Tampilkan postingan dengan label catatan jaharuddin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan jaharuddin. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 April 2010

Agenda pameran buku Internasional 2010


Pameran buku merupakan salah satu indikator perkembangan industri perbukuan di suatu Negara, 5 tahun terakhir ini terjadi peningkatan pameran yang sangat berarti di tanah air, saya mencatat tidak kurang dari 40 pameran buku dilaksanakan oleh berbagai event organizer di tanah air mulai dari Banda Aceh, sampai Makasar, bahkan sudan merambah ibukota kabupaten, suatu kerja keras yang pantas untuk diapresiasi, sebagiannya rutin diadakan pada setiap tahunnya.
Untuk tingkat dunia, paling tidak saat ini ada sekitar 37 pameran buku yang di laksanakan di masing-masing kota, yang terbesar dan paling bergensi saat ini adalah Francfurt dan Kairo. Pelaksanaan pameran, dilaksanakan rutin pada setiap tahun, dan biasanya tanggal pelaksanaannya juga tidak jauh berbeda, dari tahun-tahun sebelumnya. Berikut agenda pameran buku internasional 2010:
1. Tanggal 8 – 18 Januari 2010, Kairo International Book Fair, di Cairo, Mesir.
2. Tanggal 27 Januari – 1 Februari, Taipei International Book exhibition (TIBE), di Taipei, Taiwan
3. Tanggal 27 Januari – 7 Februari, Kolkata International Book Fair, di Kolkata, India
4. Tanggal 30 Januari – 7 Februari, New Delhi World Book Fair, di New Delhi, India
5. Tanggal 21 Februari – 2 Maret, Brunei Book Fair, di Bandar Seri Begawan, Brunei.
6. Tanggal 25 – 28 Februari, Baltic Book Fair, di Vilnius, Lithuania
7. Tanggal 2 – 7 Maret, Abu Dhabi International Book Fair, di Abu Dhabi, UEA
8. Tanggal 5 – 14 Maret, Islamic Book Fair, di Istora Bung Karno, Jakarta, Indonesia.
9. Tanggal 26 – 31 Maret, Paris Book Fair, di Paris, Prancis
10. Tanggal 23 – 26 Maret, Bologna Children’s Book Fair, di Bologna, Italia.
11. Tanggal 26 Maret – 6 April, Bangkok International Book Fair, di Bangkok ,Thailand.
12. Tanggal 19 – 28 Maret, Kuala Lumpur International Book Fair, di Kuala Lumpur, Malaysia.
13. Tanggal 19 – 21 April, Buenos Aires Book Fair, di Buenos Aires, Argentina.
14. Tanggal 22 – 25 April, London Book Fair, di London, Inggris
15. Tanggal 22 – 25 April, Budapest International Book Festival, di Budapest, Hungaria
16. Tanggal 22 – 25 April, Thessaloniki Book Fair, di Thessaloniki, Yunani.
17. Tanggal 28 April – 2 Mei, Geneva Book Fair, di Geneva, Swiss.
18. Tanggal 12 – 26 Mei, Seoul International Book Fair, di Seoul, Korea.
19. Tanggal 13 – 16 Mei, Praque International Book Fair, di Praque, Czeh Republic.
20. Tanggal 20 – 23 Mei, Warsaw International Book Fair, di Warsawa Polandia.
21. Tanggal 28 Mei – 6 Juni, World Book Fair (Singapore), di Singapura.
22. Tanggal 30 Mei – 1 Juni, Book expo America, di New York city, USA
23. Tanggal 2 – 11 Juli, Pesta Buku Jakarta, di Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia.
24. Tanggal 8 – 11 Juli, Tokyo International Book Fair, di Tokyo, Jepang.
25. Tanggal 21 – 27 Juli, Hongkong Book Fair, di Hongkong.
26. Tanggal 30 Juli – 2 Agustus, Cape town Book Fair, di cape town, Afrika selatan.
27. Tanggal 1 – 6 september, Moscow international book fair, di Moscow, Rusia
28. Tanggal 15 – 19 september, Manila International Book Fair, di Manila, Philipina.
29. Tanggal 23 – 26 september, Goteborg International Book Fair, di Goteborg, Swedia.
30. Tanggal 6 – 10 Oktober, Beijing International Book Fair, di Beijing, China.
31. Tanggal 6 – 10 Oktober, LIBER Book Fair, di Madrid, Spanyol.
32. Tanggal 6 – 10 Oktober, Frankfurt Book Fair, di Frankfurt, Jerman
33. Tanggal 30 Oktober – 7 November, Istanbul Book Fair, di Istanbul, Turki.
34. Tanggal 3 – 7 November, Indonesian Book Fair, di Jakarta Convention Center, Indonesia.
35. Tanggal 31 Oktober – 16 November, Santiago International Book Fair, di Santiago, Chile.
36. Tanggal 19 – 21 November, Oslo Book Fair, di Lillestrom-Oslo, Norwagia.
37. Tanggal 27 November – 5 Desember, Guadalraja International Book Fair, di Guadalaraja, Meksiko.

Untuk lebih lanjut, jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang masing-masing pameran international diatas, bisa anda lihat, dalam masing-masing web yang biasanya dibuat oleh masing-masing event organizernya seperti www.kualalumpurbookfair.com, www.pestabukujakarta.com, www.indonesiabookfair.com, dan seterusnya.

Semoga bermanfaat…..
Oleh: Jaharuddin (Praktisi Pemasaran Buku Islam)
Email: jaharuddin@gmail.com
http://penerbitbukuislam.blogspot.com

Benarkah Industri Penerbitan Buku di Indonesia, jauh lebih maju di bandingkan Industri penerbitan buku di Malaysia ?


Oleh : Jaharuddin (Praktisi Pemasaran Buku Islam)
Email: jaharuddin@gmail.com
http:penerbitbukuislam.blogspot.com

Saat ini sedang berlangsung The 29th Kuala Lumpur International Book Fair, dari tanggal 19 – 28 Maret 2010 di Putra World Trade Center (PWTC), pusat pameran paling megah dan mewah di Kuala Lumpur. Pameran ini merupakan pameran Buku terbesar di Malaysia, dengan 856 stand di 3 lantai, Lokasi pameran persis di bawah gedung UMNO, partai berkuasa di Malaysia.
Kerajaan Malaysia telah berhasil meningkatkan minat baca masyarakatnya, pada tahun 1997 penduduk malaysia hanya membaca 1 Lembar buku saja dalam setahun, 5 tahun kemudian yaitu pada tahun 2002, meningkat 100% menjadi 2 Lembar buku saja dalam setahun, dan tahun 2010 ini penduduk malaysia membaca buku 7 – 8 buku dalam setahun. Suatu peningkatan yang sangat berarti, dan perlu dicontoh.

Berikut Beberapa catatan lepas saya tentang pameran ini:
• Selama ini , pelaku perbukuan di Indonesia, merasa bahwa perkembangan industri buku di Indonesia, jauh lebih berkembang bila di bandingkan dengan industri perbukuan di Malaysia, hal ini didasari dengan jumlah penduduk malaysia, yang memang jauh lebih kecil dari penduduk di Indonesia. Akhirnya berdampak pangsa pasar buku di Malaysia lebih kecil dibanding Indonesia, juga berdampak pada masih rendahnya jumlah terbitan buku baru. Melihat realitas yang saya saksikan di Pameran buku antar bangsa kali ini, maka persepsi tersebut belum tentu benar. Karena saat ini pameran buku ini mengguna 3 lantai, dengan 208 penerbit sebagai peserta, mengunakan 856 stand, (ukuran satu stand pameran buku di Malaysia adalah 9m2, sedangkan di Indonesia standar satu stand biasanya 18m2), di area seluas12.666 m2, bahkan ada tambahan satu gedung, yang dipisahkan dengan sungai dari gedung utama PWTC. Pengunjungnyapun sangat ramai seperti Islamic Book Fair di Jakarta, tahun lalu saja total pengunjungnya sebanyak 1.500.000 orang. Panitia meyakini tahun ini akan lebih banyak lagi.
• Ada kekhawatiran pada diri saya, kasus tertinggalnya mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan Malaysia, juga terjadi di industri buku. Sering kita mendengar cerita, dulu orang-orang Malaysia belajar/kuliah di Indonesia, bahkan pemerintah Malaysia, secara khusus mengimpor guru-guru dari Indonesia, namun sekarang kondisinya berbalik, banyak sekali putra-putri Indonesia belajar di Malaysia. Akankah industri perbukuan juga sama, dulu, mungkin saat inipun masih, industri perbukuan di Indonesia lebih maju bila di bandingkan industri perbukuan di Malaysia, sebagai indikasinya adalah jumlah judul buku terbit di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan Malaysia, namun akankah kondisi ini akan bertahan, karena di Malaysia, Pamerannyapun sangat ramai, pesertanya banyak, dan juga di back up dengan universitas yang membuka jurusan publishing, untuk strata 2 dan 3. akankah penerbitan Indonesia juga akan tertinggal dibandingkan Malaysia?.
• Saya menemukan ada buku-buku yang telah di terbitkan di Indonesia, juga diterbitkan kembali di Malaysia, saya tidak tahu persis apakah buku-buku yang diterbitkan tersebut sudah mendapat izin dari penerbitnya di Indonesia atau tidak. Kondisi ini sepatutnya mendapat perhatian serius para penerbit di Indonesia, karena informasi yang saya dapatkan selama pameran, ada beberapa buku Indonesia diterbitkan di Malaysia, tanpa sepengetahuan penerbitnya di Indonesia. Pihak penerbit di Indonesia bisa menelusurinya lebih lanjut.
• Sebenarnya pameran buku, merupakan bagian dari pameran industri kreatif, sepertinya pada pameran-pameran buku di Indonesia, hal ini kurang terexplorasi, di pameran di Malaysia, saya menemukan pada salah satu stand, bukan hanya memamerkan buku, dan melakukan transaksi buku, namun juga terdapat desain sketsa wajah.
• Pada pameran ini, juga disediakan space khusus untuk penerbit-penerbit dari negara-negara lain, seperti Indonesia, Singapura, Saudi Arabia dan Mesir, masing-masing negara tersebut, memamerkan bukunya masing-masing. Walaupun miris untuk stand penerbit-penerbit dari Indonesia, yang di koordinasi oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), hari pertama pameran belum diisi sama sekali. Saya ngak tahu persis apa penyebabnya, namun ini merupakan bagian pencitraan yang tidak baik terhadap industri perbukuan di tanah air. Setahu saya buku-bukunya sudah ada, tapi kenapa tidak di display.
• Pada pameran buku ini, saya juga menjumpai adanya arena negosiasi dan penjualan copy right (Trade and Copyright Centere), arenanya rapi, tertata dengan baik, namun tidak ada satu petugaspun yang berada disana, dan sepertinya tidak ada juga penerbit dan orang-orang penerbitan yang memanfaatkan sarana ini. Ini mengindikasikan kepedulian para penerbit buku di malaysia sendiri terhadap copyright juga masih rendah.
• Dari pertemuan saya dengan relasi di Malaysia, saya mendapatkan informasi bahwa sudah ada 3 toko buku gramedia di Malaysia, yaitu di Tessco setia alam shah alam Selangor, tesco seberang prai pulau pinang, dan mines shoping fair seri kembangan, Selangor. Yang menarik dari diskusi saya dengan relasi penerbit di Malaysia, adalah mereka mensuplay buku ke toko buku gramedia dengan sistim kredit returnable dengan rabat 30%. Sekarang pihak gramedia sedang merubah sistimnya dengan sistim konsinyasi, namun pihak penerbit di Malaysia, tidak sepakat, akhirnya gramedia di Malaysia terseok-seok. Kenapa penerbit di Malaysia, bisa mempunyai bargaining posisi yang baik dengan gramedia?, dan kenapa para penerbit di Indonesia sepertinya takluk di bawah ketiaknya gramedia, ada ide-ide untuk bersatu melalui IKAPI menegosiasi ulang pola discount dan tata niaga perbukuan, namun sampai sekarang ide itu hanya sampai pada batas ide, wacana, dan hasil diskusi, namun tidak pernah di follow up menjadi ide yang pantas untuk di realisasikan?
Semoga, catatan-catatan lepas ini, mampu memberi inspirasi penataan industri perbukuan di Indonesia semakin labih baik, mulai dari penerbitan, sampai pada penataan tata niaga perbukuan di tanah air.

