Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2009

Faktor “salafi” dalam penerbitan buku Islam


Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan suatu kelompok yang memberi nama “salafi” kepada kelompoknya, saya Cuma mencoba menganalisa secara sederhana perilaku konsumsi buku kelompok ini sebagai bahan diskusi.

Apa itu kelompok salafi
Abu Abdirrahman Al Thalibi, dalam dakwah salafiyah dakwah bijak; meluruskan sikap keras dai salafi (hal 9), mengidentifikasi kelompok salafi sebagai: Secara sederhana salafiyah bisa diartikan sebagai khazanah ilmu atau ajaran salafus shalih. Sedang salafiyun atau salafiyin ialah orang-orang yang mengikuti ajaran salafus shalih. Adapun salafy atau salafi ialah sebutan bagi orang-orang yang mengikuti ajaran salafus shalih. Salafiyah adalah ajarannya, salafiyin adalah para pengikutnya, sedangkan salafy adalah sebutan bagi mereka. Istilah salafy juga mencerminkan makna komunitas ideologis.
Yang dimaksud salafi dalam tulisan ini adalah sekelompok orang yang mengatakan dirinya sebagai penganut salafi, dengan karakter khas salafiyyun.

Karakter khas salafiyyun
Menurut Abu Abdirrahman Al Thalibi, dalam bukunya dakwah salafiyah dakwah bijak 2; menjawab tuduhan, (hal 264 – 275), karakter khas salafiyyun adalah:
1. Sangat membela istilah salafi atau salafiyah
2. Merasa sebagai kelompok paling benar
3. Sibuk mengingkari, membantah, atau mencela kesesatan orang lain dengan dalih berjihad membela Islam
4. Sangat sensitive terhadap penyimpangan dan sangat keras ketika mencela
5. Bersikap fanatik terhadap ulama dan kelompoknya
6. Tidak mengerti konsep hizbiyah dan terjerumus di dalamnya
7. Kurang memahami manhaj ahlus sunnah
8. Tidak jujur dalam perselisihan
9. Tolong menolong dalam kesesatan
10. Krisis dalam perkara akhlak

Implikasi dalam dunia penerbitan buku Islam
Faktor salafi acap kali diperbincangkan dalam penerbitan buku, seperti muncul pertanyaan, apakah buku ini bisa diterima di kelompok salafi?, ada beberapa ciri kelompok ini dalam mengkonsumsi buku:
1. Sebagian besar kelompok salafi, tidak mau membaca buku-buku karangan Yusuf Al Qaradawi
2. Kelompok yang menamakan salafi ini juga tidak akan membeli buku-buku yang ada gambar makhluk hidupnya, kecuali mukanya dihilangkan.
3. Sangat besar penghormatannya pada ulama-ulama dari kelompok mereka, implikasinya adalah jika ada buku yang direferensikan ustadz salafi, maka akan berdampak luas pada penerimaan buku tersebut di kelompok salafi, dan sebaliknya.
4. Jika suatu buku diberi pengantar oleh orang-orang yang dianggap tidak sefikroh dengan kelompoknya, bisa jadi buku tersebut ditolak di kelompok salafi.
Saya punya kasus satu buku yang pengantarnya dibuat oleh salah seorang ulama hadist di negeri ini, namun ternyata belakangan ulama tersebut ternyata tidak bisa diterima oleh kelompok salafi, secara terang-terangan ada yang meminta kepada kami, untuk menghilangkan kata pengantar dan nama ulama tersebut dari buku tersebut, saya geleng-geleng kepala, mendengar berita ini, sebegitunya kah sikap ekstrim kelompok salafi ini?

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan penerbit dalam mensiasati prilaku konsumsi buku kelompok salafi, seperti: ada penerbit yang menerbitkan buku hanya untuk kalangan salafi, ada yang mensiasatinya dengan membentuk imprint baru yang seolah-olah tidak ada hubungannya sama sekali dengan induknya, ada juga yang tidak peduli. dll
Seharusnya tidak ada polarisasi seperti diatas , bukankah tema keislaman seharusnya bisa dibaca dan dinikmati oleh setiap ummat Islam, namun realitasnya berbeda

Seharusnya pihak penerbit buku Islam tidak menjadikan faktor salafi ini sebagai faktor yang sangat mempengaruhi corak penerbitan buku, biarkanlah ini sekedar realitas bahwasanya susah untuk menyatukan ummat Islam, namun produksilah buku-buku yang berkwalitas, sambil terus mengamati perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Dan menjadi pekerjaan rumah secara bersama-sama , mencari data valid berapa jumlah kelompok ini, agar kita lebih proporsional dalam mengambil kebijakan, kalaulah kelompok ini berjumlah 100.000 orang, mengapa ummat Islam yang ratusan juta lainnya seolah-olah tidak menjadi perhatian penerbitkan buku Islam .

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan diskusi untuk meletakkan sesuatu pada tempat yang pas dan sesuai dengan proporsinya

Jaharuddin
Praktisi pemasaran buku Islam

Selasa, 10 Maret 2009

Korelasi Negatif antara Krisis Ekonomi Makro dengan Penjualan Buku di Pameran


Oleh: Jaharuddin*

Beberapa hari ini saya sedang mengikuti pameran buku di Islamic Book Fair 2009, 28 Februari – 8 Maret 2009 di Gelora Bung Karno Jakarta. Ketika melihat antusiasnya para pengunjung mendatangi dan membeli buku di semua stand buku yang ada di event pameran ini, seolah-olah tidak mewakili kondisi ekonomi makro yang semakin berat.
Kompas online, 3 desember 08 menuliskan, pertumbuhan ekonomi pada 2009 diperkirakan mencapai level terburuk di posisi 4,5 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan target APBN 2009, yakni 6 persen. Meskipun demikian, target APBN itu masih bisa tercapai jika Indonesia bisa mempertahankan aktivitas ekspor dan investasi.
”Nilai tengah pertumbuhan ekonomi kami perkirakan ada di level 5-5,5 persen,” ujar Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati saat melaporkan kondisi terakhir krisis ekonomi kepada Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa (2/12).
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyebutkan, pada 2008 setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi akan menambah 702.000 lapangan kerja baru (Kompas, 22/8/2008). Dengan demikian, jika pertumbuhan turun dari 6 persen ke 4,5 persen, tenaga kerja yang tidak terserap bisa mencapai 1,053 juta orang. Padahal, masih ada sekitar 9,427 juta penganggur terbuka yang menunggu pekerjaan saat ini.
Pameran ini mempunyai arti penting bagi banyak penerbit, karena kondisi ekonomi kurang baik , bangsa Indonesia juga sedang di sibukkan dengan hiruk pikuk pemilu yang tentunya bagi sebagian orang melelahkan, menjenuhkan dan adakalanya bikin mual, uang pajak rakyat di hamburkan untuk membiayai 48 partai peserta pemilu, caleg menghambur-hamburkan uang untuk membuat dirinya jadi terkenal dengan berbagai metode yang tidak kreatif dan tidak mendidik. implikasinya perhatian dan modalpun akhirnya juga bisa terkuras untuk aktifitas pemilu.

Dalam sejarah dunia penerbitan buku di Indonesia, saya menemukan keunikan tersendiri ketika perekonomian mengalami krisis. Misalnya tahun 98-an di saat ekonomi Indonesia memburuk, kita melihat dengan kasat mata penerbit buku muncul seperti jamur dimusim hujan.

Bisa jadi, tumbuhnya penerbit baru di era 98-an tersebut, karena terbukanya kran reformasi, sehingga terlepas dari kekangan yang selama orde baru tidak bisa di lakukan, namun jika tidak karena dukungan konsumen buku, maka bisa jadi penerbit-penerbit tersebut akan berguguran, kenyataannya tidak.

Faktor lain yang juga mempengaruhi potensi meningkatnya penjualan buku adalah, masyarakat Indonesia semakin terdidik, sadar akan pentingnya informasi dan pengetahuan, dan kondisi ”terjepit”nya perekonomian dan jenuhnya melihat narsisme para caleg, mendorong kepada banyak orang untuk mencari inspirasi dan menenangkan diri. Saya menduga untuk menjawab kebutuhan ini banyak orang akhirnya menjadikan buku sebagai solusinya. Misalnya dibutuhkan ketenangan hati yang lebih dengan cara mendalami dan me refresh pemahaman agama misalnya.

Melihat kondisi yang menggairahkan ini, bisa jadi stigma rendahya daya baca masyarakat Indonesia sudah bisa di tinggalkan, dan kita buang jauh-jauh dari Indonesia, bukti lain adalah toko-toko buku juga semakin tumbuh, misalnya gramedia akan menambah lebih dari 10 toko lagi ditahun 2009 ini.

Semoga Islamic Book Fair ini membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sangat butuh buku, dan ini mendorong insan perbukuan untuk meerbitkan buku-buku berkwalitas tinggi dan mencerdaskan masyarakat, saat yang sama juga bisa menghibur dan menenangkan kegalauan masyarakat. Amin.

*Praktisi pemasaran buku Islam

Rabu, 04 Maret 2009

Catatan IBF 2009: Buku Apa Lagi yang Mau Dibuat?


Dalam dunia perfilman Indonesia, khususnya dunia persetanan, kreativitas seperti kagak ada matinye. Sempat ada joke para sineas persetanan itu sudah bingung: setan mana lagi yang mau dikeluarin?? Soalnya, semua setan dengan berbagai spesies sudah dikeluarkan! Eh, alih-alih kehabisan kreativitas, mereka malah menjadi-jadi dengan mengeluarkan film "Hantu Ambulans", "Hantu Jamu Gendong", dan "Kuntilanak Beranak". Hiii... so many ghosts, so confuse. He-he-he.

