rahmat berjudul
Menjawab Soal-Soal Islam Kontemporer.

Jalan paling lumrah yang dipilih oleh berbagai penerbit buku adalah
dengan menaikkan harga. "Ini merupakan cara yang paling masuk akal dan
tak bisa dielakkan, sejalan dengan naiknya harga-harga barang lain
termasuk sembilan bahan pokok (sembako)," kata Abbas al-Jauhari, staf
editor penerbit Rajawali Pers kepada Panji. Memang, jalan itu tidak
dapat dielakkan. Toh, hampir semua penerbit buku sekarang ini sudah
melakukan hal itu.

Bersaing dengan Sembako.
Namun jalan itu bukan tanpa persoalan, terutama jika dikaitkan dengan
minat dan kemampuan daya beli masyarakat akan buku dalam situasi
krisis sekarang ini. "Jangankan untuk beli buku, untuk beli sembako
pun sulitnya bukan main," kata Ibu Aminah Suhaemi kepada Panji. Dengar
juga pendapat Dimas, mahasiswa Fakultas Kedokteran UI. Kepada Panji,
dia mengeluh soal mahalnya harga buku-buku kedokteran yang wajib dia
gunakan dalam kuliah. "Sebelum krisis harganya hanya Rp200.000, tapi
sekarang sudah naik empat kali lipat: Rp800.000! Mau dikopi, selain
hasilnya jelek, harganya pun jauh lebih mahal," keluhnya miris.

Memang, tingginya harga buku di Indonesia sudah menjadi keluhan klasik
di kalangan masyarakat pembaca, apalagi dalam masa krisis seperti
sekarang ini. Karenanya, tak heran jika toko-toko buku besar seperti
Gramedia dan Gunung Agung di Jakarta terlihat sepi dan lengang.
Menurut pantauan Panji di Gramedia Mal Pondok Indah, Sabtu pekan lalu,
misalnya, tampak hanya 10 pengunjung yang datang. Itu pun hanya untuk
melihat-lihat dan membaca-baca buku di tempat. Ada yang membeli,
memang, tapi yang dibeli itu bukan buku melainkan kartu ulang tahun!

Sungguh memprihatinkan kondisi dunia perbukuan di Indonesia sekarang
ini. Ibaratnya, sudah jatuh (karena krisis moneter dan naiknya harga
kertas) tertimpa tangga pula (siapa yang mau beli?). Lagi pula,
bukankah masyarakat Indonesia sudah lama terkenal rendah minat
bacanya? Lalu, jika persoalan ini dikaitkan dengan proses pendidikan
dan pencerdasan kehidupan bangsa, bagaimana masa depan generasi muda
Indonesia selanjutnya?

Menurut pengamat pendidikan Prof. Dr. Bun Yamin Ramto, kita memang
tengah menghadapi masa-masa yang teramat sulit. Dalam soal kualitas
perbukuan, secara umum harus diakui bahwa bangsa kita makin merosot.
Jika kondisi perbukuan yang tengah dilanda krisis ini terus berlanjut,
itu akan berpengaruh pada persoalan pendidikan dan proses pencerdasan
bangsa (lihat, Generasi Tanpa Jendela). "Bacaan atau buku adalah alat
kebutuhan pokok masyarakat. Kita harus camkan betul-betul: kalau kita
mau maju, tidak bisa tanpa bahan bacaan. Jepang maju karena bacaan,
Cina maju karena bacaan, Amerika maju karena bacaan," kata Rektor ISTN
itu kepada Panji.

Untuk itu, Bun Yamin Ramto mengajak semua pihak, termasuk pemerintah,
untuk ikut memecahkan persoalan harga kertas ini demi memajukan dunia
perbukuan nasional, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. "Semua
pihak, termasuk pemerintah, berusaha bahwa buku itu harus diadakan
secara lebih banyak dan berkualitas. Dan agar masyarakat bisa membeli
dan memiliki buku, sebetulnya buku itu tidak harus dikemas secara
luks, biasa saja. Saya juga anjurkan supaya pajak-pajak yang
menyangkut buku dihilangkan," katanya.

Usul tersebut juga didukung Ketua Majelis Luhur Taman Siswa Dr. Ki
Supriyoko. Menurutnya, dalam situasi krisis sekarang ini, pemerintah
diharapkan ikut turun tangan membantu kondisi dilematis perbukuan
kita. "Misalnya dengan mengurangi biaya pajak yang harus dibayar oleh
setiap penerbit. Saya kira pemerintah dapat melakukan itu, seiring
dengan niatan pemerintah untuk meningkatkan minat baca di kalangan
masyarakat," tegasnya.

Sebetulnya, untuk menyelesaikan masalah perbukuan ini, kalangan
penerbit yang tergabung dalam Ikapi tidak hanya tinggal diam. Pada Mei
1997 lalu, misalnya, sebelum krisis moneter terjadi, mereka sudah
membuat rekomendasi berisi enam butir permohonan usulan kepada
pemerintah agar: (1) mendorong industri yang khusus memproduksi kertas
untuk buku; (2) mengontrol secara berkala dan berkelanjutan soal harga
kertas; (3) memberikan keringanan PPn; (4) memberikan keringanan PPN
terhadap penjualan buku, sehingga harganya dapat lebih terjangkau; (5)
mengimbau PT Pos Indonesia untuk menerapkan tarif khusus terhadap
pengiriman buku; dan (6) menurunkan PPH pengarang buku (sekitar
0%-2,5%). Sayangnya, menurut Rozali Usman, rekomendasi itu hingga kini
belum ditanggapi.

Mudah-mudahan dalam hearing Ikapi dengan Komisi VII DPR, yang tidak
lama lagi akan dilaksanakan, usulan itu bisa lebih cepat menuai hasil.
Dan mudah-mudahan pula, dilema yang dihadapi kalangan perbukuan
nasional ini cepat berakhir.

NASRULLAH ALIEF, DUDI RAHMAN, RIFWAN HENDRI, HASBUNAL M. ARIEF, DAN M. RIDWAN PANGKAPI
http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/03/06/0195.html

Selasa, 2008 Oktober 14

Picu Minat Baca, Buku 'Dikawinkan' dengan Game


New York - Sebagian anak zaman sekarang kemungkinan bakal lebih memilih main game ketimbang membaca buku. Sebagai jalan tengah, program yang 'mengawinkan' buku dengan video game pun dikembangkan.

Penulis Amerika Serikat bernama PJ Haarsma misalnya, menulis novel untuk anak-anak yang dikombinasikan dengan video game. Anak-anak pun bisa asyik bermain game tanpa melupakan manfaat membaca buku.

Pasalnya, seperti dilansir New York Times dan dikutip detikINET, Rabu (14/10/2008), untuk memenangkan permainan game yang menampilkan setting cerita dari dalam buku, anak-anak harus mencari informasi tertentu dengan membaca novel tersebut.

Di lain pihak, penerbit buku kenamaan Random House juga sedang mengerjakan proyek serupa. Mereka mengandalkan buku karya Christopher Paolini berjudul 'Brisingr' yang dikombinasikan dengan game online. Sejauh ini, sudah ribuan orang berminat memainkan game tersebut di situs mereka.

Demikian juga dengan penerbit ternama lainnya, Scholastic, yang terkenal karena mempublikasikan fiksi populer Harry Potter di Amerika Serikat. Mereka menerbitkan seri kisah fiksi bernama 'The Maze of Bones' yang juga dilengkapi dengan game berbasis web.
http://www.detikinet.com/read/2008/10/15/102054/1020250/398/picu-minat-baca-buku-dikawinkan-dengan-game

Senin, 2008 Oktober 06

Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM)


Bulan Januari yang lalu saya diberi kesempatan oleh kantor saya untuk belanja naskah dan berkunjung ke pameran buku Internasional di Kairo, pameran ini merupakan salah satu pameran buku terbesar di dunia setelah pameran buku Internasional di Frankfurt, Jerman, yang biasanya di adakan bulan oktober setiap tahunnya. saya bertemu dengan teman lama yang sekarang ternyata juga membuat penerbitan buku Islam. Saat bincang-bincang tentang penerbitan, salah satunya kami terlibat diskusi seputar pemasaran buku. Sejak tahun 2002 Sehari-hari saya mengeluti dunia pemasaran buku Islam, akhirnya saya menawarkan diri untuk membantu memsupervisi jika penerbitan beliau punya masalah dalam tim pemasarannya.

Bincang-bincang tersebut, awalnya menguap seiring dengan sesampainya di tanah air saya juga disibukkan dengan pekerjaan dipenerbitan dan teman saya tersebut, juga sibuk, karena saat mendirikan penerbitan beliau juga sedang mengambil program doctoral di Libya. Nah hari ini 6 oktober 2008, saya dikontak lagi oleh teman tersebut menagih janji yang dulu sempat kita bincangkan di Kairo. Apa yang harus dilakukan untuk memperkuat tim marketing penerbitan buku Islam.

Terinspirasi dari hal tersebut, saya menuliskan pengamatan saya tentang suatu penerbit buku Islam, cukup besar di Jakarta, dengan omset penjualan 10 – 20 M per tahun, untuk menjaga etika terhadap penerbit tersebut ,selanjutnya penerbit ini kita sebut sebagai penerbit A.

Ada satu teori sederhana yang banyak digunakan dalam membuat suatu produk, yaitu Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM), dengan berbekal teori sederhana ini, saya mencoba memaparkan hasil pegamatan saya terhadap penerbit A dengan sistematika SWOT, dengan harapan untuk diambil pelajaran bagi penerbit A tersebut, bagi teman saya dan bagi banyak orang yang berminat mendirikan penerbitan atau orang-orang yang sekarang sedang bekerja di dunia penerbitan buku Islam.

Strenght (Kekuatan)
1. Terdapat lebih kurang 20-an buku best seller yang temanya dibutuhkan sepanjang waktu (long live cycle)
2. Jumlah produk yang aktif di cetak + 250 judul
3. Jaringan distribusi langsung yang di tangani dari pusat ada sekitar 350 toko (yang terdiri dari toko-toko buku Islam konvensional, TB Gramedia/Tri Media, TB Gunung Agung, TB Karisma, TB Utama/Book City, TB Tiga serangkai, TB Kurnia Agung, TB Semesta, dll).
4. Terdapat 5 – 8 judul buku baru perbulan
5. Karakter yang kuat sebagai penerbit yang terdepan memerangi faham liberal dan aliran sesat.
6. Back up financial yang memadai
7. Suasana kerja, mengedepankan kultur kekeluargaan

Weakness (Kelemahan)
1. Lambat merespon keinginan pasar, contoh sudah 4 tahun diusulkan agar penerbit A ini membuat Al Qur’an, dan baru disetujui oleh direktur , tahun 2008 ini, itupun tidak ada kejelasan kapan akan diterbitkan, begitu juga lini, anak-anak, sudah diusulkan lama sekali, namun lambat direspon oleh direktur, begitu juga lini fiksi, sudah diusulkan lama, yang paling mengecewakan adalah tidak jelas, apa hambatan dalam membuat lini tersebut
2. Tidak mampu mempertahankan karyawan potensial
3. Design cover dan packaging yang kuno
4. Kualitas cetak dan lay out yang tidak berkembang, tetap seperti dulu (kuno)
5. Belum ada kesungguhan dari mulai direktur sampai ke manager untuk
membuat sistim yang kuat, seperti Standar waktu ideal dari semenjak naskah diterima penerbit sampai buku tersebut siap dipasarkan, Standar operating Proyek (SOP), petunjuk pelaksana yang tertulis, dll
6. terpisahnya departemen produksi dan departemen redaksi, yang berakibat
pada tidak jelasnya kapan buku bisa diterbitkan, karena masing-masing mempunyai otoritas sendiri, dan direktur tidak mampu memaksa kedua departemen ini untuk bisa bekerjasama.
7. promosi yang belum terarah


Opportunity (Peluang)
1. Terbuka lebar kesempatan untuk mengembangkan penjualan, karena jaringan distribusi sudah siap
2. pasar potensial buku Islam semakin besar karena jumlah dan kesadaran religi masyarakat semakin baik
3. Masyarakat masih sangat membutuhkan buku-buku dengan tema ibadah, buku-buku bacaan anak-anak, dan al qur’an dengan berbagai jenisnya

Treath (Ancaman)
1. Bermunculannya penerbit baru yang bisa cepat merespon kebutuhan pasar dan mampu cepat membuat produk yang siap dipasarkan.
2. sampai saat ini penerbit A ini masih berbadan hukum CV (perusahaan pribadi), dalam pelaksanaanya direktur Sangat dominant, sampai-sampai pesanan tidak akan bisa terkirim ke relasi jika uang di keuangan tidak ditambah oleh direktur dengan cara mengambilnya terlebih dahulu di ATM, artinya jika terjadi “apa-apa” dengan direktur, maka tidak jelas nasib penerbit A ini, apakah bisa berlanjut atau langsung bubar

Nah, dari SWOT diatas terhadap penerbit A, maka diharapkan bagi siapa saja mampu memilah-milah , mana faktor yang siknifikan mempengaruhi penerbitan buku Islam, selanjutnya jika faktor tersebut anda anggap penting, maka tirulah dan modifikasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan anda, selamat mencoba.

Jaharuddin
Praktisi pemasaran Buku Islam

Senin, 2008 September 15

Ramadan, penjualan buku Islami naik 30%

Solo (Espos)--Pada sepekan awal memasuki Ramadan tahun 2008, penjualan buku bernafaskan Islami di kompleks kios buku belakang Stadion Sriwedari Solo meningkat hingga 30% di banding hari biasa. Kebanyakan buku-buku yang diburu masyarakat berisi muatan materi-materi seputar Ramadan.

Salah satu penjaga kios buku Aziz Agency, Taqwin, mengatakan sejak hari pertama puasa, masyarakat mulai memadati kios-kios buku di belakang Stadion Sriwedari. Sedang jumlah konsumen yang datang ke kiosnya saat ini rata-rata mencapai 30 orang.

"Buku-buku yang banyak dibeli seputar amalan-amalan Ramadan. Juga ramai juga Alquran dan tafsirnya," jelasnya kepada Espos, Selasa (9/9) di kiosnya.

Penjaga kios buku lain, Jumanto, menyampaikan agar pembeli meningkat, pihaknya memberikan diskon buku mencapai hingga 40%. Jumlah buku yang dibeli konsumen beragam dari satu eksemplar buku hingga berjilid-jilid buku, terutama konsumen dari kalangan sesama penjual buku. Diprediksi, peningkatan penjualan tetap mengalami peningkatan sampai hari H Lebaran serta sepekan setelah Lebaran.

"Selain buku Islami, peningkatan penjualan juga terjadi pada produk madu. Di banding hari-hari biasa, penjualan madu saat bulan puasa ini bisa hingga 2 kg per hari atau berkwintal-kwintal bagi konsumen besar," ujarnya.

Senada, penjual buku di Kios Buku Putera Indonesia, Farel, menyampaikan selama sepekan Ramadan ini, omset yang diraih rata-rata Rp 200.000/hari atau meningkat sekitar 15% dari hari biasa.
http://www.solopos.com/berita.php?ct=12644&d1=ekonomi%20bisnis

Kamis, 2008 September 11

Editor adalah Idetor


Beberapa hari yang lalu, saya mendapat cerita dari teman yang ikut pelatihan pemasaran buku di IKAPI Jaya, dari cerita teman tersebut ada beberapa hal yang bisa saya sharing, Semua penerbit tentunya mengharapkan mampu menerbitkan buku yang berkwalitas sekaligus buku yang laku (best seller) di pasar. Namun keinginan ini belum tentu selaras dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh penerbit sendiri untuk menjadikan produknya (bukunya) yang berkwalitas dan best seller. Jika buku menjadi buku yang best seller banyak pihak akan menjadi senang, baik penulis, penerbit termasuk juga toko buku.

Salah satu faktor penting dalam terbitnya buku berkwalitas dan best seller adalah , editor bukan hanya sebagai pengedit naskah yang masuk ke redaksi, namun editor juga mempunyai ide (idetor) yang kreatif, sehingga naskah yang biasa-biasa saja akhirnya bisa menjadi luar biasa di tangan idetor. Salah satu contoh misalnya ketika naskah yang diterima fontnya monoton, dan kurang kreatif, maka sang idetor seharusnya mampu mencarikan font yang baik, enak dimata dan bisa jadi menambahkan diagram, flow chart, dan lain sebagainya. Wal hasil jadilah buku yang kreatif, inovatif dan best seller.

Mungkin ada yang berfikir, lo…kalau begitu bisa jadi seorang idetor akhirnya seperti penulis?, bisa jadi ya, karena editor yang baik, sekaligus juga bisa sebagai penulis yang handal. Satu hal lain lagi yang perlu dikembangkan di editor dan staff keredaksian adalah semangat menerima kritikan dan mau memberikan kritikan yang pedas sekalipun untuk pengembangan produk, karena adakalanya tidak semua orang siap menerima kritikan, apalagi menyangkut kerja yang telah dilakukan seseorang, nah untuk menumbuh suburkan “semangat bisa menerima” ini, suasananya harus dibuat sekondusif mungkin sehingga orang bsia menerima, termasuk setter, designer, dll yang terkait. Harus dilibatkan dan diajak untuk bisa saling menerima.

Dalam konteks pemasaran buku, kualitas produk sangat menentukan keberhasilan buku di pasaran, sebagai misal buku yang isinya sangat berkwalitas tapi tidak di “packaging” dengan baik, berdampak pada tidak terjualnya buku tersebut kepasaran, begitu juga naskah (bahasa arab atau dari bahasa Ingris) yang kualitasnya bagus namun diterjemahkan dengan asal-asalan, akan berdampak juga pada penjualan, jadi kombinasi pada naskah yang bagus dan penampilan yang menarik merupakan salah satu faktor penting best sellernya produk.

Untuk menjaga semangat editor yang idetor, dapat ditempuh dengan kunjungan ke toko buku, kunjungan ke pameran, mengadakan diskusi terbuka tentang ide baru, melakukan kajian mendalam kenapa buku “A” menjadi best seller. seperti laskar pelangi, paling tidak ada beberapa faktor yang menyebabkan buku tersebut menjadi best seller, seperti :
1. buku yang baik itu ada tokoh disana
2. bahasanya bahasa obrolan
3. mengikuti trend yang ada
4. sehingga orang ketika membaca, orang kembali membicarakannya, promosi mouth to mouth
5. kertasnya enak dibaca, dll

Trade off antara target dan kualitas buku

Adakalanya seorang editor sering mengeluhkan antara target yang dibebankan dengan membuat buku yang berkwalitas, “bagaimana mau membuat buku yang berkwalitas saat yang sama juga ditargetkan harus mampu membuat sekian judul buku dalam sebulan”. Seharusnya ini tidak perlu dipertentangkan, karena selayaknya editor (Idetor) yang professional mampu mengawinkan antara kualitas yang tinggi dengan kecepatan yang terukur dalam menghasilkan produk. Jadi tetap target tercapai dengan cepat namun kualitas dan proses kreatif juga selalu menjadi hal yang utama.
Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Kamis, 2008 September 04

Ciri-ciri Naskah Buku yang Berkualitas


Naskah buku adalah tulang punggung penerbit. Tanpa sebuah naskah, tidak akan ada penerbitan. Naskah buku bisa didapatkan dengan berbagai cara, di antaranya kreativitas penerbit dengan menyusun langsung buku-buku tertentu, kiriman penulis, hasil kajian ilmiah pakar tertentu, atau jika mungkin penerbit mengadakan sayembara mengarang/menulis buku, yang terbaik nanti diterbitkan.

Walau demikian tidak sembarang naskah akan diterbitkan, semuanya harus memenuhi persyaratan. Hal ini baik menyangkut bisnis maupun idealisme. Sebuah penerbitan akan rugi besar jika buku yang diterbitkan ternyata tidak laku di pasaran. Begitu pula seorang penerbit harus mempunyai tanggung jawab moral untuk mencerdaskan masyarakat, tidak melulu bisnis.


Menurut Sofia Mansoor dan Niksolim (1993), untuk menerbitkan sebuah buku sebuah penerbitan harus bisa memenuhi kriteria berikut ini:

1. Keperluan
Apakah buku ini memang diperlukan masyarakat? Mengapa?

2. Sasaran pembaca
Siapakah pembaca buku ini: umum, dewasa, anak-anak, kaum ibu, orang tua, mahasiswa (jurusan apa, tingkat berapa).

3. Jumlah Pembaca
Berapa kira-kira ukuran pasar? Hal ini tidak mudah dijawab, tetapi untuk buku tertentu jawabannya mudah. Misalnya, buku pelajaran mudah diperkirakan jumlah pembacanya karena yang menggunakannya pelajar pada jenjang pendidikan tertentu.

4. Isi Naskah
Apakah isi naskah tidak menyinggung SARA (suku, ras, agama, dan antar golongan/adat istiadat), tidak menentang ideologi negara, sesuai dengan tingkat pembaca?

5. Saingan
Apakah ada buku lain yang menjadi saingan buku tersebut? Sebutkan judulnya. Apa kelemahan dan kelebihan naskah buku ini dibanding saingannya?

6. Penyajian
Apakah isi ditulis dengan susunan tertib, apakah bahasa pengarang mudah dipahami, apakah ilustrasi mendukung uraian?