Semoga bermanfaat.....
Sabtu sore, 20 maret 2010
di Kamar 1534 Hotel Legend Jl. Putra, Kuala Lumpur

Rabu, 10 Maret 2010

Tips Membeli Buku


Oleh : Jaharuddin (Praktisi Pemasaran Buku Islam)
email : jaharuddin@gmail.com

Pada saat ini sedang berlangsung pameran Islamic Book Fair 2010, yang telah dimulai sejak tanggal 5 yang lalu dan akan berakhir tanggal 14 maret yang akan datang. Pameran ini merupakan pameran yang penggunjungnya terbanyak di Indonesia. Cobalah anda buktikan jika anda mendatangi pameran pada hari sabtu dan ahad, maka diyakini anda akan merasakan berdesak-desakan di arena pameran.

Walaupun pada tahun ini space pameran telah di tambah pada dua sisi parkir di seputar gedung. Namun tetap saja kondisi ini belum mampu menampung jumlah pengunjung pameran yang luar biasa banyaknya.

Dari sisi penerbit pameran berfungsi sebagai arena promosi, branding, mancari cash money sekaligus saat yang paling tepat mengeluarkan buku-buku slow moving yang menumpuk di gudang. Makanya jika anda ke arena pameran, maka akan anda jumpai banyak sekali buku-buku yang diobral dengan harga yang sangat murah misalnya Rp. 5.000,- /Rp. 10.000,- dan seterusnya.

Nah bagi anda pengunjung pameran buku, maka manfaatkanlah saat pameran seperti sekarang untuk mencari buku-buku sesuai dengan kebutuhan anda, karena jika anda membeli di toko buku seperti Gramedia, Gunung Agung dan Karisma, maka anda tidak akan mendapat diskon seperti di pameran, walaupun ada beberapa toko yang juga memberikan discon di luar pameran sepeti Toko Buku buyung di senen Jakarta, Toga mas, dan beberapa toko buku lainnya.

Agar memudahkan anda dalam mencari buku yang anda inginkan, berikut saya tuliskan beberapa tips dalam membeli buku:
1. Carilah buku yang sesuai dengan kebutuhan anda, jangan tertipu dengan tampilan cover yang mengiurkan.
2. Buku-buku yang dijual dengan harga discount, belum tentu buku yang “jelek”.
Karena banyak kejadian buku-buku yang dijual penerbit di arena pameran dengan harga murah bahkan super murah, isinya adalah buku-buku yang sangat berkwalitas. Nah jika anda datang ke pameran jangan lewatkan untuk melihat buku-buku murah, karena ini akan membuat anda belanja sangat hemat, dan kebutuhan anda bisa di penuhi.
Bagi anda toko buku, distributor buku, atau yang berniat membuku toko buku, ajang pameran merupakan saat yang paling tepat bagi anda mencari koleksi-koleksi buku yang anda inginkan untuk dijual kembali, dengan modal yang relatif kecil, kemudian saat pameran anda bisa mendatangi banyak penerbit untuk menjajaki kemungkinan menjadi vendor (peamsok) di toko anda.
3. Baca back cover , daftar isi dan beberapa pragraf awal isi buku.
Agar anda tidak tertipu dalam membeli buku, karena ”jatuh hati” dengan cover yang menarik, maka kualitas buku paling tidak bisa dilihat dari back cover (walaupun biasanya back cover , dijadikan penerbit menjadi bagian dari promo buku tersebut), selanjutnya lihat daftar isinya (agar dipastikan sesuai dengan kebutuhan anda), dan dilengkapi baca beberapa pragraf awal isi buku tersebut. Hal ini penting untuk melihat apakah deskripsi buku nya enak di baca atau tidak, apalagi buku tersebut buku terjemahan dari bahasa asing. Jika tidak enak di baca, sebaiknya tidak anda beli, karena akan membuat anda sendiri pusing membacanya.
4. Lihat daftar buku baru
Disamping anda mencari buku-buku sesuai dengan kebutuhan anda, maka saya menyarankan anda juga melihat buku-buku baru dari penerbit, karena kalau anda mendapatkan buku baru dan sesuai dengan kebutuhan anda, maka anda akan diuntungkan mendapatkan edisi terbaru dari buku yang anda cari, sering penerbit me revisi buku-buku lamanya.
5. Lihat buku-buku yang di pamerkan paling depan
Buku-buku yang di pamerkan di bagian depan stand adalah buku-buku baru dan buku buku best seller penerbit, atau buku-buku unggulan penerbit.
6. Kalau anda membeli dalam jumlah banyak, mintalah tambahan discount

Semoga bermanfaat bagi anda pecinta buku, dan idealnya setiap pembelian buku, jika buku tersebut buku terjemahan, maka tanyakan apakah buku tersebut pihak penerbitnya mempunyai copy right atau tidak. Idealnya anda tidak membeli buku-buku yang tidak ada copy rightnya. Karena realitasnya sampai saat ini hanya beberapa penerbit saja yang ”peduli” dengan copy right . Dan saya fikir ini harus diupayakan untuk dirubah, karena ada hak penulis dalam sebuah karya buku. Dan jika pembeli juga ikut menanyakan apakah buku tersebut mempunyai copy right atau tidak. Maka saya berharap akhirnya suatu hari nanti semua penerbit sangat peduli dan merasa berdosa jika menerbitkan buku tanpa copy right.

Pendapat pribadi, semoga bermanfaat.....

Rabu, 15 April 2009

Faktor “salafi” dalam penerbitan buku Islam


Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan suatu kelompok yang memberi nama “salafi” kepada kelompoknya, saya Cuma mencoba menganalisa secara sederhana perilaku konsumsi buku kelompok ini sebagai bahan diskusi.

Apa itu kelompok salafi
Abu Abdirrahman Al Thalibi, dalam dakwah salafiyah dakwah bijak; meluruskan sikap keras dai salafi (hal 9), mengidentifikasi kelompok salafi sebagai: Secara sederhana salafiyah bisa diartikan sebagai khazanah ilmu atau ajaran salafus shalih. Sedang salafiyun atau salafiyin ialah orang-orang yang mengikuti ajaran salafus shalih. Adapun salafy atau salafi ialah sebutan bagi orang-orang yang mengikuti ajaran salafus shalih. Salafiyah adalah ajarannya, salafiyin adalah para pengikutnya, sedangkan salafy adalah sebutan bagi mereka. Istilah salafy juga mencerminkan makna komunitas ideologis.
Yang dimaksud salafi dalam tulisan ini adalah sekelompok orang yang mengatakan dirinya sebagai penganut salafi, dengan karakter khas salafiyyun.

Karakter khas salafiyyun
Menurut Abu Abdirrahman Al Thalibi, dalam bukunya dakwah salafiyah dakwah bijak 2; menjawab tuduhan, (hal 264 – 275), karakter khas salafiyyun adalah:
1. Sangat membela istilah salafi atau salafiyah
2. Merasa sebagai kelompok paling benar
3. Sibuk mengingkari, membantah, atau mencela kesesatan orang lain dengan dalih berjihad membela Islam
4. Sangat sensitive terhadap penyimpangan dan sangat keras ketika mencela
5. Bersikap fanatik terhadap ulama dan kelompoknya
6. Tidak mengerti konsep hizbiyah dan terjerumus di dalamnya
7. Kurang memahami manhaj ahlus sunnah
8. Tidak jujur dalam perselisihan
9. Tolong menolong dalam kesesatan
10. Krisis dalam perkara akhlak

Implikasi dalam dunia penerbitan buku Islam
Faktor salafi acap kali diperbincangkan dalam penerbitan buku, seperti muncul pertanyaan, apakah buku ini bisa diterima di kelompok salafi?, ada beberapa ciri kelompok ini dalam mengkonsumsi buku:
1. Sebagian besar kelompok salafi, tidak mau membaca buku-buku karangan Yusuf Al Qaradawi
2. Kelompok yang menamakan salafi ini juga tidak akan membeli buku-buku yang ada gambar makhluk hidupnya, kecuali mukanya dihilangkan.
3. Sangat besar penghormatannya pada ulama-ulama dari kelompok mereka, implikasinya adalah jika ada buku yang direferensikan ustadz salafi, maka akan berdampak luas pada penerimaan buku tersebut di kelompok salafi, dan sebaliknya.
4. Jika suatu buku diberi pengantar oleh orang-orang yang dianggap tidak sefikroh dengan kelompoknya, bisa jadi buku tersebut ditolak di kelompok salafi.
Saya punya kasus satu buku yang pengantarnya dibuat oleh salah seorang ulama hadist di negeri ini, namun ternyata belakangan ulama tersebut ternyata tidak bisa diterima oleh kelompok salafi, secara terang-terangan ada yang meminta kepada kami, untuk menghilangkan kata pengantar dan nama ulama tersebut dari buku tersebut, saya geleng-geleng kepala, mendengar berita ini, sebegitunya kah sikap ekstrim kelompok salafi ini?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan penerbit dalam mensiasati prilaku konsumsi buku kelompok salafi, seperti: ada penerbit yang menerbitkan buku hanya untuk kalangan salafi, ada yang mensiasatinya dengan membentuk imprint baru yang seolah-olah tidak ada hubungannya sama sekali dengan induknya, ada juga yang tidak peduli. dll
Seharusnya tidak ada polarisasi seperti diatas , bukankah tema keislaman seharusnya bisa dibaca dan dinikmati oleh setiap ummat Islam, namun realitasnya berbeda

Seharusnya pihak penerbit buku Islam tidak menjadikan faktor salafi ini sebagai faktor yang sangat mempengaruhi corak penerbitan buku, biarkanlah ini sekedar realitas bahwasanya susah untuk menyatukan ummat Islam, namun produksilah buku-buku yang berkwalitas, sambil terus mengamati perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Dan menjadi pekerjaan rumah secara bersama-sama , mencari data valid berapa jumlah kelompok ini, agar kita lebih proporsional dalam mengambil kebijakan, kalaulah kelompok ini berjumlah 100.000 orang, mengapa ummat Islam yang ratusan juta lainnya seolah-olah tidak menjadi perhatian penerbitkan buku Islam .

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan diskusi untuk meletakkan sesuatu pada tempat yang pas dan sesuai dengan proporsinya

Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Selasa, 10 Maret 2009

Korelasi Negatif antara Krisis Ekonomi Makro dengan Penjualan Buku di Pameran


Oleh: Jaharuddin*

Beberapa hari ini saya sedang mengikuti pameran buku di Islamic Book Fair 2009, 28 Februari – 8 Maret 2009 di Gelora Bung Karno Jakarta. Ketika melihat antusiasnya para pengunjung mendatangi dan membeli buku di semua stand buku yang ada di event pameran ini, seolah-olah tidak mewakili kondisi ekonomi makro yang semakin berat.
Kompas online, 3 desember 08 menuliskan, pertumbuhan ekonomi pada 2009 diperkirakan mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2009, yakni 6 persen. Meskipun demikian, target APBN itu masih bisa tercapai jika Indonesia bisa mempertahankan aktivitas ekspor dan investasi.
”Nilai tengah pertumbuhan ekonomi kami perkirakan ada di level 5-5,5 persen,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati saat melaporkan kondisi terakhir krisis ekonomi kepada Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (2/12).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru (Kompas, 22/8/2008). Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang. Padahal, masih ada sekitar 9,427 juta penganggur terbuka yang menunggu pekerjaan saat ini.
Pameran ini mempunyai arti penting bagi banyak penerbit, karena kondisi ekonomi kurang baik , bangsa Indonesia juga sedang di sibukkan dengan hiruk pikuk pemilu yang tentunya bagi sebagian orang melelahkan, menjenuhkan dan adakalanya bikin mual, uang pajak rakyat di hamburkan untuk membiayai 48 partai peserta pemilu, caleg menghambur-hamburkan uang untuk membuat dirinya jadi terkenal dengan berbagai metode yang tidak kreatif dan tidak mendidik. implikasinya perhatian dan modalpun akhirnya juga bisa terkuras untuk aktifitas pemilu.

Dalam sejarah dunia penerbitan buku di Indonesia, saya menemukan keunikan tersendiri ketika perekonomian mengalami krisis. Misalnya tahun 98-an di saat ekonomi Indonesia memburuk, kita melihat dengan kasat mata penerbit buku muncul seperti jamur dimusim hujan.

Bisa jadi, tumbuhnya penerbit baru di era 98-an tersebut, karena terbukanya kran reformasi, sehingga terlepas dari kekangan yang selama orde baru tidak bisa di lakukan, namun jika tidak karena dukungan konsumen buku, maka bisa jadi penerbit-penerbit tersebut akan berguguran, kenyataannya tidak.

Faktor lain yang juga mempengaruhi potensi meningkatnya penjualan buku adalah, masyarakat Indonesia semakin terdidik, sadar akan pentingnya informasi dan pengetahuan, dan kondisi ”terjepit”nya perekonomian dan jenuhnya melihat narsisme para caleg, mendorong kepada banyak orang untuk mencari inspirasi dan menenangkan diri. Saya menduga untuk menjawab kebutuhan ini banyak orang akhirnya menjadikan buku sebagai solusinya. Misalnya dibutuhkan ketenangan hati yang lebih dengan cara mendalami dan me refresh pemahaman agama misalnya.

Melihat kondisi yang menggairahkan ini, bisa jadi stigma rendahya daya baca masyarakat Indonesia sudah bisa di tinggalkan, dan kita buang jauh-jauh dari Indonesia, bukti lain adalah toko-toko buku juga semakin tumbuh, misalnya gramedia akan menambah lebih dari 10 toko lagi ditahun 2009 ini.

Semoga Islamic Book Fair ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sangat butuh buku, dan ini mendorong insan perbukuan untuk meerbitkan buku-buku berkwalitas tinggi dan mencerdaskan masyarakat, saat yang sama juga bisa menghibur dan menenangkan kegalauan masyarakat. Amin.

*Praktisi pemasaran buku Islam

Senin, 09 Februari 2009

Menakar Buku Fiksi yang akan menjadi Best Seller


Oleh : Jaharuddin*

Para pekerja perbukuan terbelalak ketika buku Ayat-Ayat Cinta (AC) dan Laskar Pelangi mendapat respon yang luaaaar biasa oleh konsumen, kemudian diiringi dengan difilmkannya buku tersebut. Disamping meng endorse penjualan bukunya, juga mengangkat “derajat” penerbitnya karena banyak penonton film yang bisa jadi bukan pembaca buku, akhirnya melalui media film, mengenal penerbit yang menerbitkan buku tersebut. Dilihat dari tiras buku yang terjual buku-buku fiksi yang best seller biasanya penjualannya diatas penjualan buku-buku umum lainnya.

Dari pengkajian awal diketahui bahwasanya tidak semua penerbit yang menerbitkan buku fiksi akhirnya beroleh keberuntungan dengan best sellernya buku fiksi yang diterbitkan tersebut. ada beberapa penerbit yang tidak mampu menjual buku-buku novelnya dengan baik. Akhirnya buku menjadi menumpuk di gudang .

Untuk meminimalisir kemungkinan buku-buku fiksi yang diterbitkan menjadi buku slow moving dan menumpuk digudang, ada beberapa indikator buku-buku fiksi yang sukses di pasar, yaitu:
1. Tema yang unik
Tema yang unik paling tidak bisa diukur dari originalitas ide, kekuatan cerita, tema yang baru. Dengan demikian seharusnya penerbit tidak perlu takut dengan penulis-penulis yang belum berpengalaman, asalkan fiksi yang ditawarkan adalah fiksi yang unik. Namun tim seleksi naskah harus benar-benar jeli menilai naskah, apakah akan booming atau akan menjadi slow moving produk.
2. Pengarapan dan pengemasan produk
Ini bagian terpenting selanjutnya setelah naskah, karena bisa jadi ada buku yang sebetulnya temanya bagus, namun bahasanya sangat tidak “mengalir” atau malah menyulitkan pembaca, ini bisa jadi masalah besar dikemudian hari. Termasuk dalam pemilihan cover , cover yang baik disamping mampu mewakili isi, cover hendaknya juga unik dan mampu menarik perhatian calon pembaca. Jika ini diabaikan bisa berakibat fatal dalam penerbitan buku fiksi.
3. Promosi dan Pemasaran
Menurut saya untuk promosi buku fiksi yang harus dilakukan adalah berpromosi di media-media yang sesuai dengan segmentasi calon pembaca, kemudian diikuti dengan mengadakan promosi di toko-toko buku, misalnya dengan membuatkan standing banner/neon box di toko, yang diiringi dengan display buku yang menarik dan atraktif di tempat yang strategis. Diikuti dengan pemerataan distribusi buku berdasarkan toko dan wilayah, semakin mudah konsumen mendapatkan buku anda semakin baik, dan jangan lupa pastikan konsumen sangat mudah menghubungi hotline perusahaan anda seperti telp/sms/email/dll.
4. Pernah mendapat penghargaan di Negara asalnya
Jika naskahnya adalah naskah terjemahan, buku yang sudah mendapatkan best sellet, National Best Seller, atau International Best Seller, biasanya juga akan lebih mudah untuk menjadi best seller di Indonesia. Dan jangan lupa “gelar” ini, harus anda tampilkan di cover muka buku anda, diharapkan mampu meyakinkan calon membaca untuk membeli produk anda.
5. Mengambil segment pembaca yang sudah mempunyai penghasilan
Didasarkan klasifikasi pembaca terdapat dua kategori fiksi, yaitu fiksi populer untuk remaja, dan fiksi untuk dewasa. Nah untuk kategori pertama saya menduga akan sulit penjualannya ditahun ini, karena kondisi ekonomi masyarakat terganggu dengan kondisi krisis financial global, karena budget pembelian buku segement ini sangat terbatas dan dipengaruhi penghasilan orang tua. Yang akan tetap mendapatkan penjualan yang bagus adalah segmen kedua, karena para pembaca ini adalah mereka yang sudah mempunyai penghasilan sehingga kebutuhan akan buku tetap akan dibutuhkan walaupun nominalnya mungkin akan berkurang, ada kecendrungan kategori pertama juga melakukan peningkatan kualitas bacaannya dan membeli buku-buku fiksi kategori kedua.
6. adanya film yang mengendorse buku tersebut
dalam kasus Ayat-Ayat Cinta (AAC) dan Laskar Pelangi, kita melihat bahwa adanya film kedua novel tersebut , membuat dampak yang besar terhadap penjualan dan Prestise novel tersebut, seolah-olah belum dianggap gaul jika belum membaca novel AAC atau Laskar Pelangi.
Trend ini dimanfaatkan oleh beberapa penerbit untuk bekerjasama dengan Production House (PH), untuk membuat novel dari film-film yang mereka louncing ke pasar, paling baru saya melihat novel Perempuan Berkalung Sorban (PBS), juga cukup laku seiring dengan diputarnya film tersebut dibanyak bioskop. Sampai saat ini saya melihat adanya mutualisme antara PH dengan penerbit, ada film yang terinspirasi dari membaca novel, seperti AAC dan Laskar Pelangi, dan Ketika alam bertasbih, namun ada juga novel yang ditulis didasarkan film yang dibuat oleh PH, sampai saat ini novel yang paling sukses menurut saya adalah film yang terinspirasi dari novel.

Semoga indikator-indikator ini mampu memberikan inspirasi kepada banyak orang , terutama insan perbukuan, sehingga mampu menerbitkan novel yang berkualitas namun juga mencatatkan penjualan yang menakjubkan. Amin.

*praktisi pemasaran buku Islam, email: jaharuddin@gmail.com
http://penerbitbukuislam.blogspot.com

Rabu, 21 Januari 2009

Trend Buku 2009


Oleh : Jaharuddin*

Diakhir tahun pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi dan rapat-rapat di internal penerbitan buku. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tepat dan sangat dibutuhkan oleh penerbit buku, karena jika suatu penerbit mampu menjawab pertanyaan ini dengan tepat dan baik, maka keberuntungan dan laba tahun 2009 bisa mendekati kenyataan.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut paling tidak ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan agar pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan tepat dan baik. Faktor tersebut adalah analisis situasi tahun 2009 seperti peluang, dan tantangan 2009.