Walau cuma berkunjung selewat dalam event Islamic Book Fair 2009, saya melihat fenomena yang sama dalam dunia buku Islam Indonesia. Kreativitas benar-benar menjadi kata kunci industri yang juga dikategorikan sebagai industri kreatif ini. Ambil contoh dalam buku anak, kreativitas belum beranjak jauh: masih seputar buku 25 kisah Nabi dan Rasul, Kisah Teladan (para Sahabat maupun Orang Saleh), hadits untuk anak, Asmaul Husna untuk anak, dan sebagainya. Belum ada yang berani beranjak dengan kreativitas lain tanpa meniru yang sudah ada. Dengan kata lain, yang benar-benar unik dan mengandung gagasan pembaruan. Mungkin ada 1-2, tapi tidak terekspose ke permukaan.

Dalam kategori buku dewasa pun setali tiga uang. Tema fiqih, akhlak, bahkan juga how to dan self-improvement masih mendominasi. Tidak jarang kita temukan satu buku yang mirip dengan buku lainnya dari beberapa penerbit berbeda. Dari sisi ini lahir banyak penulis baru dan terkadang terlampau produktif menghasilkan karya yang entah cukup berbunyi, entah tidak.

Isu buku yang menggetarkan pada IBF 2009 ini pun belum tampak seperti IBF-IBF sebelumnya yang diguncang oleh "Khadijah: The True Love Story", "Ayat-Ayat Cinta", atau "Laskar Pelangi". Banyak penerbit tampaknya menahan diri, mungkin kaitan dengan krisis. Atau boleh jadi memang kreativitas tengah mandek menunggu momentum munculnya naskah yang benar-benar menggugah dan mengejutkan banyak orang.

Dari catatan IBF book award sendiri, saya sebagai salah seorang tim juri, melihat tidak ada sesuatu yang revolusioner terjadi pada buku-buku Islam kita. Untuk itu, saya menempatkan buku Pak Syafi'i Antonio: "Muhammad The Superleader, The Supermanager" sebagai buku terbaik tahun ini lebih pada keunggulan Pak Syafi'i melakukan riset mendalam dan mengembangkan aspek-aspek tersembunyi dari pribadi Rasulullah saw. Banyak hal baru memang dalam buku tersebut.

Dalam ranah fiksi, terpilihlah "Road to the Empire" yang juga unggul dalam riset sejarah dan teknik penceritaan dengan segala segi kemantapan dalam perwatakan, alur, dan setting cerita. Sisanya yang diikutsertakan beberapa mengadopsi stereotip "Ayat-ayat Cinta" dan beberapa lainnya masuk kategori biasa-biasa saja.

Buku anak seperti di awal saya sebutkan pun demikian. Maka terpilihlah karya Sri Izzati lebih karena Izzati benar-benar berbakat sebagai tukang cerita dan mampu meneropong segala segi dari fiksi khas anak-anak. Buku lainnya banyak yang merupakan kumpulan kisah-kisah dan ada pula picture book biasa dengan cerita biasa. Tidak ada sebuah terobosan, bahkan kalau kita menyebutkan secara komprehensif, termasuk development editing, desain, serta context (pengemasan) seperti mandek. Masih banyak buku anak yang salah kaprah dengan meminjam mulut orang dewasa untuk bercerita, serta menjejalkan nasihat yang terkadang menjadi kontraproduktif terhadap perkembangan jiwa anak.

Sayang, editor dari para buku-buku terbaik ini memang tidak disebutkan. Padahal, mungkin merekalah si penemu bakat dari penulis dan si pengemas buku tersebut menjadi lebih unggul sehingga pantas mendapatkan award.

Nah, kembali soal IBF 2009 dengan segala keriuhan dan antusias para pengunjung, saya berpikir cukup sulit untuk menentukan pilihan buku yang mau dibeli atau dibaca. Apalagi, jika dana terbatas. Untuk itu, saya perlu memastikan buku yang benar-benar menggugah, bukan sekadar murah meriah. Namun, tidak gampang juga karena saya berada dalam lautan buku yang kini semua tampak bagus, fullcolor, dan juga menawarkan judul atraktif.

Berpikir sebagai pembaca, itulah yang tengah saya lakukan. Tidak dimungkiri, riset itu perlu. Namun, terlihat dari ribuan potensi pengunjung di IBF 2009, tidak ada penerbit yang berniat meriset, kecuali berkutat dalam target penjualan. Saya sarankan para direktur penerbit mestinya memplot waktu satu hari penuh berada di booth dan melayani para pembeli bukunya. Anda akan menemukan sesuatu yang berbeda. Tapi, siapa yang mau bersibuk ria demikian? He-he-he mungkin cuma saya kali direktur penerbit yang mau demikian atau direktur nyentrik seperti Hikmat Kurnia, bosnya Agromedia. Sama-sama 'sableng': bukankah orang kreatif memang rada-rada sableng? :-)

Anda mungkin berpendapat sama: Begitu banyak buku, yang mana yang harus dibaca? Dari sisi saya sebagai penulis dan penerbit: Begitu banyak buku, apa lagi yang mau dibuat? Maka gagasan perlu dikail dari langit. Ibarat setelah Anda menyelam di lautan buku, sembulkan kepala dan bertengadah untuk mengambil nafas. Siapa tahu udara segar dan sinar matahari membuat otak Anda berpikir dan menangkap gagasan: oh sekarang masyarakat membutuhkan buku-buku semacam ini! Saya harus membuatnya!

