Tampilkan postingan dengan label Potensi Pasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Potensi Pasar. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 April 2010

Agenda pameran buku Internasional 2010


Pameran buku merupakan salah satu indikator perkembangan industri perbukuan di suatu Negara, 5 tahun terakhir ini terjadi peningkatan pameran yang sangat berarti di tanah air, saya mencatat tidak kurang dari 40 pameran buku dilaksanakan oleh berbagai event organizer di tanah air mulai dari Banda Aceh, sampai Makasar, bahkan sudan merambah ibukota kabupaten, suatu kerja keras yang pantas untuk diapresiasi, sebagiannya rutin diadakan pada setiap tahunnya.
Untuk tingkat dunia, paling tidak saat ini ada sekitar 37 pameran buku yang di laksanakan di masing-masing kota, yang terbesar dan paling bergensi saat ini adalah Francfurt dan Kairo. Pelaksanaan pameran, dilaksanakan rutin pada setiap tahun, dan biasanya tanggal pelaksanaannya juga tidak jauh berbeda, dari tahun-tahun sebelumnya. Berikut agenda pameran buku internasional 2010:
1. Tanggal 8 – 18 Januari 2010, Kairo International Book Fair, di Cairo, Mesir.
2. Tanggal 27 Januari – 1 Februari, Taipei International Book exhibition (TIBE), di Taipei, Taiwan
3. Tanggal 27 Januari – 7 Februari, Kolkata International Book Fair, di Kolkata, India
4. Tanggal 30 Januari – 7 Februari, New Delhi World Book Fair, di New Delhi, India
5. Tanggal 21 Februari – 2 Maret, Brunei Book Fair, di Bandar Seri Begawan, Brunei.
6. Tanggal 25 – 28 Februari, Baltic Book Fair, di Vilnius, Lithuania
7. Tanggal 2 – 7 Maret, Abu Dhabi International Book Fair, di Abu Dhabi, UEA
8. Tanggal 5 – 14 Maret, Islamic Book Fair, di Istora Bung Karno, Jakarta, Indonesia.
9. Tanggal 26 – 31 Maret, Paris Book Fair, di Paris, Prancis
10. Tanggal 23 – 26 Maret, Bologna Children’s Book Fair, di Bologna, Italia.
11. Tanggal 26 Maret – 6 April, Bangkok International Book Fair, di Bangkok ,Thailand.
12. Tanggal 19 – 28 Maret, Kuala Lumpur International Book Fair, di Kuala Lumpur, Malaysia.
13. Tanggal 19 – 21 April, Buenos Aires Book Fair, di Buenos Aires, Argentina.
14. Tanggal 22 – 25 April, London Book Fair, di London, Inggris
15. Tanggal 22 – 25 April, Budapest International Book Festival, di Budapest, Hungaria
16. Tanggal 22 – 25 April, Thessaloniki Book Fair, di Thessaloniki, Yunani.
17. Tanggal 28 April – 2 Mei, Geneva Book Fair, di Geneva, Swiss.
18. Tanggal 12 – 26 Mei, Seoul International Book Fair, di Seoul, Korea.
19. Tanggal 13 – 16 Mei, Praque International Book Fair, di Praque, Czeh Republic.
20. Tanggal 20 – 23 Mei, Warsaw International Book Fair, di Warsawa Polandia.
21. Tanggal 28 Mei – 6 Juni, World Book Fair (Singapore), di Singapura.
22. Tanggal 30 Mei – 1 Juni, Book expo America, di New York city, USA
23. Tanggal 2 – 11 Juli, Pesta Buku Jakarta, di Gelora Bung Karno, Jakarta, Indonesia.
24. Tanggal 8 – 11 Juli, Tokyo International Book Fair, di Tokyo, Jepang.
25. Tanggal 21 – 27 Juli, Hongkong Book Fair, di Hongkong.
26. Tanggal 30 Juli – 2 Agustus, Cape town Book Fair, di cape town, Afrika selatan.
27. Tanggal 1 – 6 september, Moscow international book fair, di Moscow, Rusia
28. Tanggal 15 – 19 september, Manila International Book Fair, di Manila, Philipina.
29. Tanggal 23 – 26 september, Goteborg International Book Fair, di Goteborg, Swedia.
30. Tanggal 6 – 10 Oktober, Beijing International Book Fair, di Beijing, China.
31. Tanggal 6 – 10 Oktober, LIBER Book Fair, di Madrid, Spanyol.
32. Tanggal 6 – 10 Oktober, Frankfurt Book Fair, di Frankfurt, Jerman
33. Tanggal 30 Oktober – 7 November, Istanbul Book Fair, di Istanbul, Turki.
34. Tanggal 3 – 7 November, Indonesian Book Fair, di Jakarta Convention Center, Indonesia.
35. Tanggal 31 Oktober – 16 November, Santiago International Book Fair, di Santiago, Chile.
36. Tanggal 19 – 21 November, Oslo Book Fair, di Lillestrom-Oslo, Norwagia.
37. Tanggal 27 November – 5 Desember, Guadalraja International Book Fair, di Guadalaraja, Meksiko.

Untuk lebih lanjut, jika anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang masing-masing pameran international diatas, bisa anda lihat, dalam masing-masing web yang biasanya dibuat oleh masing-masing event organizernya seperti www.kualalumpurbookfair.com, www.pestabukujakarta.com, www.indonesiabookfair.com, dan seterusnya.

Semoga bermanfaat…..
Oleh: Jaharuddin (Praktisi Pemasaran Buku Islam)
Email: jaharuddin@gmail.com
http://penerbitbukuislam.blogspot.com

Benarkah Industri Penerbitan Buku di Indonesia, jauh lebih maju di bandingkan Industri penerbitan buku di Malaysia ?


Oleh : Jaharuddin (Praktisi Pemasaran Buku Islam)
Email: jaharuddin@gmail.com
http:penerbitbukuislam.blogspot.com

Saat ini sedang berlangsung The 29th Kuala Lumpur International Book Fair, dari tanggal 19 – 28 Maret 2010 di Putra World Trade Center (PWTC), pusat pameran paling megah dan mewah di Kuala Lumpur. Pameran ini merupakan pameran Buku terbesar di Malaysia, dengan 856 stand di 3 lantai, Lokasi pameran persis di bawah gedung UMNO, partai berkuasa di Malaysia.
Kerajaan Malaysia telah berhasil meningkatkan minat baca masyarakatnya, pada tahun 1997 penduduk malaysia hanya membaca 1 Lembar buku saja dalam setahun, 5 tahun kemudian yaitu pada tahun 2002, meningkat 100% menjadi 2 Lembar buku saja dalam setahun, dan tahun 2010 ini penduduk malaysia membaca buku 7 – 8 buku dalam setahun. Suatu peningkatan yang sangat berarti, dan perlu dicontoh.

Berikut Beberapa catatan lepas saya tentang pameran ini:
• Selama ini , pelaku perbukuan di Indonesia, merasa bahwa perkembangan industri buku di Indonesia, jauh lebih berkembang bila di bandingkan dengan industri perbukuan di Malaysia, hal ini didasari dengan jumlah penduduk malaysia, yang memang jauh lebih kecil dari penduduk di Indonesia. Akhirnya berdampak pangsa pasar buku di Malaysia lebih kecil dibanding Indonesia, juga berdampak pada masih rendahnya jumlah terbitan buku baru. Melihat realitas yang saya saksikan di Pameran buku antar bangsa kali ini, maka persepsi tersebut belum tentu benar. Karena saat ini pameran buku ini mengguna 3 lantai, dengan 208 penerbit sebagai peserta, mengunakan 856 stand, (ukuran satu stand pameran buku di Malaysia adalah 9m2, sedangkan di Indonesia standar satu stand biasanya 18m2), di area seluas12.666 m2, bahkan ada tambahan satu gedung, yang dipisahkan dengan sungai dari gedung utama PWTC. Pengunjungnyapun sangat ramai seperti Islamic Book Fair di Jakarta, tahun lalu saja total pengunjungnya sebanyak 1.500.000 orang. Panitia meyakini tahun ini akan lebih banyak lagi.
• Ada kekhawatiran pada diri saya, kasus tertinggalnya mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan Malaysia, juga terjadi di industri buku. Sering kita mendengar cerita, dulu orang-orang Malaysia belajar/kuliah di Indonesia, bahkan pemerintah Malaysia, secara khusus mengimpor guru-guru dari Indonesia, namun sekarang kondisinya berbalik, banyak sekali putra-putri Indonesia belajar di Malaysia. Akankah industri perbukuan juga sama, dulu, mungkin saat inipun masih, industri perbukuan di Indonesia lebih maju bila di bandingkan industri perbukuan di Malaysia, sebagai indikasinya adalah jumlah judul buku terbit di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan Malaysia, namun akankah kondisi ini akan bertahan, karena di Malaysia, Pamerannyapun sangat ramai, pesertanya banyak, dan juga di back up dengan universitas yang membuka jurusan publishing, untuk strata 2 dan 3. akankah penerbitan Indonesia juga akan tertinggal dibandingkan Malaysia?.
• Saya menemukan ada buku-buku yang telah di terbitkan di Indonesia, juga diterbitkan kembali di Malaysia, saya tidak tahu persis apakah buku-buku yang diterbitkan tersebut sudah mendapat izin dari penerbitnya di Indonesia atau tidak. Kondisi ini sepatutnya mendapat perhatian serius para penerbit di Indonesia, karena informasi yang saya dapatkan selama pameran, ada beberapa buku Indonesia diterbitkan di Malaysia, tanpa sepengetahuan penerbitnya di Indonesia. Pihak penerbit di Indonesia bisa menelusurinya lebih lanjut.
• Sebenarnya pameran buku, merupakan bagian dari pameran industri kreatif, sepertinya pada pameran-pameran buku di Indonesia, hal ini kurang terexplorasi, di pameran di Malaysia, saya menemukan pada salah satu stand, bukan hanya memamerkan buku, dan melakukan transaksi buku, namun juga terdapat desain sketsa wajah.
• Pada pameran ini, juga disediakan space khusus untuk penerbit-penerbit dari negara-negara lain, seperti Indonesia, Singapura, Saudi Arabia dan Mesir, masing-masing negara tersebut, memamerkan bukunya masing-masing. Walaupun miris untuk stand penerbit-penerbit dari Indonesia, yang di koordinasi oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI), hari pertama pameran belum diisi sama sekali. Saya ngak tahu persis apa penyebabnya, namun ini merupakan bagian pencitraan yang tidak baik terhadap industri perbukuan di tanah air. Setahu saya buku-bukunya sudah ada, tapi kenapa tidak di display.
• Pada pameran buku ini, saya juga menjumpai adanya arena negosiasi dan penjualan copy right (Trade and Copyright Centere), arenanya rapi, tertata dengan baik, namun tidak ada satu petugaspun yang berada disana, dan sepertinya tidak ada juga penerbit dan orang-orang penerbitan yang memanfaatkan sarana ini. Ini mengindikasikan kepedulian para penerbit buku di malaysia sendiri terhadap copyright juga masih rendah.
• Dari pertemuan saya dengan relasi di Malaysia, saya mendapatkan informasi bahwa sudah ada 3 toko buku gramedia di Malaysia, yaitu di Tessco setia alam shah alam Selangor, tesco seberang prai pulau pinang, dan mines shoping fair seri kembangan, Selangor. Yang menarik dari diskusi saya dengan relasi penerbit di Malaysia, adalah mereka mensuplay buku ke toko buku gramedia dengan sistim kredit returnable dengan rabat 30%. Sekarang pihak gramedia sedang merubah sistimnya dengan sistim konsinyasi, namun pihak penerbit di Malaysia, tidak sepakat, akhirnya gramedia di Malaysia terseok-seok. Kenapa penerbit di Malaysia, bisa mempunyai bargaining posisi yang baik dengan gramedia?, dan kenapa para penerbit di Indonesia sepertinya takluk di bawah ketiaknya gramedia, ada ide-ide untuk bersatu melalui IKAPI menegosiasi ulang pola discount dan tata niaga perbukuan, namun sampai sekarang ide itu hanya sampai pada batas ide, wacana, dan hasil diskusi, namun tidak pernah di follow up menjadi ide yang pantas untuk di realisasikan?
Semoga, catatan-catatan lepas ini, mampu memberi inspirasi penataan industri perbukuan di Indonesia semakin labih baik, mulai dari penerbitan, sampai pada penataan tata niaga perbukuan di tanah air.