Tantangan
Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi industri perbukuan di Indonesia di tahun 2009, yaitu:
1. Dampak Krisis Finansial Amerika Serikat
2. Melambatnya pertumbuhan ekonomi
3. Meningkatnya penganguran
4. Pemilu
5. Makro Ekonomi yang tidak stabil
6. Daya Beli Masyarakat tertekan
untuk-faktor-faktor diatas, saya tidak perlu menguraikan panjang lebar, karena banyak sekali analisis yang menjelaskannya. Kongkulsinya adalah tahun 2009 diduga akan banyak terimbas dari krisis finansial di Amerika Serikat.

Peluang
Sebesar apapun tantangan yang akan dihadapi di tahun 2009, hendaknya dimulai dengan semangat optimis yang terukur dari setiap insan perbukuan dalam menerbitkan buku. Beberapa peluang tersebut adalah:
1. Pemilu 2009
Pemilu 2009, merupakan tantangan sekaligus peluang karena dari sisi ekonomi saya berkeyakinan pemerintahan SBY-JK akan mencoba mempertahankan kondisi ekonomi sebaik mungkin, dan akan melakukan kebijakan-kebijakan pro rakyat. Kenapa demikian karena sudah dipastikan SBY-JK ikut serta dalam pertarungan menjaga image untuk tetap bisa bertahan pada RI 1 atau RI 2. apapun akan dilakukan pemerintahan SBY-JK untuk menstabilkan ekonomi, paling tidak sampai pemilihan presiden berlangsung. Makanya di bulan Januari ini pemerintahan SBY-JK menurunkan kembali BBM ketiga kalinya, dan sudah bisa ditebak kebijakan ini akan dijadikan komoditas politik untuk menjaga image untuk perebutan hati rakyat tahun 2009. bagi penerbit paling tidak ini angin segar, walaupun belum tentu kebijakan ini akan bertahan jangka panjang.
Disamping itu, pemilu ini melibatkan banyak orang dan tentunya mempunyai anggaran yang sangat besar, dengan kondisi ini maka terbuka peluang bagi penerbitan buku untuk menerbitkan buku-buku yang menjawab kebutuhan banyak orang yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu, seperti untuk calon anggota legislatif misalnya, tentunya mereka membutuhkan buku panduan berkampanye yang efektif dan efisien, buku panduan menyusun anggaran kampanye, buku panduan penyusunan laporan keuangan partai, strategi komunikasi politik yang terbaik untuk caleg dan partai, panduan memilih partai dan calon presiden yang pro rakyat, Strategi memenangkan pemilu legislatif dan presiden, buku-buku proyek pencitraan caleg, seperti profil caleg, profil calon presiden, dan banyak lagi tema seputar pemilu yang dibutuhkan.
2. Buku-buku ekonomi syariah
Menurut data perbankan Syariah Bank Indonesia, pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia 5 tahun terakhir, rata-rata 60%. Ini merupakan angka yang spektakuler. Dan diperkirakan pertumbuhan perbankan syariah di Indonesia pada tahun 2009 ini pun juga akan mencapai angka 60%. Salah satu indikator pendukungnya adalah diperkirakan akan berdiri 8 Bank Umum Syariah lagi pada tahun 2009. seperti Bank Umum Syariah Bukopin, Bank Umum Syariah BRI, bahkan BCA pun akan membuka Bank Umum Syariah. Potensi lain para pelaku perbankan syariah dan ekonomi syariah secara umum merupakan kalangan terdidik dan mempunyai daya beli yang tinggi. Namun para penerbit harus menyadari juga bahwa, ekonomi syariah bukan hanya perbankan syariah, masih banyak sektor ekonomi syariah yang juga akan berkembang pesat dan membutuhkan buku-buku berkwalitas sebagai pendukung seperti pasar modal syariah, assuransi syariah, wakaf produktif, zakat, pegadaian syariah, leasing syariah, ekonomi mikro syariah, ekonomi makro syariah,ekonomi pembangunan syariah, ekonomi moneter syariah (dinar dan dirham), enterpreneurship syariah, fatwa-fatwa ekonomi syariah, dll.
Kebutuhan ini juga didasari semakin berkembangnya program studi dan jurusan ekonomi syariah disetiap kampus-kampus ternama di Indonesia.
3. Buku-buku pendidikan anak
Di saat ekonomi sedang tidak menentu karena dampak krisis finansial di Amerika Serikat. Setiap rumah tangga akan rasional dalam memilih produk yang akan dikonsumsinya, termasuk pengurangan atau penundaan konsumsi buku. Namun setiap orang tua tetap akan berusaha untuk bisa memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anaknya. Buku-buku pendidikan anak salah satu kebutuhan pendidikan anak. Dengan demikian saya memperkirakan permintaan dan kebutuhan masyarakat terhadap buku-buku pendidikan anak tidak akan tergangu banyak. Dengan demikian masih sangat prospek jika penerbit masuk menerbitkan buku-buku pendidikan anak, mulai dari pra sekolah sampai SD.
Apalagi saat ini pemerintah sedang giat-giatnya mengembangkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sampai-sampai setiap RW yang ada di Indonesia ditargetkan akan ada PAUD nya. Sekali lagi ini potensi besar yang selayaknya dilirik oleh banyak penerbit. Tapi setiap penerbit harus mempunyai komitment yang tinggi untuk membuat-buku-buku pendidikan anak yang berkwalitas tinggi. Karena jika penerbit hanya mengedepankan profit, dan asal laku, ini bisa menjadi bumerang bagi masa depan anak-anak kita dan generasi muda bangsa ini. Dan sebaliknya jika penerbit mampu menyajikan buku-buku anak-anak yang berkwalitas, maka penerbit juga memberi andil dalam terciptanya generasi-generasi yang berkwalitas di masa depan.
Terkait dengan ini, bisa juga di kombinasikan kebutuhan buku-buku ekonomi syariah dengan buku-buku anak, setahu saya belum ada buku-buku pendidikan anak yang membahas konsep-konsep ekonomi syariah, dengan level untuk anak-anak, ini akan membantu pengembangan ekonomi syariah yang sedang digalakkan pemerintah, sekaligus mengedukasi anak-anak sedari awal tentang ekonomi syariah.
4. Buku-Buku kewirausahawan dan motivasi
Seiring dengan banyaknya kasus PHK dan kemungkinan PHK di tahun 2009 ini, maka akan banyak pekerja yang kebingungan mencari alternatif pekerjaan yang cepat dan mudah dilakukan. Dengan demikian dibutuhkan buku-buku tentang kewirausahaan seperti: cara mudah memulai usaha sendiri, panduan usaha francise di Indonesia dan Luar Negeri, termasuk buku-buku motivasi untuk para pekerja yang kehilangan pekerjaan seperti: Tidak ada kata menganggur bagi setiap muslim yang baik, PHK bukan akhir kehidupan, dll.
5. Buku-buku agama Islam
Agama merupakan kebutuhan mendasar setiap manusia, sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun setiap orang membutuhkan makanan/gizi hatinya dalam bentuk tuntunan agama, apalagi kalau kondisi ekonomi dan sosial politik lagi tidak menentu, saya memperkiarakan kebutuhan masyarakat terhadap agama semakin tinggi. Hal ini dibuktikan sejak krisis tahun 1998, penerbit-penerbit buku Islam tumbuh bak jamur di musim hujan, dan sebagian besarnya mampu bertahan sampai saat ini, indikator lainnya adalah semakin semaraknya pameran-pameran buku Islam di banyak kota di Indonesia, serta siqnificannya penjualan buku islam di toko buku.
6. Mushaf Al-Qur’an
Penerbitan Mushaf Al-Qur’an, memang sudah lama dilakukan, bahkan sekarang departemen agama telah menerbitkan sendiri Al-Qur’an dengan membangun percetakan sendiri di Ciawi. Namun menarik juga diamati keberadaan mushaf Al-Qur’an semakin hari semakin berkembang seiring dengan kebutuhan dan kemudahan yang ditawarkan penerbit kepada masyarakat, seperti Al-Qur’an tadjwid, Al-Qur’an untuk wanita, dan banyak keunikan lainnya, yang paling baru dan fenomenal adalah Al-Qur’an terjemah kata perkata metode hijaz, yang diterbitkan penerbit as syamil. Al-Qur’an ini diterima sangat antusias oleh masyarakat.
semoga bermanfaat....

*praktisi pemasaran buku Islam, email: jaharuddin@gmail.com
http://penerbitbukuislam.blogspot.com

Jumat, 24 Oktober 2008

Peluang di Balik, Program Pendidikan Anak usia Dini (PAUD)


Latar Belakang
Tahun 2005 UNESCO mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terendah di ASEAN, baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86% dan Malaysia (89%). Dan kesemuanya ini semakin tampak dengan Human Development Index (HDI) Indonesia yang juga lebih rendah diantara negara-negara tersebut. Ini membuktikan bahwa pembangunan PAUD berbanding lurus dengan mutu dari sebuah negara yang terdiskripsikan dalam HDI.
Sedangkan Depdiknas dalam buku Pembangunan Pendidikan Nasional tahun 2007 menggambarkan bahwa Pemerintah telah berhasil meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD yang awalnya pada tahun 2004 adalah 39,09% maka pada tahun 2006 sudah mencapai 45,63% dengan target capaian pada tahun 2007 sebesar 48,07%, sudah barang tentu ini merupakan sebuah hal yang menggembirakan bagi pengembangan pendidikan anak usia dini. Kemudian disebutkan bahwa agenda-agenda yang akan dicapai pada tahun 2009 seperti pencapaian APK PAUD usia 2 – 6 tahun sebesar 53,90%. Akan tetapi perlu dikritisi untuk pencapaian 53,90% atau sekitar 10,05 juta orang kualitas dari layanan yang diberikan, bukan kepada kuantitas. Ini menjadi amat penting karena begitu dasarnya PAUD itu bagi seorang manusia dalam kehidupannya yang akan datang.
Pemerintah pada tahun 2001 telah mendirikan Direktorat khusus bagi PAUD yaitu Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia dibawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (sekarang disebut Ditjen PNFI), Direktorat yang bertugas untuk melayani PAUD pada jalur pendidikan nonformal dan informal. Ini disebabkan karena sebelumnya untuk layanan yang diberikan kepada anak usia dini baru pada usia 4 – 6 tahun melalui pendidikan formal yaitu TK, sedangkan melalui jalur pendidikan nonformal dan informal msih belum ada. Pendidikan formal pada tahun 2000 hanya mampu menyerap 12,65% dari total usia tersebut dengan Guru TK hanya sebanyak 95.000 orang untuk memberikan pelayanan 1,6 juta anak usia dini. Sedangkan untuk sisa 0 – 4 tahun masih belum terlayani, oleh karena itu maka Pemerintah berinisiatif untuk mendirikan Direktorat PADU (saat ini disebut Dit. PAUD) yang bertugas untuk melayani anak usia dini yang berumur 0 – 4 tahun.
Perlu diingat, setiap anak itu mempunyai potensi yang unik ketika ia lahir di muka bumi ini, baik secara fisik (jasmani) maupun non fisik (akal, hati dan lain sebagainya), dan dari itu semua sesungguhnya kuncinya ketika anak tersebut berumur 0 – 6 tahun, seperti yang tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas pada pasal 28. Bahkan dalam pasal tersebut juga dijelaskan ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan anak usia dini yaitu: pertama, pembinaan anak usia dini merupakan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Kedua, pengembangan anak usia dini dilakukan melalui rangsangan pendidikan. Ketiga, pendidikan anak usia dini bertujuan untuk dapat membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani (holistik). Dan keempat, pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan persiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Untuk bidang SDM dalam pengembangan PAUD ini dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 29 yang menjelaskan bahwa standar minimal bagi Pendidik PAUD adalah D-IV atau Sarjana dengan latar belakang pendidikan PAUD, psikologi atau pendidikan lainnya yang telah bersertifikasi profesi guru untuk PAUD. Yang kesemuanya merupakan bentuk perhatian Pemerintah betapa pentingnya PAUD bagi bangsa ini .

