Sabtu, 26 Juli 2008

Jalan Terus Biarpun Pasar Tidak Gemuk


Ketika ditanya potensi pasar buku-buku klasik, Buldanul Khuri mengutip salah satu syair lagu dangdut yang populer lima tahun silam. "Pasarnya? Yang sedang-sedang saja," kata Direktur Utama penerbit Bentang Yogyakarta ini. Artinya, buku klasik ini tetap memiliki pasar meski jumlahnya tidak besar. Dalam hitungan normal versi Buldan, cetakan pertama--sekitar 1.500 sampai 2.000 eksemplar--paling tidak habis dalam satu tahun.

Buldan mengambil contoh buku Republik karya Plato yang terbit Oktober 2002. Dicetak pertama sebanyak 1.500 eksemplar. Hingga kini buku tersebut masih tersendat di pasar. Padahal upaya mengenalkan buku ini ke publik sudah dilakukan. Salah satunya lewat resensi di berbagai media massa. Seretnya pemasaran buku klasik ini sudah disadari sejak jauh hari. Buldan memperkirakan, nasib serupa bakal dialami sembilan judul buku yang segera terbit.

Yang membuat Buldan jalan terus dengan proyek klasik ini tak lain karena ia tak merasa punya beban. Niat memperkenalkan karya-karya asli pemikir besar lebih kuat ketimbang urusan mencari untung.

Berpikir ala Filsuf karya Bertrand Russell, yang diterbitkan Ikon Teralitera, juga bertahan pada cetakan pertama. Begitu pula dengan tulisan Friedrich Nietzsche. "Kami sadar serapan pasar biasa-biasa saja," kata Adi Amar. Meski begitu kabar gembira sempat berembus dari The Problem of Philosopy karya Russell. Buku yang terbit pertama Mei 2002 ini telah dicetak ulang dua kali.

Cetakan kedua juga dialami A General Introduction to Psychoanalysis karya Sigmund Freud. Menjelang satu tahun dari cetakan pertama, buku tentang psikoanalisis ini terserap pasar. Biasanya catakan pertama rata-rata 3.000 eksemplar. Sukses buku Freud sebenarnya tak lepas dari tema yang ditawarkan. Pasar terbesar buku ini berasal dari lingkungan mahasiswa psikologi.

Buku yang sebenarnya mengalami nasib baik pada awal kehadirannya adalah Asal-Usul Spesies. Ketika diluncurkan pada Mei 2002, buku ini terserap cepat pasar. Sayang, pasar buku Charles Darwin ini mulai tersendat. Selain tema yang ditawarkan sudah dikenal luas, kehadiran buku Harun Yahya yang menggempur teori Darwin cukup berpengaruh. "Dampaknya terasa sekali," kata Adi. Selama ini karya Harun Yahya diproduksi penerbit Dzikra Bandung. Gempuran Harun Yahya juga dikenalkan lewat cakram VCD yang banyak beredar di pasar.

Kondisi yang agak menggembirakan justru terjadi pada buku klasik dari dunia Islam. Tafsir Juz Amma Ibnu Katsir yang terbit awal 2002 hingga kini naik cetak sebanyak lima kali. Kisah Para Nabi dari penulis dan penerbit yang sama naik cetak sebanyak enam kali sejak pertama diterbitkan awal 2002. Bahkan Keajaiban Hati setebal 100 halaman yang terbit 2001 sudah naik cetak tujuh kali. "Mungkin karena bukunya relatif tipis dibanding yang lain," kata Naufal.

Tesis buku tipis memang tak mesti menjadi alasan pembeli untuk merogoh saku. Substansi materi yang disampaikan tentu lebih menentukan. Buku Mukaddimah karya Ibnu Khaldun setebal 880 halaman adalah sebuah antitesis. Buku yang diterbitkan pertama pada akhir 1997 oleh Pustaka Firdaus yang cukup mahal ini dicetak ulang sebanyak empat kali. Kini sedang disiapkan edisi cetakan kelima. arif firmansyah
http://www.korantempo.com/news/2003/3/2/Buku/8.html

Tidak ada komentar: