Minggu, 04 April 2010

Benarkah Industri Penerbitan Buku di Indonesia, jauh lebih maju di bandingkan Industri penerbitan buku di Malaysia ?


Oleh : Jaharuddin (Praktisi Pemasaran Buku Islam)
Email: jaharuddin@gmail.com
http:penerbitbukuislam.blogspot.com

Saat ini sedang berlangsung The 29th Kuala Lumpur International Book Fair, dari tanggal 19 – 28 Maret 2010 di Putra World Trade Center (PWTC), pusat pameran paling megah dan mewah di Kuala Lumpur. Pameran ini merupakan pameran Buku terbesar di Malaysia, dengan 856 stand di 3 lantai, Lokasi pameran persis di bawah gedung UMNO, partai berkuasa di Malaysia.
Kerajaan Malaysia telah berhasil meningkatkan minat baca masyarakatnya, pada tahun 1997 penduduk malaysia hanya membaca 1 Lembar buku saja dalam setahun, 5 tahun kemudian yaitu pada tahun 2002, meningkat 100% menjadi 2 Lembar buku saja dalam setahun, dan tahun 2010 ini penduduk malaysia membaca buku 7 – 8 buku dalam setahun. Suatu peningkatan yang sangat berarti, dan perlu dicontoh.

Berikut Beberapa catatan lepas saya tentang pameran ini:
• Selama ini , pelaku perbukuan di Indonesia, merasa bahwa perkembangan industri buku di Indonesia, jauh lebih berkembang bila di bandingkan dengan industri perbukuan di Malaysia, hal ini didasari dengan jumlah penduduk malaysia, yang memang jauh lebih kecil dari penduduk di Indonesia. Akhirnya berdampak pangsa pasar buku di Malaysia lebih kecil dibanding Indonesia, juga berdampak pada masih rendahnya jumlah terbitan buku baru. Melihat realitas yang saya saksikan di Pameran buku antar bangsa kali ini, maka persepsi tersebut belum tentu benar. Karena saat ini pameran buku ini mengguna 3 lantai, dengan 208 penerbit sebagai peserta, mengunakan 856 stand, (ukuran satu stand pameran buku di Malaysia adalah 9m2, sedangkan di Indonesia standar satu stand biasanya 18m2), di area seluas12.666 m2, bahkan ada tambahan satu gedung, yang dipisahkan dengan sungai dari gedung utama PWTC. Pengunjungnyapun sangat ramai seperti Islamic Book Fair di Jakarta, tahun lalu saja total pengunjungnya sebanyak 1.500.000 orang. Panitia meyakini tahun ini akan lebih banyak lagi.
• Ada kekhawatiran pada diri saya, kasus tertinggalnya mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan Malaysia, juga terjadi di industri buku. Sering kita mendengar cerita, dulu orang-orang Malaysia belajar/kuliah di Indonesia, bahkan pemerintah Malaysia, secara khusus mengimpor guru-guru dari Indonesia, namun sekarang kondisinya berbalik, banyak sekali putra-putri Indonesia belajar di Malaysia. Akankah industri perbukuan juga sama, dulu, mungkin saat inipun masih, industri perbukuan di Indonesia lebih maju bila di bandingkan industri perbukuan di Malaysia, sebagai indikasinya adalah jumlah judul buku terbit di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan Malaysia, namun akankah kondisi ini akan bertahan, karena di Malaysia, Pamerannyapun sangat ramai, pesertanya banyak, dan juga di back up dengan universitas yang membuka jurusan publishing, untuk strata 2 dan 3. akankah penerbitan Indonesia juga akan tertinggal dibandingkan Malaysia?.
• Saya menemukan ada buku-buku yang telah di terbitkan di Indonesia, juga diterbitkan kembali di Malaysia, saya tidak tahu persis apakah buku-buku yang diterbitkan tersebut sudah mendapat izin dari penerbitnya di Indonesia atau tidak. Kondisi ini sepatutnya mendapat perhatian serius para penerbit di Indonesia, karena informasi yang saya dapatkan selama pameran, ada beberapa buku Indonesia diterbitkan di Malaysia, tanpa sepengetahuan penerbitnya di Indonesia. Pihak penerbit di Indonesia bisa menelusurinya lebih lanjut.
• Sebenarnya pameran buku, merupakan bagian dari pameran industri kreatif, sepertinya pada pameran-pameran buku di Indonesia, hal ini kurang terexplorasi, di pameran di Malaysia, saya menemukan pada salah satu stand, bukan hanya memamerkan buku, dan melakukan transaksi buku, namun juga terdapat desain sketsa wajah.
• Pada pameran ini, juga disediakan space khusus untuk penerbit-penerbit dari negara-negara lain, seperti Indonesia, Singapura, Saudi Arabia dan Mesir, masing-masing negara tersebut, memamerkan bukunya masing-masing. Walaupun miris untuk stand penerbit-penerbit dari Indonesia, yang di koordinasi oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), hari pertama pameran belum diisi sama sekali. Saya ngak tahu persis apa penyebabnya, namun ini merupakan bagian pencitraan yang tidak baik terhadap industri perbukuan di tanah air. Setahu saya buku-bukunya sudah ada, tapi kenapa tidak di display.
• Pada pameran buku ini, saya juga menjumpai adanya arena negosiasi dan penjualan copy right (Trade and Copyright Centere), arenanya rapi, tertata dengan baik, namun tidak ada satu petugaspun yang berada disana, dan sepertinya tidak ada juga penerbit dan orang-orang penerbitan yang memanfaatkan sarana ini. Ini mengindikasikan kepedulian para penerbit buku di malaysia sendiri terhadap copyright juga masih rendah.
• Dari pertemuan saya dengan relasi di Malaysia, saya mendapatkan informasi bahwa sudah ada 3 toko buku gramedia di Malaysia, yaitu di Tessco setia alam shah alam Selangor, tesco seberang prai pulau pinang, dan mines shoping fair seri kembangan, Selangor. Yang menarik dari diskusi saya dengan relasi penerbit di Malaysia, adalah mereka mensuplay buku ke toko buku gramedia dengan sistim kredit returnable dengan rabat 30%. Sekarang pihak gramedia sedang merubah sistimnya dengan sistim konsinyasi, namun pihak penerbit di Malaysia, tidak sepakat, akhirnya gramedia di Malaysia terseok-seok. Kenapa penerbit di Malaysia, bisa mempunyai bargaining posisi yang baik dengan gramedia?, dan kenapa para penerbit di Indonesia sepertinya takluk di bawah ketiaknya gramedia, ada ide-ide untuk bersatu melalui IKAPI menegosiasi ulang pola discount dan tata niaga perbukuan, namun sampai sekarang ide itu hanya sampai pada batas ide, wacana, dan hasil diskusi, namun tidak pernah di follow up menjadi ide yang pantas untuk di realisasikan?
Semoga, catatan-catatan lepas ini, mampu memberi inspirasi penataan industri perbukuan di Indonesia semakin labih baik, mulai dari penerbitan, sampai pada penataan tata niaga perbukuan di tanah air.