Bentuk Pendidikan anak
Bentuk dari pendidikan PAUD ini adalah, seperti Play Group untuk anak usia 0 – 6 tahun. Ada yang formal didirikan oleh pemerintah, dan ada juga didasarkan pada swadaya masyarakat. Diharapkan pada setiap kampung di seluruh Indonesia ada PAUD nya.

Realisasi Program
Menurut data direktur PAUD Diknas, pada tahun 2007 Layanan PAUD secara formal dan nonformal, telah menjangkau 13 juta lebih dari 28 juta anak usia dini di seluruh wilayah Indonesia. Untuk anak usia 0-4 tahun berjumlah 20,5 juta. Anggaran PAUD juga terus ditingkatkan dari Rp 221 miliar pada tahun lalu, tahun 2008 naik dua kali lipat. Tahun 2015 layanan PAUD diusahakan bisa mencapai 75 persen semua anak usia dini .

Potensi anggaran
Anggaran untuk pelaksanaan PAUD berasal dari APBN, APBD dan swadaya masyarakat, berikut ini contoh anggaran PAUD dibeberapa daerah:

Di Kabupaten Rokan Hulu, Riau pada tahun 2007, terdapat 100-an desa yang telah ada PAUDnya, anggaran per masing-masing desa sebesar Rp. 160 juta pertahun .

Tahun 2007, dana PAUD Propinsi Riau sebesar Rp. 2.373 juta (2,3 M), tahun 2008 menjadi Rp. 2.486 juta (2,4 M), meningkat 4,56%

Tahun 2008, di Kabupaten Lamongan mendapat alokasi dana cukup besar dari APBD, yakni mencapai Rp 4,187 miliar. Alokasi dana tersebut untuk pendidikan anak usia dini (PAUD)/play group dan taman kanak-kanak (TK)/raudlatul Athfal (RA) .

Alokasi anggaran untuk PAUD dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, terus meningkat dari tahun ketahun, tahun 2003 total sebesar Rp. 475 juta, tahun 2007, melonjak sekitar 15 miliar. Ini diluar anggaran pemerintah propinsi yang besarnya 1,14 miliar.

Melihat manfaat yang begitu besar program pendidikan anak usia dini (PAUD), pemerintah akan memperluas cakupan program PAUD hingga meliputi 3.000 desa miskin di seluruh Indonesia. Program dengan alokasi dana 127,74 juta dolar AS dana berasal dari pinjaman lunak bank dunia, hibah kerajaan belanda, dan APBN, diperuntukkan bagi 783 ribu anak usia 0-6 tahun .

Pada 2006, PAUD memperoleh anggaran Rp 135 miliar ditambah Rp 9 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP). Menurut Direktur PAUD, Gutama, jumlah tersebut masih sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan meningkatkan akses PAUD secara maksimal. Pada 2007, sudah dipastikan PAUD akan memperoleh anggaran Rp 199 miliar. Dana sebesar itu, kata dia, akan dipergunakan untuk sosialisasi serta peningkatan dana rintisan dan kelembagaan

Anggaran yang digelontorkan untuk PAUD nonformal juga terus meningkat. Pada tahun 2007 misalnya total anggaran untuk PAUD mencapai Rp221 miliar, dan meningkat pada tahun 2008 menjadi Rp430 miliar.

Alokasi anggaran Untuk pembelian Buku
Tentunya dana sekitar 430 miliar tersebut, sebagiannya akan di belanjakan untuk alat bantu pendidikan seperti alat peraga dan buku-buku, walaupun belum diketahui dengan pasti berapa besarnya dana yang dialokasikan untuk pembelian buku, namun ini merupakan potensi yang besar sekali untuk dimasuki para penerbit buku.

Peluang
Program pemerintah dalam rangka peningkatan kualitas SDM tersebut, disertai dengan anggaran yang sangat besar sekali, dalam proses pendidikannya, sehingga paling tidak ada beberapa faktor yang menyebabkan program ini seharusnya dioptimalkan pemamfaatan peluangnya oleh penerbit, yaitu:
1. Total anggaran untuk PAUD tahun 2008, sebesar Rp.430M
2. Pemerintah SBY mempunyai komitment yang kuat bahwa tahun 2009 nanti dana anggaran untuk pendidikan nasional harus 20%, ini berarti besaran anggaran yang akan diaalokasikan untuk PAUD, akan terus meningkat
3. saat yang sama pasar buku non anak sedang tertekan, akibat dampak dari kenaikan BBM dan Krisis financial, namun kebutuhan anak-anak tetap akan meningkat dan menjadi prioritas pengeluaran keluarga.

Pemain Pengadaan Buku untuk PAUD
1. Penerbit Dar Mizan
2. Penerbit As Syamil
3. Penerbit Zikrul Hakim
4. Penerbit Bumi Aksara Kids
5. Penrbit Erlangga
6. Indiva, Surakarta
7. dll

Trik Penerbit yang sekarang ikut menawarkan produk
Saya mendapatkan informasi, bahwa ada penerbit yang hanya membikin Dummy, dummy tersebut, ditawarkan kepada bagian pengadaan pemda, setelah mendapat kejelasan buku tersebut masuk dalam proyek pengadaan, baru di cetak secara massal.

Apa yang harus dilakukan Penerbit
1. Buat kesepakatan apakah penerbit mau juga berburu potensi dana tersebut
2. bentuk tim pembentukan imprint anak
3. cari 1 orang SDM yang berpengalaman untuk membuat produk-produk buku-buku PAUD
4. SDM tersebut langsung bertanggung jawab ke Direktur
5. Pemasaran memamfaatkan jalur yang sudah ada, ditambah tim proyek

Jalur Distribusi
Saluran distribusi yang bisa digunakan adalah jalur distribusi konvensional, seperti toko-toko retail, toko-toko buku lainnya, namun perlu juga di cari informasi tentang tim yang biasa memasukkan proyek ke pemerintah.

Penutup
Demikianlah, peluang yang mungkin bisa diambil oleh perusahaan penerbit, ikut berkontribusi dalam mensukseskan PAUD ini. Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Senin, 06 Oktober 2008

Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM)


Bulan Januari yang lalu saya diberi kesempatan oleh kantor saya untuk belanja naskah dan berkunjung ke pameran buku Internasional di Kairo, pameran ini merupakan salah satu pameran buku terbesar di dunia setelah pameran buku Internasional di Frankfurt, Jerman, yang biasanya di adakan bulan oktober setiap tahunnya. saya bertemu dengan teman lama yang sekarang ternyata juga membuat penerbitan buku Islam. Saat bincang-bincang tentang penerbitan, salah satunya kami terlibat diskusi seputar pemasaran buku. Sejak tahun 2002 Sehari-hari saya mengeluti dunia pemasaran buku Islam, akhirnya saya menawarkan diri untuk membantu memsupervisi jika penerbitan beliau punya masalah dalam tim pemasarannya.

Bincang-bincang tersebut, awalnya menguap seiring dengan sesampainya di tanah air saya juga disibukkan dengan pekerjaan dipenerbitan dan teman saya tersebut, juga sibuk, karena saat mendirikan penerbitan beliau juga sedang mengambil program doctoral di Libya. Nah hari ini 6 oktober 2008, saya dikontak lagi oleh teman tersebut menagih janji yang dulu sempat kita bincangkan di Kairo. Apa yang harus dilakukan untuk memperkuat tim marketing penerbitan buku Islam.

Terinspirasi dari hal tersebut, saya menuliskan pengamatan saya tentang suatu penerbit buku Islam, cukup besar di Jakarta, dengan omset penjualan 10 – 20 M per tahun, untuk menjaga etika terhadap penerbit tersebut ,selanjutnya penerbit ini kita sebut sebagai penerbit A.

Ada satu teori sederhana yang banyak digunakan dalam membuat suatu produk, yaitu Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM), dengan berbekal teori sederhana ini, saya mencoba memaparkan hasil pegamatan saya terhadap penerbit A dengan sistematika SWOT, dengan harapan untuk diambil pelajaran bagi penerbit A tersebut, bagi teman saya dan bagi banyak orang yang berminat mendirikan penerbitan atau orang-orang yang sekarang sedang bekerja di dunia penerbitan buku Islam.

Strenght (Kekuatan)
1. Terdapat lebih kurang 20-an buku best seller yang temanya dibutuhkan sepanjang waktu (long live cycle)
2. Jumlah produk yang aktif di cetak + 250 judul
3. Jaringan distribusi langsung yang di tangani dari pusat ada sekitar 350 toko (yang terdiri dari toko-toko buku Islam konvensional, TB Gramedia/Tri Media, TB Gunung Agung, TB Karisma, TB Utama/Book City, TB Tiga serangkai, TB Kurnia Agung, TB Semesta, dll).
4. Terdapat 5 – 8 judul buku baru perbulan
5. Karakter yang kuat sebagai penerbit yang terdepan memerangi faham liberal dan aliran sesat.
6. Back up financial yang memadai
7. Suasana kerja, mengedepankan kultur kekeluargaan

Weakness (Kelemahan)
1. Lambat merespon keinginan pasar, contoh sudah 4 tahun diusulkan agar penerbit A ini membuat Al Qur’an, dan baru disetujui oleh direktur , tahun 2008 ini, itupun tidak ada kejelasan kapan akan diterbitkan, begitu juga lini, anak-anak, sudah diusulkan lama sekali, namun lambat direspon oleh direktur, begitu juga lini fiksi, sudah diusulkan lama, yang paling mengecewakan adalah tidak jelas, apa hambatan dalam membuat lini tersebut
2. Tidak mampu mempertahankan karyawan potensial
3. Design cover dan packaging yang kuno
4. Kualitas cetak dan lay out yang tidak berkembang, tetap seperti dulu (kuno)
5. Belum ada kesungguhan dari mulai direktur sampai ke manager untuk
membuat sistim yang kuat, seperti Standar waktu ideal dari semenjak naskah diterima penerbit sampai buku tersebut siap dipasarkan, Standar operating Proyek (SOP), petunjuk pelaksana yang tertulis, dll
6. terpisahnya departemen produksi dan departemen redaksi, yang berakibat
pada tidak jelasnya kapan buku bisa diterbitkan, karena masing-masing mempunyai otoritas sendiri, dan direktur tidak mampu memaksa kedua departemen ini untuk bisa bekerjasama.
7. promosi yang belum terarah


Opportunity (Peluang)
1. Terbuka lebar kesempatan untuk mengembangkan penjualan, karena jaringan distribusi sudah siap
2. pasar potensial buku Islam semakin besar karena jumlah dan kesadaran religi masyarakat semakin baik
3. Masyarakat masih sangat membutuhkan buku-buku dengan tema ibadah, buku-buku bacaan anak-anak, dan al qur’an dengan berbagai jenisnya

Treath (Ancaman)
1. Bermunculannya penerbit baru yang bisa cepat merespon kebutuhan pasar dan mampu cepat membuat produk yang siap dipasarkan.
2. sampai saat ini penerbit A ini masih berbadan hukum CV (perusahaan pribadi), dalam pelaksanaanya direktur Sangat dominant, sampai-sampai pesanan tidak akan bisa terkirim ke relasi jika uang di keuangan tidak ditambah oleh direktur dengan cara mengambilnya terlebih dahulu di ATM, artinya jika terjadi “apa-apa” dengan direktur, maka tidak jelas nasib penerbit A ini, apakah bisa berlanjut atau langsung bubar

Nah, dari SWOT diatas terhadap penerbit A, maka diharapkan bagi siapa saja mampu memilah-milah , mana faktor yang siknifikan mempengaruhi penerbitan buku Islam, selanjutnya jika faktor tersebut anda anggap penting, maka tirulah dan modifikasi sesuai dengan kebutuhan perusahaan anda, selamat mencoba.