Semoga bermanfaat.....
Sabtu sore, 20 maret 2010
di Kamar 1534 Hotel Legend Jl. Putra, Kuala Lumpur

Jumat, 24 Oktober 2008

Peluang di Balik, Program Pendidikan Anak usia Dini (PAUD)


Latar Belakang
Tahun 2005 UNESCO mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang angka partisipasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) terendah di ASEAN, baru sebesar 20%, ini masih lebih rendah dari Fhilipina (27%), bahkan negara yang baru saja merdeka Vietnam (43%), Thailand (86% dan Malaysia (89%). Dan kesemuanya ini semakin tampak dengan Human Development Index (HDI) Indonesia yang juga lebih rendah diantara negara-negara tersebut. Ini membuktikan bahwa pembangunan PAUD berbanding lurus dengan mutu dari sebuah negara yang terdiskripsikan dalam HDI.
Sedangkan Depdiknas dalam buku Pembangunan Pendidikan Nasional tahun 2007 menggambarkan bahwa Pemerintah telah berhasil meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD yang awalnya pada tahun 2004 adalah 39,09% maka pada tahun 2006 sudah mencapai 45,63% dengan target capaian pada tahun 2007 sebesar 48,07%, sudah barang tentu ini merupakan sebuah hal yang menggembirakan bagi pengembangan pendidikan anak usia dini. Kemudian disebutkan bahwa agenda-agenda yang akan dicapai pada tahun 2009 seperti pencapaian APK PAUD usia 2 – 6 tahun sebesar 53,90%. Akan tetapi perlu dikritisi untuk pencapaian 53,90% atau sekitar 10,05 juta orang kualitas dari layanan yang diberikan, bukan kepada kuantitas. Ini menjadi amat penting karena begitu dasarnya PAUD itu bagi seorang manusia dalam kehidupannya yang akan datang.
Pemerintah pada tahun 2001 telah mendirikan Direktorat khusus bagi PAUD yaitu Direktorat Pendidikan Anak Dini Usia dibawah naungan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (sekarang disebut Ditjen PNFI), Direktorat yang bertugas untuk melayani PAUD pada jalur pendidikan nonformal dan informal. Ini disebabkan karena sebelumnya untuk layanan yang diberikan kepada anak usia dini baru pada usia 4 – 6 tahun melalui pendidikan formal yaitu TK, sedangkan melalui jalur pendidikan nonformal dan informal msih belum ada. Pendidikan formal pada tahun 2000 hanya mampu menyerap 12,65% dari total usia tersebut dengan Guru TK hanya sebanyak 95.000 orang untuk memberikan pelayanan 1,6 juta anak usia dini. Sedangkan untuk sisa 0 – 4 tahun masih belum terlayani, oleh karena itu maka Pemerintah berinisiatif untuk mendirikan Direktorat PADU (saat ini disebut Dit. PAUD) yang bertugas untuk melayani anak usia dini yang berumur 0 – 4 tahun.
Perlu diingat, setiap anak itu mempunyai potensi yang unik ketika ia lahir di muka bumi ini, baik secara fisik (jasmani) maupun non fisik (akal, hati dan lain sebagainya), dan dari itu semua sesungguhnya kuncinya ketika anak tersebut berumur 0 – 6 tahun, seperti yang tertuang dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sisdiknas pada pasal 28. Bahkan dalam pasal tersebut juga dijelaskan ada 4 (empat) unsur yang harus dipenuhi dalam pengembangan anak usia dini yaitu: pertama, pembinaan anak usia dini merupakan pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun. Kedua, pengembangan anak usia dini dilakukan melalui rangsangan pendidikan. Ketiga, pendidikan anak usia dini bertujuan untuk dapat membantu pertumbuhan dan pengembangan jasmani dan rohani (holistik). Dan keempat, pengembangan dan pendidikan anak usia dini merupakan persiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Untuk bidang SDM dalam pengembangan PAUD ini dijabarkan dalam PP Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 29 yang menjelaskan bahwa standar minimal bagi Pendidik PAUD adalah D-IV atau Sarjana dengan latar belakang pendidikan PAUD, psikologi atau pendidikan lainnya yang telah bersertifikasi profesi guru untuk PAUD. Yang kesemuanya merupakan bentuk perhatian Pemerintah betapa pentingnya PAUD bagi bangsa ini .

Bentuk Pendidikan anak
Bentuk dari pendidikan PAUD ini adalah, seperti Play Group untuk anak usia 0 – 6 tahun. Ada yang formal didirikan oleh pemerintah, dan ada juga didasarkan pada swadaya masyarakat. Diharapkan pada setiap kampung di seluruh Indonesia ada PAUD nya.

Realisasi Program
Menurut data direktur PAUD Diknas, pada tahun 2007 Layanan PAUD secara formal dan nonformal, telah menjangkau 13 juta lebih dari 28 juta anak usia dini di seluruh wilayah Indonesia. Untuk anak usia 0-4 tahun berjumlah 20,5 juta. Anggaran PAUD juga terus ditingkatkan dari Rp 221 miliar pada tahun lalu, tahun 2008 naik dua kali lipat. Tahun 2015 layanan PAUD diusahakan bisa mencapai 75 persen semua anak usia dini .

Potensi anggaran
Anggaran untuk pelaksanaan PAUD berasal dari APBN, APBD dan swadaya masyarakat, berikut ini contoh anggaran PAUD dibeberapa daerah:

Di Kabupaten Rokan Hulu, Riau pada tahun 2007, terdapat 100-an desa yang telah ada PAUDnya, anggaran per masing-masing desa sebesar Rp. 160 juta pertahun .

Tahun 2007, dana PAUD Propinsi Riau sebesar Rp. 2.373 juta (2,3 M), tahun 2008 menjadi Rp. 2.486 juta (2,4 M), meningkat 4,56%

Tahun 2008, di Kabupaten Lamongan mendapat alokasi dana cukup besar dari APBD, yakni mencapai Rp 4,187 miliar. Alokasi dana tersebut untuk pendidikan anak usia dini (PAUD)/play group dan taman kanak-kanak (TK)/raudlatul Athfal (RA) .

Alokasi anggaran untuk PAUD dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, terus meningkat dari tahun ketahun, tahun 2003 total sebesar Rp. 475 juta, tahun 2007, melonjak sekitar 15 miliar. Ini diluar anggaran pemerintah propinsi yang besarnya 1,14 miliar.

Melihat manfaat yang begitu besar program pendidikan anak usia dini (PAUD), pemerintah akan memperluas cakupan program PAUD hingga meliputi 3.000 desa miskin di seluruh Indonesia. Program dengan alokasi dana 127,74 juta dolar AS dana berasal dari pinjaman lunak bank dunia, hibah kerajaan belanda, dan APBN, diperuntukkan bagi 783 ribu anak usia 0-6 tahun .

Pada 2006, PAUD memperoleh anggaran Rp 135 miliar ditambah Rp 9 miliar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP). Menurut Direktur PAUD, Gutama, jumlah tersebut masih sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan meningkatkan akses PAUD secara maksimal. Pada 2007, sudah dipastikan PAUD akan memperoleh anggaran Rp 199 miliar. Dana sebesar itu, kata dia, akan dipergunakan untuk sosialisasi serta peningkatan dana rintisan dan kelembagaan

Anggaran yang digelontorkan untuk PAUD nonformal juga terus meningkat. Pada tahun 2007 misalnya total anggaran untuk PAUD mencapai Rp221 miliar, dan meningkat pada tahun 2008 menjadi Rp430 miliar.

Alokasi anggaran Untuk pembelian Buku
Tentunya dana sekitar 430 miliar tersebut, sebagiannya akan di belanjakan untuk alat bantu pendidikan seperti alat peraga dan buku-buku, walaupun belum diketahui dengan pasti berapa besarnya dana yang dialokasikan untuk pembelian buku, namun ini merupakan potensi yang besar sekali untuk dimasuki para penerbit buku.

Peluang
Program pemerintah dalam rangka peningkatan kualitas SDM tersebut, disertai dengan anggaran yang sangat besar sekali, dalam proses pendidikannya, sehingga paling tidak ada beberapa faktor yang menyebabkan program ini seharusnya dioptimalkan pemamfaatan peluangnya oleh penerbit, yaitu:
1. Total anggaran untuk PAUD tahun 2008, sebesar Rp.430M
2. Pemerintah SBY mempunyai komitment yang kuat bahwa tahun 2009 nanti dana anggaran untuk pendidikan nasional harus 20%, ini berarti besaran anggaran yang akan diaalokasikan untuk PAUD, akan terus meningkat
3. saat yang sama pasar buku non anak sedang tertekan, akibat dampak dari kenaikan BBM dan Krisis financial, namun kebutuhan anak-anak tetap akan meningkat dan menjadi prioritas pengeluaran keluarga.

Pemain Pengadaan Buku untuk PAUD
1. Penerbit Dar Mizan
2. Penerbit As Syamil
3. Penerbit Zikrul Hakim
4. Penerbit Bumi Aksara Kids
5. Penrbit Erlangga
6. Indiva, Surakarta
7. dll

Trik Penerbit yang sekarang ikut menawarkan produk
Saya mendapatkan informasi, bahwa ada penerbit yang hanya membikin Dummy, dummy tersebut, ditawarkan kepada bagian pengadaan pemda, setelah mendapat kejelasan buku tersebut masuk dalam proyek pengadaan, baru di cetak secara massal.

Apa yang harus dilakukan Penerbit
1. Buat kesepakatan apakah penerbit mau juga berburu potensi dana tersebut
2. bentuk tim pembentukan imprint anak
3. cari 1 orang SDM yang berpengalaman untuk membuat produk-produk buku-buku PAUD
4. SDM tersebut langsung bertanggung jawab ke Direktur
5. Pemasaran memamfaatkan jalur yang sudah ada, ditambah tim proyek

Jalur Distribusi
Saluran distribusi yang bisa digunakan adalah jalur distribusi konvensional, seperti toko-toko retail, toko-toko buku lainnya, namun perlu juga di cari informasi tentang tim yang biasa memasukkan proyek ke pemerintah.

Penutup
Demikianlah, peluang yang mungkin bisa diambil oleh perusahaan penerbit, ikut berkontribusi dalam mensukseskan PAUD ini. Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Sabtu, 26 Juli 2008

Pasar Buku Islam Tengah Menggeliat


TAK bisa disangkal industri buku di Tanah Air beberapa tahun terakhir ini tumbuh dengan bergairah. Kegairahan ini ditandai dengan munculnya penerbit-penerbit baru di berbagai kota di Indonesia dan membanjirnya buku-buku baru produk mereka di pasar. Ada yang cukup menyita perhatian dari bergairahnya industri buku tersebut, yakni maraknya penerbitan buku-buku agama, terutama buku-buku bertemakan Islam.

Bukan perkara sulit membaca fenomena demikian. Tengok, gencarnya penyelenggaraan pameran-pameran buku yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia setelah tahun 1990-an. Munculnya peserta-peserta baru dari kalangan penerbit-penerbit buku Islam dalam jumlah yang cukup besar kerap menghiasi pemandangan pameran buku saat ini. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, sudah ada pameran buku Islam tersendiri, seperti Pameran Buku Islam yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia cabang Jakarta (IKAPI Jaya) maupun Pameran Buku Islam Plus yang diadakan IKAPI Jawa Barat bulan Oktober tahun 2003.

Jika dua tahun terakhir penyelenggaraan pameran buku sudah mulai mengkhususkan diri pada tema-tema bernapaskan Islam, sudah barang tentu terjadi pertumbuhan penerbit buku Islam yang cukup signifikan pada tahun-tahun terakhir ini. Pendataan IKAPI Pusat, misalnya, untuk periode tahun 2000 hingga 2003 atau kurang dari empat tahun, sudah tercatat sekitar 20 penerbit buku Islam baru yang menjadi anggota IKAPI. Angka ini jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan jumlah penerbit buku Islam pada kurun waktu tahun 1981 hingga 1989 yang hanya sebanyak enam penerbit saja. Jumlah ini belum termasuk pertumbuhan penerbit buku Islam yang tidak menjadi anggota IKAPI yang bisa dipastikan jumlahnya akan jauh lebih besar.

Bertambahnya penerbit tentu berbanding lurus dengan pertambahan produksi buku. Maka, tidak mengherankan jika keberadaan buku-buku bertemakan Islam mulai merambah toko- toko buku. "Buku-buku agama, khususnya Islam, memang paling banyak memakan space atau tempat paling luas di toko buku kami. Saat ini, paling tidak buku-buku agama sudah menyita 20 persen space yang tersedia, dari sejumlah itu 80 persennya buku-buku Islam," kata Arif Abdulrakhim pemimpin Toko Buku Toga Mas Yogyakarta. Proporsi demikian tentu terbilang besar. Bahkan, Abdulrakhim sangat meyakini bahwa toko-toko buku umum lain di luar Toga Mas pun kondisinya kurang lebih juga sama. "Dua puluh persen itu gede karena buku-buku yang lain tidak ada yang sampai 20 persen. Saya yakin di toko buku lain, yang bukan toko buku agama, paling besar buku Islam," kata Arif menambahkan.

GELIAT penerbitan buku- buku Islam yang melanda dunia penerbitan akhir-akhir ini, di satu sisi tidak bisa dilepaskan dari hukum penawaran dan permintaan. Artinya, kemunculan penerbit dan buku Islam di masyarakat ini sangat dipengaruhi tingginya respons atau permintaan masyarakat terhadap buku-buku jenis itu. Tengok saja selama bulan Ramadhan, misalnya, hasil jajak pendapat yang dilakukan harian ini di 10 kota besar Indonesia mengungkapkan 71,7 persen responden beragama Islam mengaku membaca buku-buku Islam. Sisanya, mengaku tidak membaca buku-buku bertemakan Islam dalam keseharian di bulan Ramadhan ini.

Dapat dibayangkan betapa besar kebutuhan akan buku-buku bertemakan Islam selama bulan ini. Oleh karena itu, bagi Indonesia yang mempunyai penduduk beragama Islam terbesar di dunia ini merupakan pasar yang sangat potensial bagi buku-buku bernuansa Islam. Pertimbangan inilah yang menjadi salah satu alasan bagi penerbit-penerbit untuk berbondong-bondong terjun menggarap pasar buku-buku Islam dengan lebih serius.

Situasi seperti itu juga diantisipasi Penerbit Gema Insani Press (GIP). "Saya melihat mayoritas penduduk Indonesia itu Islam, sementara itu para penerbit buku Islam sebelumnya sudah ada, tetapi kualitas covernya sangat sederhana, kertasnya koran semua. Kenapa buku Islam tidak bisa dibuat dengan bagus, hard cover dengan kertas HVS semua?" Pertanyaan inilah yang mendorong GIP terjun dalam penerbitan buku-buku bertemakan Islam. Apalagi, ternyata masyarakat menerima keberadaan mereka, yang diikuti respons pembelian yang sangat bagus. "Jadi, masyarakat ini menggandrungi buku-buku Islam yang bagus dan indah, tidak sekadar dari kertas koran," kata Iwan Setiawan, General Manajer GIP.

Menurut pendirinya, GIP sendiri berdiri tahun 1985. Semua berawal dari penerbitan buku bertemakan perang Afghanistan. Merasa cukup laku, dari situ kemudian keluarlah buku-buku yang lain sehingga penerbit ini memilih berkonsentrasi penuh dengan menerbitkan buku-buku Islam sampai sekarang. Dalam dunia perbukuan, Penerbit GIP termasuk penerbit buku Islam yang terbilang sukses. Produksi bukunya saat ini rata-rata 6 judul per bulannya. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan selama krisis yang hanya 3 judul tiap bulannya. Hingga bulan September 2003, tidak kurang 414 judul buku yang sudah diterbitkan GIP. Ada beberapa buku terbitan GIP yang dicetak ulang hingga berkali-kali dan terserap pasar hingga ratusan ribu eksemplar. Buku-buku itu antara lain: Berbakti pada Ibu Bapak, Nama-nama Islami, Wanita Harapan Tuhan, dan Anda Bertanya Islam Menjawab. Buku terakhir adalah karangan ulama besar Mesir Prof Dr M Mutawalli Asy-sya’rawi ini sudah mengalami cetak ulang hingga 18 kali. Buku dengan kemasan luks tersebut dijual seharga Rp 47.200.

Tidak heran dengan keberhasilan meraih respons pasar tersebut hingga kini perkembangan bisnis GIP tergolong pesat. Dari jumlah karyawan, misalnya, jika semula tiga orang kini mencapai 150 karyawan. Jika dahulu mereka mengontrak rumah sebagai tempat beraktivitas, kini mampu membangun kantor, percetakan yang dilengkapi dengan mesin-mesin cetak milik sendiri berkapasitas besar. Bahkan, hingga kini dengan keuntungan yang diperoleh, penerbit ini sudah mampu membangunkan 40 rumah bertipe 70 dan 90 berkamar tiga, yang diberikan kepada karyawannya.

Penerbit Mizan tampaknya layak juga disebut sebagai lokomotif perkembangan penerbit buku Islam di Indonesia. Harus diakui juga bahwa penerbit yang berlokasi di Bandung ini turut mewarnai wajah perkembangan dunia perbukuan. Kemunculannya tidak hanya memberi warna terbatas di dalam penerbitan buku Islam, tetapi dalam satu dasawarsa terakhir secara lebih luas ikut memberi wajah baru bagi dunia perbukuan di Indonesia. Apabila sebelumnya dunia penerbitan buku lebih banyak dikuasai penerbit dari kelompok Gramedia, saat ini Penerbit Mizan tumbuh menjadi kelompok penerbit yang tergolong tangguh dan patut diperhitungkan.

Penerbit Mizan mulai berdiri sejak tahun 1983 dengan menerbitkan buku-buku tentang pemikiran Islam yang cenderung moderat dan liberal. Kehadiran buku-buku terbitan Mizan mendapat sambutan yang baik di masyarakat, terutama kelompok masyarakat kelas menengah baru Islam. Menarik mengikuti pandangan Haidar Bagir, pendiri kelompok penerbitan Mizan. Menurut dia, keberadaan kelas menengah baru Muslim ini, yang relatif lebih dulu mengalami kemakmuran dan mengalami gejala kekosongan spiritual seperti yang dialami oleh masyarakat di negara maju, menjadi pasar terbesar bagi buku-buku Islam. Untuk itu buku Mizan dibuat dengan kualitas yang sesuai dengan permintaan kelompok-kelompok yang mementingkan kualitas dan juga harga yang tidak terlalu murah serta yang membeli orang-orang yang berpenghasilan tertentu. "Buku model Mizan ini kemudian banyak ditiru penerbit-penerbit lain," kata Haidar Bagir.

Rintisan Mizan tidak terputus sesaat. Dalam perkembangannya selain tetap berkonsentrasi menerbitkan buku-buku Islam pemikiran dengan tetap menggunakan bendera Mizan, penerbit ini kemudian membentuk penerbit-penerbit baru dengan nama lain seperti Kaifa untuk buku-buku berjenis petunjuk (how to) dan Qanita untuk buku-buku bertema perempuan. Bahkan, mulai tahun 2003, Mizan Pustaka dibagi lagi dalam dua divisi, yakni Mizan Pustaka untuk buku-buku Islam dewasa dan DAR! Mizan khusus buku-buku bernuansa Islam untuk konsumsi anak-anak dan remaja. "Pembagian ini lebih untuk menjawab persoalan dan tanggapan dari konsumen, selain itu biar tiap unit bisa lebih fokus pada masing-masing bidangnya," kata Fan Fan Darmawan dari Mizan.

Strategi yang didasarkan pada segmen-segmen pembaca semacam ini ternyata cukup efektif. Buku-buku novel remaja bernuansa Islam hasil kembangan penerbit ini, misalnya, ternyata juga mendapat sambutan yang cukup baik dari pembaca. Novel- novel remaja yang di antaranya dikarang Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dan Gola Gong, menurut pengakuan penerbit ini, ada yang sudah terjual sampai 50.000-an eksemplar. Jumlah sebanyak ini tergolong istimewa, masuk buku best seller untuk kategori buku lokal.

DALAM khazanah penerbit buku Islam, GIP dan kelompok Penerbit Mizan tidak berjalan sendirian. Perkembangan pasar buku Islam juga diramaikan penerbit-penerbit lain yang tergolong spektakuler penampilannya. Di antaranya, MQ Publishing. Penerbitan buku yang merupakan salah satu unit usaha di bawah kelompok usaha MQ Corporation pemimpin pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhid Bandung, KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, ini juga mencatatkan rekor penjualan. MQ Publishing sebenarnya tidak lain adalah pengembangan dari divisi MQS Pustaka Grafika dan MQ Publication yang sebelumnya telah menerbitkan buku-buku dengan materi dari ceramah-ceramah maupun wawancara dengan Aa Gym.

Seperti halnya buku-buku Aa Gym sebelumnya yang sudah diterbitkan Mizan dan GIP yang terjual ratusan ribu eksemplar, buku pertama terbitan MQ Publishing yang untuk pertama kalinya ditulis Aa Gym sendiri ini laris manis diserap pasar. Dalam waktu kurang dari sebulan, buku Aa Gym Apa Adanya: Sebuah Qolbugrafi yang diterbitkan pada pertengahan tahun 2003 sudah laku sebanyak 40 ribu buku lebih. "Tema-temanya memang masih sekitar Aa Gym. Kami ambil tema-tema itu karena di pasar masih laku. Ya sudah, kami penuhi dulu. Makanya, penerbit-penerbit lain banyak yang mengambil tulisan Aa Gym," jelas Yopi Hendra, editor MQ Publishing. Kendati saat ini masih lebih konsentrasi menerbitkan buku-buku tentang Manajemen Qolbu (MQ) dan Aa Gym, MQ Publishing sudah mulai merintis menerbitkan buku-buku yang tidak bertema MQ. "Di satu sisi kita memang masih mengistimewakan Aa Gym, sejauh tingkat tertentu, tetapi setelah itu kita tidak akan seterusnya bergantung pada Aa Gym," kata Yopi menambahkan.

Besarnya peluang pasar bagi buku-buku Islam ini sudah pasti menarik berbagai penerbit untuk ikut terjun menerbitkan buku- buku bertema Islam. Bahkan, beberapa penerbit yang sebelumnya dikenal sebagai penerbit umum saat ini mulai menerbitkan buku- buku bertema Islam. Salah satunya, Penerbit Erlangga. Sejak tahun 2002 Penerbit Erlangga yang lebih dikenal sebagai penerbit buku-buku teks pelajaran ini memiliki divisi penerbitan buku Islam. Motifnya sudah tentu pasar yang tengah menggeliat. "Kami melihat market share yang sangat besar, 90 persen penduduk Indonesia ini kan Muslim, karena pasar begitu besar, kami coba masuk sedikit. Sifatnya partisipasi saja," kata Singgih, salah satu editor Penerbit Erlangga. Sekalipun sifatnya hanya berpartisipasi, tidak kurang sudah 17 judul buku bernuansa Islam yang mereka terbitkan, baik buku berjenis pemikiran Islam maupun cerita- cerita ringan. Bahkan, salah satu buku terbitan Erlangga berjudul Kisah Hikmah ini selama tahun 2002 mampu dicetak ulang hingga lima kali. Betapa semarak memang pasar buku-buku Islam saat ini. Tidak heran, ibarat pepatah Ada Gula Ada Semut, buku-buku Islam saat ini layaknya gula yang banyak diminati berbagai pihak lantaran cukup menggairahkan secara bisnis.(wen/bip/eki/nca/umi)
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0311/15/pustaka/688306.htm

Mengintip Peluang Pasar Buku Indonesia di Malaysia


MINAT baca tinggi belum tentu menghasilkan banyak penulis lokal. Kesimpulan inilah yang dapat menggambarkan kondisi perbukuan di Malaysia. Dari seluruh buku yang beredar dan diserap pasar di Malaysia, hanya sepuluh persen saja merupakan buku lokal. Selebihnya buku impor dan terjemahan.

JIKA ditelusuri lebih jauh, dari angka sepuluh persen produk lokal tersebut, bagian terbesar (mencapai 90 persen) merupakan buku-buku jenis panduan atau bacaan untuk sekolah. Dengan demikian, hanya sepersepuluh saja dari buku-buku lokal di sana yang merupakan bacaan umum.

Proporsi demikian tentu saja mengusik para pelaku industri buku di negeri jiran ini. Untuk memenuhi permintaan yang terus-menerus meningkat, beberapa penerbit Malaysia berinisiatif menjalin kerja sama dengan penerbit Indonesia. Pengalaman selama ini, buku-buku yang banyak diminati dari Indonesia berkisar pada buku tentang agama Islam, baik pemikiran, hadis, maupun panduan. Kemudian cerita anak, cerita remaja, resep masakan, hingga buku bacaan umum yang bersifat praktis.

Pembelian buku baik bentuk fisik maupun hak cipta ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1980-an. Penerbit Gramedia Pustaka Utama, misalnya, menuturkan pernah menjual hak cipta novel Mira W dan Marga T pada dekade itu. Uniknya, hingga kini masih ada judul-judul dari pengarang tersebut yang masih dicetak ulang.

Penerbit buku Islam, seperti Gema Insani Press, juga terbiasa bertransaksi dengan para penerbit Malaysia. Bahkan, sejak tahun 1965 hingga sekarang penerbit ini masih terus mengirimkan buku dengan kontainer ke sebuah penerbit di Malaysia. Melalui sistem beli putus, antara lima dan enam judul per tahun dikirim ke Malaysia. Iwan Setiawan, General Manager Gema Insani, mengungkapkan, buku agama terbitan mereka sangat diminati masyarakat Malaysia meski, menurut Iwan, angka penjualan ke negeri jiran itu tidaklah besar, mengingat di Indonesia buku-buku penerbit itu juga cepat terjual dengan tiras yang tinggi.