7. Kemutakhiran
Apakah isi buku ini tidak ketinggalan zaman? Jawabannya dapat diperolah dengan mengamati daftar pustaka yang diacu pengarang.

8. Hak cipta
Apakah penelaah mengenali ada bagian yang dikutip dari buku lain? Penerbit harus waspada agar jangan sampai penerbit dituntut karena menerbitkan buku jiplakan.

9. Kelayakan terbit
Apakah buku tersebut layak diterbitkan oleh penerbit yang bersangkutan? Sejumlah penerbit hanya menerbitkan buku-buku tertentu, buku agama, sekolah, universitas misalnya.

Seorang penulis yang mampu menyelami nurani massa, akan mampu menulis buku yang bukan hanya berkwalitas, tapi juga disukai khalayak pembaca. Buku yang laku, akan menguntungkan dari segi dakwah, semakin banyak pembaca berarti dakwah semakin tersebar luas. Dari sudut ekonomi, baik penerbit maupun penulis, jelas akan diuntungkan dengan buku best seller (laris di pasaran).

By Abu Al-Ghifari
http://penulissukses.com/penulis9.php

Mengenal Sejarah Buku

Sejarah Perkembangan Buku
Pada zaman kuno, tradisi komunikasi masih mengandalkan lisan. Penyampaian informasi, cerita-cerita, nyanyian, do’a-do’a, maupun syair, disampaikan secara lisan dari mulut ke mulut. Karenanya, hafalan merupakan ciri yang menandai tradisi ini. Semuanya dihafal. Kian hari, kian banyak saja hal-hal yang musti dihafal. Saking banyaknya, sehingga akhirnya mereka kuwalahan alias tidak mampu menghafalkannya lagi. Hingga, terpikirlah untuk menuangkannya dalam tulisan. Maka, lahirlah apa yang disebut sebagai buku kuno.

Buku kuno ketika itu, belum berupa tulisan yang tercetak di atas kertas modern seperti sekarang ini, melainkan tulisan-tulisan di atas keping-keping batu (prasasti) atau juga di atas kertas yang terbuat dari daun papyrus. Papyrus adalah tumbuhan sejenis alang-alang yang banyak tumbuh di tepi Sungai Nil.

Mesir merupakan bangsa yang pertama mengenal tulisan yang disebut hieroglif. Tulisan hieroglif yang diperkenalkan bangsa Mesir Kuno bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Mereka menuliskannya di batu-batu atau pun di kertas papyrus. Kertas papyrus bertulisan dan berbentuk gulungan ini yang disebut sebagi bentuk awal buku atau buku kuno.

Selain Mesir, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat tulisan. Panjang gulungan papyrus itu kadang-kadang mencapai puluhan meter. Hal ini sungguh merepotkan orang yang menulis maupun yang membacanya. Karena itu, gulungan papyrus ada yang dipotong-potong. Papyrus terpanjang terdapat di British Museum di London yang mencapai 40,5 meter.

Kesulitan menggunakan gulungan papyrus, di kemudian hari mengantarkan perkembangan bentuk buku mengalami perubahan. Perubahan itu selaras dengan fitrah manusia yang menginginkan kemudahan. Dengan akalnya, manusia terus berpikir untuk mengadakan peningkatan dalam peradaban kehidupannya. Maka, pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh kulit kayu yang keras yang dinamakan codex.

Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.

Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana. Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden.

Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat dengan ditulis tangan.

Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu, juga dikenal dengan buku kuno. Buku kuno itu ditulis di atas daun lontar. Daun lontar yang sudah ditulisi itu lalu dijilid hingga membentuk sebuah buku.

Perkembangan perbukuan mengalami perubahan signifikan dengan diciptakannya kertas yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahan baku penerbitan buku. Pencipta kertas yang memicu lahirnya era baru dunia perbukuan itu bernama Ts’ai Lun. Ts’ai Lun berkebangsaan Cina. Hidup sekitar tahun 105 Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Ti di daratan Cina.

Penemuan Ts’ai Lun telah mengantarkan bangsa Cina mengalami kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas satu-satunya di dunia.

Sebagai tindak lanjut penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang signifikan dari dunia perbukuan. Penemu mesin cetak itu berkebangsaan Jerman bernama Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg.

Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.

Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.

Buku di Era Modern
Di era modern sekarang ini perkembangan teknologi semakin canggih. Mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar buku dalam waktu singkat telah dibuat. Hal itu diikuti pula dengan penemuan mesin komputer sehingga memudahkan untuk setting (menyusun huruf) dan lay out (tata letak halaman). Diikuti pula penemuan mesin penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner (alat pengkopi gambar, ilustrasi, atau teks yang bekerja dengan sinar laser hingga bisa diolah melalui computer), dan juga printer laser (alat pencetak yang menggunakan sumber sinar laser untuk menulis pada kertas yang kemudian di taburi serbuk tinta).

Semua penemuan menakjubkan itu telah menjadikan buku-buku sekarang ini mudah dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan sangat bagus, serta hasil cetakan dan desain yang sangat bagus pula. Tak mengherankan bila sekarang ini kita dapati berbagai buku terbit silih berganti dengan penampilan yang semakin menarik.

Bahkan sampai sekarang ini pun, di negara kita Indonesia, kendati sedang diterpa krisis, kondisi ekonomi masih gonjang-ganjing, tapi penerbit-penerbit buku malahan bermunculan. Banyak sekali jumlahnya, hingga tak terhitung, sebab tak tersedia data yang dapat dipertanggungjawabkan. Tidak juga di Ikatan Penerbit Indonesia [IKAPI]. Sebab tidak semua penerbit bergabung dengan lembaga ini.

Namun, dari pengamatan sekilas saja, kita akan dapat segera menyimpulkan, betapa penerbit-penerbit buku saat ini semakin banyak saja jumlahnya. Tengoklah, di toko-toko buku yang ada di berbagai kota di negeri ini, maka akan kita jumpai, berderet-deret bahkan bertumpuk-tumpuk buku-buku baru terbit silih berganti bak musim semi dengan beragam judul dan beraneka desain sampul yang menawan dari berbagai penerbit, baik dari penerbit besar yang sudah mapan dan lebih dulu eksis, maupun dari penerbit kecil yang baru merintis dan masih kembang-kempis.

Animo masyarakat pun terhadap buku nampak juga mengalami peningkatan. Ini nampak dari banyaknya buku-buku bestseller yang laris manis diserbu masyarakat.

Memang, dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang nyaris 200 juta orang, sungguh mengherankan bahwa sebuah judul buku yang laku beberapa ribu saja sudah terasa menyenangkan dan dianggap bestseller. Akan tetapi, kondisi ini tentu jauh lebih baik bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya.

Bagi seorang muslim da’i yang memiliki komitmen dengan dakwah, kondisi di atas akan dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah. Menulis buku-buku bernuansa dakwah adalah pilihan yang sudah selayaknya untuk dilakukan. Agar buku benar-benar menjelma fungsinya sebagai pencerdas dan pencerah umat, bukan sebaliknya.

By Badiatul Muchlisin Astii
http://penulissukses.com/penulis12.php

Sejarah Buku

Sebelum kemunculan buku, manusia telahpun memiliki cara untuk menurunkan tulisan. Pada awal tamadun, manusia pada lazimnya menurunkan tulisan mereka di atas batu, papan, dan juga di atas daun (misalnya daun lontar yang menjadi lambang DBP). Sehubungan itu, medium tulisan awal ini adalah bentuk proto bagi buku.

Buku dikatakan muncul dalam sejarah umat manusia, apabila orang Mesir mencipta kertas papirus pada tahun sekitar 2400 SM. Adapun kertas papirus yang diturunkan tulisan ini digulungkan untuk menjadi "skrol" (scroll), dan ia diyakini adalah bentuk buku yang paling awal.

Selain itu, buku juga muncul di tamadun yang lain dengan bentuk yang lain. Contohnya, di Kemboja, Sami Budha di situ membaca "buku" yang dibuat daripada daun dan amalan ini masih dikekalkan sehingga hari ini dan perkara pernah dilaporkan oleh Nasional Geografi. Manakala di negeri Cina, sebelum terciptanya kertas, para cendekiawan di situ menurunkan tulisan mereka di atas lidi buluh dan mengikat lidi ini menjadi buku. Amalan menulis di atas lidi telah mempengaruhi sistem tulisan Cina sehinggakan orang Cina mengamalkan tulisan menegak sehingga pada awal moden

Buku memasuki satu era yang baru apabila industri kertas menjadi mantap. Kertas dipercayai muncul di negeri Cina seawal-awalnya pada 200 SM, selepas itu teknologi ini dibawa oleh pedagang muslim ke Eropah sebelum abad ke-11. Dengan adanya kertas, penulisan menjadi lebih mudah kerana kertas mempunyai ciri-ciri mudah disimpan dan juga bertahan lama.
http://ms.wikipedia.org/wiki/Buku#Sejarah_buku

Rabu, 2008 September 03

ACEH BOOK FAIR & VISUAL ARCHIVES 2008


Keinginan dan kesadaran masyarakat terhadap dunia pendidikan makin terasa dan masyarakat semakin sadar terhadap kebutuhan sumber ilmu pengetahuan ataupun pendukung proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Namun ketersediaan buku di Aceh selama ini masih timpang dengan kebutuhan, hal ini disebabkan segannya penerbit untuk masuk ke Aceh.

Pasca tsunami kebutuhan terhadap buku semakin bertambah, didukung adanya program pihak donor internasional khususnya yang bergerak di dunia pendidikan melakukan rehabilitasi sistem dengan membantu para siswa dan mahasiswa, juga bagi lembaga perpustakaan, sampai saat ini mereka terkendala sulitnya mencari buku.

Sedikitnya judul buku yang beredar, berimbas pada sukarnya mendapatkan informasi perkembangan buku, kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendorong dilaksanakannya ACEH BOOK FAIR dan VISUAL ARCHIVES 2008 tanggal 22 s/d 26 Agustus 2008 bertempat di AULA BADAN ARSIP PERPUSTAKAAN WILAYAH NAD. Dimulai pukul 09:00 s/d 18:00 WIB.yang di beri tema ‘aceh membaca aceh berjaya’ menjadi salah satu kegiatan yang diharapkan dapat memacu minat baca masyarakat Aceh serta menjadi pertemuan para penerbit dengan masyarakat dan pemerintah.

Dalam pelaksanaannya ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki dimasa mendatang seperti : Promosi yang sangat kurang, panitia sangat sedikit menempelkan spanduk, hanya 44 spanduk, Promosi dimedia cetak yang hanya sekali dan di kolom yang kurang strategis, Panitia baru menempelkan pamlet & spanduk pada hari “H”di UNSIAH Aceh, Tempat Yang kurang representative, dari 18 stand yang ada hanya 6 stand yang terisi, Panitia yang baru pertama kali melakukan event pameran buku, Pengunjung yang sangat sedikit, Waktu yang hanya 5 hari, dan pada akhir bulan.

Namun demikian kita selayaknya memberikan apresiasi yang positif atas kerja keras panitia dalam mengelar acara, hal yang positif perlu dipertahankan seperti panita yang sangat bersahabat dengan peserta, panitia dapat menerima masukan dari peserta, semoga dimasa yang akan datang pameran bisa lebih baik karena didukung minat baca dan minat beli yang tinggi di Aceh, Aceh merupakan pasar potensial untuk buku-buku Islam.
Sukma Duriat, A.Md (Penanggung Jawab pameran Aceh 2008)

Balik Papan dan Samarinda Book Fair 2008


Pameran ini berlangsung di dua kota di wilayah Kalimantan Timur dengan penyelenggara ADIL ORGANIZER, yaitu di Balikpapan dan Samarinda. Di Balikpapan berlangsung dari tanggal 12 – 21 Agustus 2008 bertempat di Gedung Nasional Jl. Jend. Sudirman. Sedangkan pameran di kota Samarinda bertempat di Gedung Auditorium Universitas 17 Agustus 45 Jl. Juanda dari tanggal 25 – 31 Agustus 2008.

Pameran di hari ke 1- 4 berlangsung sepi pengunjung, penjualan tidak sesuai dengan harapan. Baru pada hari ke 5 sampai penutupan mulai terjadi kenaikan penjualan. Padahal daya beli masyarakat di daerah ini sangat tinggi dan mayoritas penduduknya muslim. Masyarakat Kaltim juga relatif memiliki minat baca yang cukup tinggi terhadap buku-buku keIslaman.

Seandainya kegiatan promosi dapat dilakukan jauh hari sebelum pelaksanaan diyakini pameran ini akan mampu mendatangkan pengunjung yang lebih banyak , diharapkan panitia lebih memperhatikan sikap profesionalisme yang tinggi dalam merencanakan dan mengelola pameran, sehingga target pengunjung dan panjualan bisa tercapai.

Ke depan jika diadakan kembali pameran di daerah ini, maka perlu diperhatikan siapa penyelenggaranya, dimana tempatnya, waktu penyelenggaraan, dan kegiatan promosinya. Penyelenggara haruslah profesional, penyelenggara haruslah mengetahui secara benar karakter daerah tersebut sehingga kegiatan promosi, pemilihan tempat dan waktu penyelenggaraan tepat sasaran. Salah satu tempat yang bisa dijadikan alternatif dan representatif adalah Islamic Center yang berada tepat di tengah kota Samarinda.
Anhar Muslim, S.Pi (PJ Pameran KalTim 2008)

Gramedia Cirebon Order ulang Aritmatika jari metode AHA sebanyak 500 eksemplar


Metode Asma’ul Husna Arithmetic (AHA),adalah konsep yang menyenangkan dan digunakan oleh lebih dari 5000 siswa di lembaga pendidikan Arya Group sejak tahun 2001, untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan mengunakan keseluruhan otak.

Aritmatika Jari Metode AHA, ditujukan untuk segala umur, lebih khusus bagi mereka yang berusia 5 tahun ke atas. AHA dapat membantu meningkatkan ketrampilan kita dalam berhitung tanpa kalkulator. AHA merupakan produk yang diimplementasikan dari hasanah dunia Islam, memiliki landasan ilmiah dan trasendental serta kajian literatur yang bisa dipertangung jawabkan.

Melalui Aritmatika Jari Metode AHA ini, setiap muslim bukan hanya diajarkan untuk mengerti, memahami dan pintar dalam berhitung yang itu merupakan “tools” untuk sukses dalam kehidupan , namun kita juga dituntun untuk memperdalam keimanan kepada sang Khalik.

Sampai bulan Agustus telah terjual + 5.000 eksemplar, dan pada bulan September ini akan dicetak kembali sebanyak 7.000 eksemplar, melihat permintaan toko yang begitu baik, seperti TB Gramedia Cirebon order ulang sebanyak 500 eksemplar, dan penulisnya sedang giat-giatnya melakukan seminar di berbagai kota , mulai dari Batam, Tanjung Pinang, Jakarta Utara, Bekasi dan Bandung . kemudian pada setiap seminar yang diadakan selalu animo peserta sangat antusias, seperti yang pernah diadakan pada Islamic Center Jakarta Utara tanggal 12 agustus 2008, panitia harus menambah bangku peserta karena peserta membludak, melihat kesunguhan promosi dari penulis dan animo peserta maka diyakini akan mendorong terjadinya peningkatan penjualan terhadap buku ini.

Agenda seminar terdekat:
1. Tanggal 7 September 2008, di Bekasi, cp bapak wisnu 08568970008
2. Untuk kesekian kalinya akan diadakan kembali seminar di Batam, tanggal 13 – 14 september 2008, cp Ade Verid 08192676972
3. Tanggal 21 september 2008, di Bandung, cp Deden 02292839401
4. dan agenda lainnya menyusul.

Bogor Book Fair 2008


Selasa 2 september 2008,saya sempat mengunjungi Bogor Book Fair 2008, yang diadakan di PPIB Bogor, di samping Masjid Raya Bogor, ada sekitar 50 - 70 stand dibuka di sana. dari pengamatan seentara saya beberapa jam di lokasi pameran, pameran bisa dikategorikan sebagai pameran yang sepi pengunjung, bahkan beberapa stand yang sempat saya ajak dialog mengeluhkan sepinya pengunjung, bahkan ada yang berkomentar lebih sepi dari pameran Garut.

Mengapa demikian? ada beberapa faktor yang mungkin bisa menjadi penyebab, seperti masih minimnya promosi panitia, tidak berhasilnya panitia mendatangkan penerbit-penerbit besar dari Jakarta seperti GIP, Mizan, dll, bisa jadi juga dipengaruhi oleh culture pengunjung yag sedang melakukan ibadah shaum ramadhan, sehingga cendrung malas untuk berkunjung ke pameran, dll.

padahal sejauh pengamatan saya dari penjualan di toko-toko buku di Bogor seperti Gramedia, TB Al Amin, Toko Gunung Agung, penjualan di toko-toko tersebut bisa dikategorikan sebagai toko-toko yang mempunyai penjualan yang baik, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya potensi pasar buku terutama buku Islam di wilayah Bogor, berketegori baik dan sangat menjanjikan.

nah, kenapa pameran belum berhasil menarik pengunjung dan menghasilkan penjualan maksimal? ini tugas kita bersama dan panitia untuk mencari solusi terbaik mengenai pameran di Bogor.
salah satunya mungkin adalah tempat yang lebih representatif di kota bogor, namun tetap di dalam ruangan, karena bogor merupakan kota hujan.
wallahu' alam....

Rabu, 2008 Agustus 13

Trend Buku 2008


Apa yang akan menjadi trend dalam penerbitan buku tahun 2008 di Indonesia ? Jawaban singkatnya adalah fiksi dan referensi. Novel karya manusia Indonesia masih akan merajai. Mereka kini menjadi selebriti baru yang dielu-elukan pembacanya. Laskar Pelangi, misalnya, menjadi pusat perhatian banyak orang.

Kang Abik alias Habiburahman El Sirazy juga banyak diminati orang karena karyanya Ayat-Ayat Cinta. Demikian juga penulis-penulis muda lainnya menjadi idola banyak orang.

Jika Anda mencari inspirasi untuk meledak tahun 2008, tulislah novel. Namun untuk novel ini ada catatannya. Tidak hanya khayalan semata-mata di entah berantah, tapi bisa menyerempet setengah riwayat hidup Anda. Jika Anda pernah ke Perancis, Inggris atau Mesir, maka setting tempat itu yang pernah dikunjungi dan ditempati bisa jadi daya tarik tersendiri.

Selain itu, buku referensi lengkap baik agama maupun umum menjadi incaran berbagai rumah tangga di Indonesia. Referensi ini tidak hanya untuk pamer tetapi juga memang fungsional. Tahun 2008, buku-buku referensi tetang berbagai masalah akan menjadi incaran banyak orang. Formatnya tebal harganya selangit, tetapi konon masih ditunggu orang.
http://www.asepsetiawan.com/?s=sirazy

Kamis, 2008 Agustus 07

Industri Perbukuan Terhambat Kertas


Selasa, 01 Januari 2008
SURABAYA—Meski masih tetap bisa survive pada 2007, industri perbukuan mengeluhkan mahalnya kertas.
Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Jatim Abdul Muiz Nahari menyatakan, harga kertas cenderung naik.
‘’Apalagi jika mendekati akhir tahun dan ganti tahun ajaran baru,’’ ujarnya.
Karena itu, kata Abdul Muiz, para pelaku industri perbukuan berharap ada diskon khusus dalam hal pengadaan kertas.
Selama ini, jelas dia, kertas menjadi komponen biaya yang sangat tinggi dibandingkan komponen lain, seperti tinta, plat,
dan biaya cetak. ‘’Dari total cost produksi, 30 persen di antaranya untuk kertas,’’ jelasnya.
Abdul Muiz berharap, ada perhatian khusus untuk para pelaku industri perbukuan. Sebab, bisnis perbukuan tidak melulu
terkait persoalan laba seperti halnya sektor bisnis lainnya. ‘’Tapi, juga terkait fungsi sosial untuk
mencerdaskan masyarakat,’’ ujarnya.
Meski terkendala kertas, kata dia, sepanjang 2007 industri perbukuan relatif stabil. ‘’Pertumbuhan
kapasitas produksi sebesar 20 persen,’’ katanya. Itu ditunjang oleh sejumlah proyek pengadaan buku
yang dilakukan lewat dana APBD.
Di samping itu, capaian kapasitas produksi itu juga ditunjang sales dari kota pinggiran. Abdul Muiz menjelaskan jika
daerah-daerah pinggiran memiliki kontribusi sales yang lebih besar daripada kota besar. ‘’Penjualan di
Jember, Pacitan, dan Ponorogo, misalnya, sangat tinggi,’’ katanya.
Sales industri perbukuan juga ditunjang oleh pengadaan buku penunjang pelajaran dan buku-buku umum. Sementara
buku jenis lain masih belum berkontribusi banyak. Soal prospek pada tahun mendatang, para pelaku bisnis perbukuan
berharap, hajatan politik pada 2008 (Pilgub Jatim) bisa memberi imbas positif. Begitu juga untuk pemilu dan pilpres
2009.
Sebab, biasanya, pesanan untuk buku-buku berbau kampanye akan datang. ‘’Dari hajatan politik itu,
mungkin bisa ada kenaikan kapasitas produksi sebesar 10 persen,’’ ujarnya. Abdul Muiz juga
menjelaskan, sales buku-buku agama cukup tinggi jika dibandingkan buku-buku umum. (eri/jpnn)

Industri Perbukuan Meningkat

BANDUNG, (karir-up) – Gairah industri perbukuan tahun ini meningkat. Terlihat dari animo penerbit yang ingin mengikuti pameran. Bahkan untuk pameran berikutnya, sudah 30 persen yang ikut Pesta Buku Bandung menyatakan keikutsertaan pada pameran Mei mendatang. Demikian disampaikan Erwan Juhara, Penanggung Jawab Bidang Promosi dan Publikasi Pesta Buku Bandung 2008, Sabtu (2/2).