Bambang Trim
Praktisi Perbukuan Indonesia

Rabu, 25 Juni 2008

Masa Depan Dunia Perbukuan

Akhmad Fiksi AF.

SELAMA INI berjalan sebuah teori yang cukup menyesatkan namun diam-diam di wacanakan terus menerus oleh pemerintah, bahwa kebutuhan utama masyarakat kita adalah jaminan akan rasa aman dan bisa makan minimal 3 kali dalam sehari. Berdasarkan teori ini, pemerintah menganggap penting mendahulukan kebijakan tentang bagaimana meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara agar masyarakat sejahtera, dan karena itu keamanan menjadi isu penting yang selalu dihembuskan oleh setiap pemerintahan.

Teori ini memang tidak bisa dikatakan keliru. Namun dampak dari cara berpikir seperti ini menciptakan suatu pola di dalam sistem pemerintahan kita di mana aspek kognitif dalam membangun bangsa ini menjadi semakin terabaikan. Di dalam dunia perbukuan, misalnya, pemerintah sama sekali tidak mau tahu soal bagaimana masalah perbukuan ini dikembangkan. Dunia buku dianggap bukan merupakan isu penting yang perlu ditangani pemerintah secara serius. Ada dua hal penting yang berkaitan dengan problematika di dunia penerbitan buku.

Pertama, masalah bahan baku pokok buku, seperti kertas.

Kertas, oleh sebagian kecil penerbit barangkali bukan masalah. Dengan kekuatan modal yang ada mereka mampu membeli kertas seberapa pun banyaknya untuk disimpan sebagai persediaan bahan baku. Hukum ini tidak berlaku bagi penerbit kecil yang modalnya pas-pasan. Bagi penerbit kecil, pembelian kertas biasanya dilakukan secara eceran ke suplier. Artinya, kertas yang tersedia hanya cukup untuk mencetak tidak lebih dari 1-2 buku saja. Padahal, dalam situasi tertentu harga kertas begitu cepat naik tanpa sepengetahuan mereka. Dalam masa Pemilu, misalnya, sudah hampir satu tahun terakhir kenaikan harga kertas sedemikian cepat. Bahkan, tidak jarang terjadi kelangkaan kertas yang biasa digunakan para penerbit buku.Akibat dari ini semua, dana yang harus dikeluarkan pun membengkak. Harga cetak buku minggu ini bukan patok-an untuk minggu depan. Dampak lebih jauh dari masalah ini, penerbit tidak bisa menentukan harga yang cukup terjang-kau pembeli. Itulah mengapa kemudian muncul kesan harga buku begitu mahal. Bagaimana mungkin masyarakat mampu membeli buku kalau harga buku di luar jangkauan kantong mereka. Jangankan beli buku, makan aja susahKebijakan pemerintah dalam hal ini tampaknya tidak pernah mengantisipasi bagaimana membuat aturan soal tata niaga kertas secara adil. Bahkan, kalau perlu membuat regulasi yang sedikit berpihak kepada penerbit. Dalam hal ini, ada semacam subsidi yang harus diberikan kepada penerbit berkaitan dengan ketersediaan bahan baku. Mungkin untuk perusahaan-perusahaan besar dan mapan, regulasi ini tidak berlaku. Tetapi, bagi penerbit dengan modal ngepas, kebijakan seperti ini sangat diperlukan. Toh, pada akhirnya semua elemen akan diuntungkan apabila hal ini berjalan. Kemudahan mencari kertas dengan harga yang relatif murah pada akhirnya akan berdampak pada harga pokok produksi yang dapat ditekan. Kemampuan menekan harga produksi akan menghasilkan harga pokok penjualan yang relatif lebih murah dan terjangkau dari sebelumnya.

Kedua, masalah yang berkaitan dengan mata rantai distribusi buku.