Upaya memperluas pasar di Malaysia seperti yang dilakukan beberapa penerbit Indonesia ini tentu mengundang minat para penerbit buku lainnya. Berbagai bentuk kerja sama dengan para penerbit di Malaysia coba dirintis. Pola kerja sama memang pilihan yang banyak diterapkan penerbit Indonesia ketimbang berbisnis langsung. Bentuk kerja sama tersebut juga diakui oleh penerbit Darul Fikir Malaysia yang membeli banyak hak cipta dari Indonesia. Direktur Darul Fikir Mohd Zaki Ahmad, misalnya, mengakui bahwa penerbitnya bekerja sama dengan 12 penerbit dari luar Malaysia yang memiliki fokus terbitan buku keislaman. Dia mengungkapkan bahwa hampir 70 persen dari seluruh terbitannya merupakan karya penulis luar Malaysia.

KURANGNYA penulis Malaysia dalam menulis bacaan umum juga diakui oleh Arif Hakim yang merintis penerbitan dari tahun 2000 berkedudukan di Pahang, Malaysia. Arif mengakui telah membeli sekitar 50 judul buku yang terdiri atas bacaan anak dan buku umum dari salah satu penerbit Indonesia. Seperti diungkapkan oleh Arif, masyarakat Malaysia haus akan buku umum dan cerita anak yang bermutu dengan gaya tulisan yang lebih populer dan tidak terlalu akademis. Oleh karena itu, dia yakin, buku Indonesia akan laris di Malaysia.

Antusiasme Malaysia akan buku Indonesia diakui pula oleh Novel, Presiden Controller Mizan, yang melihat bahwa Malaysia jauh lebih membutuhkan Indonesia daripada sebaliknya. "Malaysia bersandar pada buku-buku impor. Jadi jika mereka ingin menerbitkan sendiri, mereka membutuhkan naskah dari kita," ujar Novel. Namun, pengalaman Mizan selama ini tidak hanya buku asli penulis Indonesia, buku terjemahan pun di lirik oleh Malaysia. Seperti diakui oleh Novel yang telah lama membangun kerja sama dengan penerbit Eropa, "Malaysia membutuhkan buku terjemahan dari Indonesia karena kita telah memiliki hubungan baik dengan berbagai penerbit Eropa dan negara lainnya".

Hal ini pula diakui oleh Shaharom, pengajar di Universitas MARA yang juga mengamati perkembangan perbukuan di Indonesia, bahwa membeli buku terjemahan asing dari Indonesia jauh lebih murah dan lebih cepat daripada menerjemahkan sendiri. "Buku dalam bahasa Inggris di Malaysia sangat mahal. Jika diterbitkan di Indonesia dan diganti bahasa Indonesia harganya akan murah sekali," ungkapnya.

Melihat peluang yang ada, tampaknya Malaysia merupakan pasar yang sangat potensial bagi Indonesia. Kedekatan bahasa dan budaya merupakan faktor utama yang sudah dimiliki Indonesia. Apalagi Pemerintah Malaysia gencar mempromosikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi negara dan bahasa pengantar di berbagai lembaga resmi. Dalam hal ini menjadi sejalan dengan Indonesia yang sudah memiliki bahasa baku yang mudah dimengerti oleh kalangan terpelajar Malaysia. Buku-buku teknik pun sangat menarik minat Malaysia, seperti diungkapkan oleh Hasrom bin Haron, Ketua Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), yang sangat menyayangkan sulitnya mendapatkan buku teknik dari Indonesia. "Kami senang sekali jika buku teknik Indonesia masuk ke sini karena mahasiswa kami membutuhkan buku panduan yang bukan bahasa Inggris," ujar pengajar pada UKM tersebut.

Hingga saat ini buku Indonesia masih menarik bagi Malaysia, seperti diakui oleh Mohd Anwar Ridhwan, pengarah Dewan Bahasa Pustaka Malaysia. Buku Indonesia, katanya, sangat menarik dan Indonesia sangat cepat menerjemahkan buku. Ini pun semakin disokong oleh latar belakang historis perbukuan yang erat. Sebagaimana diketahui, ketika awal tahun 1970-an buku sastra Indonesia masuk ke Malaysia, para sastrawan angkatan Pujangga Baru dan Pujangga Lama atau lebih dikenal dengan angkatan Balai Pustaka ikut mewarnai wacana sastra di Malaysia. Sebut saja nama Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, dan Pramoedya Ananta Toer sangat dikenal di Malaysia, bahkan buku mereka menjadi bacaan wajib bagi siswa dalam mata pelajaran sastra. Sayangnya, kini seiring dengan waktu dan generasi pembaca sastra terus berganti, nama para sastrawan tersebut mulai terlupakan.

Potensi mengembangkan pasar di Malaysia yang cukup besar sudah sepantasnya menjadi rujukan bagi para penerbit di negeri ini. Dalam hal ini dibutuhkan peran asosiasi sebagai wadah penerbit Indonesia menjadi duta bagi penerbit Indonesia. Namun sayangnya, sejauh ini potensi demikian belum banyak dimanfaatkan. Pengalaman menunjukkan, para penerbit harus turun sendiri untuk mempelajari pasar, menjalin kerja sama, hingga bertransaksi. Seperti diakui oleh Novel, mereka sebelumnya tidak memiliki informasi sedikit pun tentang pasar buku Malaysia. "Setelah kami bawakan buku- buku kami, mereka (penerbit Malaysia) terkaget-kaget melihatnya. Mereka tidak tahu bahwa ada buku yang menarik bagi mereka karena tidak pernah ada informasinya," ujar Novel.

Memperkenalkan buku Indonesia ke luar negeri tentu saja dibutuhkan promosi yang gencar dari penerbit lokal. Mengikuti kegiatan pameran di luar negeri adalah suatu keharusan. Sebisa mungkin dalam ajang pameran seperti ini penjualan hak cipta sebanyak mungkin menjadi tujuan dibandingkan dengan penjualan buku cetakan. Hal semacam inilah yang tampaknya belum terlihat dari stan Indonesia di Kuala Lumpur International Book Fair. Kesan yang terlihat, baik penataan stan maupun judul buku yang ditampilkan kurang mencerminkan keberadaan buku Indonesia.