“Selalu ada yang waiting list ketika pameran mendekati waktu pelaksanaan. Ini menandakan minat yang besar, namun harus menunggu kepastian dari yang sudah mendaftar duluan,” jelas Erwan.

Panitia pameran Pesta Buku Bandung 2008 sendiri merasa optimistis bisa meraup Rp 2 miliar. Angka ini bisa tercapai karena pameran serupa tahun lalu berhasil membukukan transaksi sebesar Rp 1,87 miliar.

“Pesta Buku Bandung 2008 digelar IKAPI Jabar dan berlangsung pada 29 Januari hingga 4 Februari 2008 di Gedung Landmark. Transaksi itu kemungkinan bisa tercapai lantaran jumlah pengunjung terus bertambah. Rata-rata pengunjung mencapai 10 ribu orang per hari,”papar Erwan
.
Ditambahkan Erwan, Pesta Buku Bandung 2008 ini ada 80 penerbit yang ikut dan menyewa 130 stand yang disediakan. Banyaknya buku baru menjadikannya optimistis target transaksi Rp 2 miliar bisa tercapai. Selaian itu para penerbit juga bervariasi, tak hanya dari Jabar tapi juga dari DKI, Jateng, Jatim dan Yogyakarta.

“Transaksi tampaknya makin tinggi. Pasalnya semua peserta menawarkan variasi buku dengan berbagai tema menarik. Serta diskon yang besar hingga 70 persen. Beberapa peserta juga menyiapkan hadiah yang diundi untuk setiap pembelian buku,”jelas Erwan

Disinggung mengenai buku yang disukai saat ini, Erwan menyebutkan buku jenis spiritual yang lebih diminati. Buku tersebut diantaranya yang memiliki tema keteladanan dan motivasi baik dalam kemasan keagamaan maupun masalah sosial.

“IKAPI Jabar biasanya mengadakan tiga kali pameran dalam setahun yang berlangsung di Bandung. Serta satu kali pameran diadakan di luar Bandung. Tiga pameran di Bandung yakni Pesta Buku Bandung (Januari-Februari), Islamic Book Fair, tahun ini akan dilaksanakan pada 29 April-5 Mei 2008 dan Pameran Buku Bandung yang tahun ini akan digelar pada 30 Juli-6 Agustus 2008,”pungkas Erwan (RAS/tj)
http://www.karir-up.com/2008/02/industri-perbukuan-meningkat/

4 Pilar Industri Penerbitan


Refleksi Hari Buku Nasional 17 Mei
Empat Pilar Industri Perbukuan
Dibangunnya sebuah taman baca di Jl. Pramuka Gang Kencana 5A Samarinda yang sejak dioperasikan 12 Januari lalu, taman baca ini sudah ramai dikunjungi pelajar SD yang ada di lingkungan sekitar. Sementara koleksi buku sudah mencapai 1,200 buku yang didominasi buku-buku komik dan buku pelajaran SD (Kaltimpos, Januari 2008). Endah, pengelola taman baca menyatakan bahwa taman baca tidak hanya untuk kalangan SD tapi juga untuk kalangan mahasiswa. Minat baca lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman atau lesson learn yang telah diperoleh dari lingkungannya, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah masyarakat. Dari ketiga lngkungan pendidikan tersebut, lingkungan yang dipandang lebih potensial untuk menumbuhkankembangkan minat baca anak dalah lingkungan pendidikan, terutama yang dikelola melalui jalur sekolah.

Namun persoalannya adalah bagaimana lingkungan pendidikan sekolah dapat menumbuhkembangkan minat baca anak? Tentunya sekolah yang di dalamnya tercipta situasi pembelajaran yang menyenangkan, menumbuhkembangkan rasa ingin tahu, mengaktifkan siswa, memberi kesempatan kepada mereka untuk berpikir kritis dan logis serta untuk mengembangkan kreativitasnya, dan yang memungkinkan mereka belajar secara efektif yang pada gilirannya menumbuhkan minat membaca.

Perlunya peningkatan minat baca ini dilatari oleh kemampuan membaca (Reading Literacy) anak-anak Indonesia sangat rendah bila dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, bahkan dalam kawasan ASEAN sekali pun. International Association for Evaluation of Educational (IEA) pada tahun 1992 dalam sebuah studi kemampuan membaca murid-murid Sekolah Dasar Kelas IV pada 30 negara di dunia, menyimpulkan bahwa Indonesia menempati urutan ke 29 setingkat di atas Venezuela yang menempati peringkat terakhir pada urutan ke 30. rendahnya kemampuan membaca ini dilatari oleh suatu kondisi pasif tentang kurangnya gairah dan kemampuan para peserta didik untuk mencari, menggali, menemukan, mengolah, memanfaatkan dan mengembangkan informasi. Salah satu sebab etimologisnya yaitu lemahnya minat baca mereka. Inilah yang perlu dicermati perkembangannnya serta diupayakan alternatif solusinya.

Data di atas relevan dengan Laporan World Bank dalam Education in Indonesian from crisis recovery (199 memaparkan bahwa minat dan kemampuan baca anak-anak Indonesia amat rendah. Minat baca untuk siswa kelas enam SD dinilai 51,7. nilai ini merupakan nilai paling rendah di antara minat baca bila dibandingkan dengan bangsa lain setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), dan Hongkong (75,5). Hal ini menurut Ki Supriyoko (2004), minat baca anak-anak Indonesia dinilai paling buruk bila dibanding dengan negara-negara lain.

Buruknya kemampuan membaca anak-anak kita sebagaimana data di atas berdampak pada kekurangmampuan mereka dalam penguasan bidang ilmu pengetahuan dan matematika. Athaillah Baderi (2005) dalam pidato pengukuhan pustakawan utama . Hasil tes yang dilakukan oleh Trends in International Mathematies and Science Study mengungkap (TIMSS) dalam tahun 2003 pada 50 negara di dunia terhadap para siswa kelas II SLTP, menunjukkan prestasi siswa-siswa Indonesia hanya mampu meraih peringkat ke 34 dalam kemampuan bidang matematika dengan nilai 411 di bawah nilai rata-rata internasional yang 467. Sedangkan hasil tes bidang ilmu pengetahuan mereka hanya mampu menduduki peringkat ke 36 dengan nilai 420 di bawah nilai rata-rata internasioal 474. Dibandingkan dengan anak-anak Malaysia mereka telah berhasil menduduki peringkat ke 10 dalam kemampuan bidang matematika yang memperoleh nilai 508 di atas nilai rata-rata internasional. Dan dalam bidang ilmu pengetahuan mereka menduduki peringkat ke 20 dengan nilai 510 di atas nilai rata-rata internasional. Dengan demikian tampak jelas bahwa kecerdasan bangsa kita sangat jauh ketinggalan di bawah negara-negara berkembang lainnya.

Padahal pasca ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 1 tanggal 19 Januari 2005 tentang Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2004/2005 yang di dalamnya menetapkan standar kelulusan untuk tiga bidang studi (bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan matematika) adalah tidak boleh kurang dari 4,25. Ketentuan kelulusan ini lebih tinggi dari standar kelulusan Ujian Akhir Nasional sebelumnya, yaitu 4,01. Ketentuan standar kelulusan ini mempunyai kecenderungan meningkat untuk tahun-tahun yang akan datang secara bertahap (Sutrisno, 2005). Apa jadinya nanti bangsa Indonesia, jika budaya baca masyarakat tidak membudaya.

Melihat beberapa hasil studi di atas dan laporan United Nations Development Programme (UNDP), maka hipotesis yang mengemuka adalah kekurangmampuan anak-anak kita dalam bidang matematika dan bidang ilmu pengetahuan, serta tingginya angka buta huruf dewasa (adult illiteracy rate) di Indonesia adalah akibat membaca belum menjadi kebutuhan hidup dan belum menjadi budaya bangsa. Oleh sebab itu membaca harus dijadikan kebutuhan hidup dan budaya bangsa kita. Mengingat membaca merupakan suatu bentuk kegiatan budaya menurut H.A.R Tilaar (1999) maka untuk mengubah perilaku masyarakat gemar membaca membutuhkan suatu perubahan budaya atau perubahan tingkah laku dari anggota masyarakat kita. Mengadakan perubahan budaya masyarakat memerlukan suatu proses dan waktu panjang sekitar satu atau dua generasi, tergantung dari “politicaal will pemerintah dan masyarakat“ Ada pun ukuran waktu sebuah generasi adalah berkisar sekitar 15–25 tahun.

Masih banyak lagi hasil survei lembaga-lembaga riset yang semakin menambah panjang bukti keterpurukan pendidikan di negara kita. The Poor Political and Ekonomic Risk (PERC) yang berkedudukan di Hongkong menyimpulkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia berada di urutan ke 12 dari 12 negara yang diteliti. Survei PERC ini didasarkan pada 17 variabel yang terdiri dari; impresi keseluruhan tentang sistem pendidikan di suatu negara; porsi penduduk yang berpendidikan dasar; porsi penduduk yang berpendidikan menengah; porsi penduduk yang berpendidikan tinggi dan pasca sarjana; jumlah biaya untuk mendidik tenaga kerja produktif; ketersediaan tenaga kerja produktif yang berkualitas tinggi; jumlah biaya untuk mendidik tenaga kerja; ketersediaan tenaga kerja; jumlah biaya untuk mendidik staf manajemen; ketersediaan staf manajemen; tingkat ketrampilan tenaga kerja; semangat kerja dari para tenaga kerja; kemampuan berbahasa Inggris; kemampuan bahasa asing selain bahasa Inggris; kemampuan menggunakan teknologi tinggi; tingkat keaktifan tenaga kerja; dan frekuensi perpindahan atau pergantian tenaga kerja yang pensiun.

Saat ini dunia pendidikan kita masih dihadapkan dengan suatu kondisi pasif tentang kurangnya gairah dan kemampuan para subjek didik untuk mencari, menggali, menemukan, mengolah, memanfaatkan dan mengembangkan informasi. Salah satu sebab etimologisnya yaitu lemahnya minat baca mereka. Inilah yang perlu dicermati perkembangannnya serta diupayakan alternatif solusinya.
Disposisi (kecenderungan) individu yang berdasar pada kesenangan dan hasrat yang selalu timbul untuk memiliki atau melakukan sesuatu. Minat seseorang menimbukan motivasi untuk mendapatkan atau melakukan apa yang diminatinya. Besar atau kecilnya minat yang ada dalam dirinya terhadap sesuatu berpengaruh pada kuat atau lemahnya motivasi yang dimilikinya. Dengan demikian, minat baca seorang peserta didik akan mempengaruhi motivasinya untuk membaca.
Kegemaran membaca perlu dibudayakan dengan memperluas peluang atau akses terhadap buku-buku bermutu yang memberdayakan. Akses diberikan dengan berbagai cara pada buku pembelajaran, buku bacaan, dan lingkungan teks bukan bahan cetak seperti tulisan tangan berisi denah, peta karya ilmiah, cerita, motto, pesan, atau pepatah yang ditullis oleh siswa, guru atau orang tua yang dapat dipajang di kelas atau sekitar sekolah.
Secara teknis buku yang memberdayakan adalah buku yang memuat kemahiran belajar. Kemahiran belajar merupakan ketrampilan hidup yang dikembangkan supaya siswa menguasai cara-cara belajar yang berkesan. Salah satu upaya pengembangan minat dan kegemaran membaca adalah dengan adanya distribusi buku. buku merupakan salah satu syarat mutlak yang diperlukan untuk pengembangan program ini, khususnya bagi anak-anak kecil yang tentunya belum begitu banyak mengenal teknologi informasi. Artinya, bahwa fungsi buku memberikan tempat tersendiri bagi perkembangan anak. Hal inilah yang kemudian berimplikasi pada semakin maraknya industri perbukuan di Indonesia secara khusus dan dunia perbukuan secara umum.
Industri perbukuan yang dikemukakakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Wardiman Djojonegoro, bahwa ada empat pilar utama yang ada dalam industri perbukuan. Pertama, pengarang merupakan pilar utama yang harus ada dalam penggalakkan industri perbukuan. Penggalakkan upaya pengembangan dan perkembangan perbukuan nasional diharapkan adanya adanya pengarang/penulis berbakat dan hasil karya yang berupa buku-buku yang berkualitas, jurnal, dan semisalnya. Sehingga memberi peluang kepada penulis-penulis ataupun pengarang-pengarang untuk mengembangkan potensinya.

Kedua, selain adanya pengarang juga dibutuhkan adanya penerbit yang bersinergi dengan pengarang. Pengarang menghasilkan karya, sedangkan penerbit berfungs menerbitkan hasil karya pengarang. Namun tidak dapat dinafikan, sulitnya pengarag menembus ketatnya persaingan dalam menerbitkan karya, mengindikasikan bahwa hanya karya-karya bermutu dan berkualitas sajalah yang layak terbit. Sehingga, dibutuhkan suatu wahana untuk memuluskan hasil karya anak bangsa ini misalnya ditelorkannya kebijakan pemerintah menerbitkan karya tersebut walaupun hanya sekedar sebagai prototif buku-buku “drop-dropan” dari pemerintah dengan catatan karya tersebut sesuai dengan budaya, corak, dan kebutuhan sekolah penerima.

Ketiga, distributor ini merupakan kepanjangan tangan dari penerbit dan pengarang untuk mendistribusikan hasil terbitan penerbit yang bersangkutan. Dan keempat, adalah konsumen yang menjadi objek dalam pengembangan dan perkembangan industri perbukuan. Konsumen membeli buku-buku yang mereka perlukan. Jika anak sudah dibiasakan membaca di usia dini, maka sudah barang tentu ide besar Wardiman Djojonegoro akan menjadi sebuah kenyataan.

Salam,
Sismanto
http://mkpd.wordpress.com

Geliat Perbukuan India Merengkuh Dunia

Sabtu, 19 Agustus 2006
BI Purwantari

Banyak orang tahu, India, terutama Bollywood, adalah salah satu industri film raksasa dunia. Saat ini, secara perlahan tapi pasti, mata penduduk dunia mulai berpaling juga pada industri kebudayaan lainnya di India: buku. Di bawah bayang-bayang kebesaran Bollywood, industri buku India kini memasuki jalur perdagangan tingkat dunia.

Tahun ini, Frankfurt Book Fair ke-58, ajang pameran buku terbesar di dunia, yang rencananya akan digelar pada 4-8 Oktober 2006, akan menampilkan India sebagai tamu kehormatannya (Guest of Honour Country). Penampilan India sebagai tamu kehormatan di Frankfurt nanti penting untuk dicatat karena ia menjadi satu-satunya negeri yang diberikan kesempatan sebanyak dua kali dalam rentang waktu 20 tahun. Kesempatan pertama dulu diberikan pada tahun 1986. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan pengakuan dunia internasional terhadap industri perbukuan India yang berkembang pesat selama satu dekade terakhir.

Berdasarkan catatan Nuzhat Hassan, Direktur National Book Trust of India, sebuah lembaga bentukan negara yang bertugas mempromosikan buku dan kebiasaan membaca di kalangan masyarakat India, industri perbukuan India bernilai lebih dari 30 miliar rupee India (setara dengan 685 juta dollar AS) yang dihidupi oleh sekitar 15.000 penerbit. Para penerbit ini memproduksi buku-buku berbahasa Inggris dan buku-buku yang memakai 24 bahasa lokal, termasuk di antaranya bahasa Hindi, Malayalam, Tamil, Bengali, Telegu, Gujarati, Punjabi, dan Assamese. Dengan jumlah penerbit sebesar itu, India dapat memproduksi sekitar 70.000 judul per tahun dan 40 persen (sekitar 28.000 judul) di antaranya adalah buku-buku berbahasa Inggris. Proporsi angka sebesar ini membuat India menjadi negeri penerbit buku berbahasa Inggris terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Inggris!

Perkembangan yang pesat juga dapat dilihat dari kenaikan pertumbuhan ekspor buku India. Pada tahun 1991 nilai ekspor buku-buku dari India mencapai angka 330 juta rupee, tahun 2003 melesat naik hingga 3,6 miliar rupee, dan tahun 2005 naik lagi menjadi 4,29 miliar rupee dengan sasaran 80 negara. Hal ini terjadi tidak lain karena buku-buku terbitan India mendapat pengakuan internasional, baik karena kualitas isi, mutu produknya, serta harga yang relatif terjangkau. Banyak buku terbitan India memenuhi persyaratan sebagai buku pendidikan di negeri-negeri Afrika-Asia, maupun negeri-negeri South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC) yang terdiri atas Banglades, Butan, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, Maldives, dan India. Demikian pula buku-buku tentang filsafat, agama, yoga, kebudayaan, sejarah, sastra kontemporer, dan ilmu pengetahuan alam mendapatkan pasar yang bagus di kalangan negeri-negeri Eropa barat, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Jepang, maupun Uni Emirat Arab.

Berbahasa Inggris

India memulai sejarah penerbitan buku-buku berbahasa Inggris sejak zaman kolonial. Penguasaan terhadap bahasa Inggris, berkembangnya gerakan nasionalis, dan meningkatnya tingkat melek huruf di masa kolonial, telah menambah permintaan terhadap buku-buku berbahasa Inggris di negeri jajahan Inggris ini. Roda penerbitan buku berbahasa Inggris mulai berputar ketika tiga penerbit Inggris masuk India, yaitu Longman Green dan Macmillan pada abad ke-19 dan Oxford University Press pada tahun 1912. Dalam perjalanan waktu, beberapa penerbit, seperti Macmillan, Kegan Paul, dan John Murray mendirikan perpustakaan kolonial dan membuat daftar buku-buku berbahasa Inggris yang harus dikirim ke negeri yang kaya akan kebudayaan lokal ini. Penerbitan pribumi pun mulai berkembang seiring dengan pertumbuhan kesempatan dalam pendidikan dan peningkatan investasi dalam bidang penyelenggaraan pendidikan dan sekolah-sekolah. Kemerdekaan politik turut mempercepat proses tersebut. Kini, penerbitan milik pribumi maupun asing tumbuh berdampingan, berkompetisi, ataupun berkolaborasi di pasar dalam negeri India maupun internasional.

Gambaran dunia penerbitan India saat ini diisi oleh para pemain besar dari luar India, seperti Penguin India, Harper Collins India, Macmillan India, Picador, Random House India, ataupun pemain lama seperti Oxford University Press, Orient Longman, maupun penerbit besar pribumi seperti Rupa & Co, Vikas Publishing, Roli Books, serta UBS Publisher. Umumnya, para penerbit ini memproduksi lebih dari 100 buku per tahun. Penguin India, misalnya, rata-rata menerbitkan 200 judul per tahun, sementara Rupa & Co yang telah berdiri sejak tahun 1936 mengeluarkan 250-260 judul baru setiap tahunnya.

Di samping penerbit besar, industri buku India diwarnai oleh menjamurnya penerbit-penerbit independen skala kecil dan menengah. Penerbit tipe terakhir ini masing-masing memiliki profil organisasi dengan spesialisasi buku yang sangat beragam.

Kali for Women misalnya, meskipun kini telah menjelma menjadi dua penerbit dengan manajemen berbeda yaitu Zubaan Book dan Women Unlimited, merupakan penerbit buku-buku feminis yang cukup berhasil di pasar. Didirikan oleh dua tokoh feminis terkemuka, Urvashi Butalia dan Ritu Menon, penerbit ini bermula dari usaha kecil di sebuah garasi di New Delhi pada tahun 1984. Zubaan Book yang memiliki kantor mungil di Hauz Khas Enclave, New Delhi, itu kini rata-rata memproduksi 15-20 judul baru per tahun.

Penerbit lainnya seperti Seagull merupakan penerbit yang menggeluti buku-buku tentang teater, musik, film, seni rupa, maupun buku-buku akademis dan referensi seperti filsafat ataupun bidang kajian.

Sementara itu, penerbit Katha memfokuskan diri pada kerja-kerja penyelamatan karya-karya klasik berbahasa lokal yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris secara baik dan menerbitkannya dalam edisi yang berkualitas. Penerbit lainnya, seperti Tulika, bermain di pasar buku anak-anak, sementara Permanent Black, English Edition, Ravi Dayal, India Ink, Minerva, ataupun Srishti membidik pasar pembaca umum atau yang lebih dikenal dengan sebutan trade books.

Semua penerbit ini, selain mendistribusikan buku-bukunya di dalam negeri India, juga melempar produknya ke pasar dunia. Untuk distribusi di dalam negeri para penerbit memanfaatkan toko-toko buku kecil yang tersebar di seluruh India maupun toko buku besar dengan masing-masing memiliki sekitar 7 sampai 30 outlet di seluruh India seperti toko buku Oxford, Crossword, maupun Landmark.