Jaharuddin
Praktisi pemasaran Buku Islam

Kamis, 11 September 2008

Editor adalah Idetor


Beberapa hari yang lalu, saya mendapat cerita dari teman yang ikut pelatihan pemasaran buku di IKAPI Jaya, dari cerita teman tersebut ada beberapa hal yang bisa saya sharing, Semua penerbit tentunya mengharapkan mampu menerbitkan buku yang berkwalitas sekaligus buku yang laku (best seller) di pasar. Namun keinginan ini belum tentu selaras dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh penerbit sendiri untuk menjadikan produknya (bukunya) yang berkwalitas dan best seller. Jika buku menjadi buku yang best seller banyak pihak akan menjadi senang, baik penulis, penerbit termasuk juga toko buku.

Salah satu faktor penting dalam terbitnya buku berkwalitas dan best seller adalah , editor bukan hanya sebagai pengedit naskah yang masuk ke redaksi, namun editor juga mempunyai ide (idetor) yang kreatif, sehingga naskah yang biasa-biasa saja akhirnya bisa menjadi luar biasa di tangan idetor. Salah satu contoh misalnya ketika naskah yang diterima fontnya monoton, dan kurang kreatif, maka sang idetor seharusnya mampu mencarikan font yang baik, enak dimata dan bisa jadi menambahkan diagram, flow chart, dan lain sebagainya. Wal hasil jadilah buku yang kreatif, inovatif dan best seller.

Mungkin ada yang berfikir, lo…kalau begitu bisa jadi seorang idetor akhirnya seperti penulis?, bisa jadi ya, karena editor yang baik, sekaligus juga bisa sebagai penulis yang handal. Satu hal lain lagi yang perlu dikembangkan di editor dan staff keredaksian adalah semangat menerima kritikan dan mau memberikan kritikan yang pedas sekalipun untuk pengembangan produk, karena adakalanya tidak semua orang siap menerima kritikan, apalagi menyangkut kerja yang telah dilakukan seseorang, nah untuk menumbuh suburkan “semangat bisa menerima” ini, suasananya harus dibuat sekondusif mungkin sehingga orang bsia menerima, termasuk setter, designer, dll yang terkait. Harus dilibatkan dan diajak untuk bisa saling menerima.

Dalam konteks pemasaran buku, kualitas produk sangat menentukan keberhasilan buku di pasaran, sebagai misal buku yang isinya sangat berkwalitas tapi tidak di “packaging” dengan baik, berdampak pada tidak terjualnya buku tersebut kepasaran, begitu juga naskah (bahasa arab atau dari bahasa Ingris) yang kualitasnya bagus namun diterjemahkan dengan asal-asalan, akan berdampak juga pada penjualan, jadi kombinasi pada naskah yang bagus dan penampilan yang menarik merupakan salah satu faktor penting best sellernya produk.

Untuk menjaga semangat editor yang idetor, dapat ditempuh dengan kunjungan ke toko buku, kunjungan ke pameran, mengadakan diskusi terbuka tentang ide baru, melakukan kajian mendalam kenapa buku “A” menjadi best seller. seperti laskar pelangi, paling tidak ada beberapa faktor yang menyebabkan buku tersebut menjadi best seller, seperti :
1. buku yang baik itu ada tokoh disana
2. bahasanya bahasa obrolan
3. mengikuti trend yang ada
4. sehingga orang ketika membaca, orang kembali membicarakannya, promosi mouth to mouth
5. kertasnya enak dibaca, dll

Trade off antara target dan kualitas buku

Adakalanya seorang editor sering mengeluhkan antara target yang dibebankan dengan membuat buku yang berkwalitas, “bagaimana mau membuat buku yang berkwalitas saat yang sama juga ditargetkan harus mampu membuat sekian judul buku dalam sebulan”. Seharusnya ini tidak perlu dipertentangkan, karena selayaknya editor (Idetor) yang professional mampu mengawinkan antara kualitas yang tinggi dengan kecepatan yang terukur dalam menghasilkan produk. Jadi tetap target tercapai dengan cepat namun kualitas dan proses kreatif juga selalu menjadi hal yang utama.
Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Rabu, 03 September 2008

Gramedia Cirebon Order ulang Aritmatika jari metode AHA sebanyak 500 eksemplar


Metode Asma’ul Husna Arithmetic (AHA),adalah konsep yang menyenangkan dan digunakan oleh lebih dari 5000 siswa di lembaga pendidikan Arya Group sejak tahun 2001, untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan mengunakan keseluruhan otak.

Aritmatika Jari Metode AHA, ditujukan untuk segala umur, lebih khusus bagi mereka yang berusia 5 tahun ke atas. AHA dapat membantu meningkatkan ketrampilan kita dalam berhitung tanpa kalkulator. AHA merupakan produk yang diimplementasikan dari hasanah dunia Islam, memiliki landasan ilmiah dan trasendental serta kajian literatur yang bisa dipertangung jawabkan.

Melalui Aritmatika Jari Metode AHA ini, setiap muslim bukan hanya diajarkan untuk mengerti, memahami dan pintar dalam berhitung yang itu merupakan “tools” untuk sukses dalam kehidupan , namun kita juga dituntun untuk memperdalam keimanan kepada sang Khalik.

Sampai bulan Agustus telah terjual + 5.000 eksemplar, dan pada bulan September ini akan dicetak kembali sebanyak 7.000 eksemplar, melihat permintaan toko yang begitu baik, seperti TB Gramedia Cirebon order ulang sebanyak 500 eksemplar, dan penulisnya sedang giat-giatnya melakukan seminar di berbagai kota , mulai dari Batam, Tanjung Pinang, Jakarta Utara, Bekasi dan Bandung . kemudian pada setiap seminar yang diadakan selalu animo peserta sangat antusias, seperti yang pernah diadakan pada Islamic Center Jakarta Utara tanggal 12 agustus 2008, panitia harus menambah bangku peserta karena peserta membludak, melihat kesunguhan promosi dari penulis dan animo peserta maka diyakini akan mendorong terjadinya peningkatan penjualan terhadap buku ini.

Agenda seminar terdekat:
1. Tanggal 7 September 2008, di Bekasi, cp bapak wisnu 08568970008
2. Untuk kesekian kalinya akan diadakan kembali seminar di Batam, tanggal 13 – 14 september 2008, cp Ade Verid 08192676972
3. Tanggal 21 september 2008, di Bandung, cp Deden 02292839401
4. dan agenda lainnya menyusul.

Bogor Book Fair 2008


Selasa 2 september 2008,saya sempat mengunjungi Bogor Book Fair 2008, yang diadakan di PPIB Bogor, di samping Masjid Raya Bogor, ada sekitar 50 - 70 stand dibuka di sana. dari pengamatan seentara saya beberapa jam di lokasi pameran, pameran bisa dikategorikan sebagai pameran yang sepi pengunjung, bahkan beberapa stand yang sempat saya ajak dialog mengeluhkan sepinya pengunjung, bahkan ada yang berkomentar lebih sepi dari pameran Garut.

Mengapa demikian? ada beberapa faktor yang mungkin bisa menjadi penyebab, seperti masih minimnya promosi panitia, tidak berhasilnya panitia mendatangkan penerbit-penerbit besar dari Jakarta seperti GIP, Mizan, dll, bisa jadi juga dipengaruhi oleh culture pengunjung yag sedang melakukan ibadah shaum ramadhan, sehingga cendrung malas untuk berkunjung ke pameran, dll.

padahal sejauh pengamatan saya dari penjualan di toko-toko buku di Bogor seperti Gramedia, TB Al Amin, Toko Gunung Agung, penjualan di toko-toko tersebut bisa dikategorikan sebagai toko-toko yang mempunyai penjualan yang baik, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya potensi pasar buku terutama buku Islam di wilayah Bogor, berketegori baik dan sangat menjanjikan.

nah, kenapa pameran belum berhasil menarik pengunjung dan menghasilkan penjualan maksimal? ini tugas kita bersama dan panitia untuk mencari solusi terbaik mengenai pameran di Bogor.
salah satunya mungkin adalah tempat yang lebih representatif di kota bogor, namun tetap di dalam ruangan, karena bogor merupakan kota hujan.
wallahu' alam....

Kamis, 26 Juni 2008

Strategi peningkatan penjualan di pameran


Paling tidak di Jakarta ada tiga perhelatan pameran besar yang biasanya dikuti dan menjadi hajatan bersama para penerbit, yaitu Islamic Book Fair, Pesta Buku Jakarta dan Indonesia Book Fair. Lima tahun terakhir, jumlah pameran meningkat drastis, terutama di daerah, bahkan di Yogya dalam satu tahun mungkin bisa sampai 15 kali pameran buku, ini berarti setiap bulan ada pameran buku.

Tujuan utama pameran sesungguhnya adalah memperkuat positioning perusahaan di pasar dan di industri yang sejenis (Brand activation), makanya pameran menjadi tonggak evaluasi produk-produk yang ingin diluncurkan kepasar, sekaligus menakar respon pasar terhadap produk yang telah diluncurkan.

Namun tidak bisa dipungkiri, salah satu dari tujuan antara pameran buku adalah meningkatkan penjualan pada saat pameran, hal ini disebabkan belum berkembang pesatnya transaksi copy right dalam industri perbukuan Indonesia, diringi dengan biaya stand yang semakin tinggi dan biaya operasional yang juga semakin tinggi mengakibatkan para pekerja buku berharap banyak pada penjualan saat pameran.