Tidak sedikit penerbit yang kesulitan memasok langsung buku ke setiap ritel. Hal ini, antara lain, disebabkan oleh hal-hal yang bersifat administratif seperti perijinan usaha dan lain sebagainya. Faktor lain dari kesulitan ini adalah ketentuan rabat yang harus dibebankan begitu besar kepada penerbit dengan alasan yang bermacam-macam. Mulai dari soal citra, status hukum, kredibilitas penerbit dan sebagainya. Berkaitan dengan mata rantai distri-busi buku ini tidak kurang menjadi pem-bicaraan hangat dan memicu perdebatan yang cukup panjang di kalangan penerbit, terutama di Yogyakarta. Harap dicatat pula, para penerbit di Yogyakarta adalah penerbit yang kebanyakan memiliki modal nge-pas. Karena minimnya modal itu pula salah satu kepentingan penerbit adalah, bagaimana buku yang diterbitkan segera memperoleh dana cepat untuk penerbitan berikutnya. Sebagai jalan keluar dari masalah ini biasanya kebanyakan penerbit mempercayakan distribusi buku kepada distributor.

Tidaklah salah atas hal ini. Sebab, sebagian distributor mampu membayar dalam tenggang waktu tertentu dan oleh karena itu penerbit pun merasa masih punya masa depan. Namun, pilihan ke-pada distributor ini juga memiliki kon-sekuensi yang cukup besar, misalnya, soal rabat. Biasanya penerbit dalam hal ini cenderung menerima saja daripada buku-nya tidak terdisplay di pasar secara merata.Dalam pengalaman sebagian penerbit di Yogyakarta, kerja sama dengan distributor bukanlah pilihan yang utama. Masa-masa bulan madu penerbit dan distributor hanya seumur jagung. Setelah itu, pola hubungan di antara keduanya seperti sebuah permainan petak umpet.

Di kalangan penerbit sejauh mereka mampu memasok buku ke ritel sendiri hal itu akan dilakukan dengan senang hati. Hanya saja masalahnya, seperti saya kemukakan di muka problematika dunia buku kita ternyata masalahnya bukan hanya di tingkat distribusi. Namun, ada hal-hal lain yang berkaitan dengan regu-lasi pemerintah yang cenderung meng-hambat proses sebuah penerbitan yang hendak tumbuh dan berkembang. Juga, ketiadaan regulasi yang mampu men-jembatani keseluruhan aspek dari para pelaku pasar buku, seperti penerbit, pengarang, distributor, dan ritel.

Situasi seperti ini kemudian memunculkan kecenderungan di mana penerbit yang memiliki modal kuat dan karenanya mampu memainkan peran dari hulu ke hilir menjadi sumbu utama bagaimana roda pasar buku itu digerakkan. Sedang-kan penerbit kecil oleh karena pengalam-an, sedikit modal dan ketidaksadaran manajemen semakin terpuruk tak mampu bersaing di belantara dunia buku. Di antara kesenjangan ini, semestinya ada mediator yang mampu memberikan keseimbangan bagaimana keseluruhan pelaku pasar buku ini bisa berjalan seiring dengan memperhatikan kode etik bersama.

Hingga saat ini, kontribusi peme-rintah boleh dibilang masih minim dalam menopang laju pertumbuhan dunia per-bukuan.Seberapa penting tanggungjawab pemerintah dalam mengatur regulasi tata niaga buku, sama pentingnya dengan tanggungjawab mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam pandangan ini, salah satu program yang penting dijalankan pemerintah ke depan, antara lain, adalah menyiapkan secara serius regulasi yang berkaitan dengan tata niaga buku.Sejauh ini, berdasarkan pengalaman masalah tata niaga buku masih menjadi problematika utama dalam hal distribusi buku ke ritel.

Nasib penerbit cenderung terjepit di antara keinginan untuk men-display bukunya secara merata dengan aturan-aturan yang cenderung menekan terutama oleh ritel-ritel besar yang menjadi tumpuan pasar buku. Sebagai contoh, tidak sedikit ritel yang meminta rabat sebesar lebih dari 50%, bahkan 60% kepada penerbit. Dapat dibayangkan di sini, berapa “keuntungan” bruto penerbit dengan rabat sebesar itu. Di sisi lain, penerbit harus menghitung biaya produksi sebesar 20% dari harga bruto buku. Biaya promosi sebesar kurang lebih 10%, distribusi dan overhead, masing-masing 10%.Jika kita realistis, mencoba mengkalkulasi dari 100% harga bruto buku dapat dilihat seberapa besar keuntungan bruto penerbit. 20% produksi, 10% distribusi, 10% promosi, rabat 40%, dan royalti 10%. Dari kalkulasi ini, keuntungan bruto penerbit maksimal sebesar 10%. Padahal untuk mencapai angka 10% pun harus menunggu sekian bulan buku habis terjual.