Bisnis "outsourcing"

Banyaknya penerbit asing yang beroperasi merupakan konsekuensi diberlakukannya peraturan Pemerintah India yang membuka 75 persen sektor penerbitan buku (non-news sector) untuk dimasuki oleh investasi asing secara langsung (Foreign Direct Investment/FDI) dan 100 persen untuk sektor perdagangan buku. Fenomena terbaru adalah masuknya penerbit besar dari Inggris, Cambridge University Press (CUP), yang melebarkan sayap bisnisnya ke India. CUP mengakuisisi 51 persen saham Foundation Books, sebuah penerbit sekaligus distributor, di antaranya mendistribusikan buku-buku terbitan Seagull yang berbasis di New Delhi dengan nilai investasi sekitar 6 juta dollar AS. Menurut rencana, Cambridge University Press India akan menjadi basis penerbitan buku-buku pendidikan yang bermutu maupun jurnal, tidak hanya untuk pasar dalam negeri India tetapi juga untuk negeri-negeri Asia di sekitarnya. Selama ini memang CUP memfokuskan kerjanya pada penerbitan buku-buku teks bagi level pascasarjana maupun buku-buku hasil penelitian di berbagai bidang, sementara Foundation Books dikenal menerbitkan jurnal bergengsi, Journal of India Foreign Affairs.

Dengan 20 juta penduduk berbahasa Inggris aktif, India merupakan pasar buku yang menjanjikan. Potensi yang menjanjikan ini juga mendorong perkembangan bidang lain dari industri penerbitan India. Bidang itu adalah bisnis off -shore publishing. Bisnis ini memungkinkan perusahaan-perusahaan penerbitan besar di luar India memanfaatkan tenaga-tenaga profesional India untuk mengelola bisnis mereka di India melalui kemajuan teknologi informasi. Nilai bisnis ini di India diperkirakan mencapai 200 juta dollar AS tahun 2006 ini. Sebuah perusahaan riset dan intelijen bisnis di India, ValueNotes Database Pvt Ltd, memprediksi bahwa nilai bisnis ini di India akan menyentuh angka 1,1 miliar dollar AS tahun 2010. Alasan utama perusahaan-perusahaan besar tersebut menyewa perusahaan outsourcing India adalah ongkos produksi di India jauh lebih rendah dibanding negeri asal perusahaan tersebut. Mereka dapat memangkas ongkos produksi sekitar 50-70 persen. Outsourcing di segmen penerbitan telah dimulai lebih dari dua dekade lalu ketika perusahaan Macmillan membentuk unit offshoring di India tahun 1977.

Menurut The Financial Express edisi 26 Desember 2005, penerbitan newsletter merupakan kategori terbesar (53 persen) yang memanfaatkan bisnis outsourcing publishing ini. Sementara majalah dan jurnal mengambil porsi 24 persen, tabloid 6 persen, dan E-publicationa yang mengambil porsi 17 persen adalah kategori yang paling cepat berkembang dari seluruh tipe bisnis ini.

Peran pemerintah

Lantas, apa peran Pemerintah India dalam mengembangkan industri ini? Paling tidak India mempunyai National Book Trust (NBT), sebuah lembaga negara yang dibentuk tahun 1957 atas usulan Perdana Menteri I India Jawaharlal Nehru, dan saat ini berada di bawah koordinasi Departemen Pendidikan. Nehru melihat bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri harus sejalan dengan kemajuan di bidang sosial dan kebudayaan. Indikator paling nyata perkembangan bidang terakhir itu adalah tingginya minat baca masyarakat agar mampu memahami dan menghargai berbagai kekayaan tradisi, seni, dan budaya di masyarakat India sendiri. Nehru sendiri adalah seorang pencinta buku dan penulis yang hebat.

Saat ini, kegiatan lembaga ini difokuskan pada memproduksi dan mendorong produksi buku-buku yang baik dan membuat agar buku-buku baik tersebut tersedia dengan harga terjangkau masyarakat setempat. Buku-buku yang diterbitkan tersebut adalah karya-karya klasik berbahasa India maupun terjemahannya ke dalam bahasa Inggris atau sebaliknya, karya klasik berbahasa Inggris yang diterjemahkan ke bahasa lokal; juga buku-buku pengetahuan modern untuk penyebaran secara meluas. Berdasarkan catatan NBT, jumlah buku yang diterbitkan lembaga yang berbasis di New Delhi ini bertambah dari tahun ke tahun: tahun 1969-1970 hanya sekitar 106 judul, meningkat hingga 188 judul pada tahun 1979-1980, lalu bertambah delapan kali lipat pada tahun 1989-1990 hingga mencapai 851 judul. Sejak itu, rata-rata terbitan NBT setiap tahunnya mencapai 1.000-1.200 judul yang meliputi karya asli, terjemahan, maupun cetak ulang atas buku-buku dalam 18 bahasa.

Selain itu, NBT juga mempromosikan buku dan minat baca masyarakat dengan menyelenggarakan berbagai pameran buku di seluruh India maupun di tingkat regional dan internasional. Sejauh ini, NBT telah mengorganisasikan 27 pameran buku nasional dan pameran keliling di berbagai negara bagian yang menjangkau hingga level semi-urban. Sejak tahun 1970, dalam kaitan mempromosikan buku-buku India ke dunia internasional, NBT telah berpartisipasi dalam 300 pameran internasional.

Industri kebudayaan yang besar ini tentunya juga tidak mungkin berkembang tanpa dukungan kebiasaan membaca masyarakat India. Dalam sebuah riset tentang berapa banyak waktu dihabiskan untuk membaca dibandingkan menonton televisi, yang dilakukan oleh National Opinion Poll World (NOP World), sebuah perusahaan riset pasar berbasis di Inggris, diketahui bahwa India menempati urutan teratas dalam hal menggunakan waktu untuk membaca. Dari riset terhadap 30.000 orang berusia 13 tahun ke atas yang bermukim di wilayah perkotaan di 30 negara pada tahun 2005, didapat hasil bahwa setiap orang India rata-rata menghabiskan waktu 10,7 jam per minggu untuk membaca. Angka ini lebih tinggi 4,2 jam dibandingkan dengan rata-rata angka global. Sementara itu, orang Inggris hanya memakai 5,3 jam seminggu untuk membaca. Sebaliknya, penduduk negeri bekas penjajah India ini menghabiskan 18 jam seminggu untuk menonton program televisi. Sementara orang India menempati urutan ke empat terbawah. Tampaknya, dunia Barat harus menyadari bahwa India telah menjelma menjadi pusat intelektual melalui kegiatan kebudayaan yang penting ini. (BI Purwantari Litbang Kompas)

Sabtu, 2008 Juli 26

Kalkulasi Kentungan Penerbitan Buku bagi Penerbit dan Penulis

Saya yakin, apa saya tulis berikut ini tidak sesuai 100 persen dengan realitasnya.
Karenanya saya mohon, agar rekan-rekan mengkritisinya.
Syukur2 ada kalkulasi yang lebih berkualitas.
-----------------------------------------------------

Misalkan mau cetak buku 5 000 Ex @ 100 Halaman = 5.000 x 100 Halaman = 500.000 Halaman

Bila 1 Kertas Folio dipakai 4 Halaman, berarti kertas yang dibutuhkan adalah
500.000 dibagi 4 = 125.000 lembar kertas Folio

Bila 1 Rim = 500 Kertras Folio
125.000 : 500 = 250 Rim

Taroklah harganya Rp. 17.500 per Rim, berarti Biaya kertas saja = Rp. 3.500.000

Plat 25 buah @ Rp 5.000 ----> Rp 5.000 x 25 = Rp 125.000

Ongkos Cetak per Rim = Rp. 5.000 ---> Rp. 5.000 x 250 = Rp. 1.250.000

Ongkos Jilid Rp. 80 per Ex ---> 5.000 x Rp 80 = Rp 400.000

Ongkos Lipat Rp 50 ---> 5.000 x Rp. 50 = Rp. 250.000

Biaya semuanya = Rp. 6.400.000

Biaya produksi per eksemplar = Rp 6.400.000 dibagi 5.000 = Rp. 1.280

Harga eceran 6 kali lipat ---> 5 x Rp. 1.280 = Rp. 7.680 (bulatkan jadi Rp. 8.000)

Diskount untuk distributor 35 persen ----> 35/100 x Rp. 8.000 = Rp 5.200

Bila laku terjual berarti omsetnya = Rp. 5.200 x 5.000 = Rp. 26.000.000

Untuk penulis 10 persen = 10/100 x Rp. 26.000.000 = Rp. 2.600.000 (setelah dikenai pajak persen menjadi Rp. 2.210.000

Untuk Penerbit 90 persen = 90/100 x Rp. 26.000.000 = Rp. 23.400.000 (setelah dikenai pajak menjadi Rp. 19.890.000


Salam,

Nasrullah Idris
http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg13666.html

Alur penerbitan Universitas Muhamadiyah Malang (UMM)

Pasar Buku Islam Tengah Menggeliat


TAK bisa disangkal industri buku di Tanah Air beberapa tahun terakhir ini tumbuh dengan bergairah. Kegairahan ini ditandai dengan munculnya penerbit-penerbit baru di berbagai kota di Indonesia dan membanjirnya buku-buku baru produk mereka di pasar. Ada yang cukup menyita perhatian dari bergairahnya industri buku tersebut, yakni maraknya penerbitan buku-buku agama, terutama buku-buku bertemakan Islam.

Bukan perkara sulit membaca fenomena demikian. Tengok, gencarnya penyelenggaraan pameran-pameran buku yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia setelah tahun 1990-an. Munculnya peserta-peserta baru dari kalangan penerbit-penerbit buku Islam dalam jumlah yang cukup besar kerap menghiasi pemandangan pameran buku saat ini. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, sudah ada pameran buku Islam tersendiri, seperti Pameran Buku Islam yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia cabang Jakarta (IKAPI Jaya) maupun Pameran Buku Islam Plus yang diadakan IKAPI Jawa Barat bulan Oktober tahun 2003.

Jika dua tahun terakhir penyelenggaraan pameran buku sudah mulai mengkhususkan diri pada tema-tema bernapaskan Islam, sudah barang tentu terjadi pertumbuhan penerbit buku Islam yang cukup signifikan pada tahun-tahun terakhir ini. Pendataan IKAPI Pusat, misalnya, untuk periode tahun 2000 hingga 2003 atau kurang dari empat tahun, sudah tercatat sekitar 20 penerbit buku Islam baru yang menjadi anggota IKAPI. Angka ini jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan jumlah penerbit buku Islam pada kurun waktu tahun 1981 hingga 1989 yang hanya sebanyak enam penerbit saja. Jumlah ini belum termasuk pertumbuhan penerbit buku Islam yang tidak menjadi anggota IKAPI yang bisa dipastikan jumlahnya akan jauh lebih besar.

Bertambahnya penerbit tentu berbanding lurus dengan pertambahan produksi buku. Maka, tidak mengherankan jika keberadaan buku-buku bertemakan Islam mulai merambah toko- toko buku. "Buku-buku agama, khususnya Islam, memang paling banyak memakan space atau tempat paling luas di toko buku kami. Saat ini, paling tidak buku-buku agama sudah menyita 20 persen space yang tersedia, dari sejumlah itu 80 persennya buku-buku Islam," kata Arif Abdulrakhim pemimpin Toko Buku Toga Mas Yogyakarta. Proporsi demikian tentu terbilang besar. Bahkan, Abdulrakhim sangat meyakini bahwa toko-toko buku umum lain di luar Toga Mas pun kondisinya kurang lebih juga sama. "Dua puluh persen itu gede karena buku-buku yang lain tidak ada yang sampai 20 persen. Saya yakin di toko buku lain, yang bukan toko buku agama, paling besar buku Islam," kata Arif menambahkan.

GELIAT penerbitan buku- buku Islam yang melanda dunia penerbitan akhir-akhir ini, di satu sisi tidak bisa dilepaskan dari hukum penawaran dan permintaan. Artinya, kemunculan penerbit dan buku Islam di masyarakat ini sangat dipengaruhi tingginya respons atau permintaan masyarakat terhadap buku-buku jenis itu. Tengok saja selama bulan Ramadhan, misalnya, hasil jajak pendapat yang dilakukan harian ini di 10 kota besar Indonesia mengungkapkan 71,7 persen responden beragama Islam mengaku membaca buku-buku Islam. Sisanya, mengaku tidak membaca buku-buku bertemakan Islam dalam keseharian di bulan Ramadhan ini.

Dapat dibayangkan betapa besar kebutuhan akan buku-buku bertemakan Islam selama bulan ini. Oleh karena itu, bagi Indonesia yang mempunyai penduduk beragama Islam terbesar di dunia ini merupakan pasar yang sangat potensial bagi buku-buku bernuansa Islam. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan bagi penerbit-penerbit untuk berbondong-bondong terjun menggarap pasar buku-buku Islam dengan lebih serius.

Situasi seperti itu juga diantisipasi Penerbit Gema Insani Press (GIP). "Saya melihat mayoritas penduduk Indonesia itu Islam, sementara itu para penerbit buku Islam sebelumnya sudah ada, tetapi kualitas covernya sangat sederhana, kertasnya koran semua. Kenapa buku Islam tidak bisa dibuat dengan bagus, hard cover dengan kertas HVS semua?" Pertanyaan inilah yang mendorong GIP terjun dalam penerbitan buku-buku bertemakan Islam. Apalagi, ternyata masyarakat menerima keberadaan mereka, yang diikuti respons pembelian yang sangat bagus. "Jadi, masyarakat ini menggandrungi buku-buku Islam yang bagus dan indah, tidak sekadar dari kertas koran," kata Iwan Setiawan, General Manajer GIP.

Menurut pendirinya, GIP sendiri berdiri tahun 1985. Semua berawal dari penerbitan buku bertemakan perang Afghanistan. Merasa cukup laku, dari situ kemudian keluarlah buku-buku yang lain sehingga penerbit ini memilih berkonsentrasi penuh dengan menerbitkan buku-buku Islam sampai sekarang. Dalam dunia perbukuan, Penerbit GIP termasuk penerbit buku Islam yang terbilang sukses. Produksi bukunya saat ini rata-rata 6 judul per bulannya. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan selama krisis yang hanya 3 judul tiap bulannya. Hingga bulan September 2003, tidak kurang 414 judul buku yang sudah diterbitkan GIP. Ada beberapa buku terbitan GIP yang dicetak ulang hingga berkali-kali dan terserap pasar hingga ratusan ribu eksemplar. Buku-buku itu antara lain: Berbakti pada Ibu Bapak, Nama-nama Islami, Wanita Harapan Tuhan, dan Anda Bertanya Islam Menjawab. Buku terakhir adalah karangan ulama besar Mesir Prof Dr M Mutawalli Asy-sya’rawi ini sudah mengalami cetak ulang hingga 18 kali. Buku dengan kemasan luks tersebut dijual seharga Rp 47.200.

Tidak heran dengan keberhasilan meraih respons pasar tersebut hingga kini perkembangan bisnis GIP tergolong pesat. Dari jumlah karyawan, misalnya, jika semula tiga orang kini mencapai 150 karyawan. Jika dahulu mereka mengontrak rumah sebagai tempat beraktivitas, kini mampu membangun kantor, percetakan yang dilengkapi dengan mesin-mesin cetak milik sendiri berkapasitas besar. Bahkan, hingga kini dengan keuntungan yang diperoleh, penerbit ini sudah mampu membangunkan 40 rumah bertipe 70 dan 90 berkamar tiga, yang diberikan kepada karyawannya.

Penerbit Mizan tampaknya layak juga disebut sebagai lokomotif perkembangan penerbit buku Islam di Indonesia. Harus diakui juga bahwa penerbit yang berlokasi di Bandung ini turut mewarnai wajah perkembangan dunia perbukuan. Kemunculannya tidak hanya memberi warna terbatas di dalam penerbitan buku Islam, tetapi dalam satu dasawarsa terakhir secara lebih luas ikut memberi wajah baru bagi dunia perbukuan di Indonesia. Apabila sebelumnya dunia penerbitan buku lebih banyak dikuasai penerbit dari kelompok Gramedia, saat ini Penerbit Mizan tumbuh menjadi kelompok penerbit yang tergolong tangguh dan patut diperhitungkan.

Penerbit Mizan mulai berdiri sejak tahun 1983 dengan menerbitkan buku-buku tentang pemikiran Islam yang cenderung moderat dan liberal. Kehadiran buku-buku terbitan Mizan mendapat sambutan yang baik di masyarakat, terutama kelompok masyarakat kelas menengah baru Islam. Menarik mengikuti pandangan Haidar Bagir, pendiri kelompok penerbitan Mizan. Menurut dia, keberadaan kelas menengah baru Muslim ini, yang relatif lebih dulu mengalami kemakmuran dan mengalami gejala kekosongan spiritual seperti yang dialami oleh masyarakat di negara maju, menjadi pasar terbesar bagi buku-buku Islam. Untuk itu buku Mizan dibuat dengan kualitas yang sesuai dengan permintaan kelompok-kelompok yang mementingkan kualitas dan juga harga yang tidak terlalu murah serta yang membeli orang-orang yang berpenghasilan tertentu. "Buku model Mizan ini kemudian banyak ditiru penerbit-penerbit lain," kata Haidar Bagir.

Rintisan Mizan tidak terputus sesaat. Dalam perkembangannya selain tetap berkonsentrasi menerbitkan buku-buku Islam pemikiran dengan tetap menggunakan bendera Mizan, penerbit ini kemudian membentuk penerbit-penerbit baru dengan nama lain seperti Kaifa untuk buku-buku berjenis petunjuk (how to) dan Qanita untuk buku-buku bertema perempuan. Bahkan, mulai tahun 2003, Mizan Pustaka dibagi lagi dalam dua divisi, yakni Mizan Pustaka untuk buku-buku Islam dewasa dan DAR! Mizan khusus buku-buku bernuansa Islam untuk konsumsi anak-anak dan remaja. "Pembagian ini lebih untuk menjawab persoalan dan tanggapan dari konsumen, selain itu biar tiap unit bisa lebih fokus pada masing-masing bidangnya," kata Fan Fan Darmawan dari Mizan.

Strategi yang didasarkan pada segmen-segmen pembaca semacam ini ternyata cukup efektif. Buku-buku novel remaja bernuansa Islam hasil kembangan penerbit ini, misalnya, ternyata juga mendapat sambutan yang cukup baik dari pembaca. Novel- novel remaja yang di antaranya dikarang Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Gola Gong, menurut pengakuan penerbit ini, ada yang sudah terjual sampai 50.000-an eksemplar. Jumlah sebanyak ini tergolong istimewa, masuk buku best seller untuk kategori buku lokal.

DALAM khazanah penerbit buku Islam, GIP dan kelompok Penerbit Mizan tidak berjalan sendirian. Perkembangan pasar buku Islam juga diramaikan penerbit-penerbit lain yang tergolong spektakuler penampilannya. Di antaranya, MQ Publishing. Penerbitan buku yang merupakan salah satu unit usaha di bawah kelompok usaha MQ Corporation pemimpin pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhid Bandung, KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, ini juga mencatatkan rekor penjualan. MQ Publishing sebenarnya tidak lain adalah pengembangan dari divisi MQS Pustaka Grafika dan MQ Publication yang sebelumnya telah menerbitkan buku-buku dengan materi dari ceramah-ceramah maupun wawancara dengan Aa Gym.

Seperti halnya buku-buku Aa Gym sebelumnya yang sudah diterbitkan Mizan dan GIP yang terjual ratusan ribu eksemplar, buku pertama terbitan MQ Publishing yang untuk pertama kalinya ditulis Aa Gym sendiri ini laris manis diserap pasar. Dalam waktu kurang dari sebulan, buku Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi yang diterbitkan pada pertengahan tahun 2003 sudah laku sebanyak 40 ribu buku lebih. "Tema-temanya memang masih sekitar Aa Gym. Kami ambil tema-tema itu karena di pasar masih laku. Ya sudah, kami penuhi dulu. Makanya, penerbit-penerbit lain banyak yang mengambil tulisan Aa Gym," jelas Yopi Hendra, editor MQ Publishing. Kendati saat ini masih lebih konsentrasi menerbitkan buku-buku tentang Manajemen Qolbu (MQ) dan Aa Gym, MQ Publishing sudah mulai merintis menerbitkan buku-buku yang tidak bertema MQ. "Di satu sisi kita memang masih mengistimewakan Aa Gym, sejauh tingkat tertentu, tetapi setelah itu kita tidak akan seterusnya bergantung pada Aa Gym," kata Yopi menambahkan.