POTENSI pasar yang terbuka tidak berarti tanpa persoalan. Persoalan bajak-membajak (cetak rompak) tidak luput selama ini terhadap buku-buku Indonesia, terutama buku agama Islam. Masalah pembajakan ini sudah berlangsung lama, seperti penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Jika persoalan pembajakan buku belum mampu diatasi, maka cetak rompak di Malaysia semakin menekan penerbit Indonesia. Ironisnya, meski pelaku pembajakan tersebut ditangkap, pengadilan tidak dapat memproses hukumnya.

Pengalaman semacam ini pernah terjadi pada penerbit Gema Insani yang pernah menangkap dan membawa pembajak bukunya ke pengadilan. Persoalannya kemudian, pengadilan Malaysia tidak dapat melakukan proses hukum karena Gema Insani tidak memiliki cabang perusahaan yang berkedudukan di Malaysia.

Menyiasati pembajakan tersebut, Gema Insani memilih melakukan kerja sama dengan penerbit Malaysia dalam menjual hak cipta buku-buku mereka. Cara seperti ini cukup jitu, lantaran jika buku tersebut dibajak di Malaysia, maka penerbit yang membeli hak ciptalah yang akan mengajukan tuntutan hukum.

Berbagai upaya menekan pembajakan ini pun sebenarnya kerap dibicarakan, di antaranya muncul ide untuk melindungi buku Indonesia dengan membuat Galeri Indonesia. Wujudnya dengan membentuk semacam perwakilan distributor buku Indonesia di Malaysia yang dikelola bersama penerbit kedua negara tersebut. Sayangnya, pembicaraan yang sudah lama direncanakan itu belum terealisasi.

Menurut Saiful Zen, Bendahara Ikapi, pihak Malaysia tampaknya masih tarik-ulur dengan rencana tersebut. Salah satu persoalannya, buku dianggap komoditas bisnis yang merupakan investasi jangka panjang. Selain itu, belum jelas juga bagaimana perhitungan yang ditanggung jika buku tidak terjual atau lama habisnya.

Bagi beberapa kalangan, sebenarnya hal itu bukanlah halangan karena bisa saja penerbit Indonesia membuat sendiri Galeri Buku Indonesia tanpa perlu berkongsi dengan penerbit Malaysia. Jika saja beberapa penerbit Indonesia mau bersama-sama membangun kerja sama dan memfasilitasi Galeri Indonesia tersebut, maka kendala manajemen penjualan akan teratasi. Inilah tampaknya yang perlu dipikirkan oleh penerbit Indonesia saat ini, agar jangan setengah hati untuk meluaskan pasar buku Indonesia. (Umi Kulsum/Litbang Kompas)
http://64.203.71.11/kompas-cetak/0505/21/pustaka/1763008.htm

Jalan Terus Biarpun Pasar Tidak Gemuk


Ketika ditanya potensi pasar buku-buku klasik, Buldanul Khuri mengutip salah satu syair lagu dangdut yang populer lima tahun silam. "Pasarnya? Yang sedang-sedang saja," kata Direktur Utama penerbit Bentang Yogyakarta ini. Artinya, buku klasik ini tetap memiliki pasar meski jumlahnya tidak besar. Dalam hitungan normal versi Buldan, cetakan pertama--sekitar 1.500 sampai 2.000 eksemplar--paling tidak habis dalam satu tahun.

Buldan mengambil contoh buku Republik karya Plato yang terbit Oktober 2002. Dicetak pertama sebanyak 1.500 eksemplar. Hingga kini buku tersebut masih tersendat di pasar. Padahal upaya mengenalkan buku ini ke publik sudah dilakukan. Salah satunya lewat resensi di berbagai media massa. Seretnya pemasaran buku klasik ini sudah disadari sejak jauh hari. Buldan memperkirakan, nasib serupa bakal dialami sembilan judul buku yang segera terbit.

Yang membuat Buldan jalan terus dengan proyek klasik ini tak lain karena ia tak merasa punya beban. Niat memperkenalkan karya-karya asli pemikir besar lebih kuat ketimbang urusan mencari untung.

Berpikir ala Filsuf karya Bertrand Russell, yang diterbitkan Ikon Teralitera, juga bertahan pada cetakan pertama. Begitu pula dengan tulisan Friedrich Nietzsche. "Kami sadar serapan pasar biasa-biasa saja," kata Adi Amar. Meski begitu kabar gembira sempat berembus dari The Problem of Philosopy karya Russell. Buku yang terbit pertama Mei 2002 ini telah dicetak ulang dua kali.

Cetakan kedua juga dialami A General Introduction to Psychoanalysis karya Sigmund Freud. Menjelang satu tahun dari cetakan pertama, buku tentang psikoanalisis ini terserap pasar. Biasanya catakan pertama rata-rata 3.000 eksemplar. Sukses buku Freud sebenarnya tak lepas dari tema yang ditawarkan. Pasar terbesar buku ini berasal dari lingkungan mahasiswa psikologi.

Buku yang sebenarnya mengalami nasib baik pada awal kehadirannya adalah Asal-Usul Spesies. Ketika diluncurkan pada Mei 2002, buku ini terserap cepat pasar. Sayang, pasar buku Charles Darwin ini mulai tersendat. Selain tema yang ditawarkan sudah dikenal luas, kehadiran buku Harun Yahya yang menggempur teori Darwin cukup berpengaruh. "Dampaknya terasa sekali," kata Adi. Selama ini karya Harun Yahya diproduksi penerbit Dzikra Bandung. Gempuran Harun Yahya juga dikenalkan lewat cakram VCD yang banyak beredar di pasar.

Kondisi yang agak menggembirakan justru terjadi pada buku klasik dari dunia Islam. Tafsir Juz Amma Ibnu Katsir yang terbit awal 2002 hingga kini naik cetak sebanyak lima kali. Kisah Para Nabi dari penulis dan penerbit yang sama naik cetak sebanyak enam kali sejak pertama diterbitkan awal 2002. Bahkan Keajaiban Hati setebal 100 halaman yang terbit 2001 sudah naik cetak tujuh kali. "Mungkin karena bukunya relatif tipis dibanding yang lain," kata Naufal.

Tesis buku tipis memang tak mesti menjadi alasan pembeli untuk merogoh saku. Substansi materi yang disampaikan tentu lebih menentukan. Buku Mukaddimah karya Ibnu Khaldun setebal 880 halaman adalah sebuah antitesis. Buku yang diterbitkan pertama pada akhir 1997 oleh Pustaka Firdaus yang cukup mahal ini dicetak ulang sebanyak empat kali. Kini sedang disiapkan edisi cetakan kelima. arif firmansyah
http://www.korantempo.com/news/2003/3/2/Buku/8.html