Ada tiga Faktor yang berpengaruh terhadap penjualan di stand pameran:

1. Traffic / jumlah pengunjung

Jumlah pengunjung sangat mempengaruhi penjualan di pameran, semakin banyak jumlah pengunjung semakin tinggi kemungkinan terjadinya peningkatan penjualan di pameran. Dalam konteks ini, maka posisi stand yang strategis yaitu posisi stand yang paling dekat dengan arus utama lalu lintas pengunjung menjadi sangat strategis dalam meningkatkan penjualan di stand pameran. Logika inilah yang membuat para penerbit berlomba-lomba mendapatkan lokasi terbaik pada setiap pemeran yang akan diikuti.

2. Average Check. yaitu total pembelian per transaksi.

Faktor kedua yang berpengaruh terhadap peningkatan penjualan pameran adalah total pembelian per transaksi. Idealnya setiap penerbit melakukan evaluasi setiap kali pameran selesai dilaksanakan. Carilah angka rata-rata setiap pembelian pada setiap konsumen per kali transaksi di stand anda. Cara yang paling mudah dilakukan adalah dengan cara mengetahui jumlah total transaksi per hari, dan jumlah pembeli yang melakukan transaksi pada hari tersebut, tinggal dibagi, antara total penjualan dibagi jumlah orang yang bertransaksi. Maka didapatlah average check.
Setelah angka ini diketahui, maka setiap penerbit membuat perencanaan untuk meningkatkan jumlah transaksi per tiap transaksi yang dilakukan. Salah satu contoh yang bisa dilakukan penerbit adalah dengan cara menawarkan paket buku dengan tema tertentu kepada konsumen. Atau juga bisa dalam bentuk mendongrak rata-rata penjualan per transaksi dengan memberikan stimulus bonus jika transaksinya per orang konsumen mencapai angka tertentu. Misalnya : jika konsumen membeli netto sebesar Rp. 250.000,- maka mendapatkan bonus 1 buah mug cantik dari penerbit, dan banyak lagi program lain yang bisa anda lakukan.

3. % Closing Ratio adalah rasio antara jumlah pengunjung yang melakukan transaksi dengan jumlah total traffic pengunjung yang datang ke stand.

Dengan demikian pengunjung yang banyak saja belum tentu langsung berdampak pada peningkatan penjualan, jika jumlah pengunjung yang melakukan transaksi tidak meningkat. Maka para penerbit diharapkan membuat program-program yang langsung mengstimulan pengunjung untuk bertransaksi selama pameran/pada saat itu juga. Misalnya dengan membuat program jika anda melakukan transaksi selama pameran, maka anda mendapatkan discount ...%, bonus ..., dan seterusya. Dan tidak akan ditemui para konsumen setelah pameran.

Inilah beberapa faktor penting yang seharusnya mendapat perhatian serius, para penerbit buku jika menginginkan terjadinya peningkatan penjualan selama pameran. Namun strategi ini akan bisa berjalan dengan efektif, jika dari awal penerbit juga menjaga kualitas produk, baik kualitas isi, packaging dan kualitas pelayanan kepada konsumen.

Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi marketing buku Islam

Selasa, 24 Juni 2008

Peluang, Penerbitan Buku Islam berbahasa Inggrish

28,35% Penduduk dunia pada tahun 2006 beragama Islam, ini berarti 1.789.770.000 orang penduduk dunia beragama Islam, sedangkan jumlah populasi dunia pada tahun 2006 adalah 6.313.780.000 orang.

Sementara itu data populasi muslim di kota-kota besar eropa tahun 2007[1], adalah
Marseiles 25% = 200 rb jiwa dari 800 ribu jiwa
Amsterdam 24% = 180 rb dari 750 ribu jiwa
Stockholm 20% = 155 rb dari 771.038 jiwa
Brussels 17 – 20 % = 160 – 220 ribu
Moscow, 16 – 20% = 2 juta dari 10-12 juta jiwa
London, 17% = 1,3 juta dari 7,5 juta penduduk
Birmingham, 14,3%= 139.771 jiwa
Utrecht, 13,2% = 38.300 dari 289 ribu jiwa
Roterdam, 13% = 80 ribu dari 600 ribu jiwa
Copenhagen, 12,6%= 63 ribu dari 500 ribu penduduk
Paris, 7,38% = 155 ribu dari 2,1 juta jiwa
Hamburg, 6,4% = 110 ribu dari 1,73 juta jiwa
Berlin, 5,9% = 200 ribu dari 3,4 juta jiwa

Dari data di atas paling tidak terdapat 4.781.071 jiwa muslim di 13 kota eropa, ini merupakan pasar potensial bagi penerbit buku Islam, seharusnya sangat mudah untuk menjual 3.000 eksemplar buku jika dipasarkan di eropa.

Potensi pasar

Beberapa faktor pendukung peluang pasar buku agama Islam berbahasa Inggris adalah:
1. Pendidikan dinegara-negara maju seperti Eropa, Amerika dan Australia, termasuk Singapura dan Malaisya pendidikannya tinggi.
2. Jika buku diterbitkan dalam bahasa Inggrish maka paling tidak bisa dipasarkan mulai dari Singapura, Malaisya, Eropa, Amerika dan Australia, karena mayoritas negara-negara ini mempunyai kemampuan yang baik dalam penguasaan bahasa Inggrish
3. Akan membantu meningkatkan pemahaman masyarakat muslim di negara-negara tersebut terhadap agama Islam, yang bisa jadi baru mereka anut
4. Penyebaran buku Islam di negara-negara tersebut mampunyai posisi yang sangat strategis, karena tingkat keingin tahuan masyarakat non muslim terhadap Islam semakin tinggi
5. Kemampuan beli masyarakat muslim dinegara maju tinggi

Langkah realisasi
1. Pilihlah tema buku yang tepat untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggrish
Salah satu tema yang diduga mudah untuk menjualnya di negara maju tersebut adalah tema ibadah, dan buku-buku yang memberi nasehat tanpa perlu mengurui
2. Saat yang sama lakukan survey pasar dan saluran distribusi yang bisa digunakan dalam ”mengekspor” buku kenegara tujuan
3. Jadikan Singapura sebagai pintu masuk kenagara-negara lain, seperti layaknya perdagangan yang lain

Tantangan

Tantangan yang menghadang didepan mata dalam mendistribusikan buku Islam ke negara lain adalah:
Belum terbangunnya saluran distribusi
Bisa jadi ada beberapa negara penguasaan bahasa ingrishnya juga terbatas
namun tantangan ini lambat laun harus di hadapi oleh para penerbit buku Islam, dan seiring dengan waktu maka saluran distribusi juga akan terbentuk, sambil mengetahui Taste pasar di negara-negara tersebut. Silakan siapa penerbit yang mau mencoba.

Jaharuddin
[1] Sumber: majalah gontor juni 2008

Sabtu, 14 Juni 2008

Sharia Collection skills & strategy in publishing

ide ini muncul ketika ada teman yang diundang untuk mengikuti pelatihan collector berbasis syariah, setelah teman saya mengikutinya maka dia bercerita bahwa base teori dan pembahasan yang didapatkan adalah Perbankan. agak jauh berbeda dengan industri penerbitan dimana teman saya bekerja.
nah akhirnya saya terfikirkan, menarik juga kalau ada yang mau mengadakan sharia collection skliss & strategy in publishing, jadi fokusnya pada industri penerbitan, sepengetahuan saya jumlah penerbitan buku saja di Indonesia, lebih dari 600 perusahaan, apalagi kalau dihitung juga penerbitan majalah, koran, dll, tentunya banyak kan...
nah, topik yang bisa di angkat bisa berupa:
1. Prinsip-prinsip dan esensi penagihan berbasis syariah
2. Manajemen resiko pada penagihan syariah
3. Dasar-dasar strategi penagihan syariah
4. Aspek psikologis dan cara berkomunikasi efektif dalam aktivitas penagihan syariah
5. Teknik negosiasi untuk debitur individual
6. Teknik penagihan berbasis solusi
7. teknik penagihan dibitur komersial syariah
silakan siaapa yang mau melakukannya, semoga bermamfaat.
dari: idekami.blogspot.com

Benarkah pasar buku sedang lesu?

Beberapa waktu yang lalu ada salah seorang direktur penerbit, shilaturahim ke kantor saya, dari beberapa topik pembicaraan kita, ada satu pertanyaan yang bagi saya mengelitik, yaitu Benarkah pasar buku sedang lesu? , paling tidak ada beberapa faktor penyebab yang bisa menjelaskan, kelesuan pasar buku belakangan ini:

1. Tahun Ajaran Baru (TAB)
sudah menjadi siklus rutin pada setiap bulannya, saat TAB, porsi pembelian konsumen buku tehadap buku yang tidak terkait langsung dengan keperluan TAB, akan menurun, hal ini bisa dijelaskan bahwa, pada musim TAB sebagian besar konsumen buku juga disibukkan dengan persiapan anak-anak mereka.
2. Kenaikan harga BBM
Kenaikan BBM mempunyai dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, karena dengan naiknya harga BBM, akan diikuti naiknya biaya-biaya keseluruhan, seperti transpotasi, kenaikan biaya-biaya ini juga akan mendorong naiknya harga-harga secara umum (inflasi), difihak lain pendapatan sebagian besar masyarakat tidak meningkat, akhirnya daya beli masyarakat akan turun.
nah dengan kondisi daya beli masyarakat menurun, maka masyarakat akan melakukan langkah rasionalisasi yaitu selektif dalam mengunakan anggarannya yang terbatas, akibatnya masyarakat akan memprioritaskan kebutuhan pokoknya. nah kita tahu bersama, buku merupakan kebutuhan skunder, atau mungkin bisa jadi tersier, artinya buku tidak menjadi prioritas dalam rincian belanja masyarakat kebanyakan. nah faktor ini lah yang mengakibatkan naiknya harga BBM berimbas semakin kecilnya porsi anggaran konsumen dalam membeli buku.
3. Naiknya harga kertas.
ketika kenaikan BBM masih menjadi isu saja, harga kertas sudah naik, apalagi ketika BBM benar-benar jadi dinaikkan, faktor terbesar dalam memproduksi buku adalah kertas, akibatnya biaya produksi penerbitan semakin meningkat, yang berdampak pada HPP juga ikut meningkat, penerbit berusaha bertahan dengan cara meningkatkan harga penjualan per halaman. akhirnya berdampak, harga buku juga dinaikkan.

paling tidak ketiga faktor ini berpengaruh terhadap kelesuan pasar buku akhir-akhir ini, beberapa pameran yang saya ikuti seperti di Jambi, Padang, Jombang, Purwokerto, yogya, semarang, dll hampir semua pameran dari sisi penjualannya turun.

akankah pesta buku jakarta yang akan digelar tanggal 28 juni - 5 juli nanti, akan mengalami nasib yang sama, saya yang merupakan bagian dari industri pebukuan, sangat berharap dugaan ini meleset. paling tidak ada salah seorang bagian pembelian di salah satu toko buku, berpendapat, saat ekonomi masyarakat dan kondisi politik pada tahun 1998 tidak menentu, penjualan buku malah mengalami peningkatan yang siqnifikan. akan kah itu akan terjadi kembali? semoga

Senin, 09 Juni 2008

Manajement Piutang dalam penerbitan

Salah satu faktor penting dalam, industri penerbitan buku adalah manajemen piutang, karena ini terkait dengan kelancaran para distributor/toko dalam membayar piutang.