Semoga bermanfaat.....
Sabtu sore, 20 maret 2010
di Kamar 1534 Hotel Legend Jl. Putra, Kuala Lumpur

5 komentar:

freakinsomnia mengatakan...

menarik ulasannya mas..
btw,ngerti gak mas jumlah / estimasi kebutuhan pasar untuk buku di indonesia.. atau mungkin mas ngerti dimana saya harus cari.. saya sudah cari sana-sini,tp ga ketemu jg..

=thx=

Syahyuti,MSi., Ir. (sosiologi pertanian) mengatakan...

Blog yang sangat informatif. Maaf, saya ada buku baru, andaikan bisa dibantu distribusinya. Judulnya: "Islamic Miracle of Working Hard: 101 Motivasi Islami Bekerja Keras" Penerbit Manna dan salwa, Jakarta, 2011. Terima kasih.

http://www.syahyutialasan.blgspot.com

Meysha Lestari mengatakan...

saya rasa dal hal buku, saat ini antara Indonesia -malaysia berimbang dengan indonesia sedikit lebih baik kalau di lihat dengan banyaknya buku-buku dari pengarang Indonesia yang di terbitkan di Malaysia dan keluar sebagai best seller.

LAMBASANDID SAYS mengatakan...

perkembangan Industri buku berbanding lurus dengan perkembangan pola pendidikan. Jadi, tidak bisa hanya diusahakan oleh penerbit buku saja, melainkan haruslah bergandengan tangan dengan pemerintah dan lembaga pendidikan. Yah..jika tidak buru-buru berbenah diri dan mengatur langkah, cepat atau lambat kita kalah lagi dengan negara-negara tetangga.----lukman basandid---

jaharuddin.blogspot.com mengatakan...

terima kasih atas komentar freakinsomnia, pak syahyuti MSi, ir,Meysa Lestari, Lambasandid...mohon maaf, baru di sapa sekarang...lama saya tidak buka blog ini, karena nov 2010 kemarin saya, pamit dari penerbitan, saat ini saya sedang mukim di Hannover, Jerman.