Dengan produktivitas penerbitan yang tidak memadai maka kenyataan ini semakin mendorong penerbit untuk gulung tikar bareng-bareng.Dalam pandangan ini, solusi utama yang paling mungkin adalah perlunya mewacanakan hal ini, terutama regulasi berkaitan dengan tata niaga buku, khu-susnya bagaimana pemerintah turut serta mengatur dan membuat regulasi berkaitan proporsi rabat yang lebih rasional dari sebelumnya.Kebijakan akan hal ini tentu saja penting dibicarakan. Pemerintah sebagai institusi yang punya hak mengatur keseluruhan pola interaksi pasar semestinya memperhatikan hal ini secara serius. Buku, seberapa pun jumlah yang diterbitkan, adalah juga upaya pencerdasan kehidupan bangsa. Pencerdasan kehidupan bangsa merupakan salah satu amanat penting dalam konstitusi kita sendiri.Membiarkan kecenderungan tata niaga buku secara rimba pada saatnya akan melemahkan posisi penerbit dalam memberikan bacaan-bacaan alternatif kepada masyarakat. Jika ini terjadi, pemerintah bertanggung jawab secara politis untuk memberikan solusi yang memadai. Ke depan, selayaknya pemerintahan jauh lebih proporsional dalam mencarikan jalan keluar atas masalah ini.
* Akhmad Fikri AF
dikutip dari www.pestabukujakarta.com

5 Efek Paling Berpengaruh Bagi Pasar Buku Indonesia


Oleh * Bambang Trim

Pasar buku Indonesia terus menggeliat. Transaksi buku di Indonesia diperkirkan antara 7-10 T per tahun (belum termasuk transaksi proyek pemerintah, baik pusat maupun daerah). Kecenderungan tampak akan terus bertumbuh karena makin banyak orang berinvestasi dalam bidang penerbitan buku yang berangkat dari idealisme serta orientasi bisnis. Di sisi lain, tingkat minat baca masyarakat Indonesia pun beranjak naik seiring dengan pergantian generasi orang tua—dari generasi baby boomers ke generasi X dan generasi Y yang dianggap memiliki latar belakang pendidikan lebih baik.Istilah best seller di Indonesia pun makin bermakna manakala sudah ada buku di Indonesia yang bisa menembus angka penjualan 50.000 eksemplar dalam setahun, bahkan ratusan ribu eksemplar. Pembaca buku Indonesia disodori dengan variasi tema buku yang beragam dan penggarapan yang juga sangat baik, tidak kalah dengan buku-buku terbitan luar negeri.Di samping itu, muncul fenomena pemberi efek terbesar dalam pasar buku Indonesia yang menarik untuk dicermati. Saya hanya menyusun lima pengaruh terbesar meskipun pandangan ini tidak lepas dari subjektivitas dan pengamatan terbatas saya di dunia perbukuan. Berikut lima efek tersebut.

1. Efek MLM
Multilevel Marketing (MLM) baru mulai bertumbuh di Indonesia pada pertengahan 90-an. Beberapa MLM yang cukup punya nama dan eksis hingga kini adalah Amway, High Desert, Tianse, CNI, dan juga KK Internasional. MLM ini berkembang mirip dengan partai politik dan mereka memiliki leader-leader kharismatik sekaligus kader-kader militan. Sekali sang leader bilang bahwa sebuah produk bagus dan bisa memotivasi maka produk itu pun akan diburu oleh para down line (istilah dalam dunia MLM untuk menyebut para penggiat MLM di tingkat bawah) atau network marketer. Maraknya training motivasi dan pengembangan diri tidak terlepas dari kehadiran MLM di Indonesia yang tepat masuk menjelang krisis moneter. Alhasil buku-buku, seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Skill with People, Berpikir dan Berjiwa Besar, Financial Revolution langsung mencetak hit sebagai bacaan wajib para network marketer. Sampai kini pun MLM masih menjadi penyumbang angka penjualan buku yang signifikan bagi penerbit ketika buku yang diterbitkan betul-betul pas dengan ‘alam’ mereka. Fenomena terakhir adalah buku The Secret, Quantum Ikhlas, dan Law of Attraction yang terus mencetak hit karena sangat populer di kalangan MLM untuk memotivasi diri dan mengoptimalkan potensi.Saya belum memiliki data valid, namun intuisi saya mengatakan bahwa MLM punya pengaruh besar terhadap pasar buku di Indonesia. Anggota mereka bisa terdiri dari ratusan ribu orang. Setiap tahun ada even bulanan yang mengundang ratusan hingga ribuan orang. Saya pernah menyaksikan seorang MLM leader yang mengusung buku di tangannya mampu menyihir 80% dari peserta even untuk segera membeli buku tersebut.

3. Efek TB Gramedia

Efek Toko Buku Gramedia memang tidak bisa dikesampingkan sebagai penyumbang hit utama dalam pasar buku Indonesia. Tahun 2007, menurut sebuah sumber, Gramedia mampu membukukan omzet sekitar Rp7 T (sekitar 40-45% market share nasional). Kita ketahui kini Gramedia telah membuka lebih dari 80 toko seluruh Indonesia dan berambisi menjadi 100 toko pada tahun ini. Gramedia juga punya toko buku kebanggaan yaitu Gramedia Matraman yang merupakan toko buku terbesar di Asia Tenggara.Efek TB Gramedia sangat ampuh jika buku diletakkan di floor display ataupun display khusus dengan kriteria: buku baru, buku best seller, buku pilihan. Pintu masuk Gramedia menjadi penting untuk mengikat perhatian pengunjung terhadap buku yang diusung. Acara-acara bedah buku di Gramedia juga bisa menjadi magnet manakala diselenggarakan tepat waktu dan tepat sasaran.Jika sebuah penerbit fokus saja untuk membina hubungan baik dengan Gramedia, paling tidak sudah bisa mendapatkan kue pasar buku Indonesia yang sangat signifikan. Saya kira grup Agro Media salah satunya melejit karena efek TB Gramedia. Beberapa penerbit lain juga terbantu mencetak hit karena ter-display di TB Gramedia.