Beberapa bentuk kerjasama penjualan

ada beberapa bentuk kerjasama penjualan diantara penerbit dan distributor/toko yang saya ketahui:
1. Sistim Kredit tempo tertentu
sistim kredit tempo adalah distributor/toko diperbolehkan mengambil buku terlebih dahulu, dengan sistim pembayarannya beberapa hari kemudian, biasanya bisa 7 hari, 30 hari, 60 hari, atau 90 hari, sesuai dengan kesepakatan antara penerbit dengan distributor/toko buku. jika sistim yang disepakati misalnya kredit dengan jangka waktu 30 hari, maka ini berarti pihak distributor/toko, mengambil buku tanggal 9 juni 2008, maka 30 hari kemudian, pengambilan buku tersebut jatuh tempo, dan akan ditagih oleh penerbit. begitu juga dengan jangka waktu yang lainnya.
2. Sistim Konsinyasi
sistim konsinyasi atau titip jual, pihak penerbit menitipkan bukunya di toko buku, setelah buku yang ditipkan tersebut terjual, maka pihak toko membayar buku tersebut ke pihak penerbit.
3. Sistim Cash
sistim cash adalah toko/konsumen memesan jumlah buku tertentu dan saat itu juga langsung dibayar.

untuk sistim cash tidak ada masalah dalam hal pembayarannya, namun sistim kredit dan konsinyasi memerlukan treatment tersendiri dalam penanganannya.

untuk sistim kredit, maka ada beberapa instrument yang bisa digunakan , yaitu:
1. dari awal ketika memulai perjanjian kerjasama penjualan, maka tetapkanlah plafon, maksimal piutang yang bisa diberikan oleh penerbit kepada distributor/toko.
angka plafon ini ditetapkan didasarkan pada analisa kemampuan antara modal dan pembayaran distributor/toko. dalam penanganan kredit maka plafon ini menjadi acuan, jika piutang sudah melewatui plafon, maka lakukan penghentian sementara pengiriman buku ke distributor/toko sampai kondisinya aman kembali. saat yang sama lakukan penagihan.
2. disepakati dari awal . jika pihak distributor/toko menunggak piutang, maka pengambilan selanjutnya akan dikurangi rabat dalam bentuk discount yang diberikan penerbit. misalnya jika selama ini distributor/toko mendapatkan rabat discount 35%, jika piutang tertunggak selanjutnya pesanan discountnya di kurangi 5% menjadi 30%.
3. didasarkan fatwa no. 17/2000, Dewan syariah Nasional, maka dibolehkan pihak pihak produsen mengenakan denda dalam jumlah nominal tertentu jika pihak distributor/toko menunggak.

ke tiga instrumen tersebut sebaiknya dicantumkan dalam perjanjian kerjasama penjualan dan disepakati bersama.
semoga bermamfaat
Jaharuddin

Minggu, 08 Juni 2008

Menerapkan Speedy Gonzales Strategy di penerbitan buku

Inti dari speedy Gonzales strategy adalah kecepatan pelayanan dari perusahaan akan menyebabkan apakah perusahaan tersebut mampu bertahan di tenggah persaingan atau tidak. Semakin cepat pelayanan suatu perusahaan maka semakin tinggi peluang perusahaan tersebut mampu bertahan di tengah persaingan.

Beberapa lini kritis yang perlu dievaluasi dalam dunia penerbitan adalah:

Kemudahan konsumen menghubungi penerbit.
1. Jika masih ada keluhan susah masuk telepon ke penerbit saudara, maka perlu diperbanyak saluran yang anda gunakan, ditambahkan melalui Layanan SMS, email, dll.
2. Kecepatan fronline mengangkat telepon
Standar yang lazim dipakai adalah, fronline telah mengangkat telepon yang berdering, sebelum dering yang ke empat.
3. Kecepatan dalam menangani pesanan, keluhan, dll dari konsumen
Perlu di buat kesepakatan bersama di internal perusahaan anda, semua orang yang ada adalah tim marketing, mulai dari direktur sampai office boy, inti dari marketing adalah siap melayani dengan standar yang baku, sehingga jika ada pesanan, keluhan, siapa saja mampu menanganinya dengan standar yang telah dibakukan. Dan konsumen merasa puas dengan pelayanan kita.
4. Kecepatan mengatakan status stock
Sangat menjengkelkan jika ada penerbit ketika bukunya di pesan, maka stocknya kosong, namun realitasnya susah menyiapkan semua buku yang ada di katalog ready semua, paling tidak yang bisa dilakukan adalah : cepat memberikan jawaban apakah stocknya ada atau tidak, jangan mempromosikan (mencantumkan buku yang kosong di katalog) karena ini membuat konsumen kecewa.
5. Kecepatan dalam mempersiapkan pesanan
Dibuatkan standar mempersiapkan pesanan, misalnya paling lambat 1 hari, pesanan sudah terkirim.
6. Kemudahan dalam sistim pembayaran
Untuk mempermudah sistim pembayaran, maka penerbit membuka beberapa rekening di beberapa bank, kemudian usahakan rekening tersebut bisa di akses dengan internet banking dan mobile, sehingga jika ada uang masuk maka saat itu juga bisa di cek status terkirim atau tidak.
7. Kecepatan dan ketepatan dalam mengirimkan barang
Saya mengalami beberapa kali konsumen sangat jengkel dengan kelambatan dalam proses pengiriman barang dan ternyata barang yang dikirim juga salah, maka pastikan buku dikirim paling lambat 1hari, kemudian pastikan pula buku yang dipesan dan dikirim sama. Dan kirimlah buku dengan kualitasnya standar.

Hal-hal lain yang juga perlu di evaluasi adalah:
1. Kecepatan dalam memutuskan apakah naskah yang ditawarkan penulis diterbitkan atau tidak
2. Kecepatan dalam memproduksi buku, mulai dari penterjemahan (jika buku terjemahan), editing, setting, dan proses produksi)
semoga anda selalau ingat bahwa si lambat akan dimakan oleh si cepat.
Seoga bermamfaat.
jaharuddin
praktisi pemasaran buku

Minggu, 01 Juni 2008

Pusat Perbukuan Nasional

Jum’at, 30 Mei 2008, merupakan hari bersejarah bagi masyarakat perbukuan di Indonesia, mengapa tidak, pada hari itu Wakil presiden Republik Indonesia, meresmikan Pusat Perbukuan Indonesia di Kelapa Gading Trade Centre, Jakarta. Yang terdiri dari 258 toko buku.

Ide besar ini perlu didukung banyak pihak, karena ini akan memudahkan para konsumen di Indonesia , khususnya di Jakarta berburu buku kesayangannya, karena pusat buku Nasional ini menjadi sentral semua toko buku, dan penerbit se indonesia, yang tentunya berbagai macam jenis buku juga ada disana.

Disayangkan

Ditengah kebahagiaan sebagian besar masyarakat perbukuan, disayangkan ada pejabat yang memberikan pernyataan, alih-alih memotivasi masyarakat perbukuan, menurut saya malahan iritatif (melukai) masyarakat perbukuan, pernyataan tersebut adalah:

“Harga kertas ditambah pajak dan lain-lain, saya tahu betul, tidak terlalu mahal. Sebab, kita adalah produsen kertas. Tetapi, kadang-kadang kita punya selera yang tinggi. Jadi, maunya kertas HVS”, ujar wapres[1]

Mengapa saya katakan iritatif, karena sebagian besar penerbit, sedang menghadapi masalah besar yaitu melambungnya harga kertas yang merupakan bahan baku utama, dari penerbitan buku, mungkin benar?, Indonesia masih menjadi produsen kertas, namun mengapa harga kertas selalu melambung, bahkan adakalanya menghilang dari pasar. Ini sangat berdampak pada keberlangsungan industri penerbitan, bahkan bisa jadi penerbitan akan tutup.

Kalaulah benar produksi kertas kita masih tinggi, kemanakah kertas tersebut didistribusikan?, kenapa adakalanya kertas langka dipasaran?

Mengenai buku diterbitkan dengan kualitas kertas yang lebih rendah dari kertas HVS, inipun sudah sejak lama dilakukan oleh para penerbit, jadi kita Cuma berharap pejabat jangan membuat pernyataanya yang iritatif, apapun jua saya pribadi yang merupakan bagian dari masyarakat perbukuan mengucapkan terima kasih atas kesediaannya untuk membuka secara resmi pusat perbukuan nasional tesebut.

Lokasi yang kurang strategis

Namun ide besar tersebut, belum mampu ditopang dengan lokasi yang strategis, terutama untuk buku Islam, dari pengalaman saya beberapa tahun dalam penjualan buku Islam, maka kawasan Kelapa Gading, bukanlah kawasan yang bagus penjualan buku Islamnya. Kawasan yang bagus penjualan buku Islamnya adalah di Jakarta selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Depok, Bekasi, Tanggerang, dan Bogor.

Namun, kita tetap harus memberikan apresiasi yang sangat besar, kepada para inisiator yang ada di IKAPI Pusat yang telah berupaya mengawali ide besar ini, namun kedepan perlu difikirkan bersama, untuk memindahkan ide besar tersebut ke kawasan yang lebih mudah dijangkau dan peminat buku Islamnya juga besar.

Sekali lagi, selamat kepada penggurus IKAPI Pusat.
[1] Kompas, sabtu, 31 Mei 2008, halaman 12

Jumat, 23 Mei 2008

New channel : Penjualan buku di Pesawat

Dalam perjalanan ketika kita di pesawat, sudah lazim kita melihat ada penjualan barang-barang/souvenir ketika dalam perjalanan. Hal yang belum dilakukan adalah penjualan buku-buku berkualitas. Menurut saya ada prospeknya karena sebagian besar pengguna pesawat adalah kalangan menengah ke atas, yang diduga berpendidikan dan mempunyai penghasilan. Biasanya mereka ini adalah pangsa pasar yang tepat untuk produk buku, kemudian bisa jadi untuk mengisi waktu dalam perjalanan mereka butuh bacaan, seperti koran, majalah atau buku. Nah ini peluang, tinggal hubungi maskapainya, masukkan buku-buku berkualitas dan menghibur di katalog penjualan maskapai yang bersangkutan, trus suplai stocknya pada setiap pesawat. Jalan. Salah satu buku yang mungkin bisa dicoba misalnya la Tahzan, Laskar pelanggi, Ayat-ayat cinta, dan buku-buku relevan lainnya.
Selamat mencoba.
Dan semoga bermamfaat
jaharuddin