Besarnya peluang pasar bagi buku-buku Islam ini sudah pasti menarik berbagai penerbit untuk ikut terjun menerbitkan buku- buku bertema Islam. Bahkan, beberapa penerbit yang sebelumnya dikenal sebagai penerbit umum saat ini mulai menerbitkan buku- buku bertema Islam. Salah satunya, Penerbit Erlangga. Sejak tahun 2002 Penerbit Erlangga yang lebih dikenal sebagai penerbit buku-buku teks pelajaran ini memiliki divisi penerbitan buku Islam. Motifnya sudah tentu pasar yang tengah menggeliat. "Kami melihat market share yang sangat besar, 90 persen penduduk Indonesia ini kan Muslim, karena pasar begitu besar, kami coba masuk sedikit. Sifatnya partisipasi saja," kata Singgih, salah satu editor Penerbit Erlangga. Sekalipun sifatnya hanya berpartisipasi, tidak kurang sudah 17 judul buku bernuansa Islam yang mereka terbitkan, baik buku berjenis pemikiran Islam maupun cerita- cerita ringan. Bahkan, salah satu buku terbitan Erlangga berjudul Kisah Hikmah ini selama tahun 2002 mampu dicetak ulang hingga lima kali. Betapa semarak memang pasar buku-buku Islam saat ini. Tidak heran, ibarat pepatah Ada Gula Ada Semut, buku-buku Islam saat ini layaknya gula yang banyak diminati berbagai pihak lantaran cukup menggairahkan secara bisnis.(wen/bip/eki/nca/umi)
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/15/pustaka/688306.htm

Mengintip Peluang Pasar Buku Indonesia di Malaysia


MINAT baca tinggi belum tentu menghasilkan banyak penulis lokal. Kesimpulan inilah yang dapat menggambarkan kondisi perbukuan di Malaysia. Dari seluruh buku yang beredar dan diserap pasar di Malaysia, hanya sepuluh persen saja merupakan buku lokal. Selebihnya buku impor dan terjemahan.

JIKA ditelusuri lebih jauh, dari angka sepuluh persen produk lokal tersebut, bagian terbesar (mencapai 90 persen) merupakan buku-buku jenis panduan atau bacaan untuk sekolah. Dengan demikian, hanya sepersepuluh saja dari buku-buku lokal di sana yang merupakan bacaan umum.

Proporsi demikian tentu saja mengusik para pelaku industri buku di negeri jiran ini. Untuk memenuhi permintaan yang terus-menerus meningkat, beberapa penerbit Malaysia berinisiatif menjalin kerja sama dengan penerbit Indonesia. Pengalaman selama ini, buku-buku yang banyak diminati dari Indonesia berkisar pada buku tentang agama Islam, baik pemikiran, hadis, maupun panduan. Kemudian cerita anak, cerita remaja, resep masakan, hingga buku bacaan umum yang bersifat praktis.

Pembelian buku baik bentuk fisik maupun hak cipta ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, misalnya, menuturkan pernah menjual hak cipta novel Mira W dan Marga T pada dekade itu. Uniknya, hingga kini masih ada judul-judul dari pengarang tersebut yang masih dicetak ulang.

Penerbit buku Islam, seperti Gema Insani Press, juga terbiasa bertransaksi dengan para penerbit Malaysia. Bahkan, sejak tahun 1965 hingga sekarang penerbit ini masih terus mengirimkan buku dengan kontainer ke sebuah penerbit di Malaysia. Melalui sistem beli putus, antara lima dan enam judul per tahun dikirim ke Malaysia. Iwan Setiawan, General Manager Gema Insani, mengungkapkan, buku agama terbitan mereka sangat diminati masyarakat Malaysia meski, menurut Iwan, angka penjualan ke negeri jiran itu tidaklah besar, mengingat di Indonesia buku-buku penerbit itu juga cepat terjual dengan tiras yang tinggi.

Upaya memperluas pasar di Malaysia seperti yang dilakukan beberapa penerbit Indonesia ini tentu mengundang minat para penerbit buku lainnya. Berbagai bentuk kerja sama dengan para penerbit di Malaysia coba dirintis. Pola kerja sama memang pilihan yang banyak diterapkan penerbit Indonesia ketimbang berbisnis langsung. Bentuk kerja sama tersebut juga diakui oleh penerbit Darul Fikir Malaysia yang membeli banyak hak cipta dari Indonesia. Direktur Darul Fikir Mohd Zaki Ahmad, misalnya, mengakui bahwa penerbitnya bekerja sama dengan 12 penerbit dari luar Malaysia yang memiliki fokus terbitan buku keislaman. Dia mengungkapkan bahwa hampir 70 persen dari seluruh terbitannya merupakan karya penulis luar Malaysia.

KURANGNYA penulis Malaysia dalam menulis bacaan umum juga diakui oleh Arif Hakim yang merintis penerbitan dari tahun 2000 berkedudukan di Pahang, Malaysia. Arif mengakui telah membeli sekitar 50 judul buku yang terdiri atas bacaan anak dan buku umum dari salah satu penerbit Indonesia. Seperti diungkapkan oleh Arif, masyarakat Malaysia haus akan buku umum dan cerita anak yang bermutu dengan gaya tulisan yang lebih populer dan tidak terlalu akademis. Oleh karena itu, dia yakin, buku Indonesia akan laris di Malaysia.

Antusiasme Malaysia akan buku Indonesia diakui pula oleh Novel, Presiden Controller Mizan, yang melihat bahwa Malaysia jauh lebih membutuhkan Indonesia daripada sebaliknya. "Malaysia bersandar pada buku-buku impor. Jadi jika mereka ingin menerbitkan sendiri, mereka membutuhkan naskah dari kita," ujar Novel. Namun, pengalaman Mizan selama ini tidak hanya buku asli penulis Indonesia, buku terjemahan pun di lirik oleh Malaysia. Seperti diakui oleh Novel yang telah lama membangun kerja sama dengan penerbit Eropa, "Malaysia membutuhkan buku terjemahan dari Indonesia karena kita telah memiliki hubungan baik dengan berbagai penerbit Eropa dan negara lainnya".

Hal ini pula diakui oleh Shaharom, pengajar di Universitas MARA yang juga mengamati perkembangan perbukuan di Indonesia, bahwa membeli buku terjemahan asing dari Indonesia jauh lebih murah dan lebih cepat daripada menerjemahkan sendiri. "Buku dalam bahasa Inggris di Malaysia sangat mahal. Jika diterbitkan di Indonesia dan diganti bahasa Indonesia harganya akan murah sekali," ungkapnya.

Melihat peluang yang ada, tampaknya Malaysia merupakan pasar yang sangat potensial bagi Indonesia. Kedekatan bahasa dan budaya merupakan faktor utama yang sudah dimiliki Indonesia. Apalagi Pemerintah Malaysia gencar mempromosikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi negara dan bahasa pengantar di berbagai lembaga resmi. Dalam hal ini menjadi sejalan dengan Indonesia yang sudah memiliki bahasa baku yang mudah dimengerti oleh kalangan terpelajar Malaysia. Buku-buku teknik pun sangat menarik minat Malaysia, seperti diungkapkan oleh Hasrom bin Haron, Ketua Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), yang sangat menyayangkan sulitnya mendapatkan buku teknik dari Indonesia. "Kami senang sekali jika buku teknik Indonesia masuk ke sini karena mahasiswa kami membutuhkan buku panduan yang bukan bahasa Inggris," ujar pengajar pada UKM tersebut.

Hingga saat ini buku Indonesia masih menarik bagi Malaysia, seperti diakui oleh Mohd Anwar Ridhwan, pengarah Dewan Bahasa Pustaka Malaysia. Buku Indonesia, katanya, sangat menarik dan Indonesia sangat cepat menerjemahkan buku. Ini pun semakin disokong oleh latar belakang historis perbukuan yang erat. Sebagaimana diketahui, ketika awal tahun 1970-an buku sastra Indonesia masuk ke Malaysia, para sastrawan angkatan Pujangga Baru dan Pujangga Lama atau lebih dikenal dengan angkatan Balai Pustaka ikut mewarnai wacana sastra di Malaysia. Sebut saja nama Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, dan Pramoedya Ananta Toer sangat dikenal di Malaysia, bahkan buku mereka menjadi bacaan wajib bagi siswa dalam mata pelajaran sastra. Sayangnya, kini seiring dengan waktu dan generasi pembaca sastra terus berganti, nama para sastrawan tersebut mulai terlupakan.

Potensi mengembangkan pasar di Malaysia yang cukup besar sudah sepantasnya menjadi rujukan bagi para penerbit di negeri ini. Dalam hal ini dibutuhkan peran asosiasi sebagai wadah penerbit Indonesia menjadi duta bagi penerbit Indonesia. Namun sayangnya, sejauh ini potensi demikian belum banyak dimanfaatkan. Pengalaman menunjukkan, para penerbit harus turun sendiri untuk mempelajari pasar, menjalin kerja sama, hingga bertransaksi. Seperti diakui oleh Novel, mereka sebelumnya tidak memiliki informasi sedikit pun tentang pasar buku Malaysia. "Setelah kami bawakan buku- buku kami, mereka (penerbit Malaysia) terkaget-kaget melihatnya. Mereka tidak tahu bahwa ada buku yang menarik bagi mereka karena tidak pernah ada informasinya," ujar Novel.

Memperkenalkan buku Indonesia ke luar negeri tentu saja dibutuhkan promosi yang gencar dari penerbit lokal. Mengikuti kegiatan pameran di luar negeri adalah suatu keharusan. Sebisa mungkin dalam ajang pameran seperti ini penjualan hak cipta sebanyak mungkin menjadi tujuan dibandingkan dengan penjualan buku cetakan. Hal semacam inilah yang tampaknya belum terlihat dari stan Indonesia di Kuala Lumpur International Book Fair. Kesan yang terlihat, baik penataan stan maupun judul buku yang ditampilkan kurang mencerminkan keberadaan buku Indonesia.

POTENSI pasar yang terbuka tidak berarti tanpa persoalan. Persoalan bajak-membajak (cetak rompak) tidak luput selama ini terhadap buku-buku Indonesia, terutama buku agama Islam. Masalah pembajakan ini sudah berlangsung lama, seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Jika persoalan pembajakan buku belum mampu diatasi, maka cetak rompak di Malaysia semakin menekan penerbit Indonesia. Ironisnya, meski pelaku pembajakan tersebut ditangkap, pengadilan tidak dapat memproses hukumnya.

Pengalaman semacam ini pernah terjadi pada penerbit Gema Insani yang pernah menangkap dan membawa pembajak bukunya ke pengadilan. Persoalannya kemudian, pengadilan Malaysia tidak dapat melakukan proses hukum karena Gema Insani tidak memiliki cabang perusahaan yang berkedudukan di Malaysia.

Menyiasati pembajakan tersebut, Gema Insani memilih melakukan kerja sama dengan penerbit Malaysia dalam menjual hak cipta buku-buku mereka. Cara seperti ini cukup jitu, lantaran jika buku tersebut dibajak di Malaysia, maka penerbit yang membeli hak ciptalah yang akan mengajukan tuntutan hukum.

Berbagai upaya menekan pembajakan ini pun sebenarnya kerap dibicarakan, di antaranya muncul ide untuk melindungi buku Indonesia dengan membuat Galeri Indonesia. Wujudnya dengan membentuk semacam perwakilan distributor buku Indonesia di Malaysia yang dikelola bersama penerbit kedua negara tersebut. Sayangnya, pembicaraan yang sudah lama direncanakan itu belum terealisasi.

Menurut Saiful Zen, Bendahara Ikapi, pihak Malaysia tampaknya masih tarik-ulur dengan rencana tersebut. Salah satu persoalannya, buku dianggap komoditas bisnis yang merupakan investasi jangka panjang. Selain itu, belum jelas juga bagaimana perhitungan yang ditanggung jika buku tidak terjual atau lama habisnya.

Bagi beberapa kalangan, sebenarnya hal itu bukanlah halangan karena bisa saja penerbit Indonesia membuat sendiri Galeri Buku Indonesia tanpa perlu berkongsi dengan penerbit Malaysia. Jika saja beberapa penerbit Indonesia mau bersama-sama membangun kerja sama dan memfasilitasi Galeri Indonesia tersebut, maka kendala manajemen penjualan akan teratasi. Inilah tampaknya yang perlu dipikirkan oleh penerbit Indonesia saat ini, agar jangan setengah hati untuk meluaskan pasar buku Indonesia. (Umi Kulsum/Litbang Kompas)
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0505/21/pustaka/1763008.htm

Jalan Terus Biarpun Pasar Tidak Gemuk


Ketika ditanya potensi pasar buku-buku klasik, Buldanul Khuri mengutip salah satu syair lagu dangdut yang populer lima tahun silam. "Pasarnya? Yang sedang-sedang saja," kata Direktur Utama penerbit Bentang Yogyakarta ini. Artinya, buku klasik ini tetap memiliki pasar meski jumlahnya tidak besar. Dalam hitungan normal versi Buldan, cetakan pertama--sekitar 1.500 sampai 2.000 eksemplar--paling tidak habis dalam satu tahun.

Buldan mengambil contoh buku Republik karya Plato yang terbit Oktober 2002. Dicetak pertama sebanyak 1.500 eksemplar. Hingga kini buku tersebut masih tersendat di pasar. Padahal upaya mengenalkan buku ini ke publik sudah dilakukan. Salah satunya lewat resensi di berbagai media massa. Seretnya pemasaran buku klasik ini sudah disadari sejak jauh hari. Buldan memperkirakan, nasib serupa bakal dialami sembilan judul buku yang segera terbit.

Yang membuat Buldan jalan terus dengan proyek klasik ini tak lain karena ia tak merasa punya beban. Niat memperkenalkan karya-karya asli pemikir besar lebih kuat ketimbang urusan mencari untung.

Berpikir ala Filsuf karya Bertrand Russell, yang diterbitkan Ikon Teralitera, juga bertahan pada cetakan pertama. Begitu pula dengan tulisan Friedrich Nietzsche. "Kami sadar serapan pasar biasa-biasa saja," kata Adi Amar. Meski begitu kabar gembira sempat berembus dari The Problem of Philosopy karya Russell. Buku yang terbit pertama Mei 2002 ini telah dicetak ulang dua kali.

Cetakan kedua juga dialami A General Introduction to Psychoanalysis karya Sigmund Freud. Menjelang satu tahun dari cetakan pertama, buku tentang psikoanalisis ini terserap pasar. Biasanya catakan pertama rata-rata 3.000 eksemplar. Sukses buku Freud sebenarnya tak lepas dari tema yang ditawarkan. Pasar terbesar buku ini berasal dari lingkungan mahasiswa psikologi.

Buku yang sebenarnya mengalami nasib baik pada awal kehadirannya adalah Asal-Usul Spesies. Ketika diluncurkan pada Mei 2002, buku ini terserap cepat pasar. Sayang, pasar buku Charles Darwin ini mulai tersendat. Selain tema yang ditawarkan sudah dikenal luas, kehadiran buku Harun Yahya yang menggempur teori Darwin cukup berpengaruh. "Dampaknya terasa sekali," kata Adi. Selama ini karya Harun Yahya diproduksi penerbit Dzikra Bandung. Gempuran Harun Yahya juga dikenalkan lewat cakram VCD yang banyak beredar di pasar.

Kondisi yang agak menggembirakan justru terjadi pada buku klasik dari dunia Islam. Tafsir Juz Amma Ibnu Katsir yang terbit awal 2002 hingga kini naik cetak sebanyak lima kali. Kisah Para Nabi dari penulis dan penerbit yang sama naik cetak sebanyak enam kali sejak pertama diterbitkan awal 2002. Bahkan Keajaiban Hati setebal 100 halaman yang terbit 2001 sudah naik cetak tujuh kali. "Mungkin karena bukunya relatif tipis dibanding yang lain," kata Naufal.

Tesis buku tipis memang tak mesti menjadi alasan pembeli untuk merogoh saku. Substansi materi yang disampaikan tentu lebih menentukan. Buku Mukaddimah karya Ibnu Khaldun setebal 880 halaman adalah sebuah antitesis. Buku yang diterbitkan pertama pada akhir 1997 oleh Pustaka Firdaus yang cukup mahal ini dicetak ulang sebanyak empat kali. Kini sedang disiapkan edisi cetakan kelima. arif firmansyah
http://www.korantempo.com/news/2003/3/2/Buku/8.html

8 LANGKAH MUDAH MEMBUAT PENERBITAN MANDIRI

Seri Artikel Write & Grow Rich
bagian 1

Salah satu pertanyaan yang sering dilayangkan kepada saya adalah soal bagaimana membuat self-publishing atau independent publishing. Self-publihsing adalah kegiatan penerbitan karya-karya sendiri. Sementara, independent publishing umumnya adalah sebuah penerbitan mandiri yang dikelola secara independen, yang menerbitkan karya-karya sendiri maupun karya orang lain. Tak jarang, sebuah penerbitan umum yang berkembang semula diawali dari self/independent publishing.

Seperti saya singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, salah satu tren perbukuan ke depan adalah maraknya pendirian penerbitan mandiri ini. Mengapa? Ya, karena sekarang membuat penerbitan sendiri sudah sedemikian mudahnya. Selain itu, banyak manfaat yang bisa diambil, selain juga potensi bisnisnya yang lumayan. Saya pun mendapati bahwa minat para penulis untuk membuat penerbitan mandiri ternyata cukup lumayan. Klien-klien saya sendiri juga banyak yang berminat dan akhirnya mendirikan penerbitannya sendiri.

Nah, bagi Anda yang ingin mencoba membuat self-publishing atau independent publishing, saya coba memadatkan segala tetek-bengek pembuatan penerbitan mandiri ini ke dalam delapan langkah berikut.

Pertama, siapkan naskah yang siap terbit dan memenuhi kriteria atau anjuran-anjuran sebagaimana saya tulis dalam buku Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller (Gradien, 2005). Naskah siap terbit artinya naskah yang sudah tersunting secara rapi dan lengkap (lihat artikel “Bagaimana Melengkapi dan Mengamankan Naskah Buku?”). Naskah yang sudah rapi dan lengkap akan memudahkan proses penerbitan buku. Sementara, naskah yang tidak lengkap dan rapi bisa sangat merepotkan.

Untuk Anda yang ingin benar-benar mendapatkan manfaat finansial dari ‘petualangan penerbitan’ ini, saya anjurkan supaya benar-benar memilih naskah buku yang berpotensi untuk laku keras. Atau, akan jauh lebih baik lagi bila naskah itu berpotensi menjadi buku best-seller. Apa ciri-cirinya? Saya sudah bahas lengkap dalam artikel-artikel atau buku saya sebelumnya. Kecuali Anda memiliki misi khusus dengan penerbitan naskah tertentu, maka soal laku atau tidak laku memang tidak terlalu memusingkan.

Kedua, siapkan modal yang cukup untuk mencetak dan mempromosikan buku. Perkiraan saya, jika kita bisa efesien sekali dalam proses penerbitan ini, maka dengan modal sekitar Rp15-30 juta kita sudah bisa menerbitkan buku fast book atau buku ukuran 14 x 21 cm dengan rata-rata ketebalan antara 150-200 halaman dan oplah mencapai 3.000 eksemplar. Di sejumlah kota seperti di Yogyakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya, kadang dengan modal di bawah Rp10 juta pun bisa jalan dengan jumlah cetak yang lebih sedikit.

Nah, sebagian orang tidak bermasalah dengan modal. Klien-klien saya, terutama yang datang dari lembaga konsultan, perusahaan, atau pembicara publik, biasanya tidak menemui kesulitan soal modal penerbitan. Sementara, bagi sebagian lagi amat bermasalah alias sulit mendapatkan modal. Saya lihat, tak sedikit penulis yang memanfaatkan royalti bukunya untuk memodali dan mengawali penerbitan mandiri mereka. Saya sendiri termasuk yang menempuh jalan ini. Sebagian lain ada yang patungan dengan rekan-rekannya. Prinsipnya, asal ada naskah yang bagus potensi pasarnya, maka modal pasti tidak sulit didapat.
sumber:http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=868&page=1

Mahalnya Buku di Gramedia


Malam Minggu kemarin, bersama Istri saya pergi ke Gramedia di jalan Kertajaya. Iseng-iseng jalan-jalan, mumpung waktu itu ada adik istri yang bersedia “memomong” anak saya. Sebenarnya belum ada rencana untuk beli buku apa. Kalau ketemu yang bagus nanti di beli saja. Setelah berjalan di tempat majalah, saya berjalan ke bagian buku-buku komputer. Terpampang buku berjudul “SQL : Kumpulan Resep Query menggunakan MySQL” hasil tulisan om Steven. Di Gramedia memang enak, soalnya ada contoh satu buku yang bisa dibuka, sehingga kita bisa melihat kwalitas buku yang akan kita beli.

Setelah membaca sedikit, saya memutuskan untuk membeli buku itu. Sesuai dengan harga yang tertera di sampul belakang buku, maka saya mengeluarkan satu lembar Rp. 50.000,- kepada kasir, dan kasirpun mengucapkan terimakasih. Harga buku itu Rp. 50.000,- pas tanpa mendapat diskon.

Dua hari berikutnya saya iseng pergi ke toko buku lain. Kali ini ke toko buku Manyar Jaya di jalan Manyar. Rencananya saya ingin membeli buku hacking, tapi ketika saya mencarinya kesana kemari, saya malah menemukan buku Kumpulan Resep Query seperti yang ada di Gramedia, tetapi dengan harga yang jauuuuuuuuuuuuuuuuh lebih murah. Di sampulnya hanya tertulis Rp. 40.000,-. Saya tertegun, betapa besar selisih harganya, 20% dari harga di Gramedia.

Ada rasa kecewa bersemayam di hati saya. Lain kali …..

dikutip dari :http://achedy.penamedia.com/2005/08/09/mahalnya-buku-di-gramedia/

Pusat Buku Indonesia


Cita-cita para penerbit buku Indonesia untuk membangun PUSAT BUKU INDONESIA nampaknya sudah mulai terwujud. Tempat berkumpul para penerbit dengan pengemar, pelanggan, pebisnis buku, event organizer pameran buku, distributor buku luar negeri, dan prospeknya itu ada di Kelapa Gading Center (KTC) Jalan Boulevard Barat Raya Jakarta Utara (persisnya di depan Makro). Diresmikan oleh Wakil Presiden Bapak Jusuf Kalla pada tanggal 30 Mei 2008, yang juga dihadiri oleh Bapak Gubernur DKI Jakarta – Fauzi Bowo.