3. Efek Kick Andy

Efek Kick Andy baru terjadi pada 2007 saat program talkshow populer yang dipandu Andy Noya ini disiarkan Metro TV melejit ratingnya. Andy mengundang tokoh-tokoh yang tidak biasa dan sangat menarik untuk disimak. Alhasil, tokoh-tokoh itu menyentuh juga para pesohor di dunia buku sehingga buku-buku pun bisa terangkat. Andy Noya mungkin mirip dengan Oprah Winfrey meskipun efeknya belum sedahsyat Oprah. Namun, saya percaya pada tahun-tahun ke depan Kick Andy bisa bergandengan dengan banyak penerbit untuk melambungkan sosok tertentu dan buku tertentu. Efek Kick Andy patut diperhitungkan dalam pasar buku Indonesia karena sudah terbukti mampu melejitkan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Beberapa penerbit juga sudah menganggap penting untuk tampil dalam Kick Andy dengan mengusung buku tertentu.

4. Efek Media Cetak

Media cetak juga memberikan efek bagus dalam penjualan buku meskipun tidak sekuat efek yang saya sebutkan tiga pertama. Di antara beberapa media cetak yang sangat berpengaruh adalah Kompas, Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Majalah Tempo, dan GATRA. Resensi ataupun ulasan buku di media cetak semacam ini patut diperhitungkan oleh para penerbit.. Memang belum ada media cetak memiliki efek seperti New York Times ataupun Publisher Weekly di Amerika dan Eropa yang ranking best seller-nya diperhitungkan banyak orang. Akan tetapi, tampilnya sebuah buku diulas di media cetak nasional, tetaplah menjadi gengsi sekaligus bantuan tersendiri bagi sukses sebuah buku.Dalam tahun-tahun belakangan ini, rubrik yang mengulas buku bisa tampil satu halaman penuh. Bahkan, Koran Tempo menurunkan suplemen Ruang Baca setiap bulan sekali dalam format delapan halaman. Kompas juga menurunkan liputan khusus Pustakaloka setiap bulan. Selain itu, rubrik resensi juga bisa muncul dua kali dalam seminggu seperti halnya di Media Indonesia maupun Sindo. Hal ini menyiratkan peran buku semakin diperhitungkan sebagai informasi sekaligus gaya hidup masyarakat modern kini.

5. Efek Pameran Buku IKAPI DKI

Dua pameran buku tersukses yang digelar IKAPI-DKI: Pesta Buku Jakarta dan Islamic Book Fair memberikan efek luar biasa bagi promosi dan penjualan buku. Besarnya efek ini membuat Penerbit Gramedia memborong 32 stan dan Agro Media 15 stan pada even tahun 2008. Ratusan penerbit tidak mendapatkan jatah stan dan masuk daftar tunggu. Efek pameran ini sungguh luar biasa menarik pengunjung bahkan mengalahkan perhelatan bergengsi sejenis seperti Indonesian Book Fair yang digelar oleh IKAPI Pusat di JHCC. Transaksi dari perhelatan IKAPI DKI ini mencapai puluhan miliar rupiah dalam setiap pelaksanaannya dan dikunjungi ratusan ribu orang.Di luar 5 Pemberi Efek pada pasar buku Indonesia, tentu banyak hal lagi yang berpengaruh, seperti media elektronik (radio dan TV) yang menyediakan ruang talkshow atau bincang buku, pameran-pameran buku di daerah, penulis-penulis populer, selebritas, ulama/pemuka agama, maupun politikus. Namun, saya tidak mengulas semuanya dengan pertimbangan mengusung hanya pemberi efek untuk jangka panjang dan akan terus berkembang. Di samping itu, tentu ada pemikiran lain yang dapat menyumbang informasi tentang efek-efek paling berpengaruh pada pasar buku di Indonesia. Salam buku!
*) Penulis adalah praktisi perbukuan nasional.

Minggu, 18 Mei 2008

Faktor penyebab novel AAC dan Laskar Pelanggi super best seller

Menjadi impian setiap penerbit produk yang dikeluarkan menjadi best seller, apalagi supper best seller seperti AAC dan Laskar Pelanggi. Sebelumnya dalam kategori buku islam kita melihat best sellernya buku La Tahzan, karya Dr. Aidh Al qarni. Namun penerbitnya menganti cover dan menaikkan harga, sekarang buku la tahzan, mungkin sudah mencapai titik jenuhnya, sehingga penjualannya tidak se heboh saat awal-awal la tahzan keluar. Dan sekarang bintangnya adalah AAC dan Laskar Pelanggi.