Lokasi Pusat Buku Indonesia di Kelapa Gading Centre - strategis dan nyaman

Di area seluas lebih dari 40.000 m2 itu, para penerbit dengan showroom-nya masing-masing dapat men-display buku terbitannya yang akan memudahkan pada pengelola toko buku, distributor, instansi pemerintah, pustakawan, guru dan dosen, penulis, penyelenggara event yang berkaitan dengan industri buku, untuk melakukan hubungan kerja dengan berbagai penerbit sekaligus di tempat yang sama. Sungguh-sungguh menghemat BBM dan waktu.

Bukan hanya penerbit buku, bahkan Ratna Riantiarno dari Teater KOMA itu juga membuka stand untuk mengajak anak-anak bangsa yang ingin terjun ke dunia teater.

Menurut pengelola PUSAT BUKU INDONESIA, sewa stand ini sangat murah. Selain itu, pada tahun mendatang para penerbit yang menyewa stand itu diberi kesempatan untuk membeli stand itu secara kredit.

Lokasi PUSAT BUKU INDONESIA ini sangat nyaman dan sejuk. Tentu saja karena adanya pendingin AC serta ruangan yang sangat besar, gang antar-stand yang lebar, sehingga para penerbit bisa membuat acara promosi di depan stand masing-masing.

Gangguan pemalak dan parkir liar sering membuat jengkel pengunjung pameran buku? Sama sekali tidak ada. Harap tahu saja, lokasi ini berdampingan dengan Kodamar TNI/AL. Tempat jualan makanan ada di lantai 3, rapi, dan tidak semrawut seperti di tempat-tempat pameran buku. Tempat parkir luas sekali, ada di basement gedung itu maupun di luar. Ongkos parkir hanya Rp1.000,- berapa pun lamanya anda menghabiskan waktu untuk melihat-lihat buku.

Dengan tersedianya ruangan yang sangat luas dan nyaman, sebetulnya asosiasi penerbit, asosiasi penulis, atau asosiasi apa saja yang berkaitan dengan industri buku bisa membuat acara-acara penataran dan pelatihan baik untuk anggota asosiasi ataupun pelanggannya di lokasi itu.

Anda punya naskah, foto-foto illustrasi, design, kerjasama sponsoship dengan penerbit buku, gagasan untuk menyelenggarakan pameran buku, atau ide penerbitan suatu buku? Tawarkan saja ke penerbit-penerbit yang ada di sana. Anda tinggal pilih.

Minggu, 2008 Juli 06

Peran Wikimu Dalam Pemasaran Berbasis Online

Jakarta,Istora. Satu lagi acara bagus digelar IKAPI DKI di Pesta Buku Jakarta (PBJ) 2008. Setelah Senin(30/6) lalu menghadirkan Mr.Erik Hartmann, pakar Google Books Search Singapora sebagai pembicara yang mengupas tentang bagaimana Cara Pemasaran Buku di Era Baru via internet, maka pada Selasa (1/7) berikutnya, panitia kembali memberikan tambahan ilmu dan pengalaman kepada pengunjungnya dengan seminar Pemasaran Berbasis Online.

Kali ini giliran Kiki R Noviandi, General Manager Intimedia WEB VENTURE yang kebagian sebagai pembicara pertama dengan moderator Sholeh Isra . Kiki bertutur tentang latar belakang dan cikal bakal bagaimana manusia memperkenalkan dan memasarkan produknya dari zaman bauheula hingga era digital seperti dewasa ini. Mulai dari cara lisan hingga generasi internet era intraktif. Bagaimana website evolution, stastistic web content, online transactions, participation, generation dan content melalui media online.

“Kini kita telah sampai pada era informasi dan memasuki era participation”ujar pria berkacamata ini. Menurutnya, di era sekarang, komunitas merupakan salah satu ujung tombak dalam berbisnis lewat online. Dan mereka lah yang selalu mencari dan aktif di media online untuk interaksi dan partisipasi.

Sementara Melani Laksmono, Chief Operating Officer Wikimu yang hadir sebagai pembicara kedua menjelaskan tentang media www.wikimu.com yang diperlukan untuk melakukan interaksi tersebut .

Wikimu merupakan situs informasi komunitas independen dengan konsep partisipasif. Media ini bukanlah situs berita, walaupun berisi aneka ragam informasi. Di media ini siapa saja bisa mendapatkan dan mengirimkan informasi, termasuk menambahkan, melengkapi atau menyanggah informasi yang sudah ada.

“Artinya, dalam situs ini dimungkinkan adanya interaksi pembaca dan penulisnya” ujar Melani. Selain itu, informasinya sangat beragam. Mulai soal kesehatan, olahraga, suara konsumen, layanan publik, peristiwa bisnis, politik, ekonomi, opini dll. Aktifitas offline di wikimu cukup beragam, mulai dari gathering, nonton bareng hingga kuliner.Semua disesuaikan dengan keinginan user-user yang ada.

Kiki menambahkan, “wikimu adalah situs yang menerapkan citizen jurnalism atau jurnalistik publik yang isi didalamnya ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia. Namun pengaksesnya ada juga yang berada di luar negeri seperti Amerika, Hongkong, juga Swedia”.
sumber: www.pestabukujakarta.com

Jejak Buku dalam Peradaban Islam

Sabtu, 17 Mei 2008 @ 08:46:57

Dalam sebuah kuliahnya mantan Menteri Luar Negeri, Mochtar Kusumaatmadja, mengatakan ada sebuah hal yang terus `disembunyikan' dalam peradaban moderen di mana Barat kini menjadi pihak yang menghegemoninya. Hal itulah adalah fakta bahwa di dasar peradaban mereka ada sebuah peninggalan kasanah ilmu pengetahuan hasil karya peradaban Islam.

''Berkat peradaban Islamlah cara berpikir rasional yang merupakan peninggalan zaman Yunani hidup kembali. Yang membangunkannya adalah para ilmuwan Islam. Jadi di sini peradaban Islam adalah sebagai 'jembatan penting' dari hadirnya peradaban masa kini,'' kata Muchtar Kusumaatmadja. Bagi benak banyak orang, mereka tampaknya begitu yakin bahwa peradaban kontemporer ini hadir begitu saja sebagai karya orisinil peradaban barat. Fanatisme ini banyak terlihat dengan mengatakan bahwa 'bapak peradaban' dunia adalah Isac Newton. Begitu juga dengan anggapan fanatik bahwa bapak ilmu filsafat moderen adalah Imanuel Kant.

'Kebutaan' akan fakta sejarah ini pun sebenarnya harus dimaklumi. Para ahli hukum misalnya tak akan pernah berpikir bahwa hukum perdata yang kini berlaku di Indonesia 'diam-diam' juga mendapat sumbangan kasanah hukum fikih. Mereka tidak tahu betapa pada zaman Napoleon misalnya, begitu banyak buku klasik dari Mesir diangkut ke Perancis bersamaan dengan 'dirampoknya' berbagai barang peninggalan peradaban era ke kaisaran Firaun dari negara itu. Salah satu kaidah peninggalan fiqh yang diimpor dalam hukum perdata di antara adalah pengaturan pasal bahwa setiap kali terjadi transaksi adalah harus dilakukan dengan tertulis.

Dalam peradaban Islam itu karya tulis memang menjadi bahan penting. Apalagi ada sandaran perintah Tuhan bahwa membaca adalah hal yang wajib. Akibatnya, selama era kekhalifahan Islam, penulisan buku menjadi sangat penting artinya. Para khalifah membangun perpustakaan dengan koleksi ribuan buku. Ilmuwan pun getol menulis hasil karyanya, baik itu dari bidang ilmu filsafat etika, kedokteran, sejarah, sosiologi, dan musik. Tokoh klasiknya dalam hal ini seperti Al Ghazali, Al Kindi, Ibu Rush, Al Farabi, Ibnu Khaldun, Ibnu Haitam, dan banyak lainnya.

Tokoh yang berjasa besar dalam bidang perbukuan atau kasanah inteletual adalah salah satu raja dalam dinasti Abbasiyah, Khalifah Al-Makmun yang memerintah pada 813-833 M. Dia sangat antusias mendorong penerjemahan berbagai karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa Arab. Penerjemahan itu sebagian dilakukan secara langsung dari karya asli bahasa Yunani, sebagian lainnya hasil terjemahan bahasa Syiria dari bahasa Yunani.

Bahkan, pada era itu, Khalifah Makmun mensyaratkan agar para pejabat pemerintahnya yang non Arab diminta menguasai sedikitnya dua bahasa. Dan memang dari sanalah sumber tenaga para penerjemah buku direkrut. Salah satu jalur penandatanganannya adalah melalui Harran, kota di Mesopotamia, yang memang banyak penduduknya masih menggunakan bahasa Yunani. Jalur datangnya para penerjemah lainnya adalah melalui Jund-i-Shahpur di Khuzistan. Kota ini dibangun oleh Kaisar Sasanid Shahpur I sebagai tempat para tawanan yang dibawa dari Syiria. Kota ini menjadi pusat ilmu kedokteran.

Membanjirnya terjemahan buku dari bahasa Yunani dan Syira ke dalam bahasa Arab tersebut jelas menunjukan bahwa waktu itu sudah terdapat masyarakat pembaca yang aktif. Sedangkan pusat kebudayaan Arab yang sedang tumbuh pada saat itu adalah Baghdad. Kota itu terletak di tepi sungai Tigris, tidak jauh dari Ctesiphon, bekas ibu kota kerajaan Persia dan ibu kota kerajaan sebelumnya, Parta Arsacadid. Baghdad sendiri dibangun pada 762 M sebagai ibukota Kekhalifahan Abbasiyah. Selain dipenuhi bangunan megah, kota ini juga dilengkapi dengan gedung perpustakaan yang lengkap.

Dalam soal perkembangan keilmuan melalui maraknya penerbitan buku, penulis 'Mankind and Mother Earth', Arnold Toynbee, menyatakan, fermentasi intelektual yang muncul pada masyarakat Islam pada masa itu didorong oleh kebutuhan untuk melengkapi ajaran Islam dengan berbagai perangkat intelektual. Islam jelas membutuhkan sistem hukum dan sistem teologi yang memadai bagi sebagian masyarakat di kerajaan yang wilayahnya meliputi berbagai pusat peradaban kuno di mana sudah mempunyai peradaban 'lebih matang'.

( muhammad subarkah )
Republika

Kamis, 2008 Juni 26

Strategi peningkatan penjualan di pameran


Paling tidak di Jakarta ada tiga perhelatan pameran besar yang biasanya dikuti dan menjadi hajatan bersama para penerbit, yaitu Islamic Book Fair, Pesta Buku Jakarta dan Indonesia Book Fair. Lima tahun terakhir, jumlah pameran meningkat drastis, terutama di daerah, bahkan di Yogya dalam satu tahun mungkin bisa sampai 15 kali pameran buku, ini berarti setiap bulan ada pameran buku.

Tujuan utama pameran sesungguhnya adalah memperkuat positioning perusahaan di pasar dan di industri yang sejenis (Brand activation), makanya pameran menjadi tonggak evaluasi produk-produk yang ingin diluncurkan kepasar, sekaligus menakar respon pasar terhadap produk yang telah diluncurkan.

Namun tidak bisa dipungkiri, salah satu dari tujuan antara pameran buku adalah meningkatkan penjualan pada saat pameran, hal ini disebabkan belum berkembang pesatnya transaksi copy right dalam industri perbukuan Indonesia, diringi dengan biaya stand yang semakin tinggi dan biaya operasional yang juga semakin tinggi mengakibatkan para pekerja buku berharap banyak pada penjualan saat pameran.

Ada tiga Faktor yang berpengaruh terhadap penjualan di stand pameran:

1. Traffic / jumlah pengunjung

Jumlah pengunjung sangat mempengaruhi penjualan di pameran, semakin banyak jumlah pengunjung semakin tinggi kemungkinan terjadinya peningkatan penjualan di pameran. Dalam konteks ini, maka posisi stand yang strategis yaitu posisi stand yang paling dekat dengan arus utama lalu lintas pengunjung menjadi sangat strategis dalam meningkatkan penjualan di stand pameran. Logika inilah yang membuat para penerbit berlomba-lomba mendapatkan lokasi terbaik pada setiap pemeran yang akan diikuti.

2. Average Check. yaitu total pembelian per transaksi.

Faktor kedua yang berpengaruh terhadap peningkatan penjualan pameran adalah total pembelian per transaksi. Idealnya setiap penerbit melakukan evaluasi setiap kali pameran selesai dilaksanakan. Carilah angka rata-rata setiap pembelian pada setiap konsumen per kali transaksi di stand anda. Cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan cara mengetahui jumlah total transaksi per hari, dan jumlah pembeli yang melakukan transaksi pada hari tersebut, tinggal dibagi, antara total penjualan dibagi jumlah orang yang bertransaksi. Maka didapatlah average check.
Setelah angka ini diketahui, maka setiap penerbit membuat perencanaan untuk meningkatkan jumlah transaksi per tiap transaksi yang dilakukan. Salah satu contoh yang bisa dilakukan penerbit adalah dengan cara menawarkan paket buku dengan tema tertentu kepada konsumen. Atau juga bisa dalam bentuk mendongrak rata-rata penjualan per transaksi dengan memberikan stimulus bonus jika transaksinya per orang konsumen mencapai angka tertentu. Misalnya : jika konsumen membeli netto sebesar Rp. 250.000,- maka mendapatkan bonus 1 buah mug cantik dari penerbit, dan banyak lagi program lain yang bisa anda lakukan.

3. % Closing Ratio adalah rasio antara jumlah pengunjung yang melakukan transaksi dengan jumlah total traffic pengunjung yang datang ke stand.

Dengan demikian pengunjung yang banyak saja belum tentu langsung berdampak pada peningkatan penjualan, jika jumlah pengunjung yang melakukan transaksi tidak meningkat. Maka para penerbit diharapkan membuat program-program yang langsung mengstimulan pengunjung untuk bertransaksi selama pameran/pada saat itu juga. Misalnya dengan membuat program jika anda melakukan transaksi selama pameran, maka anda mendapatkan discount ...%, bonus ..., dan seterusya. Dan tidak akan ditemui para konsumen setelah pameran.

Inilah beberapa faktor penting yang seharusnya mendapat perhatian serius, para penerbit buku jika menginginkan terjadinya peningkatan penjualan selama pameran. Namun strategi ini akan bisa berjalan dengan efektif, jika dari awal penerbit juga menjaga kualitas produk, baik kualitas isi, packaging dan kualitas pelayanan kepada konsumen.

Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi marketing buku Islam

Rabu, 2008 Juni 25

Masa Depan Dunia Perbukuan

Akhmad Fiksi AF.

SELAMA INI berjalan sebuah teori yang cukup menyesatkan namun diam-diam di wacanakan terus menerus oleh pemerintah, bahwa kebutuhan utama masyarakat kita adalah jaminan akan rasa aman dan bisa makan minimal 3 kali dalam sehari. Berdasarkan teori ini, pemerintah menganggap penting mendahulukan kebijakan tentang bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara agar masyarakat sejahtera, dan karena itu keamanan menjadi isu penting yang selalu dihembuskan oleh setiap pemerintahan.

Teori ini memang tidak bisa dikatakan keliru. Namun dampak dari cara berpikir seperti ini menciptakan suatu pola di dalam sistem pemerintahan kita di mana aspek kognitif dalam membangun bangsa ini menjadi semakin terabaikan. Di dalam dunia perbukuan, misalnya, pemerintah sama sekali tidak mau tahu soal bagaimana masalah perbukuan ini dikembangkan. Dunia buku dianggap bukan merupakan isu penting yang perlu ditangani pemerintah secara serius. Ada dua hal penting yang berkaitan dengan problematika di dunia penerbitan buku.

Pertama, masalah bahan baku pokok buku, seperti kertas.

Kertas, oleh sebagian kecil penerbit barangkali bukan masalah. Dengan kekuatan modal yang ada mereka mampu membeli kertas seberapa pun banyaknya untuk disimpan sebagai persediaan bahan baku. Hukum ini tidak berlaku bagi penerbit kecil yang modalnya pas-pasan. Bagi penerbit kecil, pembelian kertas biasanya dilakukan secara eceran ke suplier. Artinya, kertas yang tersedia hanya cukup untuk mencetak tidak lebih dari 1-2 buku saja. Padahal, dalam situasi tertentu harga kertas begitu cepat naik tanpa sepengetahuan mereka. Dalam masa Pemilu, misalnya, sudah hampir satu tahun terakhir kenaikan harga kertas sedemikian cepat. Bahkan, tidak jarang terjadi kelangkaan kertas yang biasa digunakan para penerbit buku.Akibat dari ini semua, dana yang harus dikeluarkan pun membengkak. Harga cetak buku minggu ini bukan patok-an untuk minggu depan. Dampak lebih jauh dari masalah ini, penerbit tidak bisa menentukan harga yang cukup terjang-kau pembeli. Itulah mengapa kemudian muncul kesan harga buku begitu mahal. Bagaimana mungkin masyarakat mampu membeli buku kalau harga buku di luar jangkauan kantong mereka. Jangankan beli buku, makan aja susahKebijakan pemerintah dalam hal ini tampaknya tidak pernah mengantisipasi bagaimana membuat aturan soal tata niaga kertas secara adil. Bahkan, kalau perlu membuat regulasi yang sedikit berpihak kepada penerbit. Dalam hal ini, ada semacam subsidi yang harus diberikan kepada penerbit berkaitan dengan ketersediaan bahan baku. Mungkin untuk perusahaan-perusahaan besar dan mapan, regulasi ini tidak berlaku. Tetapi, bagi penerbit dengan modal ngepas, kebijakan seperti ini sangat diperlukan. Toh, pada akhirnya semua elemen akan diuntungkan apabila hal ini berjalan. Kemudahan mencari kertas dengan harga yang relatif murah pada akhirnya akan berdampak pada harga pokok produksi yang dapat ditekan. Kemampuan menekan harga produksi akan menghasilkan harga pokok penjualan yang relatif lebih murah dan terjangkau dari sebelumnya.

Kedua, masalah yang berkaitan dengan mata rantai distribusi buku.

Tidak sedikit penerbit yang kesulitan memasok langsung buku ke setiap ritel. Hal ini, antara lain, disebabkan oleh hal-hal yang bersifat administratif seperti perijinan usaha dan lain sebagainya. Faktor lain dari kesulitan ini adalah ketentuan rabat yang harus dibebankan begitu besar kepada penerbit dengan alasan yang bermacam-macam. Mulai dari soal citra, status hukum, kredibilitas penerbit dan sebagainya. Berkaitan dengan mata rantai distri-busi buku ini tidak kurang menjadi pem-bicaraan hangat dan memicu perdebatan yang cukup panjang di kalangan penerbit, terutama di Yogyakarta. Harap dicatat pula, para penerbit di Yogyakarta adalah penerbit yang kebanyakan memiliki modal nge-pas. Karena minimnya modal itu pula salah satu kepentingan penerbit adalah, bagaimana buku yang diterbitkan segera memperoleh dana cepat untuk penerbitan berikutnya. Sebagai jalan keluar dari masalah ini biasanya kebanyakan penerbit mempercayakan distribusi buku kepada distributor.

Tidaklah salah atas hal ini. Sebab, sebagian distributor mampu membayar dalam tenggang waktu tertentu dan oleh karena itu penerbit pun merasa masih punya masa depan. Namun, pilihan ke-pada distributor ini juga memiliki kon-sekuensi yang cukup besar, misalnya, soal rabat. Biasanya penerbit dalam hal ini cenderung menerima saja daripada buku-nya tidak terdisplay di pasar secara merata.Dalam pengalaman sebagian penerbit di Yogyakarta, kerja sama dengan distributor bukanlah pilihan yang utama. Masa-masa bulan madu penerbit dan distributor hanya seumur jagung. Setelah itu, pola hubungan di antara keduanya seperti sebuah permainan petak umpet.

Di kalangan penerbit sejauh mereka mampu memasok buku ke ritel sendiri hal itu akan dilakukan dengan senang hati. Hanya saja masalahnya, seperti saya kemukakan di muka problematika dunia buku kita ternyata masalahnya bukan hanya di tingkat distribusi. Namun, ada hal-hal lain yang berkaitan dengan regu-lasi pemerintah yang cenderung meng-hambat proses sebuah penerbitan yang hendak tumbuh dan berkembang. Juga, ketiadaan regulasi yang mampu men-jembatani keseluruhan aspek dari para pelaku pasar buku, seperti penerbit, pengarang, distributor, dan ritel.

Situasi seperti ini kemudian memunculkan kecenderungan di mana penerbit yang memiliki modal kuat dan karenanya mampu memainkan peran dari hulu ke hilir menjadi sumbu utama bagaimana roda pasar buku itu digerakkan. Sedang-kan penerbit kecil oleh karena pengalam-an, sedikit modal dan ketidaksadaran manajemen semakin terpuruk tak mampu bersaing di belantara dunia buku. Di antara kesenjangan ini, semestinya ada mediator yang mampu memberikan keseimbangan bagaimana keseluruhan pelaku pasar buku ini bisa berjalan seiring dengan memperhatikan kode etik bersama.

Hingga saat ini, kontribusi peme-rintah boleh dibilang masih minim dalam menopang laju pertumbuhan dunia per-bukuan.Seberapa penting tanggungjawab pemerintah dalam mengatur regulasi tata niaga buku, sama pentingnya dengan tanggungjawab mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pandangan ini, salah satu program yang penting dijalankan pemerintah ke depan, antara lain, adalah menyiapkan secara serius regulasi yang berkaitan dengan tata niaga buku.Sejauh ini, berdasarkan pengalaman masalah tata niaga buku masih menjadi problematika utama dalam hal distribusi buku ke ritel.

Nasib penerbit cenderung terjepit di antara keinginan untuk men-display bukunya secara merata dengan aturan-aturan yang cenderung menekan terutama oleh ritel-ritel besar yang menjadi tumpuan pasar buku. Sebagai contoh, tidak sedikit ritel yang meminta rabat sebesar lebih dari 50%, bahkan 60% kepada penerbit. Dapat dibayangkan di sini, berapa “keuntungan” bruto penerbit dengan rabat sebesar itu. Di sisi lain, penerbit harus menghitung biaya produksi sebesar 20% dari harga bruto buku. Biaya promosi sebesar kurang lebih 10%, distribusi dan overhead, masing-masing 10%.Jika kita realistis, mencoba mengkalkulasi dari 100% harga bruto buku dapat dilihat seberapa besar keuntungan bruto penerbit. 20% produksi, 10% distribusi, 10% promosi, rabat 40%, dan royalti 10%. Dari kalkulasi ini, keuntungan bruto penerbit maksimal sebesar 10%. Padahal untuk mencapai angka 10% pun harus menunggu sekian bulan buku habis terjual.

Dengan produktivitas penerbitan yang tidak memadai maka kenyataan ini semakin mendorong penerbit untuk gulung tikar bareng-bareng.Dalam pandangan ini, solusi utama yang paling mungkin adalah perlunya mewacanakan hal ini, terutama regulasi berkaitan dengan tata niaga buku, khu-susnya bagaimana pemerintah turut serta mengatur dan membuat regulasi berkaitan proporsi rabat yang lebih rasional dari sebelumnya.Kebijakan akan hal ini tentu saja penting dibicarakan. Pemerintah sebagai institusi yang punya hak mengatur keseluruhan pola interaksi pasar semestinya memperhatikan hal ini secara serius. Buku, seberapa pun jumlah yang diterbitkan, adalah juga upaya pencerdasan kehidupan bangsa. Pencerdasan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat penting dalam konstitusi kita sendiri.Membiarkan kecenderungan tata niaga buku secara rimba pada saatnya akan melemahkan posisi penerbit dalam memberikan bacaan-bacaan alternatif kepada masyarakat. Jika ini terjadi, pemerintah bertanggung jawab secara politis untuk memberikan solusi yang memadai. Ke depan, selayaknya pemerintahan jauh lebih proporsional dalam mencarikan jalan keluar atas masalah ini.
* Akhmad Fikri AF
dikutip dari www.pestabukujakarta.com

5 Efek Paling Berpengaruh Bagi Pasar Buku Indonesia


Oleh * Bambang Trim

Pasar buku Indonesia terus menggeliat. Transaksi buku di Indonesia diperkirkan antara 7-10 T per tahun (belum termasuk transaksi proyek pemerintah, baik pusat maupun daerah). Kecenderungan tampak akan terus bertumbuh karena makin banyak orang berinvestasi dalam bidang penerbitan buku yang berangkat dari idealisme serta orientasi bisnis. Di sisi lain, tingkat minat baca masyarakat Indonesia pun beranjak naik seiring dengan pergantian generasi orang tua—dari generasi baby boomers ke generasi X dan generasi Y yang dianggap memiliki latar belakang pendidikan lebih baik.Istilah best seller di Indonesia pun makin bermakna manakala sudah ada buku di Indonesia yang bisa menembus angka penjualan 50.000 eksemplar dalam setahun, bahkan ratusan ribu eksemplar. Pembaca buku Indonesia disodori dengan variasi tema buku yang beragam dan penggarapan yang juga sangat baik, tidak kalah dengan buku-buku terbitan luar negeri.Di samping itu, muncul fenomena pemberi efek terbesar dalam pasar buku Indonesia yang menarik untuk dicermati. Saya hanya menyusun lima pengaruh terbesar meskipun pandangan ini tidak lepas dari subjektivitas dan pengamatan terbatas saya di dunia perbukuan. Berikut lima efek tersebut.

1. Efek MLM
Multilevel Marketing (MLM) baru mulai bertumbuh di Indonesia pada pertengahan 90-an. Beberapa MLM yang cukup punya nama dan eksis hingga kini adalah Amway, High Desert, Tianse, CNI, dan juga KK Internasional. MLM ini berkembang mirip dengan partai politik dan mereka memiliki leader-leader kharismatik sekaligus kader-kader militan. Sekali sang leader bilang bahwa sebuah produk bagus dan bisa memotivasi maka produk itu pun akan diburu oleh para down line (istilah dalam dunia MLM untuk menyebut para penggiat MLM di tingkat bawah) atau network marketer. Maraknya training motivasi dan pengembangan diri tidak terlepas dari kehadiran MLM di Indonesia yang tepat masuk menjelang krisis moneter. Alhasil buku-buku, seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Skill with People, Berpikir dan Berjiwa Besar, Financial Revolution langsung mencetak hit sebagai bacaan wajib para network marketer. Sampai kini pun MLM masih menjadi penyumbang angka penjualan buku yang signifikan bagi penerbit ketika buku yang diterbitkan betul-betul pas dengan ‘alam’ mereka. Fenomena terakhir adalah buku The Secret, Quantum Ikhlas, dan Law of Attraction yang terus mencetak hit karena sangat populer di kalangan MLM untuk memotivasi diri dan mengoptimalkan potensi.Saya belum memiliki data valid, namun intuisi saya mengatakan bahwa MLM punya pengaruh besar terhadap pasar buku di Indonesia. Anggota mereka bisa terdiri dari ratusan ribu orang. Setiap tahun ada even bulanan yang mengundang ratusan hingga ribuan orang. Saya pernah menyaksikan seorang MLM leader yang mengusung buku di tangannya mampu menyihir 80% dari peserta even untuk segera membeli buku tersebut.

3. Efek TB Gramedia

Efek Toko Buku Gramedia memang tidak bisa dikesampingkan sebagai penyumbang hit utama dalam pasar buku Indonesia. Tahun 2007, menurut sebuah sumber, Gramedia mampu membukukan omzet sekitar Rp7 T (sekitar 40-45% market share nasional). Kita ketahui kini Gramedia telah membuka lebih dari 80 toko seluruh Indonesia dan berambisi menjadi 100 toko pada tahun ini. Gramedia juga punya toko buku kebanggaan yaitu Gramedia Matraman yang merupakan toko buku terbesar di Asia Tenggara.Efek TB Gramedia sangat ampuh jika buku diletakkan di floor display ataupun display khusus dengan kriteria: buku baru, buku best seller, buku pilihan. Pintu masuk Gramedia menjadi penting untuk mengikat perhatian pengunjung terhadap buku yang diusung. Acara-acara bedah buku di Gramedia juga bisa menjadi magnet manakala diselenggarakan tepat waktu dan tepat sasaran.Jika sebuah penerbit fokus saja untuk membina hubungan baik dengan Gramedia, paling tidak sudah bisa mendapatkan kue pasar buku Indonesia yang sangat signifikan. Saya kira grup Agro Media salah satunya melejit karena efek TB Gramedia. Beberapa penerbit lain juga terbantu mencetak hit karena ter-display di TB Gramedia.

3. Efek Kick Andy

Efek Kick Andy baru terjadi pada 2007 saat program talkshow populer yang dipandu Andy Noya ini disiarkan Metro TV melejit ratingnya. Andy mengundang tokoh-tokoh yang tidak biasa dan sangat menarik untuk disimak. Alhasil, tokoh-tokoh itu menyentuh juga para pesohor di dunia buku sehingga buku-buku pun bisa terangkat. Andy Noya mungkin mirip dengan Oprah Winfrey meskipun efeknya belum sedahsyat Oprah. Namun, saya percaya pada tahun-tahun ke depan Kick Andy bisa bergandengan dengan banyak penerbit untuk melambungkan sosok tertentu dan buku tertentu. Efek Kick Andy patut diperhitungkan dalam pasar buku Indonesia karena sudah terbukti mampu melejitkan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Beberapa penerbit juga sudah menganggap penting untuk tampil dalam Kick Andy dengan mengusung buku tertentu.

4. Efek Media Cetak

Media cetak juga memberikan efek bagus dalam penjualan buku meskipun tidak sekuat efek yang saya sebutkan tiga pertama. Di antara beberapa media cetak yang sangat berpengaruh adalah Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Majalah Tempo, dan GATRA. Resensi ataupun ulasan buku di media cetak semacam ini patut diperhitungkan oleh para penerbit.. Memang belum ada media cetak memiliki efek seperti New York Times ataupun Publisher Weekly di Amerika dan Eropa yang ranking best seller-nya diperhitungkan banyak orang. Akan tetapi, tampilnya sebuah buku diulas di media cetak nasional, tetaplah menjadi gengsi sekaligus bantuan tersendiri bagi sukses sebuah buku.Dalam tahun-tahun belakangan ini, rubrik yang mengulas buku bisa tampil satu halaman penuh. Bahkan, Koran Tempo menurunkan suplemen Ruang Baca setiap bulan sekali dalam format delapan halaman. Kompas juga menurunkan liputan khusus Pustakaloka setiap bulan. Selain itu, rubrik resensi juga bisa muncul dua kali dalam seminggu seperti halnya di Media Indonesia maupun Sindo. Hal ini menyiratkan peran buku semakin diperhitungkan sebagai informasi sekaligus gaya hidup masyarakat modern kini.

5. Efek Pameran Buku IKAPI DKI

Dua pameran buku tersukses yang digelar IKAPI-DKI: Pesta Buku Jakarta dan Islamic Book Fair memberikan efek luar biasa bagi promosi dan penjualan buku. Besarnya efek ini membuat Penerbit Gramedia memborong 32 stan dan Agro Media 15 stan pada even tahun 2008. Ratusan penerbit tidak mendapatkan jatah stan dan masuk daftar tunggu. Efek pameran ini sungguh luar biasa menarik pengunjung bahkan mengalahkan perhelatan bergengsi sejenis seperti Indonesian Book Fair yang digelar oleh IKAPI Pusat di JHCC. Transaksi dari perhelatan IKAPI DKI ini mencapai puluhan miliar rupiah dalam setiap pelaksanaannya dan dikunjungi ratusan ribu orang.Di luar 5 Pemberi Efek pada pasar buku Indonesia, tentu banyak hal lagi yang berpengaruh, seperti media elektronik (radio dan TV) yang menyediakan ruang talkshow atau bincang buku, pameran-pameran buku di daerah, penulis-penulis populer, selebritas, ulama/pemuka agama, maupun politikus. Namun, saya tidak mengulas semuanya dengan pertimbangan mengusung hanya pemberi efek untuk jangka panjang dan akan terus berkembang. Di samping itu, tentu ada pemikiran lain yang dapat menyumbang informasi tentang efek-efek paling berpengaruh pada pasar buku di Indonesia. Salam buku!
*) Penulis adalah praktisi perbukuan nasional.

Siaran Pers Panitia Pesta Buku Jakarta

Dibuka oleh Gubernur DKI, Dipamerkan Jutaan Buku, dan Dimeriahkan Berbagai Acara Akan Mewarnai Pesta Buku Jakarta 2008 Ikapi Jaya, Jakarta 26 Juni 2008 - Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jaya akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan berkaitan dengan Pesta Buku Jakarta 2008 yang berlangsung dari tanggal 28 Juni sampai dengan 6 Juli 2008 dengan tema "Jakarta Banjir”. Kegiatan-kegiatan itu berupa pelatihan Speed Reading, Bedah Buku, berbagai seminar tentang perbukuan, aneka talkshow, Aneka lomba untuk siswa sekolah, dan berbagai acara lainnya. Pesta Buku Jakarta ini diselenggarakan di Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta selama 9 hari. Sebagai bagian dari memperingati Ulang Tahun Jakarta yang ke-481, Pesta Buku Jakarta akan dibuka oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta Bapak Dr. Ing. H. Fauzi Bowo pada tanggal 28 Juni 2008 jam 10.00 bertempat di Ruang Anggrek Istora Gelora Bung Karno Senayan Jakarta. “Selain membuka acara tersebut, Bapak Gubernur juga berkenan memamerkan koleksi buku pribadinya di stand khusus yang disediakan panitia. Di Stand itu, akan juga dipamerkan buku koleksi pribadi Beliau yang telah berusia 130 tahun, yang dibelinya sewaktu menjadi mahasiswa di Jerman,“ begitu kata Muharizal, Ketua Pesta Buku Jakarta 2008. Muharizal juga menekankan bahwa Pesta Buku Jakarta 2008 adalah pameran buku terlengkap dan terbesar di Indonesia. Dengan didukung oleh seluruh penerbit terbaik, pameran buku ini menyediakan 186 stand dan memamerkan jutaan buku. Buku-buku yang tersedia meliputi berbagai jenis dan ditunjukkan untuk berbagai kalangan, mulai anak-anal, remaja, dan dewasa. Selain tersedia buku-buku best seller, tersedia juga buku-buku diskon sampai 70% . Bahkan, untuk kalangan guru dan siswa sekolah diberikan diskon tambahan 10% untuk buku-buku tertentu di stant-stand tertentu bertanda khusus. Info lebih lanjut tentang Pesta Buku Jakarta bisa diakses di www.pestabukujakarta.com.Pesta Buku Jakarta adalah agenda tahunan kalangan perbukuan. Dalam pameran tersebut masyarakat umum bisa memperoleh buku-buku yang menjadi pilihannya. Untuk memudahkan pengunjung panitia telah menyediakan pembayan dengan kartu kredit dan kartu debit. “Pameran buku selalu menjadi ajang yang ditunggu kalangan perbukuan, karena tiga alasan. Pertama, penerbit bisa memamerkan seluruh koleksi terbaiknya yang belum tentu bisa didisplay di toko buku. Kedua, pengarang atau penulis selalu menjadikan ajang ini sebagai berntuk pertanggungjawaban atas hasil karyanya, dan Ketiga, pembaca bisa mendapatkan buku-buku yang diminatinya, “ lanjut Pak Muharizal. Muharizal mengingatkan, "Kegiatan Pesta Buku Jakarta kegiatan hanyalah salah satu langkah dalam pengembangan minat baca masyarakat Indonesia." Agenda ini perlu terus dilakukan secara konsisten dan melibatan banyak pihak. "Rasanya," lanjut Muharizal, "kalau semua pihak -termasuk pemerintah- menyadari pentingnya buku dalam kehidupan sehari-hari, Indonesia akan bergerak menjadi bangsa yang besar. Sebab, sejarah membuktikan bangsa yang maju adalah bangsa yang punya minat baca yang tinggi, seperti Jepang dan Jerman."Informasi lebih lanjut:• Soleh Isre hp 0815-6863531• Neneng hp 0856-1061069
dikutip dari www.pestabukujakarta.com

Selasa, 2008 Juni 24

Peluang, Penerbitan Buku Islam berbahasa Inggrish

28,35% Penduduk dunia pada tahun 2006 beragama Islam, ini berarti 1.789.770.000 orang penduduk dunia beragama Islam, sedangkan jumlah populasi dunia pada tahun 2006 adalah 6.313.780.000 orang.

Sementara itu data populasi muslim di kota-kota besar eropa tahun 2007[1], adalah
Marseiles 25% = 200 rb jiwa dari 800 ribu jiwa
Amsterdam 24% = 180 rb dari 750 ribu jiwa
Stockholm 20% = 155 rb dari 771.038 jiwa
Brussels 17 – 20 % = 160 – 220 ribu
Moscow, 16 – 20% = 2 juta dari 10-12 juta jiwa
London, 17% = 1,3 juta dari 7,5 juta penduduk
Birmingham, 14,3%= 139.771 jiwa
Utrecht, 13,2% = 38.300 dari 289 ribu jiwa
Roterdam, 13% = 80 ribu dari 600 ribu jiwa
Copenhagen, 12,6%= 63 ribu dari 500 ribu penduduk
Paris, 7,38% = 155 ribu dari 2,1 juta jiwa
Hamburg, 6,4% = 110 ribu dari 1,73 juta jiwa
Berlin, 5,9% = 200 ribu dari 3,4 juta jiwa

Dari data di atas paling tidak terdapat 4.781.071 jiwa muslim di 13 kota eropa, ini merupakan pasar potensial bagi penerbit buku Islam, seharusnya sangat mudah untuk menjual 3.000 eksemplar buku jika dipasarkan di eropa.

Potensi pasar

Beberapa faktor pendukung peluang pasar buku agama Islam berbahasa Inggris adalah:
1. Pendidikan dinegara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, termasuk Singapura dan Malaisya pendidikannya tinggi.
2. Jika buku diterbitkan dalam bahasa Inggrish maka paling tidak bisa dipasarkan mulai dari Singapura, Malaisya, Eropa, Amerika dan Australia, karena mayoritas negara-negara ini mempunyai kemampuan yang baik dalam penguasaan bahasa Inggrish
3. Akan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat muslim di negara-negara tersebut terhadap agama Islam, yang bisa jadi baru mereka anut
4. Penyebaran buku Islam di negara-negara tersebut mampunyai posisi yang sangat strategis, karena tingkat keingin tahuan masyarakat non muslim terhadap Islam semakin tinggi
5. Kemampuan beli masyarakat muslim dinegara maju tinggi

Langkah realisasi
1. Pilihlah tema buku yang tepat untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggrish
Salah satu tema yang diduga mudah untuk menjualnya di negara maju tersebut adalah tema ibadah, dan buku-buku yang memberi nasehat tanpa perlu mengurui
2. Saat yang sama lakukan survey pasar dan saluran distribusi yang bisa digunakan dalam ”mengekspor” buku kenegara tujuan
3. Jadikan Singapura sebagai pintu masuk kenagara-negara lain, seperti layaknya perdagangan yang lain

Tantangan

Tantangan yang menghadang didepan mata dalam mendistribusikan buku Islam ke negara lain adalah:
Belum terbangunnya saluran distribusi
Bisa jadi ada beberapa negara penguasaan bahasa ingrishnya juga terbatas
namun tantangan ini lambat laun harus di hadapi oleh para penerbit buku Islam, dan seiring dengan waktu maka saluran distribusi juga akan terbentuk, sambil mengetahui Taste pasar di negara-negara tersebut. Silakan siapa penerbit yang mau mencoba.