Mengapa AAC dan Laskar Pelanggi menjadi super best seller

Beberapa faktor yang mungkin bisa menjelaskan faktor penyebabnya adalah:
Novel AAC dan Laskar pelanggi adalah novel inspiratif dan penyemangat
Menurut saya faktor utama dari super best sellernya AAC dan laskar pelanggi adalah berada pada isi novel ini yang benar-benar inspiratif, unik dan mampu memberikan hiburan yang sehat kepada masyarakat luas. Sesungguhnya masyarakat kita menunggu-nunggu karya baik buku maupun film yang berkualitas, tidak picisan, matreliastik dan hendonis. Masyarakat butuh sarana ekspresi yang sehat dan alami dan apa adanya. Karena saat ini masysrakat Indonesia sedang dihadapkan pada kondisi faktor ekonomi, keamanan, dan ketertiban yang jauh dari ideal. Jalan raya macet, menonton TV acaranya tidak sehat, ekonomi semakin berat, dan faktor-faktor lainnya yang memposisikan masyarakat kita sebagian besar sebagai kalangan yang tertekan. Dengan kondisi tersebut akhirnya masyarakat butuh pada hiburan yang sehat dan inspiratif. Kalau kita amati benar kedua novel yang menjadi bahan diskusi ini maka mampu memberikan alternatif hiburan yang sehat, insiratif dan menyenangkan bagi masyarakat
Segment pasar yang dituju sangat luas
Syarat buku menjadi best seller lainnya adalah mempunyai segement pasar yang sangat luas, kalau kita amati AAC dan laskar pelanggi bisa dibaca oleh semua lapisan dari remaja sampai orang tua. Seperti yang kita ketahui banya buku yang mengambil segmentnya pada kalangan tertentu saja, seperti segement anak, segment remaja, segment pembaca dewasa yang mempunyai pemeikiran ahlu sunnah wal jama’ah , dll. Segment yang terbatas akan menyebabkan buku tersebut mempunyai kemungkinan best seller yang juga terbatas. Sebagai contoh yang lebih jelas lagi untuk menjelaskan segment yang luas ini adalah al qur’an , kitab super super best seller sepanjang massa.
Iklan Mouth to mouth yang sangat efektif
Iklan dari mulut ke mulut pembaca merupakan iklan yang sangat efektif sekali, ketika seorang konsumen pembaca buku AAC dan Laskar pelanggi menceritakan kepuasannya ketika membaca novel tersebut kepada temannya maka sadar tidak sadar itu adalah iklan yang sangat efektif sekali dan diduga potensi orang tersebut membeli produk tersebut akan tinggi sekali. Jadi ketika diceritakan teman, maka tidak jarang kita mendengarkan pembaca yang senang tersebut bahkan berani merekomendasikan untuk membeli buku tersebut.
Harga yang tidak terlalu mahal
AAC dan Laskar pelangi mempunyai beberapa varian, sehingga masyarakat juga mempunyai altenatif dalam membeli buku tersebut sesuai dengan tingkat pendapatan masyarakat, ada yang edisi lux harganya di atas 100.000, namun juga ada edisi murah yang harganya kisaran 30.000 – 70.000, jadi masarakat bisa membeli. Strategi membuat beberapa varian ini ternyata juga ampuh dalam memberikan alternatif pada pembaca untuk membeli. Hal yang sama tidak dilakukan pada la tahzan, penerbitnya kurang kreatif tetap saja bersikukuh dengan format yang awal, bahkan me recover yang belum tentu lebih baik dari yang awal dan harganya langsung di naikkan. Seharusnya yang dilakukan penerbitnya adalah membuat edisi lux dengan penampilan yang mewah dan sangat menarik, namun tetap menerbitkan edisi ekonomis yang harganyanya tetap murah.
di endorsement dengan film layar lebar
faktor selanjutnya yang mendorong penjualan novel ini adalah diangkatnya cerita novel tersebut dalam film, akhirnya masyarakat kita yang belum suka membaca bisa menikmati indahnya novel ini. Dan sekali lagi akan berdampak pada semakin banyaknya mulut yang bercerita tentang novel ini, sebagian dari orang yang mendenar cerita indahnya film ini akan mendorong untuk memiliki buku novelnya. Ini yang bisa kita amati dari kisah sukses AAC. Saat ini film laskar pelanggi sedang di garap pembuatannya, dugaan saya penjualan laskar pelanggi akan terdongkrak kembali saat filmnya diluncurkan dan menjadi pembicaraan luas. Semoga bermamfaat.

Jaharuddin
Praktisi marketing buku