Jaharuddin
[1] Sumber: majalah gontor juni 2008

Rabu, 2008 Juni 18

Lomba Antar Blogger Dalam Rangka Pesta Buku Jakarta 2008

Dalam rangka kegiatan pesta buku jakarta dan ulang Tahun jakarta, panitia PBJ akan mengadakan lomba antar Blogger akan di mulai tanggal 22 mei s/d 1 Juli 2008. Kegiatan ini merupakan salah satu apresiasisi para blogger terhadap dunia buku. Karena bidang IT terutama internet atau dunia maya memiliki peran penting dalam informasi-informasi mengenai buku dan lai-lain. untuk itu panitia mencoba mengadakan Lomba Blogger sebagai media apresiasi terhadap dunia buku. Harapan dari Lomba ini semakin banyak orang akan apresiasi terhadap Dunia IT terutama internet/ dunia maya dalam bentuk Ngeblog. Disamping itu juga mengenal dunia perbukuan.
A. KETENTUAN PESERTA1. Peserta dari SMA, Perguruan Tinggi dan masyarakat umum2. Lomba Antar Blogger yang akan di mulai tanggal 22 mei s/d 1 Juli 20083. Semua Blog Lama maupun Baru, dapat mengikuti Lomba BlogPestabukujakarta, Bila Blognya yang berisi Umum bisa Ikut dan di Dalam Blog di Buat Kategori atau Folder tentang Buku atau PestabukuB. CONTENT (ISI) LOMBA BLOGGERContent Lomba blogger :1.Nama Blog atas nama peserta lomba. ( Peserta bebas Menggunakan Blog) Bila Blog Umum di dalam Blog Bisa di beri Kategori atau Folder tentang Buku. atau pesta buku.2.Tema Besar “Pesta buku Jakarta 2008” dan menampilkan Banner Pestabuku di halaman depan Blog. Banner "PestabukuJakarta" bisa diambil di web site www.pestabukujakarta.com bagian bawah web site : PESTABUKUJAKARTA 2008 ( YANG BERGAMBAR PATUNG TANI DAN ONDEL-ONDEL dan ini bebabs Bagi Blog untuk memperbesar arau memperkecil Bannes sesuai kebutuhan ruang Blog)3.Isi/conten dalam blog.
Resensi atau komentar tentang buku minimal 3 buku kalau lebih banyak Lebih Bagus
Berilah komentar salah satu tema buku yang anda suka
Bagaimana apresiasi anda terhadap dunia buku
Setiap Blog harus diberi komentar minimal 10 orang dan lebih banyak lebih bagus
Komentar Blog tentang Pestabukujakarta, dan usul–saran dari peserta blog mengenai pameran ini sendiri.
Blog harus mempunyai Link ke 10 blogger teman
Semua Blog mencatumkan link www.pestabukujakarta.com dan menampilkan Schedule dan Lomba-Lomba acara dalam Pesta Buku Jakarta 2008 yang ada dalam web site www.pestabukujakarta.com4.Nama Blog dapat di Kirim ke email
pestabukujakarta@pestabukujakarta.com

Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
'ikapijaya@pestabukujakarta.com

Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya
'
atau
info@pestabukujakarta.com
'
Alamat e-mail ini dilindungi dari spambot, anda harus memampukan JavaScript untuk melihatnya

di sertakan data identitas: 1. Nama; 2. Alamat: 3. Pekerjaan: 4. Nama web Blog5.Lomba Blog. ini dimulai tanggal 22. Mei s/ d 1 juli 2008 dan pengumuman Lomba ini pada tanggal 4 Juli 2008 di Arena Pameran Pesta Buku Jakarta atau di website:www.pestabukujakarta.com6.Penilaian Blogs oleh dewan Juri :
Bentuk atau penampilan web blog yang bagus.
Isi Conten Mengenai buku dan Menampilkan Banner Pestabuku jakarta 2008
Jumlah banyak yang mengunjungi blog dan komentar terhadap web blog
Hasil Juara Lomba Blog Akan diumumkan di Web Site www.pestabukujakarta.com
Hadiah akan diberikan pada Acara Pameran Pestabukujakarta, tanggal. 5 Juli 20087. Keputusan dewan Juri tidak dapat di ganggu gugat. Dewan Juri terdiri dari: 1. Raditya Dika 2. Yayan Sofyan D.HADIAH PEMENANGJuara 1.
Uang senilai 5 juta rupiah
Sertifikat dari Panitia PBJJuara 2
Uang Senilai 3 juta Rupiah
Sertifikat dari Panitia PBJJuara 3
Uang Senilai 2 juta Rupiah
Sertifikat dari Panitia PBJPANITIA PBJ 2008 info dapat di lihat di www.pestabukujakarta.com
/**/

Sabtu, 2008 Juni 14

Sharia Collection skills & strategy in publishing

ide ini muncul ketika ada teman yang diundang untuk mengikuti pelatihan collector berbasis syariah, setelah teman saya mengikutinya maka dia bercerita bahwa base teori dan pembahasan yang didapatkan adalah Perbankan. agak jauh berbeda dengan industri penerbitan dimana teman saya bekerja.
nah akhirnya saya terfikirkan, menarik juga kalau ada yang mau mengadakan sharia collection skliss & strategy in publishing, jadi fokusnya pada industri penerbitan, sepengetahuan saya jumlah penerbitan buku saja di Indonesia, lebih dari 600 perusahaan, apalagi kalau dihitung juga penerbitan majalah, koran, dll, tentunya banyak kan...
nah, topik yang bisa di angkat bisa berupa:
1. Prinsip-prinsip dan esensi penagihan berbasis syariah
2. Manajemen resiko pada penagihan syariah
3. Dasar-dasar strategi penagihan syariah
4. Aspek psikologis dan cara berkomunikasi efektif dalam aktivitas penagihan syariah
5. Teknik negosiasi untuk debitur individual
6. Teknik penagihan berbasis solusi
7. teknik penagihan dibitur komersial syariah
silakan siaapa yang mau melakukannya, semoga bermamfaat.
dari: idekami.blogspot.com

Benarkah pasar buku sedang lesu?

Beberapa waktu yang lalu ada salah seorang direktur penerbit, shilaturahim ke kantor saya, dari beberapa topik pembicaraan kita, ada satu pertanyaan yang bagi saya mengelitik, yaitu Benarkah pasar buku sedang lesu? , paling tidak ada beberapa faktor penyebab yang bisa menjelaskan, kelesuan pasar buku belakangan ini:

1. Tahun Ajaran Baru (TAB)
sudah menjadi siklus rutin pada setiap bulannya, saat TAB, porsi pembelian konsumen buku tehadap buku yang tidak terkait langsung dengan keperluan TAB, akan menurun, hal ini bisa dijelaskan bahwa, pada musim TAB sebagian besar konsumen buku juga disibukkan dengan persiapan anak-anak mereka.
2. Kenaikan harga BBM
Kenaikan BBM mempunyai dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, karena dengan naiknya harga BBM, akan diikuti naiknya biaya-biaya keseluruhan, seperti transpotasi, kenaikan biaya-biaya ini juga akan mendorong naiknya harga-harga secara umum (inflasi), difihak lain pendapatan sebagian besar masyarakat tidak meningkat, akhirnya daya beli masyarakat akan turun.
nah dengan kondisi daya beli masyarakat menurun, maka masyarakat akan melakukan langkah rasionalisasi yaitu selektif dalam mengunakan anggarannya yang terbatas, akibatnya masyarakat akan memprioritaskan kebutuhan pokoknya. nah kita tahu bersama, buku merupakan kebutuhan skunder, atau mungkin bisa jadi tersier, artinya buku tidak menjadi prioritas dalam rincian belanja masyarakat kebanyakan. nah faktor ini lah yang mengakibatkan naiknya harga BBM berimbas semakin kecilnya porsi anggaran konsumen dalam membeli buku.
3. Naiknya harga kertas.
ketika kenaikan BBM masih menjadi isu saja, harga kertas sudah naik, apalagi ketika BBM benar-benar jadi dinaikkan, faktor terbesar dalam memproduksi buku adalah kertas, akibatnya biaya produksi penerbitan semakin meningkat, yang berdampak pada HPP juga ikut meningkat, penerbit berusaha bertahan dengan cara meningkatkan harga penjualan per halaman. akhirnya berdampak, harga buku juga dinaikkan.

paling tidak ketiga faktor ini berpengaruh terhadap kelesuan pasar buku akhir-akhir ini, beberapa pameran yang saya ikuti seperti di Jambi, Padang, Jombang, Purwokerto, yogya, semarang, dll hampir semua pameran dari sisi penjualannya turun.

akankah pesta buku jakarta yang akan digelar tanggal 28 juni - 5 juli nanti, akan mengalami nasib yang sama, saya yang merupakan bagian dari industri pebukuan, sangat berharap dugaan ini meleset. paling tidak ada salah seorang bagian pembelian di salah satu toko buku, berpendapat, saat ekonomi masyarakat dan kondisi politik pada tahun 1998 tidak menentu, penjualan buku malah mengalami peningkatan yang siqnifikan. akan kah itu akan terjadi kembali? semoga

Senin, 2008 Juni 09

Manajement Piutang dalam penerbitan

Salah satu faktor penting dalam, industri penerbitan buku adalah manajemen piutang, karena ini terkait dengan kelancaran para distributor/toko dalam membayar piutang.

Beberapa bentuk kerjasama penjualan

ada beberapa bentuk kerjasama penjualan diantara penerbit dan distributor/toko yang saya ketahui:
1. Sistim Kredit tempo tertentu
sistim kredit tempo adalah distributor/toko diperbolehkan mengambil buku terlebih dahulu, dengan sistim pembayarannya beberapa hari kemudian, biasanya bisa 7 hari, 30 hari, 60 hari, atau 90 hari, sesuai dengan kesepakatan antara penerbit dengan distributor/toko buku. jika sistim yang disepakati misalnya kredit dengan jangka waktu 30 hari, maka ini berarti pihak distributor/toko, mengambil buku tanggal 9 juni 2008, maka 30 hari kemudian, pengambilan buku tersebut jatuh tempo, dan akan ditagih oleh penerbit. begitu juga dengan jangka waktu yang lainnya.
2. Sistim Konsinyasi
sistim konsinyasi atau titip jual, pihak penerbit menitipkan bukunya di toko buku, setelah buku yang ditipkan tersebut terjual, maka pihak toko membayar buku tersebut ke pihak penerbit.
3. Sistim Cash
sistim cash adalah toko/konsumen memesan jumlah buku tertentu dan saat itu juga langsung dibayar.

untuk sistim cash tidak ada masalah dalam hal pembayarannya, namun sistim kredit dan konsinyasi memerlukan treatment tersendiri dalam penanganannya.

untuk sistim kredit, maka ada beberapa instrument yang bisa digunakan , yaitu:
1. dari awal ketika memulai perjanjian kerjasama penjualan, maka tetapkanlah plafon, maksimal piutang yang bisa diberikan oleh penerbit kepada distributor/toko.
angka plafon ini ditetapkan didasarkan pada analisa kemampuan antara modal dan pembayaran distributor/toko. dalam penanganan kredit maka plafon ini menjadi acuan, jika piutang sudah melewatui plafon, maka lakukan penghentian sementara pengiriman buku ke distributor/toko sampai kondisinya aman kembali. saat yang sama lakukan penagihan.
2. disepakati dari awal . jika pihak distributor/toko menunggak piutang, maka pengambilan selanjutnya akan dikurangi rabat dalam bentuk discount yang diberikan penerbit. misalnya jika selama ini distributor/toko mendapatkan rabat discount 35%, jika piutang tertunggak selanjutnya pesanan discountnya di kurangi 5% menjadi 30%.
3. didasarkan fatwa no. 17/2000, Dewan syariah Nasional, maka dibolehkan pihak pihak produsen mengenakan denda dalam jumlah nominal tertentu jika pihak distributor/toko menunggak.

ke tiga instrumen tersebut sebaiknya dicantumkan dalam perjanjian kerjasama penjualan dan disepakati bersama.
semoga bermamfaat

Minggu, 2008 Juni 08

Menerapkan Speedy Gonzales Strategy di penerbitan buku

Inti dari speedy Gonzales strategy adalah kecepatan pelayanan dari perusahaan akan menyebabkan apakah perusahaan tersebut mampu bertahan di tenggah persaingan atau tidak. Semakin cepat pelayanan suatu perusahaan maka semakin tinggi peluang perusahaan tersebut mampu bertahan di tengah persaingan.

Beberapa lini kritis yang perlu dievaluasi dalam dunia penerbitan adalah:

Kemudahan konsumen menghubungi penerbit.
1. Jika masih ada keluhan susah masuk telepon ke penerbit saudara, maka perlu diperbanyak saluran yang anda gunakan, ditambahkan melalui Layanan SMS, email, dll.
2. Kecepatan fronline mengangkat telepon
Standar yang lazim dipakai adalah, fronline telah mengangkat telepon yang berdering, sebelum dering yang ke empat.
3. Kecepatan dalam menangani pesanan, keluhan, dll dari konsumen
Perlu di buat kesepakatan bersama di internal perusahaan anda, semua orang yang ada adalah tim marketing, mulai dari direktur sampai office boy, inti dari marketing adalah siap melayani dengan standar yang baku, sehingga jika ada pesanan, keluhan, siapa saja mampu menanganinya dengan standar yang telah dibakukan. Dan konsumen merasa puas dengan pelayanan kita.
4. Kecepatan mengatakan status stock
Sangat menjengkelkan jika ada penerbit ketika bukunya di pesan, maka stocknya kosong, namun realitasnya susah menyiapkan semua buku yang ada di katalog ready semua, paling tidak yang bisa dilakukan adalah : cepat memberikan jawaban apakah stocknya ada atau tidak, jangan mempromosikan (mencantumkan buku yang kosong di katalog) karena ini membuat konsumen kecewa.
5. Kecepatan dalam mempersiapkan pesanan
Dibuatkan standar mempersiapkan pesanan, misalnya paling lambat 1 hari, pesanan sudah terkirim.
6. Kemudahan dalam sistim pembayaran
Untuk mempermudah sistim pembayaran, maka penerbit membuka beberapa rekening di beberapa bank, kemudian usahakan rekening tersebut bisa di akses dengan internet banking dan mobile, sehingga jika ada uang masuk maka saat itu juga bisa di cek status terkirim atau tidak.
7. Kecepatan dan ketepatan dalam mengirimkan barang
Saya mengalami beberapa kali konsumen sangat jengkel dengan kelambatan dalam proses pengiriman barang dan ternyata barang yang dikirim juga salah, maka pastikan buku dikirim paling lambat 1hari, kemudian pastikan pula buku yang dipesan dan dikirim sama. Dan kirimlah buku dengan kualitasnya standar.

Hal-hal lain yang juga perlu di evaluasi adalah:
1. Kecepatan dalam memutuskan apakah naskah yang ditawarkan penulis diterbitkan atau tidak
2. Kecepatan dalam memproduksi buku, mulai dari penterjemahan (jika buku terjemahan), editing, setting, dan proses produksi)
semoga anda selalau ingat bahwa si lambat akan dimakan oleh si cepat.
Seoga bermamfaat.
jaharuddin
praktisi pemasaran buku

Minggu, 2008 Juni 01

Pusat Perbukuan Nasional

Jum’at, 30 Mei 2008, merupakan hari bersejarah bagi masyarakat perbukuan di Indonesia, mengapa tidak, pada hari itu Wakil presiden Republik Indonesia, meresmikan Pusat Perbukuan Indonesia di Kelapa Gading Trade Centre, Jakarta. Yang terdiri dari 258 toko buku.

Ide besar ini perlu didukung banyak pihak, karena ini akan memudahkan para konsumen di Indonesia , khususnya di Jakarta berburu buku kesayangannya, karena pusat buku Nasional ini menjadi sentral semua toko buku, dan penerbit se indonesia, yang tentunya berbagai macam jenis buku juga ada disana.

Disayangkan

Ditengah kebahagiaan sebagian besar masyarakat perbukuan, disayangkan ada pejabat yang memberikan pernyataan, alih-alih memotivasi masyarakat perbukuan, menurut saya malahan iritatif (melukai) masyarakat perbukuan, pernyataan tersebut adalah:

“Harga kertas ditambah pajak dan lain-lain, saya tahu betul, tidak terlalu mahal. Sebab, kita adalah produsen kertas. Tetapi, kadang-kadang kita punya selera yang tinggi. Jadi, maunya kertas HVS”, ujar wapres[1]

Mengapa saya katakan iritatif, karena sebagian besar penerbit, sedang menghadapi masalah besar yaitu melambungnya harga kertas yang merupakan bahan baku utama, dari penerbitan buku, mungkin benar?, Indonesia masih menjadi produsen kertas, namun mengapa harga kertas selalu melambung, bahkan adakalanya menghilang dari pasar. Ini sangat berdampak pada keberlangsungan industri penerbitan, bahkan bisa jadi penerbitan akan tutup.

Kalaulah benar produksi kertas kita masih tinggi, kemanakah kertas tersebut didistribusikan?, kenapa adakalanya kertas langka dipasaran?

Mengenai buku diterbitkan dengan kualitas kertas yang lebih rendah dari kertas HVS, inipun sudah sejak lama dilakukan oleh para penerbit, jadi kita Cuma berharap pejabat jangan membuat pernyataanya yang iritatif, apapun jua saya pribadi yang merupakan bagian dari masyarakat perbukuan mengucapkan terima kasih atas kesediaannya untuk membuka secara resmi pusat perbukuan nasional tesebut.

Lokasi yang kurang strategis

Namun ide besar tersebut, belum mampu ditopang dengan lokasi yang strategis, terutama untuk buku Islam, dari pengalaman saya beberapa tahun dalam penjualan buku Islam, maka kawasan Kelapa Gading, bukanlah kawasan yang bagus penjualan buku Islamnya. Kawasan yang bagus penjualan buku Islamnya adalah di Jakarta selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Depok, Bekasi, Tanggerang, dan Bogor.

Namun, kita tetap harus memberikan apresiasi yang sangat besar, kepada para inisiator yang ada di IKAPI Pusat yang telah berupaya mengawali ide besar ini, namun kedepan perlu difikirkan bersama, untuk memindahkan ide besar tersebut ke kawasan yang lebih mudah dijangkau dan peminat buku Islamnya juga besar.

Sekali lagi, selamat kepada penggurus IKAPI Pusat.
[1] Kompas, sabtu, 31 Mei 2008, halaman 12

Jumat, 2008 Mei 23

New channel : Penjualan buku di Pesawat

Dalam perjalanan ketika kita di pesawat, sudah lazim kita melihat ada penjualan barang-barang/souvenir ketika dalam perjalanan. Hal yang belum dilakukan adalah penjualan buku-buku berkualitas. Menurut saya ada prospeknya karena sebagian besar pengguna pesawat adalah kalangan menengah ke atas, yang diduga berpendidikan dan mempunyai penghasilan. Biasanya mereka ini adalah pangsa pasar yang tepat untuk produk buku, kemudian bisa jadi untuk mengisi waktu dalam perjalanan mereka butuh bacaan, seperti koran, majalah atau buku. Nah ini peluang, tinggal hubungi maskapainya, masukkan buku-buku berkualitas dan menghibur di katalog penjualan maskapai yang bersangkutan, trus suplai stocknya pada setiap pesawat. Jalan. Salah satu buku yang mungkin bisa dicoba misalnya la Tahzan, Laskar pelanggi, Ayat-ayat cinta, dan buku-buku relevan lainnya. Selamat mencoba. Dan semoga bermamfaat

Rabu, 2008 Mei 21

Speedy Gonzales Strategy dalam penerbitan buku


Speedy Gonzales Strategy atau time based strategy adalah strategi yang mengedepankan kecepatan dalam merespon pasar merupakan kunci sukses perusahaan di jangka panjang. Berikut ini ada beberapa contoh perusahaan yang menerapkan speedy Gonzales Strategy di perusahaannya , yang ternyata 30 tahun kemudian melahirkan perusahaan yang profitable[1].

Pada dekade 1990-an, Toyota hampir unggul di semua lini. Untuk memproduksi sebuah mobil baru, toyota membutuhkan waktu 3 tahun dan detroit selama 5 tahun. Untuk membuat sebuah produk hingga menjadi produk jadi, Toyota membutuhkan waktu 2 hari dan Detroit selama 5 hari. Untuk memenuhi kebutuhan dealer, maka Toyota membutuhkan waktu selama 1 hari dari sejak order diterima dan Detroit selama 5 hari. Total pergantian stock untuk dealer toyota adalah 16 kali per tahun, sementara dealer dari merek-merek mobil detroit 8 kali pertahun. Karena kecepatan ini, kita kemudian mengenal sebuah model yang disebut dengan Just in Time. Hingga sekarang, model ini telah memberikan inspirasi kepada perusahaan di seluruh dunia.

Contoh lain adalah perbandingan ground time southwest airline 20 – 25 menit, sementara itu, American Airline membutuhkan 55 menit, selisih waktu 30 menit inilah yang digunakan oleh southwest untuk terbang di udara dan memperoleh revenue dan profitabilitas perpesawat yang lebih tinggi. Kecepatan ini juga di topang oleh kekuatan dari para top management untuk menciptakan budaya bekerja lebih cepat. Hasilnya jika kita investasi dengan membeli saham southwest di tahun 1990, maka hari ini kita akan mendapatkan gain 15 kali lipat.

Inilah era dimana kecepatan menjadi semakin kritikal. Dalam persaingan bukan perusahaan besar yang akan menghabisi perusahaan kecil, yang lebih benar adalah perusahaan lambat akan dimakan oleh perusahaan yang cepat. Nah seperti apa implikasinya pada dunia penerbitan, akankah speedy gonzales strategy ini akan membantu perusahaan penerbitan menjadi perusahaan yang profitable di masa mendatang, jawabanya YA.

Dalam penerbitan buku terjemahan Islam saya menemukan data, bahwasanya proses buku semenjak dari naskah asli (misal berbahasa Arab) sampai jadi buku berbahasa Indonesia dan beredar di pasar, penerbit masih membutuhkan waktu 5 – 8 bulan. Waktu yang sangat panjang sekali dalam proses pembuatan buku. Pernahkah terfikirkan para pelaku bisnis penerbitan untuk memotong mata rantai yang sangat panjang tersebut menjadi lebih singkat, sehingga buku terjemahan dapat secepatnya di nikmati oleh konsumen?, paling tidak para pelaku bisnis penerbitan menghitung dengan detail berapa waktu ideal dalam menerbitkan buku terjemahan, beberapa variabel penentunya adalah:
1. berapa waktu untuk Hunting Naskah
2. berapa waktu untuk Pengiriman naskah
3. berapa waktu untuk Penetapan diterbitkan atau tidak
4. berapa waktu untuk Penerjemahan
5. berapa waktu untuk Editing
6. berapa waktu untuk Setting
7. berapa waktu untuk Proses Produksi
6. kapan waktu yang tepat untuk Masuk gudang
7. kapan moment yang tepat untuk Louncing ke pasar

Mengapa suatu penerbit membutuhkan 5 – 8 bulan dalam menerbitkan buku? saya menduga banyak sekali waktu yang terbuang dalam proses penerbitan. Dengan kondisi ini akankah penerbit memenangkan persaingan di belakang hari? Jawabannya ada pada setiap penerbit, penerbit yang mampu mempercepat proses penerbitan produknya dalam rangka merespon pasar, meningkatkan kualitas , dan meminimalisasi biaya akan bertahan dan maju dimasa yang akan datang.
Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi marketing buku Islam
[1] Speedy Gonzales Strategy, Handi Irawan D, dalam majalah marketing 05/VIII/Mei/2008